Bang Duda

Bang Duda
300. Hatiku Sakit (Musim Kedua)



Masa lalu Amanda yang telah menjual kesuciannya kepada seorang pengusaha. Membuat penyesalan itu hadir kembali. Dan dia benar-benar merutuki kebodohannya di masa lalu. Hanya rasa bersalah yang bersarang di hatinya.


Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku harus menyerahkan satu-satunya aset berhargaku pada pria itu? Kenapa?


Satu milyar adalah angka fantastis yang dia patok untuk sebuah mahkota yang dia jaga Selama dua puluh lima tahun. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Sedalam-dalamnya penyesalan itu dikubur. Tetap saja, masih ada rasa itu dan masih terukir jelas di dalam ingatan.


Satria Wiratama, dialah orang yang berani membeli kesucian Amanda Maharani dengan harga yang sangat mahal. Apa alasannya? Karena Satria ingin mencicipi nikmatnya seorang tubuh perawan sekaligus melepas keperjakaannya. Pergaulan dengan teman-teman yang salah membuat Satria ingin merasakan apa itu surga dunia. Dan kebetulan, Satria mendapat rekomendasi seorang perawan dengan memiliki bentuk tubuh yang indah dan juga cantik. Dan sekarang orang itu muncul lagi di hadapannya. Hanya kepedihan yang mendalam yang Amanda rasakan.


Kenapa Tuhan mempertemukan ku dengan dia lagi? Hatiku seperti teriris pisau yang tajam. Ketika melihat wajahnya aku larut dalam kenangan sedih masa lalu.


Ternyata yang merekomendasikan itu adalah ayah dari Amanda sendiri. Simbiosis mutualisme jatuhnya, saling menguntungkan untuk mereka berdua. Tapi, sangat merugikan untuk Amanda. Hingga sekarang, penyesalan itu masih ada di dalam lubuk hati Amanda.


Tak seorang pun yang tahu siapa yang berani membayar mahal mahkotanya. Karena dia sudah terikat perjanjian dengan Satria jika, setelah kejadian malam itu mereka akan kembali menjadi manusia yang tak saling kenal.


"Sayang, mata kamu kenapa sembab?" tanya Rion yang melihat wajah Amanda dari pantulan cermin.


"Manda sedih, Bang. Sebentar lagi Echa akan meninggalkan kita," elaknya.


Rion memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dan meletakkan dagunya di atas bahu Amanda.


"Kita semua pasti akan sedih. Tapi, itulah yang harus kita lakukan. Kebahagiaan Echa adalah yang terpenting untuk kita." Amanda pun mengangguk.


Maaf, Bang. Manda belum siap untuk cerita.


Pagi-pagi sekali, Rion sudah rapi membuat Amanda mengerutkan dahinya.


"Mau ke mana Bang?"


"Abang harus ke Bandung. Toko kita yang di Bandung kebakaran, " ujarnya.


"Astaghfirullah."


"Abang sama Arya akan berangkat terlebih dahulu. Kemungkinan setelah si kembar berangkat sekolah, Yanda akan menyusul ke Bandung."


"Ya udah, hati-hati." Rion pun mengangguk lalu, mencium kening Amanda sebelum pergi.


"Katakan juga pada Riana, nanti Riana akan marah kepada Abang jika tidak pamit kepadanya."


Amanda pun terkekeh, Riana sangatlah posesif kepada ayahnya.


"Iya, nanti Manda sampaikan kepada Riana."


Di kediaman Gio, Ayanda sudah rapi dengan pakaiannya. Membuat si kembar mengernyitkan dahi mereka.


"Mommy mau ke mana?"


"Mommy harus ke Bandung. Toko bakery milik Mommy dan Ayah kebakaran."


"Astaghfirullah," ucap Aksa dan juga Aska berbarengan.


"Mommy sudah menyuruh Kakak untuk tidur di rumah membawa Riana, Keysha dan juga Beeya. Kalian hati-hati, ya di rumah. Takutnya, Mommy tidak bisa pulang hari ini," ujar Ayanda.


"Daddy?"


"Hari ini Daddy harus ke Singapura. Lusa baru pulang. Jadi, kalian jangan nakal dan harus bisa jaga Kakak dan juga adik-adik kalian." Si kembar pun mengangguk patuh.


"Ada beberapa orang yang akan berjaga-jaga di luar dan juga akan mendampingi kalian jika, keluar rumah."


"Apa boleh Abang dan Adek pergi makan di luar?" tanya Aksa ragu.


"Boleh, tapi harus pake pengawalan." Aksa pun mengangguk patuh.


"Yang jaga Mommy siapa?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Aska.


"Ada Ayah dan juga Papah. Daddy percaya sama mereka."


Setelah si kembar berangkat sekolah, Gio mengantar Ayanda terlebih dahulu ke Bandung. Dan kebetulan, pesawat miliknya menjemputnya di Bandung.


"Setelah semuanya selesai, kita akan honeymoon kembali."


"Apa Daddy yakin, Mommy bisa mengandung lagi?"


"Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang," ucap lembut Gio sang mengecup lembut kening istrinya dan memeluknya.


Pak sopir hanya tersenyum bahagia melihat dua majikannya yang selalu harmonis dalam menjalani biduk rumah tangga. Tidak ada namanya pencitraan dalam rumah tangga Giondra Aresta Wiguna. Semuanya memang nyata adanya.


Dua setengah jam mengendara, tibalah mereka di toko bakery yang kebakaran. Sungguh miris nasib toko itu. Dan Ayanda hanya menghela napas kasar.


"Jangan sedih, Mommy pasti bisa membangunnya kembali." Hanya anggukan samar yang Ayanda berikan.


Gio melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya dia berangkat.


"Mom, Daddy berangkat, ya. Hati-hati, bangunan ini mudah roboh."


"Iya, Daddy juga hati-hati."


Baru saja Gio hendak menempelkan bibirnya ke bibir mungil Ayanda. Teriakan dari seseorang yang sangat dikenalinya terdengar.


"Gua tampol lu pagi-pagi mesum di sini." Ya, itu suara Rion. Manusia perusak suasana. Gio berdecak kesal dan menatap tajam ke arah Rion.


Akhirnya, Gio hanya mencium kening Ayanda. "Jagain bini gua, lecet sedikit gua bogem lu." Kini, Gio yang mengancam Rion.


"Tanpa lu minta, gua pasti jagain. Pergi sana," usir Rion.


Ayanda hanya menghela napas kasar jika, sudah melihat dua pria dewasa ini beradu mulut.


Setelah Gio pergi, Ayanda dan Rion menghampiri Arya yang sedang mengecek kondisi toko. Arya mengenakan helm pelindung karena bangunan ini mudah roboh. Begitu juga Ayanda yang baru saja dipasangkan helm keamanan oleh Rion.


"Makasih, Mas."


"Pegang tangan, Mas. Takut kamu kenapa-kenapa ntar Mas yang kena bogem suami kamu." Ayanda pun terkekeh dan mendengar ucapan Rion. Dan dia menuruti perintah Rion.


Ayanda menatap setiap sudut ruangan yang terbakar. Tidak ada yang tersisa di sana.


"Kerugian kita di atas lima ratus juta," imbuh Arya.


"Gak apa-apa, namanya juga musibah. Yang penting tidak ada korban jiwa," sahut Ayanda.


Mereka bertiga pun sibuk dengan membahas tentang kebakaran ini. Hingga sepasang mata terlihat syok melihat tangan Ayanda yang merangkul lengan Rion. Begitu juga Rion yang dengan posesifnya merangkul lengan Ayanda.


"Katanya mantan suami-istri, tapi kok ...."


Dan sekarang, Rion mengusap lembut wajah Ayanda dengan tisu. Terlihat seperti sepasang suami-istri sungguhan.


Orang itu mengambil ponselnya dan mencoba mengambil gambar serta video mereka berdua. Untuk apa? Hanya orang itu yang tahu.


Di Jakarta.


Amanda duduk seorang diri di kursi malas di halaman belakang. Tatapannya lurus ke depan tapi, kosong. Hanya bayang-bayang masa lalu yang memenuhi kepalanya.


"Maafkan Manda, Ya Allah. Maafkan, Manda."


"Bunda," panggil Echa.


Amanda segera menyeka matanya. Dan menoleh ke arah Echa uang sudah rapi.


"Mau ke mana?"


"Dan Papa ada tugas ke Singapura. Lusa baru balik Jakarta," tambahnya.


"Oh, ya udah hati-hati. Dijemput Radit, kan?" Echa pun mengangguk.


Keesokan harinya, Amanda memutuskan untuk memeriksakan kandungannya ke dokter. Awalnya, Rion ingin ikut. Karena dia harus berdiam diri lebih lama di Bandung, Amanda akan memeriksakan kandungannya seorang diri ke rumah sakiy. Tentu saja, diantar oleh Pak Mat.


Tibanya di sana, Amanda disambut hangat oleh perawat cantik bernama Lala.


"Sepertinya ada kabar gembira, nih," goda Lala.


"Doain aja," sahut Amanda tersenyum bahagia.


Ya, dengan mendekatkan diri kepada sang pemilik semesta. Hati Amanda sudah mulai tenang. Bayang-bayang masa lalu itu pun mulai memudar walaupun tidak bisa hilang.


Amanda mendapat antrian nomor tujuh. Dan sekarang baru nomor dua. Dari pada jenuh menunggu, Amanda memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu di kantin rumah sakit.


"La, kalo udah masuk nomor enam telepon, ya. Aku mau ke kantin dulu." Lala pun mengacungkan ibu jarinya.


Amanda menyusuri rumah sakit menuju kantin. Bibirnya terangkat dengan sempurna ketika dia tiba di sana. Makanan di kantin rumah sakit ini sangat lezat. Meskipun, terbilang lumayan mahal. Ada 4asa pasti ada harga.


Amanda sudah memesan nasi rames dan juga teh hangat. Serta jajanan yang lainnya. Dia sibuk dengan ponselnya dan bibirnya terangkat ketika membaca chat dari suaminya.


"Amanda."


Suara Barito yang belum lama ini Amanda dengar. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika mendengar suara itu. Perlahan, Amanda menegakkan kepalanya dan raut wajah Amanda sulit ditebak.


"Senang bertemu lagi dengan kamu," ucapnya dengan uraian yang terdengar sangat gembira.


Siluet masa lalu menghiasi pikirannya. Di mana dia yang menyerahkan tubuhnya dengan suka rela. Menikmati setiap sentuhan Satria serta terus mengumandangkan nama Satria ketika kenikmatan itu datang.


"Oh sungguh jal*ngnya dirimu Amanda!" seru batinnya.


"Aku merindukanmu."


Satu kalimat yang membuat Amanda sangat terkejut. Nektra Satria sedang tidak berbohong. Dan kalimat yang diucapkan dengan penuh ketulusan.


"Maaf, urusan kita sudah berkahir semenjak sepuluh tahun yang lalu. Karena Anda sendiri yang membuat perjanjian, setelah kejadian itu selesai kita hanya sebagai orang asing yang tidak mengenal jika, dengan tidak sengaja kita bertemu. Saya harap, Anda tidak lancang dan mengikuti peraturan itu," tegasnya.


"Urusan kita memang sudah berakhir. Tapi, urusan hatikua belum lah berakhir. Aku sungguh-sungguh dengan perkataan ku. Aku mencintaimu, Amanda."


Mata Amanda melebar dan menatap wajah sendu Satria.


"Selama sepuluh tahun aku mencarimu. Aku ingin menjaga barang mahal yang telah aku beli dalam ikatan pernikahan yang suci." Amanda berdecih kesal.


"Maaf, perasaan kamu itu hanya perasaan di masa lalu. Pada nyatanya, saya telah hidup bahagia bersama lelaki yang mau menerima saya apa adanya. Dan dikarunia seorang anak perempuan yang sangat cantik. Dan jika Allah mengizinkan, akan hadir buah cinta kami kembali. Karena saya tengah mengandung anak dari seorang laki-laki yang sangat saya cintai," sahutnya dingin.


"Kamu mencintainya, apa dia juga mencintaimu?"


"Bahagia? Apa benar kamu bahagia hidup dengan suamimu?"


Amanda mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Satria yang sangat dingin.


"Bukankah ini suamimu?"


Satria mengeluarkan ponselnya dan memutar video Ayanda dan juga Rion. Tiba-tiba dada Amanda terasa sesak. Sungguh sangat mesra mereka berdua.


"Apa mantan suami-istri bisa dengan bebas saling menyentuh? Apalagi tangan mereka yang saling menggandeng sangat erat."


"Apakah kamu pernah diperlakukan sangat manis seperti itu?"


Kenapa ketika mendengar ucapan Satria hati Amanda terasa sakit. Ya, di video itu terlihat jelas tangan Ayanda yang sedang menggandeng lengan Rion. Tubuh mereka sangat dekat, dan Rion benar-benar sangat melindungi Ayanda. Tangannya tak sedikit pun melepaskan tangan Ayanda. Dan Rion dengan telatennya membersihkan wajah Ayanda dengan tisu di tangannya. Sungguh sangat manis mereka berdua.


Amanda mencoba untuk tidak percaya. Karena dia tahu, Ayanda dan Rion hanya sebatas mantan suami-istri dan tidak akan pernah bermain di belakangnya.


"Saya tidak akan menjawab satu pun pertanyaan kamu. Karena yang tahu suami saya adalah saya. Dan saya juga sangat mengenal mantan istri suami saya. Jadi, jangan coba-coba menghasut saya," pungkas Amanda


"Aku tidak menghasut mu, Amanda. Aku hanya memperlihatkan perlakuan mereka di belakangmu seperti apa. Mereka sangat cocok dikatakan sebagai sepasang suami-istri. Jangan terlalu polos jadi wanita Amanda," jawab Satria.


"Saya percaya kepada suami saya," bentaknya. Amanda pun meninggalkan Satria yang membeku.


"Apa cinta membuat seseorang menjadi bodoh seperti itu?" gumam Satria.


Ingin rasanya Satria mengejar Amanda. Tapi, dia urungkan. Dia tidak ingin merusak citranya di rumah sakit miliknya ini. Dia hanya bisa berharap. Amanda mau membuka hatinya untuknya. Masa bodo dengan status Amanda yang sudah menikah. Yang Satria inginkan adalah Amanda dan tubuhnya yang sudah satu dekade dia rindukan.


Setelah selesai memeriksakan kandungannya, Amanda segera pulang ke rumah. Kata-kata Satria masih terngiang-ngiang di kepalanya. Apalagi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika, suaminya dengan mantan istrinya sangatlah mesra.


"Apa benar kalian bermain di belakangku? Mengkhianatiku dan juga Pak Gio?"


Amanda segera menghubungi Rion. Dan hatinya lega ketika terdengar suara Rion di seberang telepon sana.


"Iya, Yang. Udah kontrolnya?"


"Udah Bangun, Abang la ....


"Mas, tolong dong. Aku udah gak tahan banget, Mas."


Terdengar suara Ayanda yang merengek manja kepada suaminya.


"Bentar Dek, sekarang kamu buka blazer kamu."


"Udah Mas, cepetan aku udah gak tahan."


"Iya, sebentar. Mas buka ini dulu."


Ponsel Amanda pun terjatuh mendengar percakapan yang begitu intim antara Rion dan juga Ayanda. Air matanya luruh seketika.


"Kenapa Abang tega sama Manda," lirihnya.


"Ah ... Mas, pelan-pelan. Perih banget, pelan-pelan gesekinnya."


"Ini udah pelan, pelan banget malah. Mas juga gak ingin kamu terluka."


Hati Amanda semakin sakit mendengarnya. Kenapa mereka berdua tega berbuat seperti itu. Padahal jelas-jelas Amanda sedang menelepon, kenapa disuguhkan dengan polusi suara seperti itu.


"Aduh, Mas. Aku gak kuat banget."


Amanda memegangi dadanya yang terlanjur sakit mendengarnya. Dan sudah hampir seminggu ini suaminya tidak menyentuhnya. Tidak meminta hak kepadanya. Apa ini alasannya? Mantan istrinya lah yang mampu memuaskan suaminya.


"Mas ... aduh, Mas."


"Tahan sedikit Dek. Sebentar lagi selesai."


"Nah ... enak kan."


"Iya Mas, makasih."


Amanda memejamkan matanya yang sejenak. Dan tubuhnya sudah terduduk di lantai. Tak dia hiraukan suara di balik telepon sana. Suaminya sedang memanggil-manggil namanya.


"Hatiku sakit, Bang."


...----------------...


Kalo up langsung baca ya jangan ditimbun-timbun.