Bang Duda

Bang Duda
198. Akan Menceraikanmu



Andri membiarkan Echa menangis dalam pelukannya. Jika, menoleh ke belakang, hidup Echa sangatlah miris. Diabaikan, dibuang, harus ditinggal sang Mamah bekerja dan dia dititipkan pada orang yang tepat, keluarga Wiguna.


Setiap kali Andri bertanya, "Apa Echa kangen Ayah?" Echa kecil hanya menjawab, "meskipun tanpa Ayah Echa bahagia karena ada Mamah di samping Echa."


Anak sekecil itu sudah mampu membohongi hatinya untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Semua itu Echa lakukan karena tidak ingin membuat Mamahnya menangis.


Echa sering sekali melihat Ayanda menangis dalam kamarnya. Ingin rasanya Echa memeluk mamahnya, namun selalu Echa urungkan. Mamahnya tidak suka terlihat rapuh dihadapannya. Mamahnya selalu bersikap baik-baik saja dan selalu kuat di hadapan Echa. Banyak sedikit, sifat Ayanda menurun pada Echa. Ayanda menjadi cerminan diri Echa.


Setiap jam, Ayanda selalu menanyakan kabar Echa. Dia sangat khawatir, tapi dia juga tidak akan membiarkan Echa tetap tinggal di Singapura. Akan menambah kesedihannya. Hanya satu yang Ayanda takutkan, kondisi kesehatan Echa drop kembali.


"Sudah lah Mom, Echa pasti akan baik-baik saja."


Ayanda terus menangis di dalam dekapan Gio. Hatinya ikut sakit melihat kemarahan Echa. Ternyata selama ini banyak sekali kesedihan dan kekecewaan yang Echa pendam seorang diri. Hingga akhirnya, menjadi bom waktu dan meledak juga.


"Daddy yakin, Echa tidak akan pernah membenci Ayahnya. Echa hanya ingin menyendiri, merenungi apa yang telah terjadi. Ketika semuanya sudah membaik, pasti dia akan kembali. Kita hanya bisa mendukungnya saja. Berikan dia kebebasan ketika dia merasa batinnya tertekan. Yang penting, ada pengawal yang akan mengawasi putri kita."


"Satu hal yang harus Mommy ingat, jangan pernah membenci Rion ataupun Amanda. Pasti mereka memiliki alasan kenapa mereka seperti itu. Kita harus menghargai setiap alasannya meskipun, alasannya juga tidak tepat."


Seorang Giondra masih bisa berkata bijak ketika hatinya pun merasakan sakit yang amat luar biasa. Gio tidak ingin melihat hanya dari satu sisi, masih ada sisi lain yang harus dia lihat.


Sedangkan Rion masih betah di kamar Echa. Kenangan bersama putrinya sedang menari-nari di kepalanya.


"Ayah, Echa ingin booba."


"Ayah, Echa ingin ke tempat jajanan."


"Biarin manja juga, sama Ayah Echa ini."


"Echa sayang Ayah."


Air mata Rion luruh kembali. Putrinya yang manja kini telah meninggalkannya. Apakah ini karma untuk dirinya? Dulu, Rion yang mengabaikan Echa dan membuang Echa. Sekarang, dirinya yang tidak dianggap oleh putrinya.


Rion menuju kamarnya, dia lebih memilih untuk diam meskipun Amanda sedari tadi mengajaknya bicara.


"Ayah, maafkan Bunda," ucap Amanda.


"Apa permintaan maafmu bisa mengembalikkan Echa ke dalam pelukanku?" sentaknya.


Selama Amanda menikah dengan Rion, baru kali ini Rion berteriak kepadanya. Hati Amanda perih, mendengar sentakan Rion.


"Harusnya aku tidak mengikuti perkataan mu, Amanda," sentaknya lagi.


"Kamu terlalu pandai mencuci otakku. Setiap aku ingin bertemu Echa, Riana lah yang selalu menjadi alasanmu. Padahal waktu dia bayi, dia sama sekali tidak mau digendong sama aku," terangnya.


"Aku juga terlalu bodoh karena sudah mengikuti setiap perkataanmu. Aku menyesal, sangat menyesal. Harusnya aku yang lebih mencintai putriku bukan Gio. Harusnya aku yang lebih bertanggung jawab atas putriku bukan Gio. Aku malu Amanda, MALU."


Amanda menitikan air matanya. Suara Rion membangunkan Riana yang sedang tertidur dan kini dia menangis keras.


"Simpan air mata buaya mu itu. Simpan janji manis mu kepada putriku. SIMPAN SEMUANYA," teriak Rion.


Dua pasangan suami-istri yang lain berhamburan ke depan kamar Rion dan juga Amanda. Mereka kasihan kepada Riana yang berada di dalam sana.


Hingga pengasuh Riana memberanikan diri mengetuk pintu kamar majikannya. Dan mengambil Riana yang sedang menangis.


"Harusnya kamu bisa seperti Ayanda. Menyatukan anak kita dan juga putriku. Bukan malah menjauhkan Riana dengan Echa. Sehingga Riana membenci Echa. Apa yang kamu inginkan Amanda? Kamu ingin memisahkan aku dengan putriku, iya?" bentak Rion lagi.


"Aku hanya melindungi Riana, Bang," jawabnya.


"Melindungi Riana dengan cara menjauhkan ku dengan Echa. DASAR PICIK," sarkasnya. Rion meninggalkan kamarnya.


Riana terus saja memanggil-manggil ayahnya tak sedikit pun Rion menoleh ke arah Riana. Hingga balita itu menangis kejar pun Rion tetap tidak bergeming.


Hatinya sakit memdengar Riana memanggilnya sambil menangis. Tapi, hatinya lebih sakit ketika Echa pergi meninggalkannya.


Amanda terduduk di lantai dengan air mata yang terus bercucuran. Ketakutannya jika Riana akan seperti Echa kecil sebentar lagi akan terwujud.


# Flaahback on.


"Ayah, apakah kasih sayang Ayah akan berubah setelah Riana lahir?" Echa bertanya dengan mata yang nanar.


"Tidak, Dek. Ayah akan selalu menyayangi kamu. Ayah ingin menebus kesalahan Ayah kepada kamu sewaktu kamu balita," jawabnya.


Amanda yang mendengar ucapan Rion itu merasa takut. Dia takut Riana akan diabaikan oleh ayah kandungnya. Dia tidak ingin Riana seperti Echa kecil. Tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.


Kondisi pasca operasi Amanda sebenarnya sudah membaik, tapi dia terus berpura-pura masih kesakitan karena dia ingin Riana dekat dengan ayahnya. Dan benar saja, Riana lebih dekat dengan ayahnya daripada dengan dirinya.


Ketika Rion sedang menidurkan Riana di kamarnya, setiap malam Echa selalu mengirim pesan kepada Rion. Tapi, dengan cepat Amanda selalu menghapus pesan dari Echa.


"Ayah, Echa kangen. Echa ingin peluk Ayah."


Hanya kalimat itu yang selalu Echa kirimkan kepada sang ayah. Namun, tak pernah ada balasan dari ayahnya.


Pernah sekali waktu, Amanda tidak mendengar ponsel suaminya berdering. Senyum Rion tersungging ketika membaca pesan di ponselnya. Dia langsung bergegas mengambil kunci mobil.


"Mau kemana?" tanya Amanda yang sedang menggendong Riana.


"Jemput Echa," jawab Rion.


Amanda memandang geram ke arah suaminya. Apalagi Riana sekarang sudah menangis ingin ikut dengan ayahnya. Tapi, Rion sama sekali tidak menggubrisnya.


Echa menginap di rumah Rion dan tak hentinya Echa tertawa dan bercanda bersama ayahnya di gazebo. Tangan Echa terus memeluk Rion, dan Amanda


melihat kasih sayang Rion sangat besar kepada Echa.


Amanda sengaja membawa Riana yang sudah sedikit mengantuk kepada Rion. "Riana ingin tidur sama kamu, Yah," ujarnya.


"Bunda timang-timang saja Riana. Nanti juga dia akan tertidur pulas. Gantian lah Bun, setiap malam selalu Ayah yang menimang-nimang Riana," sahut Rion.


Dari situlah kecemburuan dan ketakutan Amanda semakin muncul. Setiap Echa menginap di rumahnya, dengan sengaja Amanda akan terus memberikan Riana kepada Rion agar Echa tidak memiliki waktu dengan ayahnya. Dan sikap Amanda pun sedikit berubah kepada Echa. Lebih ketus dalam berbicara.


Hingga suatu malam, Amanda melihat Echa tertidur di gazebo. Dia sama sekali tidak berniat untuk membangunkan Echa. Ketika suaminya keluar dari kamar Riana, dia langsung merangkul lengan suaminya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Pesan dari Echa pun sudah dia hapus.


Pagi harinya, tidak biasanya Amanda memberikan Riana kepada Rion. Itu bertujuan agar perhatian Rion terfokus hanya pada Riana.


# flashback off.


"Nasi sudah jadi bubur," ucap Sheza.


"Echa adalah harta yang paling berharga untuk Paman dan juga Pak Gio. Kenapa? Karena Echa adalah anak istimewa. Balita yang harus dituntut menjadi dewasa," terang Sheza.


"Awalnya aku pun sama seperti Mbak Manda, cemburu pada Echa. Tapi, ketika Pak Gio menceritakan asal usul Echa sangatlah memilukan. Gadis kecil yang menangis di dalam gendongan sang mamah di derasnya hujan."


"Wajah anak itu sudah memucat karena kedinginan. Ketika dia melihat laki-laki mulutnya akan mengucapkan kata Papa. Usut punya usut, anak kecil itu tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Dibuang dan diabaikan, dan pada malam itu dia dan mamahnya diusir dari rumah oleh ayah kandungnya sendiri."


"Mendengar cerita itu saja hatiku sakit. Apalagi Echa yang merasakannya," imbuh Sheza.


Rasa bersalah kini menjalar di hati Amanda. Sebuah penyesalan yang sangat amat terlambat. Dulu, dia pernah berjanji akan menyayangi Echa seperti anaknya sendiri. Tapi, ketika Riana lahir dia takut jika Echa akan membuat Riana tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.


"Coba Mbak bayangkan, anak seusia putri kita mampu menyembunyikan rasa sedihnya kepada semua orang, apa itu tidak luar biasa?"


"Menyimpan semua luka, semua sedihnya seorang diri. Manahan tangisnya sesakit apapun luka yang dia dapatkan."


"Itulah yang membuat Paman Genta sangat menyayangi Echa. Setelah Echa bertemu dengan ayah kandungnya Paman Genta sedih. Tapi, dia juga tidak bisa melarang. Karena Echa juga membutuhkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Doanya hanya satu, Echa mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari Pak Rion."


"Tapi kini, kita semua bisa melihat bagaimana isi hati Echa sesungguhnya. Kesedihan, kekecewaan, kesakitan itu dia simpan sangat rapat. Hingga akhirnya dia tidak mampu menyimpan semuanya seorang diri. Dia meluapkan semuanya, dan harus Mbak Manda tahu, Echa hanya ingin kasih sayang ayahnya. Hanya itu," ungkap Sheza yang sudah tidak bisa menahan tangisnya.


"Kepergian Radit menjadi pukulan terbesar untuk Echa. Dia membutuhkan pundak ayahnya. Dia ingin bercerita pada ayahnya, hanya itu yang dia inginkan. Seorang anak mencari Ayahnya ketika dia sedang sedih karena dia tahu ayahnya akan menjadi obat untuk kesedihannya. Tapi, bukan obat yang Echa dapat. Luka yang teramat perih yang dia terima."


"Jujur, kami semua kecewa sama Mbak. Kami kira, Mbak akan menjadi orang yang akan mengerti Echa. Tapi ternyata, tidak."


"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Amanda ucapkan.


"Sebuah kata maaf mudah Mbak untuk dikatakan. Tapi, apakah orang yang sudah Mbak buat kecewa dan pergi akan semudah itu memaafkan?"


"Aku kasihan kepada Riana, tapi aku lebih kasihan kepada Echa. Riana nasibnya tidaklah seperti Echa kecil, tapi apakah salah jika Echa ingin seperti Riana yang mendapatkan kasih sayang dari ayahnya?"


Amanda semakin menangis mendengar perkataan Sheza. Dia semakin tersudut di sini. Dia harus pergi dari sini. Harus pergi.


Setelah Sheza keluar dari kamar Amanda, Amanda langsung memesan tiket pesawat ke Indonesia. Dia akan kembali hari ini juga bersama putrinya dan juga pengasuh Riana.


Setelah semuanya selesai, Amanda menarik kopernya. Dia berpapasan dengan Ayanda di bawah.


"Mbak, aku akan kembali ke Jakarta. Maaf, telah membuat Echa pergi," sesalnya.


Tidak ada jawaban apapun dari mulut Ayanda. Sheza dan Azka yang sedang berada di ruangan itu pun hanya terdiam. Tidak ada yang mencegah Amanda, padahal sudah sore dan gerimis.


"Tolong sampaikan ke Bang Rion, aku pulang duluan bersama Riana." Tak seorang pun yang menjawab pertanyaan Amanda.


Dia pun meninggalkan kediaman Genta, dan menuju Bandara. Berjalan di cuaca gerimis dengan membawa Riana membuatnya teringat akan perkataan Sheza. Jika, Gio bertemu Echa disaat hujan deras dan Echa kedinginan. Air mata Amanda pun menetes. Dia merasakan apa yang Echa dan juga Ayanda alami.


Selama di pesawat, Amanda hanya terdiam. Riana seolah mengerti keadaan, dia pun hanya terdiam. Sesekali dia bertanya tentang ayahnya kepada pengasuhnya. Pengasuhnya bilang jika Rion sedang keluar kota ada pekerjaan mendadak. Riana pun mengerti.


Pukul 20.30 wib mereka tiba di kediaman Rion. Mata Amanda melebar ketika melihat mobil Arya dan juga Nisa terparkir di depan halaman rumahnya.


Baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, suasana mencekam sangat terasa. Wajah-wajah tidak bersahabat dari Arya, Beby, Nisa dan juga Bu Dina terlihat sangat jelas.


"Mbak, bawa Riana ke kamarnya," titah Bu Dina.


Setelah pengasuh dan Riana masuk ke dalam kamar, semua mata tertuju kepada Amanda. "Mau kamu apa?" sentak Bu Dina dengan mata yang sudah nanar.


Amanda hanya menunduk, tidak bisa menjawab apapun. "Apa sih Teh yang Teteh mau? Si Aa ingin menebus kesalahannya kepada Echa, tapi kenapa Teteh buat si Aa semakin bersalah kepada Echa? Kenapa Teh?" tanya Nisa dengan air mata yang berlinang.


"Teteh tidak tahu bagaimana rasanya tidak mendapat kasih sayang dari seorang Ayah. Teteh gak tahu bagaimana menderitanya keponakan aku seusia Riana. Teteh gak tau gimana rasanya dibuang, dibully disebut anak haram, disebut anak yang dibuang. TETEH GAK PERNAH TAU."


"Si Aa sedang mencoba memperbaiki dirinya, mencoba jadi Ayah yang baik untuk Echa. Tapi, kenapa Teteh buat seperti ini? Kenapa?"


"Apa salah jika aku takut Riana akan seperti Echa kecil?" tantangnya kepada Nisa. Amanda memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya


"Riana tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Riana 24 jam bersama kalian. Tapi, Echa? Echa hanya ingin kasih sayang ayahnya. Echa hanya ingin seperti Riana. Merasakan kasih sayang yang tidak pernah dia rasakan ketika dia balita. Hanya itu," jawab Arya.


"Jangan pernah takut harta suami lu jatuh ke tangan Echa. Dia tidak mau sepeser pun harta dari Rion. Karena aset Echa lebih banyak dari Rion. Tabungan Echa lebih tebal dari Rion. Jadi, jangan takut. Harta dia punya banyak, tapi DIA MISKIN AKAN KASIH SAYANG AYAHNYA."


Bu Dina tak kuasa menahan tangisnya. Mengingat Echa kecil hatinya sangat sakit. Perlakuan ayahnya lebih rendah dari seekor hewan.


"Kenapa kalian semua terus membela Echa. Kenapa kalian tidak melihat Riana?" tanyanya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Apa selama ini kami cuek kepada Riana? Apa selama ini kami mengabaikan Riana? Terbalik, kehadiran Riana membuat kami cuek terhadap Echa dan mengabaikan Echa. Maka dari itu, Rion mengajak kalian untuk berlibur. Untuk apa? Untuk mendekatkan dirinya dan juga Riana kepada Echa," imbuh Bu Dina.


"Mbak, bukankah Mbak berasal dari keluarga yang tidak utuh, kan? Kenapa Mbak tega seperti ini? Mbak merasakan bagaimana jahatanya ibu tiri kepada Mbak. Tapi, kenapa Mbak sekarang berlaku layaknya ibu tiri yang kejam?" tutur Beby.


Ingatan tentang kekejaman ibu tirinya terhadapnya berputar kembali di memori otak Amanda. Dia pun menangis dan terisak.


"Mamah pikir, kamu bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk cucu Mamah. Tapi, malah seperti ini jadinya," kata Bu Dina.


"Mamah kecewa sama kamu."


Tangis Amanda semakin pecah. Apalagi mendengar ucapan mamah mertuanya. Orang yang memungutnya dari tempat kotor dan menjadikannya ratu di rumah ini tapi kini, Bu Dina dengan lantangnya berkata bahwa dia kecewa.


Ponsel Arya berdering, dia langsung mengangkat panggilan yang masuk dan mengaktifkan loudspeakernya.


"Echa gak ada, Bhas," ucap Rion dengan nada yang sangat frustasi.


"Gak ada? Jangan bohong."


"Gua udah ke rumah Andri, Andri cuma bilang Echa udah pergi. Ada orang yang jemput dia."


"Lu pulang ke Jakarta, kita bicarakan sama Andra."


"Anak gua, Bhas," lirihnya. Dan sangat terdengar jika Rion sedang menangis.


"Anak lu yang satunya juga udah di Jakarta. Bini lu lagi di depan gua."


Sambungan telepon pun terputus. Sepertinya Rion tidak ingin mendengar nama Amanda.


"Jika terjadi apa-apa dengan putriku, aku akan menceraikanmu dan akan mengambil hak asuh Riana," gumam Rion wajah penuh amarah.


****


Happy reading ....


Ketika ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun ....