Bang Duda

Bang Duda
335. Seringai Mematikan (Musim Kedua)



Amanda berniat untuk tidak memberitahu suaminya perihal Gio yang mengundangnya dan juga Riana. Dia tidak ingin suaminya merusak suasana. Ketika semuanya berjalan dengan lancar. Barulah dia akan berbicara dengan Rion.


Sedangkan Rion, terlihat sangat gusar akan ajakan bertemu dari Gio. Nada suara Gio sangat berbeda. Rion sudah menyangka, jika Gio sudah tahu akan hal yang sebenarnya.


"Namanya bangkai, lu simpen rapat pun pasti akan kecium baunya," ujar Arya.


"Gua merasa gagal jadi Ayah," lirih Rion.


Arya mengahampiri Rion dan menepuk pundaknya. "Lu Ayah yang hebat. Anak sulung dan anak bungsu lu adalah anak-anak hebat. Berbeda dengan anak tengah lu. Yang terlalu manja dan terlalu dibela." Hanya wajah sendu yang Rion tunjukkan.


"Hadapi aja, gua yakin Andra gak akan nyalahin lu. Gua tahu bagaimana Andra," imbuh Arya.


Tidak ada jawaban dari mulut Rion. Hanya wajah yang datar dan sulit diartikan yang Rion tunjukkan.


Rion tenggelam dalam pikirannya. Dan tindakan apa yang harus dia lakukan . Sesungguhnya dia sangat malu terhadap mantan istrinya. Apalagi, menyangkut harta milik putrinya dengan Ayanda yang masih menjadi sengketa. Padahal sudah jelas dikatakan, kepemilikan saham toko bakery atas nama Echa. Akan tetapi, semuanya tidak semudah itu. Dan Ayanda malah memakluminya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu.


Kebaikan Ayanda, justru dibalas dengan ketidak tahuan diri dari putrinya, Riana. Rion bimbang, di satu sisi Riana adalah anaknya dan di sisi lain, Riana salah. Sungguh memusingkan.


Ketika Aksa dan Aska tiba di rumah. Dahi mereka sama-sama berkerut ketika melihat mobil sang Daddy sudah terparkir di halaman. Aksa dan Aska saling tatap, dan hati mereka benar-benar berdetak lebih cepat sekarang ini. Takut, itulah yang mereka rasakan.


Namun, Aksa dan juga Aska mencoba untuk tenang. Mereka tidak boleh gugup. Karena kegugupan mereka akan terlihat jelas oleh Daddy mereka.


"Anak-anak Mommy, baru pada pulang rupanya," sapa Ayanda yang tengah berada di dalam dekapan Gio.


Aksa dan Aska tersenyum menjawab sapaan Ayanda. Berbeda dengan Gio, yang memperlihatkan aura-aura kemarahan. "Tumben Daddy pulang cepat," ucap Aska.


"Kamu gak suka Daddy pulang cepat?" sergah Gio.


"Gak usah sensi bos ku. Santai kayak di pantai," imbuh Aska dengan kekehan.


Mencoba untuk mencairkan suasana. Itulah yang Aska lakukan. Tetapi, sayang. Gio tetap tak bergeming. Aura kemarahannya semakin terlihat jelas. Dan Aksa, dia hanya diam.


"Daddy kalian akan mengadakan acara bersama Ayah. Dan Daddy juga ajak Bunda serta Riana."


Deg.


Hati Aksa dan juga Aska terasa berhenti berdetak mendengar ucapan sang mommy. Apa yang harus mereka lakukan? Membatalkan acara pun tidak akan pernah bisa.


"Daddy minta, kalian nanti ikut bergabung." Dengan hati yang ketar-ketir, si kembar pun menganggukkan kepala mereka.


Waktu terasa cepat sekali berputar. Baru saja si kembar pulang sekolah. Kini, sudah berkumandang adzan Maghrib. Dan pertemuan itu akan berlangsung jam 7 malam.


"Bang, kamu siapa-siapa, ya." Hanya kepala Ayanda yang menyembul di balik pintu. Aksa menjawab dengan kata iya.


Sedangkan Rion, dia baru saja keluar dari ruangannya. Dia memutuskan untuk berganti pakaian di kantor sekaligus mandi di sana. Dan langsung menuju rumah Giondra. Dengan keputusan yang sudah bulat, Rion melajukan mobilnya menuju kediaman Giondra dan Ayanda.


Dan di kediaman Rion, dua wanita sedang sangat sibuk memoles penampilan mereka berdua. Ingin terlihat cantik, begitulah mereka. Dari balik pintu kamar sang kakak. Iyan terus saja menggerutu kesal. Apalagi, dia tidak boleh ikut ke rumah Gio. Dengan alasan, urusan orang dewasa. Muak rasanya Iyan mendengar ucapan itu.


Tak perlu menunggu lama, deru mesin mobil sudah terdengar di halaman rumah mereka. Dan tak lama, si yang empunya mobil masuk ke dalam rumah Gio dengan wajah yang kurang bersinar. Membuat Ayanda sedikit dibuat bingung dengan mimik wajah Rion. Apalagi dia datang hanya sendiri.


"Kemana anak dan istrimu, Mas?"


"Anak dan istri?" Ayanda mengangguk.


"Memangnya Gio ...."


"Iya, gua undang anak istri lu juga." Sungguh jawaban yang terdengar sangat dingin di telinga Rion. Ditambah wajah Gio yang nampak tidak bersahabat. Sedangkan Aksa dan juga Aska hanya terdiam. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka.


Baru saja Rion duduk, suara langkah kaki terdengar dari arah luar. Dan mata mereka semua tertuju pada dua sosok perempuan yang baru saja datang. Dengan penampilan yang sangat mencolok.


Mata Amanda dan Riana melebar ketika melihat Rion sudah ada di sana. Dalam benak Amanda dan Riana, mereka merasa menang. Ternyata pertemuan ini memang untuk membahas perjodohan Riana dan juga Aksa.


Berbeda dengan Rion, dia sudah sangat yakin. Jika, pertemuan ini memang dikhususkan untuk membahas sikap Riana yang sangat amat salah itu.


"Duduk,"titah Gio.


Ayanda hanya menyapa dengan senyuman tanpa menjabat tangan ataupun cipika-cipiki seperti mereka lakukan dulu. Perintah Gio menandakan dia tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi.


Setelah mereka berkumpul semua di ruang keluarga. Gio menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum berbicara. Namun, dengan cepat Amanda mendahului ucapan Gio. "Jadi, bagaimana dengan perjodohan anak kita, Pak Gio?"


Sebuah kalimat yang sangat tak tahu malu yang terucap di bibir Amanda. Rion tersentak mendengarnya, begitu juga si kembar.


Hanya senyum tipis yang menjadi jawaban untuk sebuah pertanyaan yang pastinya sudah tahu jawabannya.


"Anak-anak saya akan saya sandingkan dengan perempuan-perempuan yang mampu menghargai laki-laki. Bukan malah mempermalukan laki-laki di depan umum."


Jleb!


Sebuah jawaban yang membuat Riana tersindir sangat keras. Yang awalnya Riana memasang wajah sok cantik. Kini, malah sebaliknya. Dia menunduk sangat dalam. Tidak berani mengangkat wajahnya. Dan Rion memejamkan matanya seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Gio mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dengan cukup keras, dia membanting beberapa lembar kertas yang baru dia ambil itu. Dan lembaran-lembaran itu berserakan di atas meja. Ayanda mengambil satu buah lembaran. Sungguh terkejutnya dia ketika yang dia pegang adalah foto ketika putra kebanggaannya ditampar oleh Riana.


"A-apa ini yang dimaksud dengan de javu?" Suara Ayanda terdengar bergetar. Dan membuat Aksa dan Aska segera menatap ke arah sang Mommy yang memandang foto itu dengan tatapan nanar.


Kemudian, Ayanda menatap tajam ke arah Riana. Seolah, mata Ayanda mengeluarkan api. "Kenapa kamu tampar anakku? Apa salah dia?" sentak Ayanda dengan nada yang cukup tinggi dan air mata yang berjatuhan.


"Ma-mah."


Tak jauh dari tempat mereka, ada tiga orang yang sedang berdiri memandang ke arah mereka semua. Dan satu orang pria paruh baya yang seakan sedang menunjukkan seringai mematikan.


****


Happy reading ....