Bang Duda

Bang Duda
403. Bonchap Again



Byurr!


"Anak tuyul jatoh ke kolam!" seru Arya.


Rion, Echa serta Riana segera tersadar. Ternyata tiga bocah yang masing-masing mereka pangku sudah tidak ada. Mereka berlarian ke arah kolam. Di mana Radit, Arya, Gio dan Kano sudah masuk ke dalam kolam renang. Mencari keberadaan anak-anak balita itu.


"Kamu kenapa lalai jaga mereka?" sergah Ayanda.


"Maaf, Mah," lirih Echa.


"Jangan dimarahin, ini juga salah Mas. Kami terlalu larut dalam keharuan," bela Rion.


Radit sudah muncul ke permukaan. "Gak ada," teriaknya.


Semua orang sudah mulai panik. Echa sudah menitikan air mata. Takut yang kini dia rasakan.


"Anak-anak, Bubu," lirihnya.


Ayanda merangkul tubuh sang putri. Semarah-marahnya seorang ibu tidak akan pernah tega ketika melihat anaknya menitikan air mata.


Arya, Gio, Kano mulai muncul ke permukaan. Mereka semua menggelengkan kepala. Tubuh Echa mulai limbung dan tak sadarkan diri.


Mereka yang berada di kolam segera naik dan membantu Echa. Tubuh Echa sudah dibawa ke dalam rumah Kano. Dibaringkannya di sofa ruang keluarga.


"Sayang, bangun," ucap Radit yang tak kalah khawatir.


"Terus ini bocah pada ke mana?" tanya Arya. "Apa mereka tenggelam?" lanjutnya.


Kepanikan pun melanda mereka kembali. Membuat Gio dan Rion akan kembali ke kolam untuk mencari cucu mereka.


"Hahahaha." Suara tertawa menggema.


Semua orang menatap ke asal suara. Iyan sudah memegang perutnya yang sakit karena tertawa terpingkal-pingkal.


"Kenapa kamu tertawa, Iyan? Kurcaci kamu tenggelam," bentak sang ayah.


"Mana ada si kurcaci tenggelam, Ayah. Sekalipun mereka tenggelam pasti akan ditolong sama teman-teman Iyan," sahutnya.


"Maksud kamu apa, Iyan?" tanya Radit. Jika, sudah melihat wajah garang sang Abang ipar nyali Iyan menciut.


"Ikut Iyan ke ruang tamu," ajaknya pada semua orang.


Mereka pun mengikuti Iyan dan malah meninggalkan Echa di sofa yang masih belum sadarkan diri.


"Tuh lihat!" tunjuk Iyan.



"Kenapa ini bocah ada di sini?" Arya benar-benar heran dibuatnya.


Ayanda dan Rion sudah memeluk tiga cucu mereka dan menciumi seluruh wajah gembul tiga bocah kesayangan. Sedangkan Gio dan Radit bisa bernapas lega.


"Dari tadi si kurcaci itu emang di sini sama Iyan dan Kaza," jawab Iyan.


"Terus itu yang tadi nyemplung ke kolam mirip si tuyul?" Hanya seringai yang Iyan tunjukkan.


Semua orang menatap tajam ke arah Iyan. "Jangan bilang teman lu lagi pengen main-main sama gua," ujar Arya.


"Ya begitulah," sahut Iyan sambil mengedikkan bahunya.


"Sialan!!" pekiknya.


"Gak anak si bangor gak setan demen banget ngerjain hidup gua," geram Arya dan disambut tawa oleh mereka semua.


"Bu-bu," ucap Aleena.


Mereka semua melupakan Echa yang masih tak sadarkan diri di ruang keluarga. Ketika sampai di depan pintu penghubung ruang keluarga, Echa sedang menangis sambil memanggil-manggil si kembar.


Tiga kurcaci itu meronta ingin diturunkan dari gendongan dan berlari-lari kecil menuju sang ibu yang sedang menangis.


"Bu-bu." Dengan cepat Echa menatap ke asal suara, tangisnya tak terbendung lagi. Echa segera menghampiri anak-anaknya dan memeluk mereka dengan sangat erat.


"Don't claiy."


"Maafkan Bubu, Nak. Maafkan Bubu," sesal Echa.


Semua orang menatap haru ke arah Echa. Tak terasa waktu terus bergulir. Echa si anak Bangor kini telah memiliki tiga tuyul Bangor. Dan sifat manja Echa sudah terganti dengan sifat keibuan yang dia miliki. Buktinya sekarang ini, mendengar anaknya hilang saja dia sudah sangat panik dan terpukul. Jika, anak-anaknya hilang sudah dipastikan Echa pasti akan depresi berat.


"Jangan nangis lagi, Sayang. Mereka tidak apa-apa," ucap Radit yang sudah membelai rambut sang istri. Tangan-tangan kecil si mungil pun ikut membelai rambut sang ibu.


"Assalamualaikum." Ucapan salam seseorang yang tidak asing di telinga membuat semua orang menoleh ke arah suara. Kecuali, Riana yang masih mematung di tempatnya.


"Uncle ...."


...****************...


Komen yuk komen biar aku semangat lagi🤧