
Malam pertama mereka lewati di dalam kamar mereka masing-masing. Rion sedang merenungi nasibnya sekarang ini. Kenapa takdir begitu jahat kepadanya. Jika wanita itu bukan Amanda, mungkin perlahan-lahan dia akan membuka hatinya untuk istrinya. Akan tetapi, dia menikahi Amanda yang bersembunyi di balik pakaian tertutup untuk menutupi semua aibnya.
Sedangkan Amanda hanya bisa pasrah kepada takdir Tuhan. Dia hanya meminta kekuatan dan kesabaran yang luas untuk menjalani biduk rumah tangga ini. Dan juga dia selalu berdoa kepada Sang Pencipta supaya Allah membuka hati suaminya sedikit demi sedikit agar bisa mencintainya.
Pagi harinya selepas solat subuh, Amanda sudah membantu Mbak Ina di dapur. Padahal Mbak Ina sudah melarangnya namun Amanda tetap bersikeras untuk memasak sarapan untuk suaminya. Hidangan sudah terhidang di meja makan. Amanda mengetuk pintu kamar suaminya.
"Bang," panggilnya.
Tak lama Rion keluar dari kamarnya, disambut dengan senyuman manis nan tulus oleh istrinya. Hati Rion seakan membeku, tidak tertarik kepada Amanda.
"Bang, sarapan dulu," ajak Amanda karena suaminya masih berdiri di tempatnya.
"Aku sarapan di kantor," balas Rion dan berlalu meninggalkan Amanda. Mbak Ina yang melihatnya hanya bisa mengelus dada.
Amanda langsung mengejar suaminya. Dia berniat untuk mencium tangan Rion namun ditolak oleh Rion.
"Buka topeng kamu, aku bukan orang bodoh yang mampu kamu bohongi," ujar Rion.
Hati Amanda sebenarnya sakit mendengar ucapan dari suaminya ini. Dia mencoba untuk tegar, dia percaya suatu saat nanti suaminya akan mencintainya.
Hingga terdengar ucapan lembut dan mesra yang terucap dari suaminya.
"Iya Sayang, Mas akan segera ke sana. Tunggu ya." Rion sedang menjawab panggilan dari seseorang.
Amanda tetap mengukirkan senyum hingga mobil suaminya menghilang dari pandangannya. Dia bergegas naik ke kamarnya. Dan air matanya pun tumpah seketika. Sakit yang dia rasakan, namun dia sudah berniat jika dia akan terus berjuang untuk membuat Rion jatuh cinta kepadanya. Meskipun pasti sangat sulit dan memerlukan kesabaran dan keikhlasan ekstra. Apakah dia sanggup?
Waktu cepat sekali berputar, sebulan sudah rumah tangga Amanda dan juga Rion berlangsung. Tanpa ada obrolan, tanpa ada waktu untuk mengenal satu sama lain.
Setiap hari Amanda selalu mengirimkan bekal untuk suaminya. Seperti biasa tanpa nama hanya dengan secarik kertas di dalamnya. Kata-kata kasar nan menyakitkan yang terucap dari mulut suaminya, membuat hati kecilnya ingin sekali menyudahi rumah tangga ini. Mereka berlaku mesra hanya ketika Bu Dina dan Nisa berkunjung ke Jakarta. Mereka tidur dalam satu kamar layaknya suami istri sungguhan. Akan tetapi, pada kenyataannya Rion tidur di tempat tidur dan Amanda tidur di lantai hanya dengan menggunakan kasur lantai.
Di sinilah Amanda, di kamarnya. Air matanya menetes ketika membaca pesan dari suaminya.
Jangan pernah mencampuri urusanku karena aku juga tidak peduli dengan urusanmu.
"Padahal aku hanya memberikanmu sedikit perhatian, tapi ini jawaban darimu Bang," lirihnya seraya menunduk dalam.
Di depan pintu, ada yang mendengar ucapan lirih Amanda. Echa hanya mematung, melongokkan kepalanya melihat keadaan di dalam. Melihat Amanda menangis seorang diri di kamar, membuatnya teringat akan duka mamahnya beberapa tahun yang lalu. Tanpa sadar, Echa menghampiri Amanda.
"Tante," panggil Echa.
Amanda langsung menyeka air matanya, dan memasang wajah sebahagia mungkin. Dia tidak suka jika orang lain melihat kerapuhannya.
"Are you okay?" tanya Echa.
"I'm okay," jawab Amanda.
Padahal Echa tahu istri dari ayahnya ini sama sekali tidak bahagia. Buktinya mereka tidur secara terpisah.
"Aku lapar," ucap Echa memecah keheningan.
"Mau Tante masakin?" Amanda menawarkan diri kepada Echa. Mereka pun menuju dapur. Mbak Ina sangat bahagia melihat anak tiri dan ibu sambung akrab.
Mereka menikmati kwetiau goreng buatan Amanda. Hanya keheningan yang tercipta.
"Tante, jika Ayah gak mau dengerin omongan Tante coba sedikit dipaksa deh. Nanti juga Ayah bakalan nurut," ujar Echa disela-sela makan.
Amanda hanya terdiam, tenyata Echa tahu apa yang dirasakan olehnya.
"Tante harus tahan banting ngadepin Ayah. Banyak cewek yang akhirnya ninggalin Ayah karena gak sanggup menghadapi sikapnya," tambah Echa.
Amanda membisu, benar yang dikatakan Echa. Dia harus bersikap dominan cenderung memaksa agar bisa meluluhkan hati suaminya sedikit demi sedikit.
Malam hari, deru mobil terdengar. Amanda sudah menyiapkan makan malam dan sekarang akan menyambut suaminya.
"Siapa dia Bang?" sergap Amanda dengan sedikit lantang.
"Dia pacarku," jawab Rion datar.
"Oh ... ini, wanita yang pura-pura baik padahal tingkah aslinya seperti seorang pelac*r. Yang kerjaannya cuma ngangkang dapet duit," cibir Dinda dengan tertawa mengejek.
Plak!
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Dinda. Membuat Rion melebarkan matanya.
"Amanda," bentak Rion tersulut emosi. Dinda berakting sangat sempurna sekarang, pura-pura meringis kesakitan.
"Kenapa Bang? Abang mau pukul Manda juga? Silahkan pukul," ucap Amanda seraya menyodorkan pipinya ke wajah Rion.
"Manda istri sah Abang menurut hukum dan agama. Abang tidak sedih ketika istri Abang sendiri dikatakan sebagai pelac*r," lanjut Amanda.
Rion hanya mematung di tempatnya, tidak bisa berbicara apa-apa.
"Jika Abang suami yang bijak, Abang tidak akan pernah membawa wanita lain masuk ke rumah ini. Ada hati yang harus Abang jaga, ada wanita di dalam rumah ini yang harus Abang hargai keberadaanya. Meskipun Abang tidak menganggapnya. Manda bukan boneka yang hanya bisa diam jika Abang bersikap seenaknya. Manda juga punya perasaan," jelasnya pada Rion.
"Dan untuk Mbaknya, Anda wanita saya juga wanita. Kita sama-sama kaum hawa. Jika Mbaknya punya harga diri dan berotak cerdas, Mbaknya tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan suami orang," ujar Amanda kepada Dinda.
"Hanya seorang pelac*r yang mau merendahkan diri dihadapan suami orang," imbuh Amanda dengan senyum tipis.
Dinda sangat geram mendengar perkataan dari Amanda, hingga tangannya terangkat ke atas. Amanda sudah siap dan memejamkan matanya, namun tidak ada tanda-tanda panas di pipinya. Amanda membuka matanya, ternyata Rion menghadang tangan Dinda yang ingin menampar istrinya.
"Jangan bersikap kasar kepada Amanda. Dia tanggung jawabku," ujar Rion.
Ada sedikit kehangatan di hati Amanda mendengar ucapan suaminya ini.
"Aku juga tanggung jawabmu Mas," balas Dinda dengan sedikit emosi.
"Iya aku tahu. Hanya saja kita tidak terikat dalam tali pernikahan," jelas Rion.
"Kalo begitu, nikahi aku secepatnya Mas," ucap Dinda.
Duarr!!
Bak disambar petir di siang bolong. Amanda benar-benar syok mendengar ucapan wanita yang tak tahu malu ini. Begitu juga Rion, dia tidak mungkin memiliki istri lebih dari satu.
"Atau sekarang juga Mas ceraikan dia," ucap Dinda seraya menunjuk wajah Amanda.
"Hahahaha, tidak semudah itu Ferguso," sahut Amanda dengan tertawa mengejek.
Rion hanya bisa diam. Benar kata Amanda, tidak semudah itu Rion menceraikan istrinya. Dia sudah terikat janji dengan Mamahnya, wanita yang sangat Rion sayangi dalam hidupnya.
***
Hay ...
Curhat dikit,
Aku sad, makin ke sini jempolnya semakin berkurang🤧
Maaf ya ada keterlambatan review, padahal aku nyerahin ya jam 00.30 ini 🤧
Ayo dong kasih jempol, komen dan juga votenya sebanyak-banyaknya😁
Happy reading semua, semoga terhibur ...