Bang Duda

Bang Duda
125. Melukis Senja



Hay semua ...


Tolong bantu vote ya, karena Bang Duda lagi ikut lomba vote Team. Vote sebanyak-banyaknya ya supaya tim ku menang. Lumayan dapat banner rekomendasi.


...****************...


Ayanda menuju kamar Echa, kata para pengasuh si kembar Echa tidak keluar kamar sedari pulang sekolah. Dengan hati-hati Ayanda membuka pintu, dia mencari keberadaan Echa. Ternyata putri kesayangannya ada di depan jendela kamar sedang menduduk dalam.


"Kak."


Echa menegakkan kepala, lalu melihat ke arah sang mamah dengan air mata yang sudah menetes. Dia pun memeluk erat tubuh Ayanda.


"Ada apa, Kak?" tanya Ayanda.


Tidak ada jawaban hanya Isak tangis yang terdengar. Ayanda membiarkannya saja, setelah Echa tenang pasti dia akan cerita.


Sudah lima belas menit Echa menangis dalam dekapan Ayanda. Dia pun merenggangkan pelukannya dan menatap mamahnya sendu.


"Apa Echa sanggup gak akan menangis ketika Riza pergi? Apa Echa mampu menutupi semua rasa sedih ini dihadapan Riza?" tanya lirihnya.


Pertanyaan Echa mampu membuat hati Ayanda sesak. Diusia gadis kecilnya ini yang harusnya menikmati masa-masa puber harus melewati kisah yang sangat menyedihkan.


"Pasti sangat sulit, Kak. Tapi, Mamah yakin Kakak pasti bisa melalui semua ini."


"Terlalu sakit Mah buat Echa. Bertahan sakit pergi pun sangat sulit."


"Kakak percaya keajaiban?"


Echa menatap dalam ke arah mamahnya. "Untuk kasus Riza kayaknya hanya sepuluh persen keajaiban itu akan datang. Secara tidak langsung dokter pun sudah menyerah," lirihnya.


"Jangan pesimis dong, Kak. Kita harus selalu berdoa dan juga ikhtiar. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak."


Ayanda mendekap erat tubuh putrinya, dia tahu putrinya belum bisa mencerna dengan baik apa yang dikatakannya.


Di ruang tamu, Gio dan yang lainnya sedang merencanakan liburan keluarga besar. Kali ini tidak menggunakan pesawat cukup memakai bus saja karena liburan kali ini hanya ke pantai yang tak jauh dari Jakarta. Mengingat si kembar masih sangat kecil.


Echa sudah bergabung dengan wajah yang dibuat seceria mungkin. Gio merentangkan tangannya dan putri kesayangannya masuk ke dalam dekapan sang papa.


"Ajak Riza, ya. Kita akan liburan," ucap Gio.


"Dua sahabat Echa boleh ikut?"


"Boleh banget, asal kamu senang."


Echa semakin mengeratkan pelukannya, membuat semua orang yang berada di sana tersenyum bahagia. Meskipun si kembar telah lahir dan mereka darah daging Giondra tapi, dia sama sekali tidak melupakan Echa. Itulah yang membuat Bu Dina, Nisa dan juga Arya merasa sangat bahagia.


Weekend telah tiba, semua orang sudah berkumpul. Ada Rion dan juga Amanda, Bu Dina dan Nisa, Arya dan Beby, Sheza dan Arka serta Echa dan Riza. Mereka masuk ke dalam bus yang sudah disiapkan.


Echa menatap wajah pucat Riza dengan hati yang sedih. "Kamu beneran gak apa-apa? Angin pantai gak baik buat tubuh kamu," ujar Echa.


"Aku bawa obat, El. Kamu jangan khawatir. Selama kamu tetap ada di sampingku, aku akan baik-baik saja."


Senyuman melengkung indah di bibir Riza. Echa pun membalas senyuman manis dan menyejukkan hati itu.


Rion dan Amanda menyaksikan putrinya bertahan dalam keadaan sedih membuat dada mereka terasa sesak. Ayanda sudah menceritakan semuanya kepada Rion, dan kali ini Rion benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa merestui hubungan putrinya dan juga Riza. Membiarkan Echa membahagiakan Riza.


Tiba sudah mereka di sebuah pantai, angin pantai menyambut mereka dengan meriah. Suara deburan ombak sangat menenangkan hati mereka yang merindukan suara alam.


Mereka asyik berenang, bermain pasir dan juga bercanda gurau. Semuanya bertingkah seperti anak kecil kecuali Ayanda dan Gio yang hanya duduk manis. Gio terus mendekap tubuh istrinya yang kini menelusupkan wajahnya di dada Gio.


Sedangkan Amanda dan juga Rion betah berada di dalam penginapan dengan alasan Rion sedang tidak enak badan. Padahal, hanya modus belaka. Rion ingin melepas rindu dengan istrinya dengan suasana yang berbeda.


"Abang, Manda lelah," ucap Manda yang kewalahan meladeni permainan suaminya yang tidak ada hentinya.


Rion yang sedang bermain di area bawah istrinya tak menghiraukan. Malah semakin liar memainkan lidah dan jarinya membuat Amanda melenguh kencang.


"Nikmati, Sayang."


"Eughh ... Bang ..."


"Keluarin Sayang, jangan ditahan."


"Bang ...."


Rion melihat ke arah wajah istrinya yang kini sangat terbuai dengan permainannya. Yang awalnya mengaku lelah, kini menikmati kembali. Rion memegang juniornya dan langsung menancapkannya ke lubang kenikmatan.


"Aghh ...."


Deru napas mereka terus berada, alunan suara pusaka emas yang sedang memompa di dalam lubang yang sangat becek menjadi backsound kegiatan mereka. Sprei sudah berantakan, guling dan bantal sudah tergeletak di bawah hanya kucuran keringat yang menempel di tubuh mereka.


Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut Amanda membuat Rion merubah posisi, sekarang Amanda yang berada di atas. Melihat kelihaian istrinya membuat badan Rion seperti terbakar. Darahnya mendidih. Goyangan pinggul istrinya membuat lubang kenikmatan istrinya meremas keras pusaka emas Rion.


"Abang, Manda gak kuat," rancaunya.


Amanda mulai menambah ritmenya membuat Rion terus mendes*h nikmat. Dia menarik dagu istrinya menciumnya ganas, Amanda mampu membalas keganasan Rion dengan pinggul yang terus bergoyang hingga mereka mengerang secara bersamaan. Dan Amanda terkapar lemas di atas tubuh suaminya.


"Kamu hebat, Sayang. Nikmat banget," bisik Rion, lalu mengecup puncuk kepala istrinya.


Di pantai, Ayanda dan juga Gio sedang memperhatikan Echa dan juga Riza yang sedang bercanda ria. Ditambah Sasa dan Mima yang bergabung membuat wajah bahagia Echa terpancar sempurna.


"Mom, kenapa putri kita sangat pandai menyembunyikan perasaanya?"


Ayanda menyandarkan kepalanya di bahu Gio dan matanya tertuju pada anak gadisnya.


"Dia hanya ingin terlihat baik-baik saja oleh semua orang. Agar orang yang melihatnya tidak merasa iba kepadanya," jawab Ayanda.


Echa meraih gitar yang sedari tadi mereka gunakan untuk bernyanyi bersama.


🎶🎶🎶


Aku mengerti


Perjalanan hidup


Yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat


Kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukan hari-harimu


Yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelah mu ...


Izinkan ku lukis senja


Mengukir nama mu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa ... ha ...


Semua orang menatap sendu ke arah Echa yang sedang bernyanyi menatap wajah Riza dengan senyuman yang menyiratkan kesedihan.


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temani mu yang terluka


Hingga kau bahagia


Ayanda mengusap ujung matanya, lagu yang dinyanyikan putrinya seakan menggambarkan isi hati Echa yang sebenarnya.


Aku di sini


Walau letih


Coba lagi jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat


Kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukan hari-harimu


Yang tak indah


Biar ku menemani mu


Membasuh lelah mu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir nama mu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa ... ha ...


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temani mu yang terluka


Hingga kau bahagia


Mima dan Sasa langsung memeluk tubuh Echa. Mereka berdua tahu, Echa sedang tidak baik-baik saja. Meskipun di sepanjang lagu dia tersenyum tapi hatinya benar-benar menangis.


Rion dan Amanda mematung di tempatnya mendengar lagu yang dibawakan oleh Echa. Sedih yang mereka rasakan. Bukan hanya Rion dan Amanda, semua orang yang mendengar lagu yang dinyanyikan Echa meneteskan air mata.


Perjuangan seorang anak gadis yang terus mencoba tersenyum dan ceria demi sahabatnya yang tidak lama lagi akan tutup usia. Meskipun, hatinya menangis dan sedih tapi dia tetap mencoba baik-baik saja. Memberikan kebahagiaan untuk Riza dan mengesampingkan perasaannya yang sebenarnya.


****


Happy reading ....