
"Uncle!" panggil Aleeya.
Riana semakin mematung, apalagi mendengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
"Hay, apa kabar?" Riana benar-benar terpesona dengan penampilan Aksa sekarang ini. Lebih dari enam bulan kuliah di luar negeri membuat dirinya semakin dewasa dan tampan. Membuat hati Riana berdegup tak karuhan.
Aleesa segera meminta digendong oleh Aksa. Dan Aksa mencium gemas keponakannya yang satu ini. Wajahnya datar, tetapi memiliki senyuman yang menawan.
"O-om," kata Aleeya.
"No, uncle," sahut Aleena.
Untuk membedakan wajah om dan uncle-nya Aleeya lah yang belum terlalu paham. Dia selalu bilang wajah kedua omnya sama.
"Pulang kok gak bilang dulu, Bang?" tanya Echa.
"Kalo bilang nanti ada yang ngehindar lagi," jawabnya sambil menyindir seseorang yang berada di sampingnya.
Semua orang hanya mengulum senyum. Mereka semua tahu Aksa mencintai Riana. Hanya saja, Riana yang sudah menutup hatinya untuk Aksa.
Melihat Aleeya menguap, Riana segera menggendong bocah tidak mau diam ini dan membawanya meninggalkan semua orang.
"Susah amat," keluh Aksa.
Semua orang pun tertawa. Waktu semakin larut dan mereka kembali ke rumah masing-masing. Pagi harinya, Riana dikejutkan dengan adanya Aksa di meja makan. Canggung itulah yang Riana rasakan.
"Ri, berangkat ke sekolah diantar Abang, ya." Riana pun tersedak mendengar ucapan Echa.
"Pak Mat kan ...."
"Pak Mat mau nganter Kakak ke Bogor. Abang kamu ada meeting pagi," jelas sang ayah.
Riana hanya menghela napas kasar dan mengangguk lemah. Ada senyum kemenangan yang tersungging di bibir Aksa. Setelah berpamitan, Riwna dan Iyan diantar oleh Aksa ke sekolah. Tidak ada obrolan antara
Aksa dan Riana. Hanya Iyan yang terus berceloteh bersama Aksa.
Ketika Riana hendak turun dari mobil, tangan Aksa meraih tangan Riana. Hingga tatapan mereka berdua pun bertemu.
"Aku masih menjaga hatiku untuk kamu," ucap Aksa dengan nada sangat serius.
"Ri, turun dulu. Makasih udah anterin, Ri," jawab Riana.
Aksa tercengang mendengar jawaban Riana. Apa ini karma baginya? Dulu, dia bersikap dingin kepada Riana. Ketika Riana sudah menutup hatinya dia yang malah jatuh cinta kepada Riana.
Aksa tak pantang mundur, dia menjemput Riana ketika pulang sekolah. Tubuhnya sudah bersandar di pintu mobil. Dan tatapannya menajam ketika melihat Riana berjalan dengan seorang laki-laki yang tidak asing bagi Aksa.
"Riana," panggil Aksa.
Riana menoleh ke asal suara, matanya melebar ketika melihat Aksa sudah berjalan ke arahnya.
"Ayo pulang." Aksa sudah menggenggam tangan Riana membuat Kevin terdiam.
"Kan kita mau ke kafe dulu, Ri," tutur Kevin.
"Gak bisa, Riana disuruh pulang cepat oleh ayahnya," kilah Aksa.
Riana diam saja ketika tangan Aksa menariknya menjauhi Kevin. Apa rasa itu masih ada? Sehingga Riana mau mengikuti Aksa.
Mobil pun melaju, hanya keheningan yang tercipta. Aksa memberhentikan mobilnya di sebuah kafe kekinian.
Riana terdiam sesaat hingga Aksa membukakan pintu mobil untuk Riana. Dan menggenggam tangan Riana tanpa ada penolakan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Aksa.
"Samain aja," jawabnya.
Lima menit berlalu, hanya keheningan yang yang tercipta di antara kedua anak manusia ini. Hingga Aksa memberanikan diri untuk membuka suara.
"Kenapa kamu diemin Abang terus?" tanya Aksa.
"Karena tidak ada yang perlu kita bicarakan," balas Riana dingin.
Aksa menghela napas kasar. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Lalu, membukanya.
"Abang ingin kamu memakainya," pinta Aksa. Kening Riana mengkerut tak mengerti.
Tanpa berlama-lama, Aksa memakaikan kalung itu ke leher Riana. Seulas senyum terukir di bibir Aksa.
"Jangan pernah dilepas. Sampai Abang membawamu ke depan penghulu."
...****************...
Maaf ya, tubuh aku lagi drop jadi telat up.