
Sheza sudah memantapkan hati untuk melupakan Bossnya. Raut kesedihan dan kesakitan yang dia lihat dari wajah Ayanda membuat dadanya sesak. Sheza bisa menebak sudah banyak kesakitan yang ditorehkan oleh Rion dan Dinda, hingga Ayanda bisa semurka itu.
"Buatkan teh untuk Dinda," pinta Rion kepada Sheza.
Dengan langkah malas Sheza bangkit dari duduknya dan menuju pantry, tanpa menoleh sedikit pun kepada Rion.
Rion menatap Sheza dengan hati yang pilu. Terjebak dalam kondisi yang menyulitkan yang kini Rion rasakan. Hatinya masih berlabuh pada wanita mungil yang sedang berjalan menjauhinya, namun raganya seolah terikat kepada Dinda.
"Maafkan, aku," gumam lirih Rion.
Di pantry, Sheza hanya menghela nafas berat. Nama yang Bossnya sebut tadi terdengar sangat mesra di telinganya. Sheza mengambil cangkir lalu meletakan teh ke dalamnya. Ketika Sheza hendak memasukkan gula, bibirnya terangkat dengan sempurna ketika melihat tempat garam.
"Apa gua masukin garam aja ya ke ini teh," gumamnya sambil tertawa riang.
"Masukin aja, lebih banyak lebih bagus," sahut Arya yang baru saja masuk ke pantry.
Sheza menutup mulutnya dan meminta maaf kepada Arya.
"Ngapain lu minta maaf, kata orang untuk mengusir ular harus nabur garam. Berhubung itu ular jadi-jadian kasih aja garam ke minumannya," lanjut Arya yang kini sudah meneguk air putih.
Sheza pun tergelak mendengar ucapan atasan somplaknya. "Nggak jadi deh Pak, saya masih punya hati nurani," ucapnya. Sheza menuangkan beberapa sendok gula ke dalam cangkir. Arya hanya berdecak kesal.
Setelah teh sudah selesai dibuat, Sheza melangkahkan kakinya menuju ruangan Bossnya. Ketika tangannya hendak membuka pintu, Sheza menarik nafas dalam.
"Kuatkan hati dan matamu, Sheza." Monolognya.
Baru saja Sheza masuk ke dalam ruangan, langsung disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati. Sheza langsung meletakkan teh di atas meja tanpa sepatah kata pun. Setelah tugasnya selesai, Sheza langsung pergi meninggalkan ruangan berhawa panas itu. Sedangkan Rion, menatap Sheza dengan intens dengan rasa bersalah karena dengan tidak sengaja melukai hati Sheza.
"Mbak Sheza, ada mas Azka tampan di bawah," ucap Pak satpam
"Sekarang kan belum jam pulang kerja, Pak," sahut Sheza.
"Katanya mau ketemu Mbak sebentar," balas Pak satpam.
Dari dalam ruangan samar-samar terdengar ada suara pria. Rion bangun dari tempatnya dan mengecek kondisi di luar. Meninggalkan Dinda seorang diri.
Dilihatnya meja Sheza kosong dan hanya ada security yang hendak menuruni anak tangga.
"Pak Karyo," panggil Rion.
"Ada apa?" tanya Rion.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Di bawah ada tamu Mbak Sheza," jawabnya.
Tamu?
Dengan langkah cepat Rion menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti pada pijakan terakhir anak tangga. Wajah Rion sudah merah padam melihat Sheza sedang tersenyum manis ke arah Azka begitu pun Azka. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Hati-hati, aku akan merindukanmu," ucap Sheza kepada Azka setelah Azka keluar dari lantai bawah.
"Miss you too," teriak Azka.
Senyuman Sheza masih belum pudar di wajahnya, hingga dia terkejut dengan seseorang yang memasang wajah tak bersahabat. Sheza kini tak peduli, dia terus melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Baru saja kakinya menginjak tangga pertama, tangannya ditarik paksa oleh Rion. Dan Rion membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Sheza menatap tajam ke arah Rion dengan tatapan tidak suka. "Kenapa dengan Anda, Pak? Masih bisa-bisanya Anda membawa saya ke sini sedangkan wanita Anda ada di atas," ujar Sheza dengan wajah yang sudah dipenuhi emosi.
"Ada hubungan apa kamu dengan dia?" bentak Rion.
Sheza hanya tersenyum miring. "Saya sudah pernah bilang, jangan pernah campuri kehidupan saya karena saya juga tidak pernah mencampuri kehidupan Bapak," tegasnya.
"Aku mencintaimu, Sheza," ucapnya lirih.
Tanpa ragu, Rion mendekatkan wajahnya kepada Sheza dengan nafsu yang menderu, namun Sheza beringsut mundur. Kini tubuh Rion sudah menindih tubuh mungil Sheza. Dengan sekuat tenaga Sheza mendorong tubuh Rion.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Rion. "Jika Anda mencintai saya, Anda tidak akan pernah merusak saya!" serunya dengan mata nanar.
Rion menatap wajah ketakutan Sheza. "Aku cemburu," kata Rion dengan penuh penyesalan.
"Cemburu hanya untuk orang yang mencintai wanitanya. Sedangkan Anda tidak mencintai saya, hati Anda hanya untuk dia. Masa lalu Anda yang sudah menyakiti hati ibu Ayanda dan sekarang mencoba menyakiti hati saya," jelasnya. Sheza keluar dengan membanting pintu sangat keras.
Sheza berlari menjauhi mobil Rion dengan air mata yang sudah tidak bisa dia bendung.
"Aku harus keluar dari sini," gumamnya.
***