
Sebelum lanjut ke cerita, aku mau jawab satu pertanyaan dari kalian.
Q : Kenapa ganti cover lagi Thor?
A : Cover kemarin kurang cocok dengan karakter Bang Duda. Dan kebetulan aku nemu gambar ini yang free dan tidak memiliki hak cipta dari salah satu apk arts. Baru liat langsung jatuh cinta gitu, gambarnya hampir mirip dengan karakter Rion. Ganteng, ceria karena udah punya istri tapi muka jelmaan buaya burik kentara di gambar itu. 😁 Menurutku cocoklah untuk cover terbaru Bang Duda. Kalo kalian kurang suka mohon maaf.🙏
...****************...
Arya baru saja tiba di Bogor, sedari tadi ponselnya terus saja berdering. Siapa lagi jika bukan panggilan masuk dari kekasihnya.
📲 Kenapa lama sih angkat telponnya?
Arya pun hanya bisa menghela napas kasar karena mendengar pekikan dari kekasihnya.
📱 Aku baru nyampe Bogor, Yang.
📲 Kita disuruh ke butik sama Mbak Arina dan Mamih.
📱 Nanti malam aja ya, Yang. Setelah aku pulang dari Bogor.
📲 Oh ya udah.
Panggilan pun berakhir, padahal acara pernikahannya masih lama sekitar dua bulanan lagi. Apakah mempersiapkan pernikahan semerepotkan ini? Itulah yang ada di kepala Arya.
Arya mencoba menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia ingin segera kembali ke Jakarta dan menanyakan perihal persiapan pernikahannya kepada Mamih dan kakak perempuannya.
Waktu menunjukkan pukul 13.30 wib dan tugasnya sudah selesai semua. Arya pun melajukan mobilnya menuju arah Jakarta. Mobil Arya sudah memasuki halaman rumah yang sangat megah bercat putih.
Suara pekikan yang Arya dapat ketika masuk ke rumah seluas lapangan bola. Hanya decakan kesal yang keluar dari mulutnya.
"Anaknya datang bukan disambut malah diteriakin kayak maling," gerutu Arya yang sedang mencium tangan Mamihnya.
Arina sudah mengangkat tangannya berharap Arya mencium tangannya juga. Namun, Arya malah memukul punggung tangan Arina dan berlalu begitu saja.
"Sunarya!" teriak Arina.
"Berisik, gua lapar," sahut Arya yang sudah berada di ruang makan.
Sumpah serapah Arina keluarkan untuk adiknya yang durjana. Sedangkan nyonya Renia hanya tersenyum bahagia melihat kedua anaknya masih seperti kucing dan tikus. Rumah yang seperti kuburan Cina kini ramai seperti pasar malam.
Arina menghampiri Arya yang sedang berada di meja makan. Sebelum duduk, Arina menoyor kepala belakang Arya sehingga nasi yang baru saja akan masuk ke mulutnya tumpah.
"Gua lagi makan Mbaknya," geram Arya.
"Makanya jangan jadi adik durhaka," balas Arina.
"Lu udah ke butik?"
"Kenapa musti sekarang sih, Mbak. Kan masih lama juga acaranya."
Lagi-lagi Arina menoyor kepala Arya membuat Arya mendelik kesal.
"Punya Adek satu oon-nya gak ketulungan. Kelamaan ngejomblo sih lu," hina Arina.
"Kalo bukan kakak gua udah gua remes tuh mulut lu, Mbak," geram Arya.
"Tingkah kalian tuh gak berubah ya, meskipun udah pada tua," sambung nyonya Renia yang baru saja bergabung dengan anak-anaknya.
"Mamih tuh yang tua," sahut Arkna yang tidak terima dibilang tua oleh sang mamah.
"Manusia yang menolak tua begini nih," ledek Arya.
Arina sudah mulai menjenggut rambut Arya. Arya yang belum siap menerima serangan pun hanya bisa mengaduh.
"Ish, kalian ini ... lanjutkan," ujar nyonya Reina.
Arina menghentikan jambakan tangannya dan menatap sang mamih, begitu pun Arya. Mereka berdua menatap Mamihnya kesal. Bukannya dilerai malah disuruh dilanjutkan. Sedangkan yang sedang ditatap malah asyik memotret tingkah konyol anak-anaknya.
Setelah Arya selesai makan, mereka masuk ke ruang keluarga. Di sinilah banyak sekali kenangan yang Arya rasakan sebelum dia memutuskan untuk hidup mandiri.
"Mih, perasaan semua ruangan banyak yang di rubah. Kenapa ruangan ini masih seperti dulu?" tanya Arya.
"Hanya ruangan ini yang bisa mengobati rindu Mamih kepada kalian berdua."
Arina dan Arya langsung berhambur memeluk tubuh nyonya Reina. Mereka berdua merasa sangat bersalah karena telah memilih hidup mandiri setelah lulus sekolah.
"Berikan Mamih cucu-cucu yang lucu supaya ruangan ini ramai kembali," pinta nyonya Reina.
Acara haru biru harus terpotong karena kedatangan sang Papih tuan Antoni Baskhara.
"Papih tumben udah pulang?" tanya Arina.
"Mamih yang menyuruh Papih, katanya ingin berkumpul bersama dua bocah nakalnya."
Arina dan Arya hanya tertawa, mengingat kenakalan mereka sewaktu kecil yang membuat sang mamih seperti Tarzan. Sedangkan sang Papih hanya membiarkan mereka dan selalu tertawa melihat pertikaian kedua anaknya. Seringnya, Antoni semakin memperkeruh keadaan sehingga pertikaian Arya dan Arina semakin sengit. Pada akhirnya, peluit panjang dari pekikan sang Mamih mengakhiri pertikaian kakak beradik yang sama-sama tidak mau mengalah.
"Tidak kah kalian mau tinggal di sini bersama kami?" tanya tuan Antoni.
Arya dan Arina tidak bisa menjawab. Mulut keduanya seakan peluh. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari kedua orangtua mereka.
"Maafkan Arya."
"Maafkan Arin, juga."
Tuan Antoni dan juga nyonya Reina memelik tubuh putra-putrinya dengan penuh cinta. Mereka tidak bisa memaksakan kehendak kepada kedua anaknya yang sudah dewasa.
"Papih bangga kepada kalian berdua. Meskipun tanpa bantuan Papih, kalian bisa sukses."
"Harus kalian ingat, rumah ini adalah rumah kalian. Tempat kalian untuk pulang. Perusahan Papih juga adalah perusahaan kalian. Ketika Papih memilih untuk pensiun, kalian berdua harus siap meneruskan perusahaan Papih," terangnya. Arya dan Arina hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan pelukan mereka.
Setelah puas berbincang-bincang dan melepas rindu, Arya pamit untuk menjemput Beby. Mereka harus ke butik langganan nyonya Reina. Sedangkan Arina akan menginap di rumah orangtuanya untuk beberapa hari ke depan.
Arya menjemput Beby ke cafe miliknya dan juga Azka. Baru saja dia memasuki cafe, Arya tersenyum ketika melihat seorang wanita yang kecantikan sangat menonjol diantara para pengunjung wanita yang lain.
Arya menghampiri Beby yang sedang fokus pada laptopnya dan memeluknya dari belakang. Wangi parfum yang tidak asing membuat Beby tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arya. Arya pun mengecup puncuk kepala sang kekasih.
"Udah siap?" tanya Arya.
Beby langsung menutup laptopnya dan menggandeng tangan kekasihnya keluar dari cafe. Setelah tiba di butik, pegawai butik sudah memberikan beberapa contoh gaun keluaran terbaru yang bisa dipakai pada acara akad nikah dan juga resepsi.
"Beb, yang ini bagus gak?" tanya Beby pada Arya.
"Terserah kamu, Sayang. Apa yang kamu pilih kalo kamu yang pakai pasti cantik," jawabnya.
Sebenarnya Arya sudah bosan setengah mati. Hampir semua gaun sudah Beby coba tapi, kekasihnya ini selalu saja merasa ada yang kurang cocok pada gaun yang dicobanya. Membuat Arya pusing, sudah lebih dari dua jam dia di butik ini. Namun, Beby belum juga memilih satu pun gaun untuk acara pernikahannya nanti.
Sabar, sabar ... wanita selalu benar, batin Arya.
Setelah semua gaun Beby coba, ternyata pilihannya balik lagi ke gaun yang pertama dia pilih. Ingin rasanya Arya berteriak dan menggaruk tembok saking kesalnya.
"Kamu udah makan?" tanya Arya yang menggandeng tangan Beby keluar dari butik.
"Belum."
"Kita makan dulu, ya." Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Beby.
"Mau makan di mana?"
"Terserah."
Jawaban yang sangat Arya benci terlontar dari mulut kekasihnya. Kata terserah adalah kata yang membuat para pria serba salah. Karena para pria bukanlah cenayang yang bisa mengartikan kata terserah yang dimaksud. Kali ini Arya benar-benar merasakan apa yang dirasakan Azka beberapa bulan lalu. Bertengkar dengan Sheza hanya karena kata terserah.
Belom nikah aja udah begini, gimana kalo udah nikah? Sebelas dua belas dah sama si Rion, batinnya.
****
Happy reading ....