
Nyonya Reina langsung masuk ke kamar putranya. Dilihatnya menantu kesayangannya sedang duduk di atas tempat dan bersandar di kepala ranjang.
"Beby."
"Ma-mih," ucapnya gugup.
Nyonya Reina langsung menghampiri Beby, matanya terbelalak ketika leher menantunya sudah berubah warna.
"Maafkan anak Mamih ya, Nak. Dia emang keterlaluan," ucap Nyonya Reina sambil mengelus rambut Beby.
"Tidak apa-apa, Mamih. Wajar karena hampir seminggu ini Kak Arya menahannya."
"Tuh, denger Mih. Istri aku aja gak keberatan," sambung Arya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Wajah Beby merah menahan malu. Suaminya benar-benar tidak tahu malu membicarakan masalah ranjang kepada sang Mamih.
"Pokoknya tiga hari ini Mamih akan nginep di sini. Dan kamu Arya tidur di kamar tamu. Mamih akan tidur bersama menantu Mamih," jelas nyonya Reina.
"Atuh lah Mih, jangan ngerusak momen bahagia anaknya kenapa," rengek Arya.
"Kamu yang bahagia tapi, menantu Mamih yang menderita," sentak nyonya Reina.
"Yang," panggil Arya kepada Beby. Melihat suaminya berwajah mengiba, dia pun kasihan. Tapi, area sensitifnya benar-benar masih sakit. Apalagi Arya menyerangnya seperti orang kesetanan.
"Keluar kamu, simpan makanannya di atas meja. Jangan masuk ke kamar ini," tegas sang Mamih.
Arya mendengus kesal dengan kelakuan ibunya sendiri. Harusnya sang Mamih senang anaknya sedang berusaha mencetak cucu untuknya, ini malah sebaliknya. Itulah yang membuat Arya kesal. Ditambah tongkatnya ini belum bisa diajak kompromi.
HH (Handsome Husband's) Grup
Arya : Kumpulah, lagi kesel
Rion : Sama
Azka : Too
Arya : Daddy, woiy ...
Azka : Gak bakal mau kayaknya
Rion : Lagi sibuk dia sama bininya
Arya : Iri lah gua,
Giondra ; Berisik kalian !!! Otw gua
Di kedai kopi.
Wajah keempat pria tampan ini bermurung durja. Tidak ada kecerahan yang wajah mereka pancarkan.
"Parah banget dah emak gua," oceh Arya membuka obrolan mereka.
"Belum gol juga?" tanya Rion sambil menyesap kopi.
"Udahlah, malah ampe tujuh kali gua." Ketiga pria yang bersama Arya menyemburkan minuman mereka masing-masing. Kaget mendengar pengakuan Arya.
"Wajarlah emak lu marah," imbuh Rion.
"Kalo adek gua sampe kenapa-kenapa, gau gunting punya lu," geram Azka.
"Lu punya kelainan apa emang doyan?" tanya Gio heran.
"Kampret."
"Si alan."
"Bhangke."
Umpatan demi umpatan terlontar dari mulut ketiga pria yang diejek oleh Arya. Sedangkan Arya tertawa puas mengejek ketiganya. Diantara mereka berempat, hanya Arya yang mendapatkan istri yang masih tersegel rapi. Sedangkan ketiga sahabatnya mendapatkan bekasan semua.
"Kalian kenapa? Gua chat langsung pada mau," tanya Arya setelah meletakkan kopinya.
"Pusing gua ngadepin ibu hamil," imbuh Azka.
"Gua kira gua doang," sahut Rion.
"Lah emang kenapa?" tanya Arya lagi.
"Baru aja gua grepe bini gua, langsung diusir gua. Katanya badan gua bau. Padahal gua baru aja mandi." Rion menceritakan kemirisannya.
"Gua mah dituduh selingkuh," kata Azka.
Gio langsung menatap Azka tajam. "Kata Sheza baju gua bau parfum cewek. Bukan parfum yang biasa gua pake. Akhirnya dia nangis dan ngunci diri di kamar."
"Emang wanita hamil begitu ya, Gi?" tanya Rion.
"Beda-beda, cuma emosinya turun naik. Harus ekstra sabar. Lu masih ingat kan pas Ayanda kabur ke Jogja? Nyangka gua selingkuh." Rion dan Azka pun menganggukkan kepala.
"Perhatian yang dia inginkan. Padahal bukan karena gua gak mengerti dia, waktu itu kerjaan gua lagi kacau. Dan secara gak sengaja gua mengabaikan dia. Jadilah berasumsi macam-macam."
"Repot banget ya, ngadepin ibu-ibu hamil," jawab Arya.
"Lebih repot lagi ngadepin emak lu," balas Rion.
"Bukan lagi itu mah. Masa gua disuruh tidur di kamar tamu selama tiga hari. Gimana nasib tongkat gua woiy," geramnya.
"Gak jauh beda sama gua lah nasib lu," timpal Gio yang baru selesai menyesap kopi.
"Lu disuruh tidur diluar juga?" tanya Rion.
"Kagak, pas grup chat rame gua lagi enak-enak sama bini gua. Baru aja gua celupin eh, si Adek bangun dan nangis kejer," imbuh Gio.
"Auto gagal dong," ledek Rion.
"Gak usah diperjelas Bhangke," geramnya.
"Dia kira mah junior gua kayak biskuit Ore*. Diputar, dijilat dicelupin." Tiga sahabat Gio pun tertawa terbahak-bahk mendengar ocehan Gio. Dan merasa kasihan juga pasti Gio akan uring-uringan jika tidak tersalurkan.
"Kagak usah ketawa kalian. Kalo anak-anak kalian udah pada brojol bakalan ngalamin kayak gua sekarang ini," kata Gio.
Mereka pun terus melanjutkan obrolan mereka seputar hal-hal berbau seks. Saling berbagi cerita dan pengalaman berumah tangga serta permainan di ranjang.
Sedang seru-serunya berbincang ngaler-ngidul, suara ponsel Gio berdering.
Mommy : Daddy, mau lanjut gak?
****
Happy reading ....