Bang Duda

Bang Duda
366. Akan Menikah (Musim Kedua)



Sore menjelang, Rion dan Riana sudah siap pergi dari rumah Ayanda. Diantar oleh para sahabat. Berlebihan memang, tapi inilah bentuk kasih sayang para sahabat Rion untuknya. Sekaligus dukungan untuk kondisi batinnya. Mereka melakukan itu semua untuk menunjukkan bahwa meskipun Rion tidak memiliki istri. Ada mereka yang selalu menemani.


"Berasa mau nganter yang berangkat haji," celoteh Beeya.


Semua orang pun tertawa. Berbeda dengan Aksa yang hanya diam dan selalu menatap ke arah Riana. Ketika Riana berada di dalam keramaian seperti ini dia memang tertawa lepas. Tetapi, hatinya menangis keras. Tidak dipungkiri, kecewa dengan ibu sendiri lebih menyakitkan ketimbang menghadapi takdir ilahi.


Mobil Rion diikuti empat mobil dari belakang seperti konvoi mobil mewah. Empat puluh lima menit melaju, akhirnya konvoi mobil itu berhenti di sebuah apartment mewah. Dan mereka menuju lantai sebelas di mana unit Radit berada. Tibanya di sana, semua orang berdecak kagum. Sungguh luar biasa penataan yang Radit dan Echa lakukan demi kenyamanan ayah dan adiknya. Foto-foto kebersamaan mereka pun terpajang indah di sana. Minus, foto Amanda yang sengaja Echa buang jauh-jauh.


"Di sini ada tiga kamar, nanti Echa akan sering berkunjung ke sini," ucapnya.


"Kak, Key boleh nginep di sini kan," ucap Keysha.


"Boleh dong, tapi ingat. Di setiap sudut ruangan ada CCTV. Jika, Ayah dan Riana mencoba memasukkan wanita atau laki-laki ke apartment ini, Echa mutilasi kalian," ancamnya dengan mata yang sangat tajam melebihi belati panjang.


"Ya elah, palingan si Bhaskara yang sering datang ke sini," ujar Rion.


"Kalo pulang sekolah pun, Ri gak akan langsung pulang ke sini, Kak. Ri, ke kantor Ayah dulu. Ri, takut sendirian di sini," terangnya.


"Pulang aja ke rumah Mommy, Ri." Dengan cepat Riana menggeleng.


"Ri akan main ke rumah Mommy bersama Ayah," jawabnya seraya menyunggingkan senyum.


"Kayaknya Riana risih sama lu," bisik Radit di telinga Aksa. Hanya delikan kesal yang Aksa berikan untuk kakak iparnya ini.


Sudah seminggu Rion dan Riana tinggal di apartment. Dan Riana pun akan ke kantor Rion setelah pulang sekolah. Kemudian, akan pulang ketika ayahnya selesai bekerja. Sedangkan Iyan, setiap malam Iyan selalu meminta bertemu ayahnya. Entah itu Iyan yang akan ke apartment Rion maupun Rion yang akan menemui Iyan di rumah Ayanda.


Rion sedang fokus pada pekerjaan dan dengan langkah seribu Arya masuk tanpa mengetuk pintu. Napas yang tersengal pun terdengar jelas.


"Abis lari maraton," ejek Rion tanpa mau memalingkan wajahnya dari layar laptop.


"Lari dari kenyataan pahit," sahut Arya dengan tatapan geram.


Dengan cepat Arya menutup laptop milik Rion. Hingga Rion berdecak kesal dan ingin sekali menghajar wajah Arya yang seperti orang tidak berdosa.


"Ikut gua," ajak Arya.


Setelah menghela napas kasar, Rion pun menuruti ajakan Arya. Dan pasrah saja diajak ke mana pun oleh sahabatnya. Karena jika Arya sudah di mode seperti ini, menandakan ada sesuatu yang sangat penting.


Mobil Arya berhenti di kedai kopi langganan mereka berdua sedari zaman kuliah. Mata Rion memicing ketika melihat Radit dan juga Addhitama sudah ada di sana.


"Ada apa ini?" tanya Rion heran.


"Duduk dulu, saya sudah pesankan minum untuk kamu," ujar Addhitama.


Segelas es kopi dingin tersaji di depan Rion. Membuat Rion semakin tidak mengerti.


"Langsung aja ke inti. Saya tidak suka berbasa-basi, Pak." Ucapan Rion membuat Addhitama semakin merasa tidak enak.


Rion beralih menatap menantunya. Radit hanya menggedikkan bahunya. Seolah dia juga tidak tahu apa yang ingin dikatakan oleh papihnya. Sedangkan Arya sudah memejamkan matanya. Hanya kekhawatiran yang ada di pikirannya.


"Besok Satria dan Amanda akan menikah."


Bukan Rion yang terkejut, melainkan Radit. "Kok bisa?" Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Radit.


"Saya sudah tidak peduli, Pak. Mau dia menikah dengan siapa pun sudah bukan urusan saya. Ketika talak tiga saya jatuhkan, berarti saya sudah resmi bercerai secara agama. Dan tidak akan pernah mencampuri urusannya lagi," jelas Rion.


"Saya hanya bisa berdoa, agar mereka berdua berbahagia dan tidak menimbun dosa," sambungnya lagi.


"Karena saya sudah bahagia hidup bersama ketiga anak saya," tegasnya.


Sungguh menyakitkan ucapan sahabatnya ini. Jika, Arya diposisi Rion belum tentu dia sanggup bersikap bijak seperti Rion. Tenang, itulah yang Rion tunjukkan. Berbeda dengan Radit, Radit memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat ayah mertuanya. Ucapan yang ayah mertuanya lontarkan mengandung luka yang sangat mendalam.


Setelah semua pembahasan selesai, Arya membawa Rion kembali ke kantor. Arya menghela napas kasar. Membuat Rion menatap Arya dengan rasa aneh.


"Lu mau bilang tentang hal ini ke anak-anak lu?" tanya Arya.


Rion yang hendak duduk di kursi kebesarannya pun berbalik arah dan memilih duduk di sofa di mana Arya berada.


"Bagaimana pun, Amanda tetap ibu dari anak-anak gua. Dan mereka perlu tahu akan hal ini," jawab Rion dengan tatapan lurus ke depan.


"Tapi, lu akan membuat mereka semakin sedih," ucap Arya.


"Lebih baik sedih di awal. Dari pada nantinya kebohongan gua akan tetap nyakitin mereka juga." Iba, itulah yang Arya rasakan untuk kedua anak Rion. Nasib Riana dan Iyan memang tidak semenyedihkan Echa. Meskipun, luka itu adalah luka yang sama. Perceraian dari kedua orang tua.


Seperti biasa, Riana datang ke kantor ayahnya dan menunggu jam pulang kantor sang ayah di dalam ruang kerja. Rion tersenyum, ketika dengan giatnya Riana mengerjakan tugas sekolah ketika sampai di kantor. Tidak ada kata lelah ataupun mengeluh yang keluar dari mulut Riana.


"Doakan Ri, ya, Ayah. Ri, ingin belajar dengan giat. Ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jogja. Ri, ingin menjadi anak yang bisa membuat bangga Ayah dan juga Kakak. Supaya, Ri tidak selalu merepotkan kalian."


Kalimat yang sangat serius Riana katakan ketika malam pertama mereka tidur di apartment Echa. Setelah Riana terlelap, Rion tak kuasa membendung air matanya. Menangis, itulah yang Rion lakukan.


Gagal, satu kata yang selalu ada di benak Rion. Dia telah gagal menjadi ayah yang baik untuk Riana dan juga Iyan. Dia kira, dia hanya gagal menjadi ayah untuk Echa. Pada nyatanya, rumah tangganya yang kedua pun gagal juga.


"Ada yang susah, Ri?" tanya Rion yang sudah duduk di samping putrinya.


"Tidak Ayah, cukup mempelajari ini berulang-ulang pasti Ri paham," jawab Riana dengan senyum yang menawan.


"Ayah bangga sama kamu," ucap Rion seraya mengusap lembut kepala Riana.


"Ri, lebih bangga sama Ayah. Karena Ayah adalah sosok super Hero dalam hidup Ri. Ayah mampu menjadi Ibu dan Ayah untuk Ri. Menyayangi Ri dengan tulus, meskipun Ri pernah membuat Ayah kecewa."


"Maafkan Ri, Ayah. Didiklah Ri seperti Ayah mendidik Kakak. Ri, ingin menjadi wanita seperti Kakak. Tangguh, mandiri dan disayangi semua orang."


"Kakak membuktikan, bahwa anak broken home itu bisa sukses. Bukan hanya menjadi anak nakal karena kurang akan kasih sayang."


Sungguh sesak dada Rion. Rion memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat.


Bagaimana reaksimu ketika mendengar Bunda mu akan menikah?


...****************...


Komen yang banyak, nanti aku up lagi ...


Jangan lupa follow ig aku ya @fiet82 biar bisa bercengkrama bersama.