Bang Duda

Bang Duda
114. Kekhawatiran Gio



Hay ....


Aku mau menjawab komenan kalian yang kemarin bilang kok up-nya lama?


Gini ya, Sayang.


Aku nulis ini tidak mengejar apa-apa meskipun udah di kontrak tapi kan cuma dapat receh kecuali, kalo kalian ngasih tip berupa koin itu akan menambah penghasilan author per harinya.


Yang buat aku semangat nulis itu hanya kalian, HANYA KALIAN apalagi kalo komenan banyak uh seneng banget dah aku 😁


Jadi, aku nulis cerita ini sebenarnya selow tapi ketika ada ide pasti langsung aku tulis karena aku gak bisa kalo harus nimbun cerita, basi nanti ceritanya. Makanya bisa dua bab sehari kan updatenya. Cuma akhir-akhir ini si males lagi datang jadi akunya cuma pengen rebahan sambil baca novel ataupun nonton. Sebisa mungkin aku usahain up setiap hari meskipun gak tentu waktunya.


Mon maap kalo sedikit mengecewakan kalian. 🙏


...****************...


Setelah pulang dari rumah Amanda, bayang-bayang wajah Ayanda selalu berputar di kepala Juna. Wajah yang cantik dan juga senyuman yang sangat manis. Membuatnya benar-benar terpana.


"Andai kamu masih sendiri pasti aku akan mengejar mu dan memperjuangkan mu," gumamnya.


Juna mencoba untuk memejamkan matanya namun, tetap tidak bisa. Wajah Ayanda masih menempel di kepalanya. Setelah kepergian istrinya, baru kali ini dia merasakan hal seperti ini. Seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Logikanya masih bisa berpikir jernih tapi, hatinya tak bisa dibohongi. Ingin sekali Juna mengenal Ayanda lebih dekat lagi.


Di apartment, Gio sedang memeluk istrinya dari belakang. Ayanda sedang memberikan ASI untuk si Adek yang terbangun. Melihat Ghassan yang dengan rakusnya melahap susu Mommy-nya membuat Gio menelan ludahnya.


"Daddy juga mau," bisik Gio.


Ayanda hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi suaminya. Dia tahu suaminya sudah menahan hasratnya selama sebulan ini karena Ayanda masih belum melewati masa nifasnya.


"Setelah Adek ya," sahut Ayanda.


Gio semakin mengeratkan pelukannya. Sebenarnya dia hanya bergurau untuk menutupi kekhawatirannya.


Setelah Ghassan melepaskan miminya, Ayanda langsung meletakkan putra bungsunya ke dalam box bayi. Lalu naik ke tempat tidur menemani suaminya.


"Mau sekarang?" tanya Ayanda.


Kancing piyama Ayanda masih terbuka dan memang sengaja dia tidak memakai bra jika malam hari untuk memudahkannya memberi asi untuk si kembar.


Gio menelusupkan wajahnya ke dalam dada mulus istrinya. Tanpa menyusu seperti yang dia ucapkan. Tangannya memeluk erat pinggang Ayanda yang ramping.


"Ada apa Dad?"


Tangan Ayanda sudah mengusap lembut rambut suaminya dan juga menciumi puncuk kepala Gio. Dia tahu ada sesuatu hal yang Gio sembunyikan.


"Mom, di saat Daddy lagi jauh dari Mommy. Tiba-tiba ada yang suka sama Mommy ngasih perhatian ke Mommy. Apa Mommy akan berpaling dari Daddy?"


Mendengar ocehan suaminya Ayanda hanya tergelak. Kemana kepercayaan diri seorang Giondra? Yang selalu dia junjung tinggi di hadapan istrinya.


"Dengar Daddy Sayang. Sebanyak apapun pria yang memberi perhatian ke Mommy tapi, perhatian, sayang dan juga cinta Mommy akan Mommy berikan hanya untuk Daddy dan anak-anak kita."


"Mommy tidak akan pernah berpaling dari Daddy. Hanya wanita bodoh yang akan menyia-nyiakan ladang berlian di depan matanya."


Gio memicingkan matanya, menatap istrinya tak mengerti.


"Daddy tampan dan juga mapan. Mau cari yang seperti apa lagi. Kekayaan Mas Rion aja hanya seujung kuku Daddy, kan."


"Oh jadi bertahan sama Daddy karena harta gitu?" Wajah Gio dibuat kesal.


"Salah satunya itu," jawab Ayanda seraya tertawa.


Gio pun menyunggingkan senyum, menatap wajah istrinya secara intens.


"Maaf, Daddy besok harus berangkat ke Ausy."


"Berapa lama?"


"Dua Minggu."


"Aku akan menyiapkan keperluan mu."


Mendengar aku kamu yang keluar dari mulut istrinya menandakan jika istrinya marah. Gio langsung mendekap hangat tubuh istrinya.


Gio tahu, bukan istrinya yang manja. Hanya saja Ayanda masih membutuhkan Gio di sampingnya. Setelah melahirkan, Gio berjanji akan menemani istrinya hingga 40 hari ke depan tapi, nyatanya tidak seperti itu. Baru sebulan Gio sudah harus meninggalkan istrinya dan juga anak kembarnya.


"Daddy juga gak mau berpisah lama sama Mommy dan anak-anak. Tapi, perusahaan butuh Daddy karena Ayah sudah menyerahkan semuanya kepada Daddy."


Lama Ayanda menatap wajah suaminya yang memancarkan rasa sedih. Dia pun memeluk suaminya erat. Di saat seperti ini dia tidak boleh egois. Tanggung jawab suaminya sangat besar.


"Langsung pulang setelah semuanya selesai." Ayanda berucap dengan nada lirih.


Gio menganggukkan kepalanya lalu melonggarkan pelukannya. Menatap mata istrinya penuh cinta. Gio mengecup hangat bibir mungil Ayanda. Merasakan manisnya bibir istrinya hingga ciuman itu dibalas oleh Ayanda.


Ciuman hangat berubah menjadi ciuman panas. Seolah kedua insan ini tidak ingin melepaskan pagutan bibir mereka meskipun pasokan oksigen sudah mulai menipis.


Tangan Gio sudah bergerilya meraih dua gundukan yang ukurannya semakin hari semakin membesar. Lenguhan lepas begitu saja dari mulut Ayanda. Meskipun dia tau dia belum bisa merasakan kenikmatan surga dunia seutuhnya.


Setelah napas mereka habis, Gio mulai menciumi leher Ayanda dan meninggalkan beberapa tanda cinta di sana. Bibirnya mulai turun ke dua gunung yang sangat besar membuat Gio semakin menelan salivanya.


Gio mulai menghisap pelan sehingga membuat tubuh istrinya bergidik geli. Ini kali pertama Gio menyentuh gunung kembarnya setelah persalinannya. Tak lupa Gio meninggalkan jejak-jejak cinta di sana hingga memenuhi dada istrinya.


Setelah puas Gio mengecup kening Ayanda lalu mendekapnya erat.


"Selama Daddy pergi, Mommy tinggal di rumah Rion, ya. Di sana banyak orang jadi bisa nemenin Mommy dan si kembar," ujar Gio.


Ayanda langsung mengangguk cepat dengan wajah yang berbinar. Dia pun mengecup bibir suaminya sebagai tanda terimakasih.


"Cuma gitu doang makasihnya," ucap Gio.


"Mau apa lagi Daddy? Kan mau main yang enak-enak belum bisa."


"Kasih tanda cinta Mommy di sini." Gio menunjukkan lehernya yang putih mulus.


"Dad, apa kata karyawan dan kolega Daddy nanti?"


"Ini sebagai tanda jika Daddy sudah ada yang memiliki. Apa mau para wanita di luaran saja menggoda Daddy? Daddy lama loh di ...."


Bibir Ayanda sudah menempel di leher Gio dan meninggalkan jejak-jejak cinta di sana. Gio hanya tersenyum melihat lehernya yang sudah tidak mulus sekarang.


Jam sepuluh Gio dan Ayanda sudah tiba di kediaman Rion. Rion dan juga Amanda tidak keberatan jika Ayanda dan si kembar tinggal bersama mereka selama Gio pergi.


Baru saja turun dari mobil, perasaan Gio tidak enak. Benar saja di dalam rumah Rion sudah ada Juna yang sedang bertamu. Gio hanya menatap Juna dingin meskipun Juna bersikap hangat kepadanya. Rion menyadari ada yang tidak beres diantara dua pria ini.


"Gua titip Yanda sama si kembar dan juga Echa. Kalo ada yang coba gangguin bini gua langsung kabarin. Biar langsung gua kirim ke neraka." Ucapan pedas dari Gio mampu menohok hati Juna.


Rion mengangguk pelan. Bukan hanya dia yang merasakan ini, ternyata Gio juga merasakannya. Dua pria ini merasakan jika Juna memiliki perasaan kepada Ayanda. Dan mencoba mendekati Ayanda meskipun Juna tahu Ayanda sudah memiliki suami.


Sebenarnya Gio khawatir menitipkan Ayanda kepada Rion dan Amanda karena pasti Juna akan sering berkunjung ke kediaman Rion. Hanya ini cara satu-satunya agar Ayanda tidak merasa kesepian.


Setidaknya di rumah Rion ada Amanda yang akan membantu Ayanda mengurus si kembar. Ada juga Echa putri sulungnya yang pasti akan membuat Ayanda tidak merasa kesepian ketika ditinggal olehnya.


Dan dia percaya jika Rion akan menjaga Ayanda dan juga anak-anaknya dengan baik. Mereka berdua berjanji akan bekerja sama dalam menjaga Ayanda dan juga Echa.


***


Happy reading ....