Bang Duda

Bang Duda
401. Bonchap Lagi Aja



"Ganti pokoknya ganti!!"


"Apanya yang ganti?"tanya Beby yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan Beeya sekolah.


"Ikan cupank, janda bolong sama hape Papah, Mah," jawab Arya dengan nada yang sangat memelas.


Rion, Echa dan Radit mencebikkan bibir mereka. Terutama Rion yang Ingin sekali menenggelamkan Arya ke dalam kolam piranha.


"Syukurin!" sahut Beby.


Sontak Rion dan anak serta menantunya tertawa terbahak-bahak. Mengharapkan iba malah sebaliknya.


"Itu akibatnya kalo beli apa-apa gak pernah bilang dulu sama istri. Karma itu, Pah. Karma!"


"Mamam!" timpal Rion.


"Ini gimana Kak Beb, perlu diganti gak?" tanya Echa.


"Ngapain diganti, Dek. Si Bhaskara yang minta tiga anak tuyul kamu dibawa ke rumahnya. Harusnya dia udah siap sama konsekuensinya," balas Arya.


"Gak usah, Cha. Kak Beby mah ikhlas. Anggap aja sebagai tanda terimakasih kepada ketiga anak kamu karena udah memberikan pelajaran kepada Uwanya yang suka menghambur-hamnurkan uang tidak jelas," jelas Beby.


"Kamu ikhlas, tapi aku nggak," timpal Arya.


"Hey ingat Papah Arya Bhaskara. Uang suami adalah uang istri. Dan uang istri adalah uang istri. Jadi, kerugian kamu adalah kerugian ku juga. Dan keputusanku sudah bulat untuk tidak menuntut pertanggung jawaban. Apalagi yang melakukannya tiga anak kecil yang belum mengerti apa-apa," sungut Beby.


"Bukankah kamu sering mengambil keputusan tanpa bilang dulu sama istri kamu? Lebih baik meminta maaf dari pada meminta izin. Bukan begitu Papah Arya Bhaskara?"


Kalah telak Arya di hadapan sang istri. Mulutnya yang biasa tidak berhenti menimpali ocehan seseorang kini mulutnya seolah memiliki rem.


"Gua kira mulut si Bhaskara emang remnya blong. Ternyata masih punya rem di depan istrinya," ledek Rion yang sudah terpingkali. Hanya delikan yang Arya layangkan kepada Rion.


"pulang, yuk," ajak Echa kepada ketiga anaknya. Mereka bertiga pulang tanpa meminta maaf atau pamit kepada sang pemilik rumah. Bukan tanpa sebab, suasana di antara suami-istri itu sudah semakin memanas.


Echa menghela napas berat ketika melihat penampilannya di depan cermin meja rias. Ada rasa tidak rela untuk meninggalkan ketiga anaknya. Apalagi Aleeya yang super aktif. Dia takut sang ayah kelelahan dan berimbas pada kesehatannya.


"Sayang, sudah siap?" tanya Radit. Echa bangkit dari duduknya dan membantu suaminya untuk mengancingkan kemeja.


"Kenapa? Tidak ada salahnya kan kita memberikan Ayah kesempatan. Hati Ayah itu kosong. Hanya baby's Alee yang mampu mengisi hati Ayah," jelas Radit.


Echa menatap ke arah sang suami dengan tatapan sendu. Radit memeluk tubuh sang istri dan mengecup ujung kepala sang istri.


"Jangan khawatir, ya. Anak-anak kita pasti akan baik-baik saja bersama Ayah." Echa mengangguk pelan.


Ketika Echa menuju ruang makan, ketiga anaknya sedang menikmati sarapan di kursi mereka masing-masing dengan tenangnya.


Echa mengerutkan dahinya ketika melihat anaknya bisa seanteng ini. Biasanya Aleeya selalu memberontak untuk turun.


"Kok gak berisik?" tanya Echa.


Rion menunjuk ke arah meja makan dengan dagunya. Sudah ada laptop sang ayah yang sedang memutar lagu anak-anak dengan gambar kartun. Dan itu mampu membuat anak-anak Echa menikmati makannya dengan tenang. Dan dengan telaten, Rion menyuapi ketiga cucunya jika mereka berhenti mengarahkan sendok ke mulut mereka.


Echa tersenyum lega serta haru melihat sang ayah yang sangat mengerti cucu-cucunya. Setelah Echa selesai sarapan ketiga anaknya pun sudah selesai makan. Segera dibawa oleh Engkongnya ke kamar mandi. Membersihkan ketiga cucunya secara bergantian. Setelah tangan dan mulut sang cucu bersih, Rion menggendong serta menuntun anak-anak Echa ke hadapan Echa.


"Bye," ucap mereka sambil melambaikan tangan.


"Baba gak dikasih kiss?" Tiga anak Radit pun menghampiri Radit dan memeluk tubuh sang ayah.


Setelah Echa dan Radit pergi Rion mengajak ketiga cucunya bermain di ruang khusus mereka bermain. Ruangan yang penuh dengan boneka dan segala macam mainan anak perempuan.


Rion tertawa lepas ketika melihat cucu-cucunya mengoceh tidak jelas. Seperti orang yang sedang adu mulut. Apalagi Aleeya yang sangat cerewet dan tidak mau mengalah.


"Beginikah kamu waktu kecil, Dek?" batin Rion yang masih memandang tingkah cucunya yang sangat menggemaskan.


Satu jam lebih mereka bermain, tiga anak itu mulai bosan.


"Mimi," pinta Aleena.


"Kalian haus?" Mereka bertiga mengangguk.


"Ayo ke kamar kalian," ajak Rion kepada ketiga cucunya.


Rion meletakkan tiga cucunya di karpet berbulu yang ada di dalam kamar si kembar yang luas.


"Jangan nakal, Engkong buat Mimi dulu, ya." Anak-anak Echa sangat menurut kepada sang kakek.


Setalah Rion selesai membuatkan susu untuk ketiga cucunya sang cucu sudah memeluk guling mereka masing-masing. Membuat Rion terheran-heran. Mereka seperti sudah memasang posisi enak. Tiga bocah itu mulai meminum susu yang dibuatkan oleh sang kakek. Tak lupa, Rion memutar musik pengantar tidur untuk anak. Selang sepuluh menit, mata mereka terpejam dengan damai. Dan botol susu mereka sudah terlepas. Rion tersenyum melihatnya. Dia mengambil ketiga botol itu dan menyerahkan ke Mbak Ina untuk segera dibersihkan.


Rion mulai merebahkan dirinya di samping ketiga cucunya. Menatap hangat wajah cucu-cucunya yang semakin hari semakin mirip Echa. Hanya Aleena yang mirip Radit.


"Jangan cepat besar, ya. Engkong ingin terus melihat kalian seperti ini," gumamnya. Rion mencium kening cucunya satu per satu.


pukul sebelas Echa menghubungi sang ayah. Namun, tidak ada jawaban dari ayahnya. Cemas dan khawatir jadi satu. Takut terjadi apa-apa dengan anak- anaknya dan juga ayahnya.


Dia menghubungi Mbak Ina. Sengaja dia melakukan panggilan video agar dapat melihat kondisi anaknya secara langsung.


"Iya, Neng," jawab Mbak Ina.


"Anak-anak Echa di mana Mbak? Ayah juga di mana? Kenapa Ayah gak bisa dihubungi?"


"Sejam yang lalu Bapak nyuruh saya untuk cuci botol susu si kembar. Tapi, sampe sekarang belum terdengar suara mereka, Neng."


"Coba ke kamar si kembar, Mbak," pinta Echa. Mbak Ina menuruti perintah Echa. Ketika dia membuka knop pintu Mbak Ina segera mengubah kamera video. Sekarang memakai kamera belakang. Pemandangan haru pun terlihat.


Rion memeluk tubuh Aleeya diikuti Aleena memeluk punggung Aleeya dan Aleesa memeluk punggung Aleena. Echa tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bulir bening yang mengungkapkan perasaannya sekarang ini.


"Terimakasih Tuhan, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya. Akan selalu menjaganya dan memberikan yang terbaik untuknya. Echa sayang Ayah. Tetaplah berada di samping Echa hingga anak-anak Echa tumbuh besar."


...****************...


Komen dong komen kalo mau lanjut bonchap-nya.


Kalo yang hanya menginginkan cerita dua tokoh saja dan tidak suka cerita campur-campur. Jangan baca cerita ini, ya. Hanya orang-orang yang mampu melihat dari segi sisi yang mengerti alur cerita ini. Dan jika tidak suka dengan kisah cinta yang rumit, ini tidak direkomendasikan. Ini cerita bagai roller coaster. Ada mesem-mesemnya, greget, sedih, ketawa dan bahagia jadi satu. Sebelum baca siapkan hati kalian. Karena baca komen yang baru mulai baca bikin otakku ngebul. Belum juga apa-apa udah komen A-Z. 🤧