Bang Duda

Bang Duda
85. Menjalankan Rencana



Selepas Maghrib mereka sudah berkumpul di apartment Gio. Liburan kali ini adalah permintaan Ayanda yang terakhir di masa kehamilannya. Satu bulan lagi dia akan terbang ke Singapura dan akan menjalani proses persalinan di sana.


Sudah ada Sheza dan Azka yang sebentar lagi akan menikah, Beby dan juga Arya, Amanda dan juga Rion tak lupa pemeran utamanya Ayanda dan juga Gio. Serta satu anak gadis yang selalu menjadi orang ketiga di setiap kemesraan para pasangan ini yaitu Echa.


Mereka berangkat hanya menggunakan tiga mobil, Arya menumpang di mobil Rion. Setelah dua jam perjalanan mereka tiba di salah satu villa mewah milik Gio. Penjaga villa dengan sopannya mempersilahkan mereka masuk. Villa Gio adalah villa termegah yang ada di Bogor.


"Pilih aja kamar mana yang kalian suka," ujar Gio.


Gio dan Ayanda lebih memilih berada di kamar bawah karena keadaan Ayanda yang sedang hamil tua. Bahaya jika harus turun naik tangga. Rion dan Amanda memilih kamar atas, dengan alasan ingin menikmati suasana baru.


Setelah semuanya membereskan barang bawaan mereka masing-masing, mereka pun mengadakan acara bakar-bakar didinginnya udara puncak. Para lelaki yang tengah asyik bakar membakar dengan ditemani seorang gadis pengacau yang selalu membuat para lelaki itu tertawa.


"Mbak, hamil kembar itu gimana rasanya?" tanya Amanda.


"Lebih berat dan susah untuk ngapa-ngapain," jawab Ayanda seraya tersenyum.


Sheza berjongkok di depan Ayanda, memegang perut buncitnya. Terasa gerakan aktif di dalam sana membuat Sheza tertawa lucu. Amanda dan juga Beby pun ikut menyentuh perut Ayanda, mereka pun tergelak bersama.


"Sedang apa kalian?" tanya Gio yang baru saja menghampiri istrinya.


"Daddy pelit datang," ejek Beby membuat semua wanita di meja itu tertawa. Gio hanya melirik sinis ke arah Beby.


"Minum dulu vitaminnya," titah Gio. Ayanda mengambil vitamin di mangkuk kecil dan juga air minum di tangan Gio.


"Sehat terus ya anak-anak, Daddy," ucapnya pada perut buncit istrinya lalu mengecupnya.


Garis senyum terukir dari bibir Amanda, melihat keluarga Gio dan juga Ayanda hatinya menghangat. Kelak, dia ingin membina rumah tangga seromantis pasangan suami-istri di depannya ini.


Dari kejauhan, Rion menatap istrinya yang sedang melihat kemesraan Gio dan Ayanda. Hatinya sedikit sakit, sampai saat ini dia belum bisa membuat Amanda bahagia. Dengan kehadiran seorang anak mungkin akan meluluhkan hati Amanda yang keras seperti batu.


Semua sudah selesai dibakar, mereka menikmati makan malam dengan aneka menu bakar. Mereka berlomba-lomba memamerkan keromantisan mereka ke pasangan yang lain. Gio dan Ayanda lah pemenangnya. Gio bukan hanya memanjakan istrinya tapi juga anak tirinya.


Semuanya sudah kenyang, Echa yang terlebih dahulu masuk ke kamar karena dia ingin menonton drama Korea. Diikuti Ayanda dan juga Gio, angin malam tidak bagus untuk kesehatan janin.


Tak lama Rion dan Amanda beranjak dari duduknya. "Mau kemana bro?" tanya Arya.


"Kayak gak tau pengantin baru aja. Dingin-dingin begini mah enaknya ngelakuin yang sedep-manteb," sahut Rion.


Sorakan terdengar dari mereka yang masih berstatus pacaran, sedangkan wajah Amanda sudah memerah seperti kepiting rebus. Rion menarik tangan Amanda dan mereka menuju kamar atas.


Amanda mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah selesai bersih-bersih, Amanda membuka tasnya. Dia terus mencari barang yang sangat penting untuknya sekarang ini. Amanda mengqobrak-abrik tasnya. Namun, barang yang dicarinya tak kunjung dia temukan.


"Abang, lihat pil KB Manda gak?" tanya Amanda.


Rion yang sedang asyik menonton pun menjeda tontonannya sesaat. Rion menarik tangan Amanda agar duduk di pangkuannya.


"Udah Manda masukin, Bang," ujar Amanda dengan wajah sedikit frustasi.


Rion memeluk tubuh Amanda seraya menenangkannya. "Besok aja kita beli di apotik, ya. Sekarang udah malam."


Rion mengajak istrinya untuk menonton film yang sempat dia jeda. Amanda menggigit bibir bawahnya setelah sepuluh menit menonton film yang diputar Rion. Dengan sengaja tangan Rion masuk ke dalam piyama Amanda. Tangannya menyusuri setiap kulit mulus Amanda.


"Bang," panggilnya dengan suara sudah parau.


Rion mendaratkan ciuman lembut ke bibir mungil Amanda. Dia mengabsen setiap isi di dalam mulut istrinya. Tanpa Amanda sadari dia sudah merangkul kan tangannya di leher suaminya.


Ciuman Rion kini mulai ke leher Amanda, membuat suara kenikmatan lolos begitu saja dari mulut istrinya. Tangan Rion sudah mulai masuk ke dalam celana piyama Amanda. Membuat Amanda panas dingin merasakan sensasi tangan suaminya.


Dengan gagah Rion mengangkat tubuh istrinya tanpa melepaskan pagutan bibir mereka. Rion membaringkan tubuh istrinya dengan sangat pelan di atas kasur empuk. Perlakuan lembut Rion membuat suara kenikmatan terdengar kembali. Rion ingin memuaskan istrinya terlebih dahulu sebelum Rion melanjutkan rencananya. Lenguhan panjang terdengar jelas di telinga Rion, itu menandakan istrinya sudah mencapai klimaks.


Nafas Amanda sangat tidak beraturan tapi, dengan nakalnya Rion bermain-main di segitiga sensitifnya. Membuat istrinya mengeluarkan lenguhan panjang kembali. Rion mengecup bibir Amanda dengan sangat lembut.


"Punya kamu udah basah banget, aku masukin ya," izinnya.


Amanda hanya mengangguk pelan tanda setuju. Baru saja Rion hendak memasukkan juniornya, badan Rion ditahan oleh Amanda.


"Keluarinnya di luar, Manda masih dalam masa subur," pinta Amanda.


Rion hanya mengangguk pelan dengan nafsu yang sudah tidak tertahan. Dia ingin segera menuntaskan laharnya yang sudah meronta-ronta ingin disemburkan. Tanpa aba-aba Rion memasukkan miliknya hingga jeritan kenikmatan lolos lagi dari mulut Amanda.


Berkali-kali Amanda mencapai klimaks namun, Rion masih tetap tak bergeming. Keperkasaannya belum ingin memuntahkan benih cinta yang Rion miliki untuk istrinya. Amanda sudah terkapar lemah tak berdaya, dia sudah masuk ke alam mimpi. Erangan keras kini keluar dari mulut Rion dan dia pun menyemburkan bibit benihnya di dalam rahim Amanda yang dalam keadaan subur.


Rion tersenyum bahagia, dia mengecup bibir istrinya yang sudah terlihat membengkak karena ulahnya. Kemudian, Rion mencium perut istrinya seraya berkata, "tumbuhlah di sana, Ayah sangat menginginkanmu."


"Maafkan Abang, Sayang," ucapnya lalu mengecup kening istrinya sangat lama.


Rion memakaikan selimut ke tubuh istrinya yang polos, dia pun ikut masuk ke dalam selimut. Mereka terlelap dengan tangan Rion yang mendekap hangat tubuh istrinya.


Suara adzan berkumandang, Amanda pun perlahan membuka matanya. Dia tersenyum hangat, Rion berada di hadapannya dengan wajah damainya. Amanda mengecup singkat bibir Rion dan juga kening suaminya.


"Maafkan Manda jika Manda egois. Ini semua Manda lakukan agar tidak ada Ayanda-Ayanda yang lain yang Abang sakiti. Manda sayang Abang," ucapnya.


****


Tolong dong komen di setiap part, komen kalian adalah mood booster ku untuk melanjutkan cerita ini.


Happy reading semua ....