Bang Duda

Bang Duda
350. Kursi Panas (Musim Kedua)



"Nanti malam, ajak istrimu juga." Mata Radit melebar ketika mendengar ucapan sang Papih.


"Tapi, dia sedang ...."


"Echa adalah kekuatan bagi Rion. Sekuat-kuatnya laki-laki. Pasti memiliki sisi rapuh juga, Dit. Sekarang, hanya Echa yang menjadi kekuatan Rion." Radit menghela napas kasar. Dan akhirnya, dia pun mengangguk.


Selepas unek-uneknya dia keluarkan, Radit kembali ke rumah sakit di mana sang istri dirawat. Untung saja, di sana ada Nisa. Echa dititipkan kepada tantenya dulu.


Tibanya di ruang perawatan, Echa sedang menangis di dalam pelukan Nisa. Membuat Radit sedikit terkejut dan segera menghampiri Echa.


"Kamu kenapa Sayang?"


"Kamu jahat, Ba. Jahat," ucapnya sambil memukul dada Radit. Radit menoleh ke arah Nisa hanya seulas senyum yang Nisa berikan.


"Ketika dia bangun, dia mencari kamu. Ketika Onty bilang kamu pergi, si bumil manja itu malah nangis kayak anak kecil." Radit dapat bernapas lega. Radit takut, jika Echa menangis karena kesakitan atau ada hal yang lain yang Radit tidak ketahui.


"Wajar Onty, selama ini Radit tidak pernah meninggalkan Echa kecuali untuk pergi bekerja. Apalagi ketika Echa dirawat seperti ini, pastinya dia membutuhkan Radit." Sungguh manis ucapan Radit membuat hati Nisa meleleh layaknya es krim.


Andai saja suaminya bisa menyusulnya ke sini. Namun, suami Nisa sedang berdinas di Papua. Sedang menjaga keamanan di sana. Ya, dia berjodoh dengan anggota TNI. Dan putri kecilnya Allea, sedang berada di rumah Omnya yang tak jauh dari rumah sakit tempat dirawatnya Echa dan juga Iyan.


"Maaf ya, Sayang. Tadi, Papih telepon. Jadi, aku harus menemuinya." Radit semakin erat memeluk tubuh Echa. Dan Echa membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Jangan pergi di saat aku sedang tidur." Radit mengecup ujung kepala sang istri sambil berkata iya.


"Lama-lama di sini, Onty jadi kangen uncle," ucap Nisa.


Radit dan Echa tertawa melihat tingkah Nisa yang cemberut. Pintu kamar terbuka, tatapan tajam dua manusia mengarah kepada Radit.


"Kenapa kamu gak bilang kalo anak kesayangan Papa dirawat?" Jeweran cukup keras mendarat di telinga Radit.


"Ampun, Pa. Ampun," teriak Radit.


Sedangkan Ayanda sudah memeluk erat Echa. Dan Echa merasa sangat bahagia. Di saat dia sakit seperti ini, semua keluarganya kumpul. Berbeda ketika dia di London. Harus menyembunyikan sakitnya dari keluarganya.


"Kamu gak apa-apa, Sayang?" tanya Gio.


"Radit yang kenapa-kenapa ini, Pa," keluhnya.


"Lemah!" cibir Gio.


Melihat kedekatan Radit dengan kedua ayahnya, membuat Echa sangat terhibur. Apalagi, para orang tua Echa yang memperlakukan Radit seperti putra mereka sendiri. Tak segan-segan menghukum Radit jika, Radit melakukan kesalahan. Dan Radit pun tidak keberatan. Masuk ke dalam keluarga Echa yang cukup rumit membuatnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari tangan Ayanda.


Setelah puas bercanda, Gio mengajak Radit duduk di sofa Sedangkan Nisa dan Ayanda masih betah duduk di samping ranjang pesakitan.


"Ada acara apa Papihmu mengadakan pertemuan mendadak?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Gio.


Radit menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil mengurut pelipisnya. "Nanti juga Papa tau." Ada gurat kekhawatiran yang Gio lihat dari wajah Radit.


"Ada apa, Dit?" Lagi-lagi, Radit menggeleng.


Gio tidak akan memaksa Radit untuk bercerita. Karena dia tahu bagaimana menantunya yang satu ini.


Malam pun tiba, Radit sudah berbicara dengan dokter yang menangani Echa untuk beberapa jam ke depan Echa harus pergi ke sebuah acara penting. Dokter pun mengijinkan, dengan syarat infusan yang ada di tangan Echa tidak boleh terlepas. Serta Echa tidak boleh lelah. Harus duduk di kursi roda. Radit pun mematuhi perintahnya.


Radit membawa kursi roda membuat Echa mengernyitkan dahinya. "Kita mau pulang?" Radit hanya menggeleng. "Kita ke rumah Papih." Di atas kursi roda itu sudah ada paper bag yang berisi baju untuk Echa.


Setelah Radit membantu Echa membersihkan badan serta berganti pakaian. Radit pun mendorong tubuh istrinya keluar rumah sakit.


"Ada apa, Ba?" tanya penasaran Echa. Hanya seulas senyum yang Radit tunjukkan.


Radit sengaja datang belakangan karena dia tidak ingin istrinya syok melihat satu per satu tamu undangan papihnya datang. Meskipun, tamu undangan itu adalah keluarga besar Echa.


Benar saja, tibanya mobil yang dikemudikan Radit di depan rumah sang Papih. Sudah banyak mobil yang berderet di sana. Membuat Echa semakin mengernyitkan dahinya bingung.


"Ba ...."


"Kita masuk, mereka pasti sudah menunggu kita." Radit mendorong tubuh Echa yang terduduk di atas kursi roda.


"Sudah kumpul semuanya, ya," imbuh Addhitama.


Para pelayan membawa dua buah kursi panas di hadapan semua orang yang sudah berkumpul. Ruang keluarga pun disulap seperti ruang persidangan.


"Panggilkan mereka," titah Addhitama. Kedua pelayan itu pun mengangguk patuh.


"Pih, ini ada apa?" Echa benar-benar penasaran.


Addhitama tersenyum dan menghampiri menantu kesayangannya ini. "Tidak ada apa-apa menantu kesayangan Papih. Papih tidak ingin melihat kamu drop dan berimbas pada penerus Addhitama junior," cicit Addhitama sambil mengusap lembut kepala Echa.


Kedua orang yang menjadi tersangka pun tiba. Semua orang yang berada di sana melebarkan mata mereka. Terkecuali Rion, dia sudah tau arah pertemuan yang diadakan Addhitama ini seperti apa. Walaupun, Addhitama tidak memberitahukan tujuannya.


"Mas ...."


Rion hanya tersenyum sambil mengusap lembut pundak Ayanda. Seakan sentuhannya mengatakan jika dia baik-baik saja. Sedangkan Arya, kepalanya sudah mengeluarkan tanduk begitu juga Nisa dan mamah Dina. Yang ingin sekali meludahi wajah dua manusia di depan mereka ini.


Wajah Echa penuh dengan kemurkaan. Dadanya sudah turun naik. Menandakan, dia lah yang sangat marah di sini.


"Om, apa maksudnya semua ini? Ada apa dengan mereka berdua?" Pertanyaan yang sangat serius yang Gio utarakan kepada Addhitama.


Addhitama menggeser laptop di hadapannya ke arah Gio. Ya, di sini yang tidak tahu tentang skandal dua sejoli tak tahu umur ini hanya Gio dan Ayanda. Gio menatap layar laptop Addhitama yang sedang memutar video adegan dewasa.


"Astaghfirullah." Ayanda segera menutup layar laptop Addhitama. Dan dia menatap nyalang ke arah Amanda. Sedangkan Gio, hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi, ini yang Mamah maksud?" tanyanya kepada mamah Dina. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban.


Gio dan Ayanda segera menatap Rion. Hanya wajah datar yang Rion tunjukkan. Seakan dia sudah siap dengan segalanya.


"Apa tidak ada yang ingin kalian berdua katakan kepada semua orang di sini? Atau memang kalian membenarkan sikap salah kalian ini?" Satria maupun Amanda hanya menunduk dalam. Mereka tidak sanggup untuk menatap semua orang yang sudah menatapnya tajam. Apalagi menatap Addhitama yang sudah menjadi pemandu acara malam ini.


"Apa tidak ada pembelaan darimu, Amanda?" Sungguh sangat menusuk ucapan Addhitama.


Amanda terus me-remas tangannya yang dingin. Dan Satria tahu, jika Amanda sedang ketakutan. Spontan, Satria merangkul pundak Amanda seakan memberikan kekuatan kepadanya. Dan Amanda pun tak kuasa menahan tangisnya. Dengan segera Satria memeluk tubuh Amanda.


Mata semua orang di hadapan dua sejoli itu melebar dengan sempurna. Sedangkan Rion, hanya tersenyum kecut.


"Astaga, cocok sekali kalian. Pasangan mesoem yang tak tahu tempat," sungut Rion.


"Udah A, talak tiga sekalian," timpal Nisa dengan emosi yang menggebu.


Mendengar kata talak tiga, Amanda segera mendongakkan kepalanya. Menatap sendu ke arah Rion. Dia pun berdiri dan melangkah ke arah Rion dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


Langkahnya mulai gontai. Dan pandangannya mulai kabur. Namun, Amanda masih melanjutkan langkahnya.


"A, Mamah gak ridho kamu masih bersama wanita jallang itu," sungut sang mamah dengan nada penuh kemarahan sekaligus kekecewaan.


Ucapan mamah Dina seperti peluru tajam yang menusuk hati Amanda. Membuat, pandangannya semakin kabur dan langkanya semakin limbung.


Brugh!


Tubuh Amanda tersungkur tak sadarkan diri. Hanya Satria satu-satunya orang yang panik melihat keadaan Amanda. Sedangkan yang lain, hanya diam tak bertindak. Bukan tanpa alasan, mereka tahu bagaimana otak Amanda.


"Tolong Amanda," teriak Satria.


"Gak sudi," ketus Arya.


Terpaksa Satria membopong tubuh Amanda ke sofa yang kosong. Dia sibuk mencari kotak P3K untuk mencari minyak kayu putih atau minyak angin.


"Datangkan dokter obgyn. Saya rasa dia hamil."


Sungguh perkataan yang yang membuat semua orang tersentak. Apalagi, itu terucap dari mulut Rion dengan santainya.


...****************...


Komen banyak lagi ya ...