Bang Duda

Bang Duda
58. Salah Paham



"Pa," panggil Echa yang baru saja keluar dari kamar perawatan.


Hanya wajah pias dan mata sayu yang Echa lihat. "Kita sarapan, ya," ajaknya.


Gio hanya menggelengkan kepalanya. Tidak pernah dia hiraukan rontaan perutnya. Dia hanya tidak ingin jauh dari Ayanda.


"Pa, benar apa yang dikatakan Mamah?" tanya Echa yang kini duduk di samping Gio.


"Dia ...."


"Boss," panggil Remon.


Remon datang dengan seorang wanita cantik dan wanita itu tersenyum manis ke arah Gio. Membuat Echa sedikit emosi.


"Wanita ini yang bikin Mamah marah?" tanya Echa sedikit keras dan menunjuk ke arah wanita di samping Remon.


"Sayang, tenang dulu. Kita masuk dulu," ajak Gio.


Sebelum masuk ke ruang perawatan istrinya, Gio menarik nafas terlebih dahulu. Menghadapi istrinya sedang sangat marah lebih menakutkan dibandingkan menghadapi amarah ayahnya.


Ayanda sedang terbaring di ranjang pesakitannya dan menoleh ke arah pintu. Dilihatnya Gio masuk dengan seorang wanita yang masih sangat Ayanda ingat. Wanita yang membuat suaminya tertawa lepas.


"Kamu ngapain ke sini?" bentak Ayanda.


Sheza dan Beby segera menghampiri Ayanda yang kini sudah tersulut emosi.


"Kamu mau memperkenalkan selingkuhanmu kepadaku?" teriak Ayanda.


Semua orang yang berada di sana mendadak diam. Mereka tidak percaya dengan yang dikatakan Ayanda. Rion yang baru saja datang pun mulai tersulut amarah. Namun, Arya mampu menahannya.


"Selamat pagi, Nona. Nona pasti suami dari laki-laki ini kan," sapanya seraya menepuk pundak Giondra. Semua mata tertuju pada tangan si wanita itu.


"Saya Kania, saya adik dari Kak Remon," ucapnya seraya tersenyum.


"Bukan begitu maksud Kania Bu Boss. Iya betul ini adik saya tapi, dia bukan selingkuhan dari Boss. Boss sudah menganggap Kania seperti adiknya sendiri," jelas Remon yang tidak ingin suasana tambah keruh.


"Iya Nona. Lagi pula sebentar lagi saya akan menikah. Saya bertemu dengan Kak Gio itu karena Kak Gio hendak memberikan saya hadiah pernikahan karena Kak Gio sudah dipastikan tidak akan bisa datang. Tanggal pernikahan saya sama dengan rencana operasi Cesar Nona," terang Kania.


Semua orang merasa lega dengan pengakuan Kania. Sedangkan Gio hanya diam di tempatnya. Menatap istrinya dengan tatapan penuh rindu.


"Untuk perlakuan Boss akhir-akhir ini saya minta maaf Bu Boss. Sedang banyak masalah di perusahaan, jadi Bos dan para karyawan lain harus kerja lembur. Sebenarnya Boss melarang saya untuk menceritakan ini tapi, saya juga tidak mau Bu Boss terus salah paham kepada Boss," jelas Remon lagi.


Ayanda menatap Gio dengan penuh rasa bersalah. Dia telah salah paham terhadap suaminya. Hamil kali ini membuatnya sangat sensitif.


"Daddy," panggil Ayanda lirih.


Panggilan yang sangat Gio rindukan dalam beberapa hari ini. Panggilan itu telah kembali lagi, membuat garis senyum Gio terukir dengan sempurna. Gio pun menghampiri istrinya dan langsung memeluk tubuh Ayanda.


"Daddy kangen Mommy," ucapnya dan mencium kening Ayanda.


"Daddy kangen si twin," ucapnya dan kini mencium perut buncit Ayanda.


Semua orang melengkungkan senyum sangat bahagia melihat suami-istri di depan mereka ini. Gio dan juga Ayanda kini menjadi panutan untuk Beby, Sheza, dan juga Amanda. Mereka ingin memiliki keluarga yang romantis dan juga harmonis seperti pasangan di depan mereka.


"Daddy tidak mungkin dan tidak akan pernah mengkhianati, Mommy," ucapnya. Ayanda tersenyum bahagia dan berhambur memeluk tubuh suaminya.


"Abang, bisakah Abang bersikap seperti Pak Gio dalam memperlakukan Manda?" bisik Amanda.


Gio menatap Amanda. "Akan aku coba," bisiknya pelan di telinga Amanda.


Seketika Amanda terdiam mendengar jawaban dari Rion. Dia melihat ke arah Rion, hanya seulas senyum yang Rion tunjukkan. Rion pun menarik tangan Amanda agar masuk ke dalam dekapannya.


"Jangan pernah diamkan aku lagi," ucapnya pada Amanda.


***