Bang Duda

Bang Duda
217. Tunangan Ku



Hari ini adalah hari ulangtahun Riza, Echa pun tidak lupa akan hal itu. Namun, dia bersikap cuek. Toh, sekarang dia sudah memiliki hubungan yang kuat dengan Radit. Yang ketampanannya melebih Riza dan ketulusannya pun melebihi Riza.


Kabar tentang Echa yang sudah diikat oleh Radit seperti tertutup rapat. Sahabat Echa pun tidak tahu akan hal itu. Meskipun, Echa memakai cincin di jari manisnya, mereka seakan tidak curiga.


Ayanda mengerutkan dahinya ketika mendapat undangan pesta ulang tahun. Apalagi dia membaca nama yang berulangtahun di dalam undangan tersebut. Bukan hanya Ayanda yang bingung mendapatkan undangan ini, Amanda pun sama.


Mereka menghubungi suami mereka masing-masing. Jawaban Rion dan juga Gio tak jauh berbeda. Mereka menyerahkan semuanya kepada putri mereka.


Di sekolah, Echa dihampiri oleh Riza dengan undangan di tangannya. "Datang ya, ke pesta ulang tahun aku nanti malam," ucapnya dengan senyum tulus.


"Gimana nanti," jawab Echa.


Ketus dan jutek selalu Echa tunjukkan kepada Riza. Bukan tanpa alasan, hatinya masih terasa sakit dengan perbuatan yang Riza lakukan padanya. Pengkhianatan dan juga terlalu lemah dan rendah harga diri seorang Riza.


Tanpa Echa sadari, Radit sudah menjemputnya ketika sore menjelang. Wajah Echa nampak sekali murung. Deheman seseorang membuat Echa menghentikan langkahnya.


Dilihatnya Radit sedang bersandar di pintu mobil. "Ada apa?" Echa langsung masuk ke dalam mobil Radit. Dia pun memberikan undangan tersebut kepada Radit.


"Gara-gara ini wajah kamu jadi jelek begitu," ledek Radit.


"Bhal ...."


"Kalo kamu mau datang, datang aja. Aku gak apa-apa," jawab Radit.


"Tapi, datangnya bareng aku," sambungnya.


"Liat nanti aja, Bhal," sahut Echa lesu.


Radit tahu, Echa masih sakit hati kepada Riza. Namun, dia juga tidak enak hati kepada ibunda Riza. Karena Echa mendapatkan undangan khusus dari ibunda Riza.


Sesampainya di rumah, Ayanda langsung menyerahkan undangan kepada Echa. Undangan yang sama yang Echa dapatkan.


"Kata Papa semua keputusan ada pada kamu," ujar Ayanda.


Echa hanya terdiam dan menatap Radit. Radit membawa Echa ke halaman belakang.


"Kalo kamu ingin pergi, pergilah. Aku tidak seposesif itu. Toh, kamu dan Riza hanya sebatas masa lalu. Masa depan kamu sekarang kan aku," jelasnya.


Mendengar ucapan Radit senyum Echa pun melengkung dengan sempurna. Dia memeluk tubuh Radit. "Temani aku," pintanya. Radit pun menganggukkan kepalanya.


Malam harinya, keluarga Gio dan juga Rion sudah bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun Riza. Sepasang kekasih ini pun menggunakan pakaian senada dengan membawa sebuah kado untuk Riza.


Setibanya di sana, Marta langsung memeluk tubuh Echa. Menumpahkan kesedihan dan juga permintaan maafnya kepada Echa.


"Echa gak apa-apa, Tante. Mungkin Echa dan juga Riza tidak berjodoh," ujar Echa dengan senyum manisnya.


"Riza tidak mencintainya, Cha. Riza hanya mencintai kamu." Mendengar ucapan Tante Marta, Echa menatap ke arah Radit. Wajah stay cool-nya masih Radit tunjukkan.


"Maaf Tante, Echa sudah memiliki tunangan. Ini tunangan Echa," katanya sambil merangkul lengan Radit.


Radit pun tersenyum hangat kepada Marta dan tak lupa dia mencium tangan Marta. Marta melihat ke arah kedua tangan kiri Echa dan Radit. Ternyata ada cincin yang terpasang di jari manis mereka.


Ada rasa kecewa di hati Marta. Dia masih berharap Echa akan kembali bersama Riza. Putra yang sembuh karena seorang gadis yang sangat cantik. Pesta pun dimulai, Marta menyapa keempat orangtua Echa.


Hingga sebuah video muncul di layar besar. Video itu adalah kumpulan foto-foto Echa dan juga Riza ketika masih menjadi sepasang kekasih. Backsound dari video itu adalah lagu dari Virgoun, surat cinta untuk Starla. Mata Echa melebar denhan sempurna sedangkan Radit menatapnya dengan tatapan sulit terbaca.


"Bhal ...."


Radit tersenyum dan menggenggam tangan Echa. Hati Echa benar-benar menghangat. Bukan hanya Echa yang terlonjak, tapi keempat orangtua Echa pun melebarkan mata mereka.


"Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang selama ini aku pendam. Aku masih mencintaimu, El. Aku masih menyayangimu. Meskipun aku bersama dia tapi, di hatiku hanya ada kamu." Suara yang terdengar sangat lirih dan tulus. Ucapan Riza mampu didengar oleh semua orang karena dia berbicara dengan menggunakan microphone.


"Aku ingin kembali bersama kamu, El. Aku sudah berpisah dengan dia," ucapnya dengan mata yang penuh dengan penyesalan.


"Untuk gadis spesial yang bernama El, tolong dong ke sini," ujar pembawa acara.


Radit mengangguk pelan dan berarti dia mengijinkan Echa untuk ke sana. Mata Marta terlihat nanar menatap Echa dan juga Riza yang sudah berdampingan.


Mata Riza menyiratkan cinta yang mendalam berbeda dengan Echa. "Gimana El?" tanya Riza.


"Ketika perjuangan ku selama ini tidak kamu hargai, apa masih aku bisa memaksa untuk melanjutkan hubungan kita? Hatiku bukan terbuat dari baja, hatiku rapuh dan juga bisa sakit ketika kamu khianati."


Suasana pun berubah menjadi hening. Orang tua Echa hanya memandang Echa dengan tatapan sendu. Mereka takut, jika pertahanan Echa roboh.


"Aku tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya. Karena luka yang kamu goreskan kemarin, masih berbekas dan belum hilang sampai sekarang."


"Maaf, aku bukan diciptakan untuk mengisi kekosongan hati kamu. Aku hanya diciptakan untuk menjadi tempat singgah sementara kamu. Karena rumahku yang sebenarnya adalah pria di depan sana, yang menggunakan kemeja grey." Semua mata tertuju pada Radit dan Radit masih tenang di tempatnya.


"Dia adalah TUNANGANKU."


Rasa sesak, sakit, kecewa, patah, Riza rasakan sekarang ini. Tubuhnya limbung, tatkala melihat Radit menghampiri Echa dan merengkuh pinggangnya.


"Selamat ulang tahun," ucap Radit sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih telah mengkhianati Echa. Karena pengkhianatan kamu, sekarang Echa menjadi TUNANGAN KU."


Ingin rasanya Riza menjerit sekeras-kerasnya. Marta langsung berhambur memeluk Riza yang sudah menahan air matanya. Acara yang dia buat spesial ternyata berujung kekecewaan.


Ayanda memeluk tubuh putrinya begitu juga Amanda. Mereka tahu bagaimana Echa.


"Dek ...."


"Echa baik-baik saja, Ayah. Ada Kak Radit yang selalu ada di samping Echa," ucapnya sambil menatap Radit dengan penuh cinta.


Radit dan Echa tidak langsung pulang ke rumah. Mereka pergi ke satu tempat yang indah. Radit tahu hati Echa sedang tidak baik-baik saja.


"Tumpahkan apa yang kamu rasakan," kata Radit.


Echa tidak bisa berbohong, dia memang sangat terkejut. Dan Echa pun memeluk tubuh Radit dan menumpahkan semuanya di dalam pelukan Radit.


Cemburu? Pasti ada, tapi Radit mengesampingkan rasa cemburu itu. Yang terpenting kebahagiaan kekasihnya.


"Aku tahu kamu belum bisa melupakan sakitmu. Aku janji, aku akan menghapus semua rasa sakitmu dan mengganti dengan kebahagiaan," ucap Radit dengan memeluk erat tubuh Echa.


"Tetap di samping aku, temani aku. Aku ingin menghilangkan rasa sakit ini," balasnya.


"Pasti, Sayang. Pasti."


Masa lalu mereka yang menyakitkan membuat mereka merasa klik. Sakit, luka, sedih di masa kecil mereka menjadikan mereka menjadi manusia yang kuat. Kuat menghadapi diri sendiri. Tidak menunjukkan titik lemah mereka kepada dunia. Biarkanlah, kelemahan mereka menjadi rahasia mereka.


Sikap Radit yang seperti ini lah yang membuat semua keluarga Echa menyetujui Radit. Melindungi dan menjaga itulah yang Radit lakukan. Maka dari itu, tidak ada alasan untuk menolak kehadiran Radit.


****


Beberapa Bab lagi tentang Echa ya, setelah itu kita ngapain ya? 🙄


Semoga kalian gak bosen aku up 2x sehari. Kalo bosen bilang ya, biar aku Up 2hari sekali 😁


Happy reading