
Hari ini Gio menyuruh Azkano, Arya, Rion, Beby, Sheza, Amanda dan juga Echa untuk pergi jalan-jalan. Dia yang akan menjaga Ayanda seorang diri di rumah sakit. Semuanya bergembira tapi tidak untuk suami-istri ini. Mereka berdua masih sama-sama canggung.
"Pa, aku ke Om Andri ya," pinta Echa.
"Iya, nanti Papa suruh Remon untuk antar kamu ke sana," jawab Gio.
Arya dan Beby sudah menentukan tempat kemana mereka akan pergi. Azkano dan Sheza pun sama. Tinggal sepasang suami istri ini yang belum beranjak dari tempat duduknya.
"Kalian belum pergi? Jika kalian malas keluar, lebih baik kalian di hotel aja produksi adik buat Echa," ujar Gio sedikit usil.
Wajah Amanda bak kepiting rebus sekarang, dan Rion hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ajaklah Amanda jalan-jalan, Mas. Sekitaran Malioboro juga banyak kok tempat yang asyik. Biar kalian bisa lebih saling mengenal," ucap Ayanda.
Akhirnya, Rion dan juga Amanda pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka lebih memilih ke Malioboro. Hanya sekedar jalan atau pun makan begitulah pikirnya.
"Dad, ini kenapa?" tanya Ayanda yang sedang memegang sudut bibir Gio yang membiru.
"Hukuman dari Ayah," jawab Gio seraya menggenggam tangan Ayanda.
"Maafkan Daddy, Daddy hanya tidak ingin menambah pikiran Mommy," terang Gio.
Ayanda hanya menganggukkan kepalanya. Dia sangat bersyukur karena memiliki suami seperti Giondra. Pria yang kesabarannya tak ada habisnya.
Suara notif e-mail terdengar, Ayanda ingin meraih tabletnya namun dicegah Gio.
"Mommy harus istirahat, jangan mikirin masalah kerjaan dulu," tegas Gio. Ayanda hanya bisa menurutinya.
Ingin sekali Ayanda menceritakan masalah usahanya namun dia juga tahu jika perusahaan suaminya sedang banyak masalah. Dia tidak mau menambah beban pikiran Giondra. Akan tetapi, hanya suaminya yang dapat memberi solusi dalam masalah yang sedang dihadapi toko-toko miliknya. Untuk sekarang, diam saja dulu. Nanti jika waktunya sudah pas pasti akan Ayanda ceritakan kepada Giondra.
Di Malioboro, Rion dan juga Amanda berjalan seperti orang bermusuhan. Amanda geram sendiri, akhirnya dia menghentikan langkahnya lalu menarik tangan suaminya.
"Suami-istri itu harus mesra, Bang. Katanya mau mencoba seperti Pak Gio," ucap Amanda yang kini telah menggenggam tangan Rion.
Hanya seulas senyum yang Rion tunjukkan. Mereka berjalan beriringan dan sesekali bercanda layaknya sepasang kekasih.
"Bang, Manda haus," ucapnya pada Rion.
"Ya udah kita masuk," sahut Rion. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Amanda.
"Abang aja yang beli, Manda pengen duduk di situ," ujar Amanda yang sedang menunjuk kursi di pinggir jalan Malioboro.
"Kita masuk aja, nanti baru kita duduk di sana," imbuh Rion.
"Abang aja, Manda udah pegal," sahut Manda yang kini sudah melangkahkan kakinya ke arah kursi.
Rion menghampiri Amanda, berlutut di hadapan Amanda. "Jangan kemana-mana," pinta Rion. Hanya dijawab dengan seulas senyum manis oleh Amanda. Rion pun masuk ke dalam toko minuman, dia memesan dua minuman untuknya dan juga Amanda.
"Amanda," panggil seseorang dan membuat Amanda mencari asal suara panggilan tersebut.
"Enzy," ucapnya pada seorang laki-laki yang sedang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.
"Ya ampun, aku kira aku salah orang. Kamu semakin cantik mengenakan hijab," puji Enzy dengan senyuman yang sangat tulus.
"Bisa aja kamu, aku masih tahapan belajar Zy," sahut Amanda.
Mereka berbincang ria dan penuh gelak tawa. Terkadang Enzy mengusap puncuk kepala Amanda dan membuat Amanda masih nyaman berada di samping Enzy.
Di depan toko minuman, Rion sudah mengeraskan rahangnya. Tangannya sudah mengepal keras ingin menghantam laki-laki yang berani menyentuh istrinya.
"Sayang," panggil Rion kepada Amanda.
Amanda terdiam sejenak, suara yang sangat dia kenali tapi memanggilnya dengan kata Sayang. Amanda dan Enzy menoleh ke arah Rion. Hanya tatapan dingin yang Rion tunjukkan untuk Enzy.
"Kenalin Bang, ini Enzy," ucap Amanda.
Enzy mengulurkan tangannya namun, sama sekali tak Rion sambut. "Ayo kita pulang," ajak Rion dan langsung menarik tangan istrinya sedikit kasar.
"Bang, sakit," ucap Amanda. Akan tetapi tidak digubris oleh Rion.
Di dalam mobil pun tidak ada pembicaraan, hanya keheningan yang tercipta dan gurat kemarahan di wajah Rion.
"Abang kenapa?" tanya lemah Amanda.
Pertanyaan Amanda tidak dijawab oleh Rion. Dia tetap fokus ke jalanan. Setelah sampai di hotel, Rion membanting pintu mobil dengan sangat keras membuat Amanda terlonjak kaget.
Amanda pun bergegas menyusul suaminya yang berjalan dengan langkah lebarnya. Setelah di kamar hotel, Rion mendudukkan diri di atas sofa.
"Abang kenapa?" tanya Amanda lagi.
Hanya tatapan dingin dan datar yang Rion tunjukkan. Secara tidak sadar, dia marah karena cemburu kepada lelaki yang bersama Amanda di Malioboro.
"Abang," panggil Amanda yang kini bersimpuh di hadapan Rion.
"Aku sudah mencoba menjaga perasaan kamu, tapi sekarang kamu malah seenaknya bersama pria lain," bentak Rion.
"Dia hanya mantan pacarku Bang, kita tidak sengaja bertemu," jelas Amanda.
"Apa harus mantan pacar menyentuh kepalamu?" bentak Rion lagi.
"Kamu itu sudah punya suami, harusnya kamu menjaga jarak dengan pria mana pun," tegas Rion.
"Apa memang benar, kamu hanya membohongiku dengan penampilanmu ini. Padahal sikapmu masih seperti yang dulu," ujar Rion.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Rion. Matanya nanar, menatap Rion.
"Manda tidak pernah membohongi siapa pun dengan penampilan Manda ini. Jika Abang tidak percaya, Manda tidak masalah, biarkan Allah aja yang tahu dengan kesungguhan hati Manda," terang Amanda dengan air mata yang menganak.
"Abang bilang Manda harus jaga jarak dengan pria lain. Apa Abang tidak sadar jika, Abang juga belum menjaga jarak dengan wanita lain. Wanita yang Abang kenalkan kepada Manda sebagai pacar Abang. Apa Abang tahu bagaimana perasaan Manda?" ungkap Amanda.
Amanda bangun dari posisi duduknya, dia menjauhi Rion yang hanya terdiam membeku. Amanda mengambil tasnya dan memasukkan baju yang dia bawa kemarin.
"Mau kemana?" tanya Rion yang kini panik sendiri.
Tidak ada jawaban, Amanda masih tetap memasukkan pakaian ke dalam tas. Pelajaran yang Amanda berikan tidak membuat Rion jera.
Merasa gusar melihat Amanda yang sedang bersiap. Akhirnya, Rion mendekat ke arah Amanda yang sudah menenteng tasnya. Rion memeluk Amanda dari belakang.
"Jangan pergi," ucap lemah Rion.
Amanda tetap tidak bergeming dan mencoba melepaskan pelukan Rion. Setelah terlepas, Amanda mengambil tasnya menuju pintu kamar hotel. Baru saja memegang gagang pintu, tubuh Amanda sudah diangkat oleh Rion seperti karung beras.
"Lepas Bang," teriak Amanda.
Rion tidak mendengarkannya, dengan pelan dia menurunkan tubuh Amanda dan mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangan Rion berada di samping tubuh kecil Amanda.
"Maafkan aku. Aku tidak suka melihat kamu disentuh oleh pria lain. Hanya aku yang boleh menyentuhmu karena kamu istriku," ucap lembut Rion.
Hembusan nafas Rion dan juga Amanda saling bersahutan. Tanpa mereka sadari bibir mereka sudah saling menempel, berlanjut mengh*s*p, lalu melum*t dan mengabsen yang berada di dalam mulut mereka masing-masing.
***
Happy reading ...