
Ketika Echa masuk ke dalam kamar, perasaanya sungguh tak menentu. Dia memiliki firasat buruk. Apalagi melihat mamahnya berteriak seraya menangis.
"Ada apa sebenarnya?" gumamnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Radit yang baru saja keluar dari kamar segera menghampiri istrinya.
"Perasaanku tidak enak. Sepertinya ada sesuatu hal yang sedang mereka bicarakan tanpa sepengetahuanku," ujarnya.
"Jangan suudzon, Yang. Gak baik."
"Mending kamu istirahat, kasihan loh anak-anak kita," ucap Radit sambil mengusap perut buncit Echa.
Mau tidak mau dia pun menuruti perintah Radit. Jujur saja, tubuhnya sangat lelah. Dan Echa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan Radit sudah memangku kaki Echa. Dengan pelan Radit memijat telapak kaki sang istri. Mata Echa perlahan mulai terpejam karena pijatan Radit. Tak lama, Echa terlelap dengan damainya. Bibir Radit terangkat melihat sang istri sudah tidur dengan nyenyaknya.
"Selamat istirahat anak-anak, Baba." Radit mencium perut buncit Echa kemudian mengecup kening sang istri dengan penuh cinta.
Radit tidak berniat istirahat, dia ingin menikmati secangkir kopi. Dengan pelan, Radit turun dari tempat tidur dan menuju dapur. Samar-samar Radit mendengar perdebatan antara sang kakek dengan bundanya. Radit tidak beranjak dari tempatnya, sedikit banyak dia mencuri dengar.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Echa," gumam Radit.
"Ada apa, Ba?" Radit terlonjak dengan suara yang baru saja dia dengar. Dia menoleh dan Echa sudah ada di belakangnya.
"Kok bangun?"
"Aku ingin jus," jawab Echa.
"Mau jus apa? Biar aku yang bikinin," tawar Radit. Sebenarnya Radit tidak ingin Echa mendengar perdebatan yang terjadi di ruang keluarga. Apalagi Radit mendengar suara sang kakek yang penuh dengan penekanan.
"Aku mau buat sendiri." Echa melenggang meninggalkan suaminya menuju dapur.
Langkahnya terhenti ketika dia mendengar ucapan sang kakek tentang video yang akan membuat Papa, Mamah dan juga ayahnya terkejut. Jantungnya berdetak sangat cepat. Echa tidak bercerita perihal sikap kasar Amanda terhadapnya kepada sang kakek. Tetapi, dia tahu siapa kakeknya. Semua orang yang kakeknya sayangi pasti akan selalu diawasi dari jauh oleh Genta. Dan Echa juga yakin, kakeknya sudah mengetahui semuanya.
Echa membelokkan langkahnya menuju ruang keluarga. Dan benar saja dugaannya. Echa tidak ingin membongkar masa lalunya. Cukuplah di masa lalu dia tersiksa, hatinya sakit. Sekarang, yang Echa inginkan hanyalah tenang dan hidup bahagia dengan suami serta anak-anaknya. Dan bahagia berada dalam keluarga besar yang saling menyayangi satu sama lain.
Rangkulan lembut di pundaknya membuat Echa menatap ke arah tangan tersebut. "Ada aku di sini."
Tidak ada jawaban dari Echa, hanya tatapan datar yang Echa berikan.
****
"Lebih baik kita bercerai, dari pada batinku terus tersiksa." Ucapan Rion membuat Echa serta Riana melebarkan mata mereka. Dan Amanda semakin merasa terpojok.
"Ayah, Echa mohon jangan lakukan itu," cegahnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Echa sudah melupakan kejadian itu. Echa ingin hidup damai, tenang dan juga bahagia bersama kalian."
"Jika, Ayah terus bersama dia. Sama saja Ayah membunuh diri Ayah sendiri. Ayah juga sudah lelah, Dek. Sangat lelah," keluhya pada Echa.
Echa menghampiri ayahnya. Kemudian, menatap lamat-lamat mata sang ayah yang menyiratkan akan penderitaan sang ayah yang selama ini dipendam seorang diri.
"Cukup Echa yang tumbuh dari keluarga broken home. Sungguh tidak enak rasanya, Ayah. Tidak enak," lirihnya.
"Jangan biarkan adik-adik Echa merasakan hal yang sama seperti Echa rasakan. Mereka masih membutuhkan kasih sayang Ayah dan juga Bunda," paparnya.
"Echa sudah bahagia sekarang, Ayah. Echa tidak ingin kembali ke masa lalu yang menyakitkan. Biarlah rasa sakit itu Echa kubur dalam-dalam. Echa hanya ingin menata masa depan bersama suami serta anak-anak Echa. Dan juga Echa ingin bahagia bersama kalian semua."
"Diem kamu!" sentak Amanda.
"Ini semua rencana licik kamu, kan. Semuanya sudah kamu setting agar semua orang membenciku dan juga Riana," bentak Amanda.
Sungguh sakit hati Echa mendengarnya. Niat hati ingin menolong sang Bunda malah dia yang diberikan peluru panas.
"Dari dulu emang kamu tuh gak suka sama saya. Selalu ingin memisahkan saya dengan suami saya. Kelemahan dan air mata kamu membuat semua orang buta dan selalu mengutamakan kamu. Padahal, sikap asli kamu itu jahat. Sangat jahat!"
Plak!
"Jaga ucapanmu Amanda!" Rion berteriak setelah melayangkan tamparan di pipi istrinya.
"Sekali lagi kamu menyudutkan putriku, tak segan-segan akan aku seret tubuhmu keluar dari rumahku. Dan akan aku kembalikan kamu ke jalanan," ancam Rion tak main-main.
"Ayah, kenapa Ayah tega sama Bunda. Kenapa?" Riana kini membuka suara.
"Ri, juga anak Ayah bukan hanya Kakak yang selalu Ayah banggakan. Apa istimewanya Kakak hingga kalian semua menyukainya. Sedangkan Ri, tak ubahnya kotoran yang menjijikan untuk kalian," terangnya.
"Kakak bukan malaikat yang harus selalu kalian agung-agungkan. Dia juga manusia biasa, pasti banyak kekurangannya. Lihatlah dia sekarang, mana yang namanya wanita kuat. Dia cengeng dan ingin dianggap pahlawan oleh semua orang karena permohonannya itu. Padahal, dalam hatinya dia bersorak gembira."
Plak!
"Tamparan ini sebagai pembalasanku atas tindakan kamu kepada kedua putraku. Sekaligus, peringatan keras agar cara bicaramu dijaga," bentak Ayanda.
Echa hanya tertunduk dan menangis melihat suasana semakin panas. "Maaf, kalo kedatangan Echa membuat suasana rumah ini menjadi kacau." Echa menatap ke arah Radit. "Ba, kita pergi dari sini." Radit mengangguk pelan.
"Pergi yang jauh. Dan Jangan pernah kembali," usir Riana sambil memegang pipinya.
"Cukup Riana!" Rion sudah sangat murka.
"Ya, aku akan pergi yang jauh. Tetapi, untuk tidak kembali lagi itu sangat mustahil. Karena aku bukanlah kamu yang dianggap seperti sampah oleh semua orang," cela Echa.
"Selama ini aku diam, bukan berarti aku tidak berani menghadapi kamu, Riana. Aku masih menghargai Bunda sebagai ibu sambung aku. Dan kali ini, aku lelah diam. Sudah waktunya aku membuka suara."
Riana menatap tajam ke arah Echa sedangkan Echa menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
"Ayah, sekarang Echa telah kembali ke Indonesia. Dan akan menetap di sini. Besok, Echa akan menghubungi Om Endro untuk membalik namakan kepemilikan semua toko bakery atas nama Echa. Echa tidak ingin menyimpan musuh dalam selimut. Meskipun itu adik Echa sendiri."
Mata Riana dan Amanda melebar mendengar perkataan Echa.
"Selama ini Echa mengalah karena Echa tidak ingin adik-adik dan orangtua Echa mengalami kesusahan secara finansial. Tetapi, ketika dikasihani malah semakin menjadi."
Genta tersenyum tipis mendengarnya. Ya, di balik air mata dan kerapuhan Echa ada sisi kejam yang tersembunyi di dalam dirinya. Itu terbentuk karena sudah seringnya dia dimanfaatkan oleh orang lain.
"Dan mobil yang Pak Mat bawa setiap hari untuk mengantar kamu ke sekolah. Itu adalah milikku. Dan malam ini juga mobil itu akan aku ambil. Jadi, jangan terlalu angkuh dan merendahkan orang lain, Riana. Padahal kamu dan ibu kamu yang tidak memiliki hak apa-apa tentang deretan mesin pencetak uang Ayah."
...----------------...
Happy reading ...
Kalo gak suka di skip aja ya ...