Bang Duda

Bang Duda
371. Hasil Tes DNA (Musim Kedua)



Dua Minggu berselang, hasil tes DNA pun sudah di tangan Addhitama. Dengan sengaja Addhitama menyuruh beberapa orang berjaga di rumah sakit supaya hasil tes DNA itu murni. Tidak ada yang memanipulasi. Di rumah Addhitama, ketiga anak Addhitama serta Satria sudah berkumpul. Karena inilah awal atau akhir kisah Satria dengan Amanda. Hati Satria bergemuruh tak karuhan. Takut, itulah yang Satria rasakan.


"Jangan tegang, santai aja, Om. Apapun hasilnya sama saja, kan. Akan hidup jauh dari kata layak," kelakar Rifal.


Hanya anak kedua Addhitama yang memiliki jiwa nyinyir bak netizen. Dia tak pandang usia, siapapun akan menjadi bahan nyinyiran. Termasuk papihnya sendiri.


Addhitama datang dengan membawa sebuah amplop di tangannya. Dan meletakkan amplop itu di atas meja. Amplop yang berisi hasil tes DNA.


"Bagaimana hasilnya, Bang?" tanya Satria.


"Belum aku buka."


"Bukalah, Dit," titah Addhitama kepada putra bungsunya.


Radit membuka isi amplop tersebut dan tulisan tebal di sana menyatakan POSITIF.


"Itu memang anak, Om," ujar Radit sambil menyerahkan kertas itu kepada Satria.


Ada kebahagiaan yang menyelimuti hati Satria. Namun, ada juga kesedihan yang melanda hatinya. Rona bahagia berubah menjadi wajah yang pilu.


"Kamu tau apa konsekuensinya?" Satria mengangguk lemah.


"Angkat kaki dari rumah itu, dan terbang ke Kalimantan. Ada sebuah gubuk kecil yang bisa kalian tempati di sana. Di sana, kamu akan menjadi karyawan biasa dengan gaji yang tidak banyak," terang Addhitama.


"Lupakan kehidupan mewah. Sekarang waktunya Om kembali ke kehidupan yang susah," cibir Rindra.


"Tau deh, yang pernah ngalamin hidup susah mah," timpal Rifal.


Radit hanya tersenyum mendengar ejekan yang keluar dari mulut Rindra dan malah menjatuhkan Rindra karena cibiran Rifal.


"Sebagai senior harusnya kamu ngajarin Om kamu," kata Addhitama kepada putra sulungnya. Rindra berdecak kesal sedangkan yang lainnya tertawa.


Sepanjang perjalanan, Satria bergelut dengan perasaannya sendiri. Meninggalkan rumah mewah, mobil mewah, jabatan tinggi karena sebuah kesalahan. Andai jika sang papah tidak menuliskan wasiat seperti itu, mungkin dirinya tidak akan menerima hal seperti ini di usia yang memang sudah tidak muda lagi.


Surat wasiat yang ditulis Adijaya terbilang aneh. Tetapi, itu caranya untuk mendidik kedua putranya. Sudah pasti, setelah dia dipanggil Tuhan semua perusahaan akan dipegang oleh kedua putranya. Apalagi, dua putranya itu sama-sama single. Addhitama dengan status duda beranak tiga. Dan Satria masih betah melajang dengan alasan hanya dia yang tahu. Adijaya hanya tidak ingin kedua putranya melakukan hal yang tidak dibenarkan oleh agama. Perilaku itulah yang nantinya akan memberatkannya di akhirat. Lebih baik, dia memberikan 75% dari semua perusahaannya kepada panti asuhan dan kaum dhuafa. Karena itulah yang akan meringankan segala siksa kuburnya.


Sesampainya di rumah, Satria mencari-cari keberadaan Amanda. Namun, tidak dia temukan. Menelepon Amanda pun tidak pernah dijawab. Membuat Satria geram sendiri. Sore menjelang, Amanda dengan santainya masuk ke dalam rumah.


"Dari mana kamu?" Pertanyaan yang penuh dengan penekanan.


"Abis cari angin. Ibu hamil tidak baik berdiam di dalam rumah seperti burung di dalam sangkar. Karena akan menimbulkan kestresan," sahutnya dan berlalu meninggalkan Satria.


"Hasil tes DNA itu sudah turun," ucap Satria yang berhasil menghentikan langkah Amanda. Amanda membalikkan tubuhnya dan menatap lamat-lamat ke arah Satria. Menandakan bahwa dia ingin penjelasan lebih lagi.


"Hasilnya positif, janin itu adalah anak kandungku," lanjut Satria.


Tidak ada jawaban dari Amanda, dia melanjutkan kembali langkahnya. "Kemasi barang-barangmu. Besok kita akan terbang ke Kalimantan," titah Satria.


Amanda yang sudah membuka pintu kamar pun terdiam mendengar ucapan dari Satria. "Kamu saja yang pergi, aku akan tetap tinggal di Kota ini."


Bruk!


Suara pintu yang ditutup dengan penuh kekesalan dan emosi. Satria hanya menghela napas kasar. Dia tahu, Amanda marah kepadanya.


"Cih, jangan harap aku mau ikut hidup melarat denganmu," gumam Amanda setelah membanting tasnya ke atas tempat tidur.


Amanda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia mengusap perut yang sudah cukup membuncit.


"Aku tidak rela jika kamu menikmati harta Ayah kamu seroang diri. Jika, ibumu tidak bisa mendapatkan harta Ayahmu kamu pun tidak boleh mendaptakannya."


Di rumah yang lain, Echa yang sedang berada di kamarnya masih teringat akan kejadian yang tadi siang dilihat dan didengarnya.


"Semua persalinan Anda akan saya tanggung."


"Apa maksudnya?" gumamnya.


Lingkaran kedua tangan di pinggang Echa membuyarkan ingatannya. Dia tersenyum ketika melihat sang suami yang semakin manja. Selalu saja memeluknya dan tidak mau keluar kamar jika sedang libur dari segala aktifitas.


"Ayah udah pulang?" Radit hanya mengangguk.


"Aku temuin Ayah dulu, ya." Radit semakin mengeratkan pelukannya. Seolah tidak memperbolehkan Echa pergi dari Radit.


"Sebentar saja, Ba," ucap Echa.


Radit pun mengalah, akhirnya dia melepaskan pelukannya. Echa tersenyum hangat ke arah Radit lalu mengecup singkat bibir sang suami.


"Anak-anak Bubu, nanti ya main sama Babanya. Kita tengok Engkong dulu," ujar Echa kepada anak-anaknya yang masih di dalam perut.


Radit membungkukkan badannya lalu mengecup perut Echa sebanyak tiga kali. "Baba mandi dulu, ya."


Echa pun menuju dapur mengambil segelas air putih yang akan dibawa ke kamar sang ayah. Sebelum masuk ke kamar sang ayah, Echa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk."


Dengan senyuman yang mengembang Rion menyambut kedatangan sang putri yang sudah kewalahan akan kandungannya. Tetapi, masih selalu menyempatkan diri untuk membawakannya air putih setiap Rion pulang kerja.


"Minum dulu, Yah." Rion pun meneguk air putih yang Echa bawakan.


"Jangan repot-repot, Dek. Ayah bisa ambil sendiri ke dapur," ujar Rion. Echa duduk di samping ayahnya dan memeluk tubuh sang ayah.


"Apa Ayah kesepian?" Pertanyaan yang tiba-tiba Echa lontarkan kepada sang ayah.


"Kenapa harus kesepian? Ayah punya kamu, Riana, Iyan dan juga menantu laknat. Hidup Ayah sudah sangat bahagia apalagi ketika anak-anak kamu lahir nanti." Rion membalas ucapan Echa dengan tangan kanannya yang mengusap perut buncit Echa. Dan setiap sentuhan dari Rion anak-anak Echa selalu saja merespon dengan gerakan-gerakan yang cukup kencang. Seolah mereka mengatakan, jangan sedih Engkong, ada kami.


"Jangan banyak pikiran, satu bulan lagi persalinan kamu. Kuatkan mental kamu dan jaga kesehatan fisik kamu. Jangan ke dapur, biar Mbak Ina aja yang masak." Echa pun mengangguk patuh.


Setelah resmi bercerai, Rion menarik dua asisten rumah tangganya Mbak Ina dan Pak Mat untuk bekerja di rumah Echa. Kebetulan Echa belum mencari asisten rumah tangga. Rion tidak tega jika harus memecat dua orang yang menjadi saksi bisu atas rumah tangganya yang selalu berakhir dengan sebuah perceraian.


Di lain tempat, senyum tersungging di bibir ibu hamil.


"Menyerahkan kamu ke orang yang tepat adalah keberuntungan untukku. Maafkan ibumu ini, ini semua untuk kebaikan kamu di masa depan dan juga kebaikan ibu di masa yang akan datang."


...****************...


Ayo dong komen yang banyak ..


Aku nulis 2 bab lagi nih kalo kalian semangat buat komennya.