
Keesokan paginya, Satria sudah mengemasi barang-barangnya. Karena jam sepuluh dia dan Amanda harus bertolak ke Kalimantan. Satria mengetuk pintu kamar Amanda karena semalam mereka tidak tidur bersama. Kamar itu dikunci dari dalam oleh Amanda.
"Manda, buka pintunya," ucap Satria dari luar.
Tidak ada jawaban dari dalam. Kesabaran Satria pun sudah habis. Dia mencoba memegang gagang pintu dan membukanya. Ternyata tidak dikunci. Pintu itu terbuka dan mata Satria mencari sosok istrinya. Tetapi, kamar itu seperti tidak berpenghuni. Satria mencoba mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada suara gemericik air dan dengan hati-hati Satria membuka pintu kamar mandi. Kosong, keadaan di dalam kamar mandi.
Hati Satria sudah tidak karuhan. Dia mencoba membuka lemari pakaian Amanda. Baju-bajunya masih ada. Mencoba menghubungi Amanda pun sia-sia. Hanya operator telepon yang menjawabnya.
Ada selembar kertas di atas tempat tidur. Dituliskan dengan huruf kapital.
AKU PERGI MEMBAWA ANAK INI. JANGAN MENCARI KU. AKU TIDAK INGIN HIDUP SUSAH DENGAN KAMU.
Satria meremas-remas kertas itu dengan penuh emosi. Wajahnya sudah merah padam. Urat-urat kemarahannya muncul.
"Tak akan aku biarkan kamu membawa anakku," geram Satria dengan tangan yang sudah mengepal keras.
Dengan kemarahan yang memuncak, Satria mendatangi rumah sang kakak. Dia ingin menunda keberangkatannya karena Amanda pergi meninggalkannya.
Kedatangan Satria membuat Addhitama mengerutkan dahi. Apalagi mimik wajah Satria tidak sedap dipandang pagi ini.
"Tunda keberangkatan ku, Kak," pinta Satria.
"Kenapa?" jawab santai Addhitama sambil mengunyah roti sebagai sarapannya. Dan Rifal hanya menjadi penyimak obrolan Papih serta omnya.
"Amanda pergi," lirih Satria.
"Biarkan saja," sahut Addhitama.
"Bang ...."
"Dia bukan wanita baik. Buka matamu," omel Addhitama.
"Tapi, dia bawa anakku, Bang," balas Satria.
"Anakmu nanti juga akan mencarimu," imbuh Addhitama.
Rifal menatap aneh kepada sang Papih. Kenapa papihnya bisa sesantai itu. Padahal menurutnya ini adalah masalah cukup genting.
"Bang, aku mohon."
Satria sangat tahu, Addhitama adalah orang yang sangat tegas. Jika, dia bicara A harus A. Jika, B ya harus B.
"Jam sepuluh kamu berangkat. Dikawal lima bodyguard sekaligus. Dan mereka akan memastikan bahwa kamu memang benar pergi ke Kalimantan."
Satria hanya menunduk lesu. Tidak ada yang bisa menggoyahkan ketegasan seorang Addhitama.
Di lain tempat, Amanda sudah memegang tiket pesawat di tangannya. Senyumnya terus mengembang sambil mengusap perutnya yang cukup membesar.
"Kita berangkat jam sembilan, " ujar seorang wanita yang masih muda dengan kata-kata yang sangat lembut.
"Iya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suami kamu," ucap Amanda.
Mereka akan bertolak ke Kota Surabaya. Di mana ada rumah miliknya di sana. Wanita itu ingin merawat anak yang ada di dalam kandungan Amanda.
# flashback on.
Kemarin, Amanda jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia ingin menghilangkan suntuk. Meskipun hanya berkeliling, tapi bisa membuat mood-nya lebih baik.
Ketika dia sedang berjalan, tidak sengaja dia menabrak seorang wanita muda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Echa.
"Maaf, Mbak," ucapnya pelan sambil menunduk.
"Mbak tidak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Saya nggak apa-apa, kok."
"Sebagai permintaan maaf saya. Bagaimana jika kita makan di restoran itu," tunjuk wanita itu ke sebuah restoran mewah.
Dengan cepat Amanda pun mengangguk. Karena dia juga ingin merasakan makan di restoran yang terbilang sangat mahal itu. Dia hanya bisa makan makanan mahal jika sedang pergi bersama keluarga Ayanda.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka berdua berbincang santai. "Nama kamu siapa?" tanya Amanda.
"Panggil aja, aku Sha," kata si wanita itu dengan senyum manisnya.
"Aku Amanda," jawab Amanda.
"Mbak sedang hamil, ya," tanya Sha.
"Iya, sudah lima bulan."
Tiba-tiba wajah Sha berubah menjadi sendu. Sha menunduk dalam dan mengusap perut ratanya.
"Aku ingin hamil juga," lirihnya.
Amanda tersentak mendengar ucapan wanita di depannya ini. "Nanti juga kamu bisa hamil seperti aku," ujar Amanda dengan lembut.
"Dokter sudah memvonis ku tidak akan pernah bisa memiliki anak. Rahimku sudah diangkat." Sha terisak dengan tubuhnya yang bergetar.
Amanda segera memeluknya. Bagaimanapun dia tahu bagaimana perasaan Sha sesungguhnya. "Apa kamu ingin anak?" Sha pun mengangguk cepat.
"Aku kadang suka sedih jika ada orangtua yang dengan teganya membuang anak tidak berdosa. Kenapa tidak diberikan kepadaku saja? Aku dan suami ingin memiliki buah hati," lirihnya.
"Suamiku tak ingin berpoligami. Dan menceraikan ku pun dia tidak mau," lanjutnya lagi.
"Padahal, jika mereka mau memberikan anak itu kepada kami. Berapapun yang mereka minta akan kami berikan. Dan anak mereka pun pasti kami jamin hidup sejahtera," terang Sha.
Otak Amanda langsung mendapat sinyal yang sangat bagus. Tanpa berpikir panjang dan menimbang-nimbang lag, dia mengatakan, "apa kamu mau anak yang ada di kandunganku? Ayahnya pergi ketika tahu aku hamil dan dia tidak mau bertanggung jawab. Karena anak ini adalah anak dari hubungan gelap kami." Akting, itulah yang Amanda lakukan.
Dua cukup terkejut dengan ucapan Amanda. "Apa kamu tidak ingin merawatnya?" tanya Sha. Amanda pun menggeleng. "Setelah anak ini lahir, aku akan bekerja sebagai TKW."
"Kamu ikhlas menyerahkan anak yang ada di kandunganmu? Dan tidak akan menuntut kami jika, anak itu telah lahir?" Meyakinkan, itylah yang Sha lakukan.
"Tidak, asalkan kamu mau membayar sejumlah uang kepadaku. Sebagai mahar untuk anak ini. Dan kamu mau membiayai masa kehamilanku sampai persalinan ku." Dengan cepat Sha mengangguk.
"Semua persalinan kamu akan saya tanggung," balas Sha.
Makanan pun tersaji di meja. Kesepakatan yang baru saja akan dibuat harus terjeda sejenak. Setelah selesai menikmati pesanan mereka, Sha menyerahkan black card kepada pelayan untuk membayar semua tagihan makanan. Dan Amanda semakin yakin dengan keputusannya. Akan menguntungkan untuknya dan juga anaknya.
Sha mengajak Amanda ke sebuah kedai kopi kesukaannya yang masih berada di dalam mall tersebut. Dan kesepakatan pun mereka mulai sambil menikmati es kopi.
"Pertama, aku ingin pergi dari Kota ini. Terlalu banyak kenangan pahit di sini." Sha masih menyimak apa yang ditawarkan oleh Amanda.
"Kedua, di Kota lain aku ingin kamu semua yang membiayai kebutuhan ku dan anakku sampai aku melahirkan."
"Ketiga, sebagai mahar atas anak ini. Aku meminta uang sebesar 1 Milyar rupiah. Untuk modal ku di negeri orang nanti. Kamu bisa membayar setengahnya dulu. Setelah anak ini lahir, baru kamu lunasi. Aku janji, aku tidak akan pernah ingkar janji. Lagi pula, aku tidak ingin melihat anakku. Dan aku akan pergi dari negeri ini."
Sha menimbang-nimbang penawaran yang diberikan Amanda. Lima menit berselang, Sha mengulurkan tangannya.
"Deal."
Dengan senyum lebar Amanda menyambut uluran tangan Sha. "Deal."
"Tapi, aku akan membuat perjanjian di atas kertas," imbuh Sha.
"Silahkan."
#flashback off.
...****************...
Hayo, ada yang bisa nebak siapa Sha?
Komen banyak aku akan up lagi yang terakhir.
Aku memang bilang mau up 4 bab, tapi aku bukan author tipe cash. Aku mah tipe author cicilan. Nyicil bayar janji up-annya. Harap dimaklumi ya ..