Bang Duda

Bang Duda
133. Malam Bahagia



Bonus Chapter.


Aku gak bisa nimbun cerita, ini tulisanku semalam. Bab yang selalu aku timbun atau aku kasih waktu terbit kalo aku baca ulang terasa hambar dan gak ada feel-nya. Padahal lumayan. bab ini serebu kata, bisa buat tabungan bab besok. Tapi aku gak bisa ...😭


Jangan lupa atuh komen dan jempolnya ...


Aku rindu komen kalian ....


...****************...


Rintik hujan malam ini membuat suasana di kamar Sheza dan juga Azka terasa panas. Kegiatan yang hampir tiap malam mereka lakukan, kini diiringi rintik hujan nan syahdu membuat mereka terbuai dengan kenikmatan surgawi.


Sahutan demi sahutan kenikmatan yang melantun indah, menambah keromantisan mereka yang sedang menjelajahi surga dunia. Keringat yang mengucur deras di tubuh mereka, menandakan mereka sangat menikmati malam ini.


Posisi yang terus diubah-ubah membuat mulut mereka terus mengeluarkan suara khas. Menikmati setiap gerakan-gerakan yang mereka berdua peragakan. Tanda merah sudah bertebaran di mana saja menambah koleksi-koleksi cap kepemilikan mereka terdahulu.


Terdengar suara denyitan dari hasil peraduan kulit, serta erangan dan lenguhan keras diantara keduanya dan pergerakan keduanya yang dipercepat menghasilkan suara lenguhan nikmat yang sangat panjang. Menandakan kegiatan mereka sudah berakhir untuk ronde pertama.


Azka mengambil tissue membersihkan sisa-sisa benihnya yang tersisa di alat pencetak bayi miliknya. Dan juga dia membersihkan cairan benih yang sedikit mengalir dari tempat pencetakan bayi. Dengan telaten, Azka mengelap keringat di tubuh Sheza dari wajah hingga sekujur tubuhnya. Setelah itu, dia mengecup lembut bibir mungil istrinya yang sangat manis dan menjadi candu untuknya.


Sheza tersenyum ke arah suaminya yang selalu memperlakukannya dengan sangat lembut dan romantis. Azka mulai menyelimuti tubuh polos istrinya dan dia pun ikut masuk ke dalam selimut itu. Sekarang, kulit mereka sudah saling beradu lagi. Tangan yang melingkar di pinggang Azka membuat darahnya bergejolak lagi.


Ada yang sudah berdiri tegang di bawah sana yang meminta dimanja lagi. Wajah Sheza dan Azka sudah mendekat, beberapa detik kemudian bibir mereka sudah berpagutan.


Oksigen mulai menipis, mereka melepaskan pagutan. Namun, wajah Sheza nampak terlihat pucat sekali membuat Azka sedikit panik.


"Sayang, apa aku membuatmu terlalu kelelahan?" tanya Azka.


"Tidak Bie, sudah dua hari ini kepalaku sering pusing dan mudah lelah," jawab Sheza yang kini bersandar di kepala ranjang.


"Aku bikinin teh manis anget dulu, ya. Terus kamu minum obat." Sheza mengangguk pelan, Azka pun memakai kembali celana kolor dan juga kaosnya. Sebelum meninggalkan istrinya, dia mencium kening Sheza terlebih dahulu membuat Sheza merasa menjadi wanita yang sangat beruntung.


Azka membawa segelas teh hangat dan juga roti bakar yang dibuatnya sendiri. Padahal, ada asisten rumah tangga yang bisa melakukan semuanya. Namun, Azka menolak dengan halus. Dia ingin melakukannya sendiri, terlebih makanan dan minuman ini untuk istri tercintanya.


"Sayang, minum dulu tehnya," ucap lembut Azka kepada Sheza yang sedang memejamkan matanya.


Azka membantu Sheza untuk duduk dan memberikan teh hangat kepada istrinya.


"Roti bakarnya?" Sheza hanya menggelengkan kepala.


Azka bangkit dari duduknya namun, lengannya ditahan oleh Sheza. "Temani aku," pintanya.


Azka tersenyum bahagia melihat tingkah manja istrinya ini. "Aku akan selalu temani kamu, Sayang. Aku cuma mau ambil baju tidur kamu."


Sheza pun melepaskan tangannya, setelah Azka mengambil piyama panjang dan memakaikan piyama kepada Sheza. Untuk beberapa detik mereka berdua saling membisu. Tidak ada yang bersuara hanya tatapan penuh cinta yang mereka tunjukkan.


"I love you, Sayang."


"I love you too, Bie," jawab Sheza.


Di lain tempat, seorang suami sedang merengek layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya.


"Yang, dingin tau," ucap Rion di sofa.


"Pake selimut," ketus Amanda di atas ranjang.


Hukuman Rio masih berlanjut, ini baru memasuki hari ke lima. Masih tersisa dua hari lagi masa hukumannya.


"Main solo Sonoh," jawab Amanda.


"Ya Allah, dosa tau kamu, Yang."


"Lebih dosa lagi Abang, punya mata gak bisa dijaga," timpal Amanda.


"Yang," panggilnya.


Tidak ada jawaban dari Amanda, dia sudah masuk ke alam mimpi. Sedangkan adik kecil Rion benar-benar tegang sekarang. Membuatnya frustasi sendiri.


"Lah masa iya main solo," gumamnya.


"Gak enak lah, mubazir benih gua dibuang sia-sia," gumamnya lagi.


Jika tidak dikeluarkan pasti akan berdampak pada sakit kepala yang berujung uring-uringan tidak jelas. Dikeluarkan tapi istrinya sedang merajuk. Dikeluarkan sendiri rasanya tidak nikmat. Kegalauan melanda Rion sekarang.


Rion bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kaki menuju ranjang istrinya. Biarlah istrinya semakin marah padanya, yang terpenting benihnya ini bisa keluar dan ditanam di tempat yang semestinya. Bukan hanya dibuang secara cuma-cuma.


Dengan pelan, Rion menyingkap selimut istrinya. Untungnya malam ini Amanda memakai baju kebesaran ibu-ibu rumah tangga. Baju daster bermotif batik seratus ribu dapat tiga.


Dengan pelan, Rion menyingkap dasternya istrinya. Matanya berbinar melihat rambut-rambut halus yang sedikit menyembul dari celana dalam yang dipakai Amanda.


Gangan Rion dengan sangat hati-hati menurunkan celana dalam istrinya. "Abang ngapain?" tanya Amanda dengan suara beratnya.


Dengan cepat Rion menarik CD yang sudah berada di tengah lutut Amanda. Sontak Amanda melebarkan matanya.


"Abang kan lagi ...."


Bungkaman dari bibir Rion membuat Amanda menghentikan bicaranya. Sentuhan lembut lidahnya membuat Amanda yang awalnya berontak kini mulai terbawa suasana.


Sedangkan tangan Rion sudah masuk ke lubang di bawah sana. Membuat Amanda semakin menggila. Rion sudah tidak ingin berlama-lama karena miliknya yang di bawah sana sudah meronta-ronta ingin memuntahkan benih ajaibnya.


Dengan cepat, Rion membuka celananya dan langsung menancapkan pusakanya tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Ahh ...."


Kehangatan yang Rion rasakan begitu pun Amanda. Mereka terus bergerak dari ritme pelan hingga ritme kencang karena mereka sudah sama-sama merindukan kenikmatan ini. Hingga lenguhan panjang keluar dari mulut mereka berdua.


Rion tersenyum ke arah Amanda yang sedang mengatur napasnya. Kemudian, dia mencium kening istrinya dan turun ke bibir ranum Amanda.


"Makasih, Sayang. Maaf, Abang udah maksa kamu," sesalnya.


Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban dari Amanda. Hati Amanda mulai mencair kembali.melihat wajah suaminya yang penuh dengan penyesalan. Karena menurutnya dia sudah memaksa Amanda. Padahal Amanda juga menikmatinya.


"Kamu boleh marah sama Abang tapi, jangan lama-lama," imbuh Rion.


"Manda udah maafin, Abang. Tapi, cobalah hilangin sifat jelek Abang itu," balas Amanda.


Rion mengangguk dan tersenyum bahagia. Dia menautkan kelingkingnya ke kelingking istrinya sebagai janjinya. Permainan yang sudah berakhir kini dimulai kembali. Tidak ada jarak diantara mereka karena sudah tidak ada sehelai benang pun di tubuh mereka. Mereka kembali menyelami kenikmatan dunia yang hakiki yang selalu membuat mereka tidak pernah puas. Dan ingin terus melakukannya lagi dan lagi.


Inilah rasanya berumah tangga, segala rasa ada. Benar apa yang dikatakan oleh suami-istri yang sudah lama menikah. Setelah bertengkar dengan pasangan, kegiatan di ranjang terasa seperti pengantin baru. Gairah yang sudah surut seakan meningkat lagi dan yang pasti rasa cinta itu semakin bertambah. Itulah yang dirasakan Rion dan Amanda saat ini.


****


Happy reading ....