Bang Duda

Bang Duda
145. Kesempurnaan



Aku mau ngucapin Selamat Hari Ibu untuk semua ibu-ibu hebat di dunia ini. Kasih ibu sepanjang masa sedangkan kasih anak sepanjang jalan. Terimakasih untuk para ibu-ibu yang telah melahirkan anak-anak yang hebat.


...****************...


"Ah, tidak mungkin," gumam Amanda sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Telat datang bulan sudah menjadi hal biasa untuk Amanda di dua bulan terakhir ini. Pernah dia sudah teramat senang begitupun suaminya. Ketika di cek, hasilnya negatif. Bibir masih bisa tersenyum tapi hati pasti kecewa. Begitulah yang dirasakan mereka berdua.


Amanda tidak ingin menambah kekecewaan suaminya. Dia hanya memasrahkan semuanya kepada sang pemilik semesta. Kapan pun dikasihnya pasti dia akan selalu siap, dan akan menerima dengan senang hati.


Melihat suaminya sudah berubah membuat rumah tangganya dipenuhi rasa cinta yang luar biasa. Ditambah Echa dan si kembar yang menjadi pelengkap dalam hidup mereka. Ketika weekend tiba pasti Rion dan Amanda membawa si kembar ke rumah atau pun berjalan-jalan. Si kembar sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri.


"Bu, bapak kenapa?" tanya Mbak Ina yang berpapasan dengan Amanda.


"Kelelahan Mbak," jawab Amanda.


"Tapi, kalo menurut saya bukan kelelahan Bu. Sepertinya Bapak mabok," ujar Mbak Ina.


"Jangan terlalu berharap lebih, Mbak. Jika, tidak sesuai dengan harapan kita pasti Abang semakin kecewa," jelasnya.


Mbak Ina hanya menganggukkan kepala. Dia tahu, majikan laki-lakinya pernah kecewa ketika dia berharap istrinya hamil tapi malah sebaliknya.


Senyum Amanda mengembang melihat suaminya yang sedang terlelap. Dia pun naik ke atas ranjang dan memandang hangat wajah Rion yang sedang tertidur. Ketampanannya terlihat amat sangat sempurna.


"Jika, Manda hamil. Apa Abang akan menyayangi anak kita seperti Abang menyayangi Echa?" gumamnya.


Waktu menunjukkan pukul dua siang, Rion membuka matanya perlahan. Orang yang pertama dia lihat ketika membuka mata adalah istri cantiknya. Disentuhnya pipi Amanda yang terlihat sedikit berisi. Tangannya mulai turun ke bibir ranum sang istri lalu mengecupnya. Hanya kecupan biasa, menempelkan bibir saja.


Tangannya dengan leluasa membuka kancing baju Amanda hingga terbuka setengah badan. Tangan Rion mulai menyingkapkan penutup mainan kesukaannya. Dengan senyuman penuh kebahagiaan dia melahap daging kecil yang menempel di dada Amanda.


"Bang," panggil Amanda dengan suara khas bangun tidur.


"Kangen," jawabnya sambil melepas hisapannya. Ketika sang istri tersenyum, Rion melanjutkan kegiatannya lagi.


Amanda hanya mengusap lembut rambut Rion dan dia malah terlelap lagi. Karena sudah terbiasa, bukannya terangsang malah merasa nyaman.


Amanda mengerjapkan matanya, suaminya sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, suara gemercik air terdengar. Sudah dipastikan Rion sedang berada di dalam kamar mandi.


Rion sudah keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya. Dia langsung memeluk erat tubuh istrinya yang sedang merapihkan tempat tidur.


"Kok manja banget sih?" tanya Amanda.


"Gak tau, pengen selalu dekat kamu," jawab Rion.


"Jus nanasnya udah ada di kulkas, mau Manda ambilin?"


"Nanti aja, kamu mandi dulu gih. Abis itu kita ke taman belakang," sahut Rion.


Amanda menuruti perkataan Rion. Setelah selesai mandi mereka berdua menuju taman belakang dengan Rion yang terus mengikuti Amanda dari belakang.


"Ini jusnya."


"Makasih, Sayang," balas Rion.


Amanda memandang aneh kepada sang suami. Dia dengan nikmatnya meminum jus nanas yang cukup asam. Suaminya ini bukanlah pecinta makanan asam, manis dan pedas. Tapi, kali ini benar-benar aneh.


Apa benar dugaanku? Kalo salah? Pasti akan kecewa lagi.


Suara seseorang seperti Tarzan membuyarkan lamunan Amanda. Dan Rion hanya berdecak kesal.


"Enak banget ya, Pak. Ngakunya mah sakit tapi malah nongkrong cantik begini," oceh Arya.


"Emang gua sakit, tadi pagi," jawab santai Rion.


Arya pun menghampiri Rion, seketika Rion menutup hidungnya. Lalu, berlari menuju wastafel dapur. Memuntahkan semua isi perutnya.


"Lah, tuh orang kenapa?" tanya Arya heran.


Amanda dengan lembut memijat tengkuk leher Rion, hingga perut Rion mulai membaik.


"Udah?" Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban.


Dengan telaten Amanda mengelap mulut sang suami dan juga keringat di dahi Rion. Bau menyengat dari masakan Mbak Ina membuat perut Rion terasa diaduk-aduk lagi. Membuatnya dia terus memuntahkan isi perutnya.


"Masuk angin kali lu," ujar Arya yang sedang mengambil minuman dingin.


Arya mencoba mengendus baju dan badannya. Tidak ada yang aneh dari bau badannya dan juga bajunya. Parfum yang dia pakai pun masih tetap sama.


"Yang, bilang sama Mbak Ina besok-besok gak usah masak. Oredr online aja. Perut aku mual banget," ungkapnya.


"Ya udah kita ke kamar aja, ya." Rion pun menyetujuinya. Dia harus dipapah karena tubuhnya lemas.


"Mbak, itu si Rion kenapa? Kok aneh sih?" tanya Arya yang sudah duduk di dapur.


"Kalo menurut saya sih Ibu hamil, Mas," jawab Mbak Ina.


"Kalo bininya yang hamil kenapa dia yang muntah-muntah?" tanya Arya bingung.


"Ketika istri hamil tidak semua istri merasakan mual dan ngidam. Bisa saja sang suami yang malah merasakan itu semua. Tergantung si jabang bayinya maunya ke siapa," jelasnya.


"Emang Manda udah hamil?"


"Ibu takut mengeceknya, Mas. Takut kecewa lagi. Karena kemarin Bapak sempat kecewa berat karena hasilnya negatif."


"Gak ada salahnya kan, dicek," imbuh Arya.


"Ibunya belum mau, Mas. Takut Bapak semakin kecewa," ungkap Mbak Ina.


Amanda masuk ke dapur dan menyuruh Mbak Ina untuk tidak perlu memasak untuk beberapa Minggu depan. Mbak Ina pun hanya dapat menuruti perintah majikannya.


"Lu udah coba tes?" tanya Arya pada Amanda yang sedang mengambil jus nanas.


Amanda hanya diam saja, masih ada rasa takut di hatinya. Dia masih ragu.


"Gak ada salahnya lu coba tes. Siapa tau aja jadi," usul Arya.


"Gua takut dia kecewa lagi," kata Amanda.


"Ngapain kecewa, toh kalo hasilnya gak sesuai dengan yang gak kalian harapkan bisa coba lagi. Yang penting pastiin dulu," terang Arya.


"Apa perlu gua beliin testpacknya?" lanjut Arya.


"Gak usah, masih ada stok satu testpack di laci lemari," imbuhnya.


"Ya udah, jangan takut buat nyoba. Kita manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan."


Amanda hanya mengangguk pelan. "Bismillah, siapa tau aja udah rezeki kalian," imbuh Arya.


Arya pun melenggang ke kamar Rion. Dilihatnya sang sahabat sedang bersandar di kepala ranjang dengan wajah pucatnya.


"Ngapain lu ke sini? Pergi Sonoh," usir Rion dan langsung menutup hidungnya.


"Syukurin kena karma lu," imbuh Arya.


Rion hanya mengerutkan dahinya tak mengerti. Sebelah tangannya terus saja mengusir Arya dan sebelah lagi menutup hidungnya membuat Arya tertawa terbahak-bahak.


Pukulan di pundak Arya membuat Arya mengehentikan tawanya. "Kasihan ih, udah Sonoh pulang. Beby udah nungguin," ujar Amanda.


Arya pun mengecek ponselnya, benar saja banyak chat dari calon istrinya. "Ya udahlah gua pamit. Selamat menikmati karma bro," ucap Arya seraya tertawa.


Setelah kepergian Arya, Rion memeluk tubuh istrinya dan bertanya maksud dari ucapan Arya itu apa. Amanda hanya menjawab tidak tahu.


Malam ini, Rion terus menempel pada tubuh istrinya. Benar-benar tak mau jauh dari Amanda. Rasa mual yang sering datang sewaktu-waktu membuat Amanda harus selalu berada di samping suaminya.


Pagi harinya, dengan ragu Amanda mencelupkan testpack ke dalam urin yang sudah dia tampung. Matanya terpejam dan hatinya terus memanjatkan doa.


Amanda menarik napas dalam sebelum membuka matanya. Matanya nanar melihat garis dua yang berada di testpack itu. Warnanya pun nyata tidak samar. Tak terasa air matanya jatuh, tak hentinya di mengucapkan syukur kepada sang kuasa.


Dua tangan melingkar di perut Amanda membuat Amanda sedikit terkejut. Suaminya tengah meletakkan dagunya di bahu Amanda.


Tangan Amanda menunjukkan hasil testpack ke depan wajah sang suami. Rion memicingkan matanya. Diambilnya test pack itu dilihatnya secara seksama. Dia membalikkan tubuh istrinya dan menatap penuh haru kepada sang istri yang sudah menitikan air mata.


"Makasih, Sayang," ucapnya dan langsung memeluk erat tubuh Amanda.


Pagi hari yang penuh haru di dalam kamar mandi mengawali hari mereka. Hari yang menjadi kesempurnaan rumah tangga mereka. Yaitu, kehamilan Amanda yang sudah lama Rion nantikan.


****