
Hari ini adalah hari spesial untuk sang putri tercinta. Genap di hari ini Echa berusia 17 tahun. Namun, wajah muram yang nampak pada sang gadis. Karena Riza masih berada di Singapura untuk menjalani serangkaian pengobatan.
Echa pun sepertinya tidak ingat dengan ulang tahunnya sendiri. Tidak ada waktu memikirkan dirinya. Dia hanya memikirkan Riza dan berharap Riza sembuh. Melihat Riza kesakitan membuat hatinya teriris. Sampai kapan Riza akan tersiksa dengan penyakitnya?
Mima dan Sasa hanya saling sikut, mereka tahu apa yang sedang Echa rasakan. Meskipun, Echa tidak mengatakan.
"Riza akan baik-baik aja kok, Cha," imbuh Sasa.
"Dia gak bales chat gua dan telepon gua pun gak pernah dia jawab," keluhnya.
"Mungkin dia lagi menjalani perawatan. Sabar, pasti nanti Riza langsung hubungi lu balik kok, percaya deh," ucap Mima.
"Cha, jika memang umur Riza tinggal sebentar lagi. Apa lu akan bisa mengikhlaskannya pergi untuk selamanya?" tanya Sasa.
Wajah Echa berubah sendu, matanya nanar menatap ke arah dua sahabatnya.
"Gua gak tahu," lirihnya.
"Cha, apa sekarang lu beneran sayang sama Riza? Bukan hanya sekedar pura-pura," tanya Mima.
"Gua sayang sama Riza dan gua gak mau Riza pergi ninggalin gua," jawabnya dengan nada berat.
"Jujur sama Riza kalo lu juga sayang sama dia. Biar dia senang dan tenang ketika dia pergi ninggalin kita semua," terang Sasa.
Bulir bening pun menetes diujung mata Echa. Dia mulai terisak membuat Mima dan Sasa memeluk Echa dengan erat.
"Gua gak mau berandai-andai. Gua hanya punya doa yang selalu gua panjatkan untuk kesembuhan Riza. Gua gak mau mendahului takdir Tuhan," jelasnya.
"Biarkan Tuhan yang mengatur takdir Riza. Sekarang gua akan terus berpositive thinking. Gua ingin menjadi obat yang mujarab untuk Riza," lanjutnya.
Mima dan Sasa semakin erat memeluk tubuh sahabatnya ini. Disaat seperti ini pun, Echa tidak menunjukkan keputus asaannya. Disaat semua orang mulai pesimis, dia masih tetap optimis jika, suatu saat nanti Riza akan sembuh.
Setelah jam istirahat selesai, murid-murid di kelas Echa di ajak ke aula oleh guru kesenian. Karena hari ini akan diajarkan seni tari. Begitulah yang dikatakan Pak Eko.
Setelah sampai di depan aula, Pak Eko menyuruh Echa yang masuk terlebih dahulu ke dalam aula. Membuat Echa heran, tidak biasanya seperti ini.
Ketika pintu di buka, ruangan masih gelap. Hingga sakelar dihidupkan dan semua keluarga Echa sudah berada di sana.
"Selamat ulang tahun," ucap mereka semua.
Wajah Echa terlihat sangat bahagia dan matanya sudah berkaca-kaca. Echa berlari ke arah Mamah dan ayahnya. Memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
Setelah itu, Echa memeluk tubuh tegap sang papa dengan eratnya. "Happy birthday putri Papa," ucapnya sambil mengecup ujung kepala Echa.
"Makasih Papa," balas Echa dengan mengeratkan pelukannya.
Ayanda tersenyum ke arah Gio dan juga Echa. Momen seperti ini mengingatkannya ketika Echa usia 4 tahun. Karena sering diejek oleh teman-temanya sebagai anak tak memiliki ayah, Echa pun menangis sedih ketika sampai rumah.
"Loh, anak Papa kenapa nangis?" tanya Gio yang baru saja tiba dari Australia.
"Papa adalah Papanya Echa, kan?" tanya Echa kecil.
"Iya, Sayang. Papa ini ayah kamu."
"Kata teman-teman, Echa tidak memiliki ayah," ujarnya.
Dengan hati yang pedih Gio memeluk tubuh Echa kecil. Anak yang tak berdosa ini harus menerima ejekan dari teman-temannya. Gio menggendongnya dan menghibur Echa kecil agar Echa kecil melupakan perkataan teman-temannya tadi di sekolah.
Ketika Ayanda pulang kerja, Gio menanyakan hari ulangtahun Echa. Dan ternyata lusa Echa menginjak usia 5 tahun. Gio sudah menyiapkan rencana.
Gio menyiapkan pesta kecil di kelas Echa. Dengan senangnya Echa memeluk tubuh Gio. Dan memperkenalkan kepada teman-temannya jika Gio adalah papanya.
"Aku juga punya Papa seperti kalian. Papa ku sangat tampan dan juga sangat baik," kata Echa sambil mengecup pipi Gio.
Ucapan Echa mampu membuat butiran air mata jatuh membasahi pipi Ayanda. Kasih sayang Gio terhadap Echa sangat-sangat tulus. Menganggap Echa seperti putrinya sendiri. Meskipun, Echa adalah orang lain yang tanpa sengaja masuk ke dalam keluarga Wiguna.
****
"Tiup lilinnya ... tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga." Mereka bernyanyi bersama.
Echa memejamkan matanya sebelum meniup lilin. Membuat sebuah permintaan di usianya yang sudah bertambah sekaligus berkurang. Setelah make a wish Echa pun meniup lilinnya. Semua orang bahagia merayakan ulang tahun Echa. Namun, mata Echa seperti mencari seseorang. Mencari seseorang yang dia rindukan.
Hingga sebuah tayangan video diputar di layar yang sudah tersedia.
Selamat ulang tahun El.
Maaf, di ulang tahun kamu kali ini, aku gak bisa merayakan bersama kamu. Aku harus berjuang untuk kesembuhanku. Terimakasih sudah mau menemaniku. Kamulah alasan yang membuatku masih mau berjuang untuk kesembuhanku ini. Aku ingin memiliki waktu yang lebih panjang lagi supaya bisa melewati hari-hari bersama kamu.
Doaku di umurmu yang 17 belas ini, semoga apa yang kamu inginkan dan impikan tercapai. Dan semoga doa yang selalu kamu panjatkan untuk kesembuhanku dikabulkan oleh Tuhan.
I love you, El.
Ucapan dari Riza dengan wajah pucatnya yang sedang terbaring di ranjang pesakitan. Mata Echa berkaca-kaca melihat tayangan itu.
Tak lama kemudian, diputarlah video dengan beragam foto Echa dan juga Riza. Dengan backsound lagu surat cinta untuk Starla dari Virgoun.
Semua orang tersenyum melihat foto-foto antara Echa dan juga Riza. Tidak terkecuali kedua orangtuanya dan juga keluarganya yang lain. Echa nampak bahagia bersama Riza. Meskipun, ada gurat kesedihan di wajahnya.
🎶
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap di sini
🎶
Tumpah sudah air mata yang sedari Echa tahan. Pertahannya tak mampu menahan dada yang sudah sangat terasa sesak. Ayanda menatap ke arah Rion dan menganggukkan kepalanya.
Rion menghampiri Echa lalu mendekapnya. Tangis Echa terdengar sangat lirih membuat semua orang ikut merasakan kesedihan Echa.
"Riza sedang berjuang untuk sembuh. Itu semua karena kamu. Kamu yang menjadi alasan dan kekuatan Riza untuk sembuh," ungkap Rion.
Echa hanya mengeratkan pelukannya kepada ayah kandungnya dengan air mata yang sudah membasahi kemeja ayahnya.
"Selamat tambah usia, Dek. Terimakasih sudah tumbuh menjadi anak yang membanggakan untuk Ayah dan juga Mamah. Maafkan Ayah yang belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk kamu," ucapnya.
Rion mengecup hangat kening sang putri seakan menyalurkan kasih sayang yang tulus kepadanya. Dan tangan Echa masih memeluk erat pinggang ayahnya.
Suasana yang harusnya bahagia kini menjadi haru. Di hari ulang tahun yang spesial ini harusnya Echa merasakan kebahagiaan. Namun, Echa mendapatkan hadiah yang terbungkus dengan kesedihan. Dan Echa adalah anak yang sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya.
****
Happy reading ....