Bang Duda

Bang Duda
38. Damai



Dengan tergesa-gesa Ayanda dan juga Gio pergi ke kantor polisi tempat dimana Rion ditahan untuk sementara. Selama perjalanan Ayanda terus saja mengomel karena tindakan bodoh mantan suaminya. Membuat Gio sedikit memijat keningnya karena merasa pusing mendengar ocehan istrinya yang tidak berhenti. Jiwa ibu-ibu bawel kini menempel pada tubuh Ayanda.


Di kantor polisi sudah ada Arya dan juga pengacara Endro. Sedari tadi Arya menatap Rion dengan api amarah. Sedangkan Rion masih bersikap cuek seolah tidak terjadi apa-apa.


"Lu mikir gak sih, kalo tindakan lu ini akan merugikan usaha kita." Arya berbicara dengan nada geram hingga menggebrak meja.


Pengacara Endro mencoba meredam emosi Arya, jika tidak ada pengacara Endro sudah dipastikan Arya akan menghajar Rion tanpa ampun.


Tak lama Ayanda dan Gio tiba di kantor polisi. Mata Ayanda seolah ingin membunuh Rion dengan tangannya sendiri. Rion tampak tertunduk dihadapan Ayanda. Hanya Ayanda lah yang mampu membuat nyali Rion ciut.


"Apa mau kamu, Mas?" tanya Ayanda dengan tatapan tajam.


Suasana ruangan pun hening, semua orang hanya terdiam melihat Ayanda seolah sedang menghakimi Rion.


"Jawab!" bentaknya.


Tidak ada jawaban dari mulut Rion, mulutnya seolah terkunci rapat.


"Aku datang ke sini bukan karena kamu, Mas. Tapi karena Echa, bagaiman reaksi Echa kalo tau ayahnya melakukan tindakan kriminal?" Rion pun semakin tertunduk dalam.


"Siapa orang yang Mas pukuli?" tanya Ayanda lagi.


"Kurir restoran ayam cepat saji," jawab Arya.


Ayanda hanya menggelengkan kepalanya dan berdecak kesal. "Kenapa kamu bisa sebodoh ini sih, Mas?" geramnya.


"Karena dia telah mengkhianati Sheza," jawab Rion.


Ayanda, Gio dan juga Arya memicingkan mata kepada Rion. Meminta penjelasan lebih.


"Dia main di belakang Sheza," lanjut Rion.


Cih,


"Apa bedanya sama kamu, Mas?" ujar Ayanda dan membuat semua orang tergelak.


"Jika hanya kurir kita masih bisa melakukan jalan damai. Kita biayai pengobatannya dan juga berikan kompensasi kepadanya," ucap Ayanda dan disetujui oleh Arya dan juga pengacara Endro.


"Mom, Daddy harus pergi sekarang. Rafael sudah menunggu," dijawab anggukan kepala oleh Ayanda.


Tiba-tiba Endro membelalakkan matanya ketika membaca pesan yang dia terima.


Semua mata tertuju pada Endro. "Yang Pak Rion pukuli bukan kurir tapi pemilik restoran cepat saji," lanjut Endro.


Arya mengusap wajahnya kasar sedangkan Ayanda hanya terdiam seraya berpikir.


"Kita coba berdamai dulu, jika tidak bisa proseslah sesuai hukum yang berlaku," kata Ayanda.


"Tapi Ay," cekal Arya.


"Semuanya sudah terjadi, tidak bisa kita cegah lagi. Berdoalah agar pihak mereka mau berdamai dengan kita," jelas Ayanda.


Arya dan Endro sangat melihat gurat kecewa di wajah Ayanda. Endro pun mencoba menghubungi pihak dari Azka. Dan angin segar yang Endro terima.


"Mereka mau berdamai dengan kita," ucap Endro dengan nada senang.


Arya dan juga Rion nampak terlihat lega namun tidak dengan Ayanda. Wajahnya dingin dan datar.


"Aku percayakan kepadamu," kata Ayanda kepada Endro. Pengacara Endro pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu bisa bernapas lega sekarang, Mas. Tapi kalo kamu melakukan hal bodoh lagi, aku tidak akan membantumu lagi," ujar Ayanda. Dia langsung meninggalkan kantor polisi tanpa permisi.


Waktu pertemuan pun sudah ditentukan. Pertemuan diadakan di rumah sakit tempat Azka dirawat. Mereka hanya bertiga karena Ayanda tidak bisa ikut dikarenakan harus menemani Gio.


Langkah kaki mereka bertiga terhenti di depan ruang perawatan. Terdengar suara gelak tawa di dalam ruangan.


Endro pun membuka pintu ruangan Azka, Beby yang berada di dekat pintu pun berteriak histeris.


"Dia yang memukul Kakakku," teriak Beby yang melihat Rion sedang berada di ambang pintu.


Kedua pria dan satu wanita yang berada di ruangan Azka pun terkejut mendengar teriakan Beby dan mata mereka tertuju pada sosok satu pria.


"Rion," ucap Gio dan juga Ayanda bersamaan.


***


Hay ...


Yang penting up ya😁


Happy reading semua ....