Bang Duda

Bang Duda
67. Terakhir kalinya



📱 "Erlan sudah tidak sakit lagi sekarang. Dia sudah sembuh sekarang," ujar Gio.


📲 "Iya."


📱 "Akan saya suruh orang untuk mengurus jenazah Erlan. Dan saya pun akan menyiapkan pemakamannya. Saya minta, jenazahnya dibawa pulang sudah dalam keadaan suci," pinta Gio.


📱 "Baik, Pak."


Sambungan telepon pun terputus. Amanda yang mendengar ucapan Gio tak henti-hentinya mengucapakan kekagumannya pada sosok Gio. Meskipun sudah disakiti tapi tetap mau membantu.


Dinda terus menangis tanpa suara. Hidupnya kini sudah tidak ada gunanya. Anaknya yang terlebih dahulu meninggalkannya karena penyakit leukimia, dan sekarang ayah kandung dari anaknya pun pergi meninggalkan dirinya seorang diri di sini.


"Percuma lu nyesel juga," ketus Arya.


Dinda semakin menunduk dalam dan matanya tak henti mengeluarkan bulir bening. Hingga air matanya kini membasahi pipinya.


"Kita temui suamimu sekarang," ucap Ayanda.


Semua mata tertuju pada Ayanda. Mereka tidak percaya Ayanda masih bersikap baik kepada Dinda. Padahal Dinda sudah banyak menyakiti dan menyusahkannya.


"Dek ...."


Ayanda mengangkat tangannya, menyuruh Rion untuk berhenti bicara.


"Hukum akan terus berjalan. Tapi saya bukan manusia kejam yang tidak punya hati. Akan saya izinkan kamu melihat Erlan untuk terakhir kalinya namun, masih dalam pengawasan kami," jelas Ayanda. Gio hanya tersenyum dengan tindakan istrinya. Dia sudah menduga ini yang akan dilakukan istrinya karena hati Ayanda sangat baik dan lembut.


Amanda baru tahu sifat asli Ayanda dan juga suaminya. Pasangan yang luar biasa baiknya dan berhati lapang.


Gio sudah menyiapkan pesawat pribadinya. Sekarang juga dia akan bertolak ke Jakarta. Selama di perjalanan Dinda hanya terdiam dan tanpa hentinya air matanya menetes. Sedangkan Gio tengah sibuk bermain-main dengan gundukan istrinya dan juga terus tertawa bahagia ketika merasakan pergerakan dari anak kembarnya yang masih berada di dalam perut.


Di dalam pesawat, Gio dan Ayanda sudah berganti pakaian memakai baju serba hitam. Dinda masih diapit oleh dua orang berbadan kekar. Kali ini dia tidak bisa lolos dari hukumannya. Sedangkan Ayuna, dia harus melalui proses hukum di Yogyakarta.


Tiba sudah mereka di rumah sakit. Sudah ada dokter Eki di sana. Wajahnya nampak sendu, semua tenaga medis di rumah sakit ini merasa sangat kehilangan.


"Ndra," panggil Eki.


Gio hanya menganggukkan kepalanya. Dinda langsung berhambur memeluk tubuh suaminya yang sudah terbujur kaku. Air matanya tumpah ruah melihat Erlan sudah tak bernyawa.


"Jangan tinggalkan aku, Mas," lirihnya.


"Raska telah pergi dan kenapa sekarang kamu ikut pergi?"


"Dia lebih memilih bertemu dengan anaknya dari pada hidup bersama istrinya yang tidak pernah memperdulikannya," jawab Ayanda.


"Tidak usah sedramatis itu, semua orang di sini tahu bagaimana kamu memperlakukan Erlan," imbuh Ayanda.


Mendengar ucapan Ayanda, Dinda menatap Ayanda tajam. " Gak usah banyak bacot lu," bentak Dinda.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Dinda. Tangan Gio lah yang melakukannya. Dia benar-benar geram melihat tingkah laku Dinda yang seperti iblis.


"Gak usah bentak-bentak Ayanda. Harusnya kamu bersyukur Ayanda sudah mau membawamu ke sini untuk menemui suamimu untuk terakhir kalinya," geram Gio.


Semua tim medis yang berada di sana pun hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Sangat sial, Erlan menikahi wanita seperti itu. Begitulah batin mereka.


Gio menyuruh perawat di sana untuk membersihkan dan mensucikan jenazah Erlan karena akan segera dikebumikan.


Tangisan Dinda pecah namun, tidak ada yang iba kepadanya. Satu per satu mereka meninggalkan Dinda termasuk Gio dan Ayanda. Dokter Eki menghampiri Dinda.


"Surat terakhir dari Erlan," ujar Eki seraya menyodorkan sebuah amplop.


Eki meninggalkan Dinda yang tengah menatap amplop di tangannya. Tidak ada keberanian dari diri Dinda untuk membuka amplop itu. Akhirnya, dia membuka isi amplopnya. Hanya ada secarik kertas dan selembar foto mereka ketika akad nikah. Dengan tangan yang gemetar, Dinda membuka lipatan kertas itu.


*Untuk kamu istriku.


Terimakasih kamu telah merawat ku dengan baik dan menjadi istri yang tulus. Tapi, itu sebelum kamu bertemu dengan lelaki yang sangat kamu cintai. Nyatanya, akhir-akhir ini kamu selalu mengabaikan ku dan waktumu kamu habiskan hanya untuk dia bukan untukku, suamimu.


Ingin aku protes tapi, apalah dayaku?


Aku hanya lelaki yang tidak bisa apa-apa. Hanya terbaring lemah di atas tempat tidur. Yang aku utamakan adalah kebahagiaanmu. Meskipun aku tidak pernah suka dengan sifat mu yang terlalu ambisius. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang kamu mau*.


Mulai sekarang, sudahi kelicikan mu. Mereka orang-orang baik yang selalu membantu kita. Harusnya kamu membalasnya dengan kebaikan bukan malah dengan kejahatan mu.


*Satu hal yang kamu harus tahu, Ayanda lah yang membayar semua biaya rumah sakit ku. Dia lah yang dengan tulus membantu kita. Hanya saja, Ayanda memilih diam dan menyimpannya sendiri. Kurang baik apalagi mereka terhadap kita?


Sadarlah!


Mereka yang terus kamu jahati adalah mereka yang selalu membantu kita secara diam-diam. Tanpa kamu ketahui, Gio meminta dokter terbaik di Asia untuk menangani ku secara pribadi. Luar biasanya mereka*.


Aku harap, setelah kamu membaca surat ini. Mata dan hatimu terbuka lebar. Berterimakasih lah pada mereka. Dan bertaubatlah sebelum Tuhan murka. Ingatlah, sekecil apapun perbuatan mu pasti akan ada balasannya.


Ketika kamu membaca surat *ini, sudah dipastikan aku telah tiada. Raska terus saja memanggilku dan dia ingin bermain bersamaku di sana. Dan sekarang aku harus pergi.


Terimakasih untuk semuanya.


Erlan Kusuma Adinata*


Tubuh Dinda tersungkur ke lantai. Kejahatan yang selama ini dia lakukan berputar-putar di kepalanya. Kalimat yang Erlan tulis tentang siapa yang membiayai semua pengobatan suaminya membuat Dinda menolak untuk percaya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin," teriaknya.


Jenazah Erlan sudah selesai dimandikan dan juga disolatkan. Kini, tiba saatnya membawa jenazah Erlan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dinda ikut dengan mobil jenazah, menatap keranda dengan wajah yang sangat sendu. Separuh jiwanya telah pergi. Dan kini, separuh nyawanya juga ikut pergi meninggalkannya.


Tiba sudah mereka di tempat pemakaman umum. Di sana sudah ada Gio dan Ayanda. Dan juga beberapa dokter teman sejawat Erlan. Prosesi pemakaman berlangsung lancar. Mereka berdoa secara khusyuk untuk Erlan. Setelah prosesi pemakaman selesai, satu per satu dari mereka pun pergi.


"Semoga kamu bahagia di sana kawan. Sakit mu telah hilang dan kamu akan berkumpul dengan putra kesayanganmu di sana," ujar Eki yang menyiramkan air mawar ke nisan almarhum Erlan.


Sudah tidak ada orang di sana. Hanya menyisakan Dinda dan juga dua orang berbadan tegap yang terus mengikutinya. Tidak ada kata apapun yang terucap dari mulut Dinda. Tidak ada air mata yang membasahi pipinya. Dia hanya menatap gundukan tanah merah dengan mata dan hati yang kosong.


***


Jempol mana jempol?


Komen mana komen?


Vote mana vote?😁


Komen dong biar kolom komennya rame, otak udah mulai buntu nih😪


Happy reading semua ...