Bang Duda

Bang Duda
276. Sisi Buruk (Musim Kedua)



"Kaka Jun," panggil Amanda.


Juna terdiam melihat sosok adiknya yang sudah ada di depan matanya. Dia hanya bisa memandang nanar kepada adik tercintanya.


Semua orang yang mendengar Amanda memanggil nama kakaknya bergegas untuk mendekat ke arah Amanda. Semuanya terkejut, apakah ini yang dikatakan kejutan oleh Genta.


"Apa dia pemeran pembantunya?" Ronald pun mengangguk ke arah Gio.


Air mata Amanda pun luruh, kakinya seakan tidak mampu menopang berat badannya. Dan wajah kemurkaan Rion nampak terlihat jelas. Tangannya sudah mengepal keras.


Perlahan Rion melangkah menuju keberadaan Juna. Wajahnya sudah merah padam, urat-urat kemarahan pun sangat terlihat jelas.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan membabi-buta Rion layangkan kepada juna. Amanda hanya bisa menangis menyaksikan amarah suaminya terhadap kakaknya.


"Kenapa lu tega ngelakuin ini, hah?"


"Apa salah anak gua?" tanya Rion dengan penuh kemarahan.


Tidak ada jawaban dari Juna, dia masih manatap adiknya dengan tatapan bersalah.


"Kalo lu emang gak mau nganggap anak gua sebagai keponakan lu, gua gak masalah," geramnya.


Dengan langkah gontai Amanda menghampiri Juna yang sudah terluka karena terkena pukulan dari Rion.


"Katakan Kak, kenapa Kak Jun ngelakuin ini semua? Kenapa Kak Jun punya niat jahat kepada putri Nda?" lirih Amanda.


"Dia bukan putrimu, putrimu hanya Riana," sahut Juna.


Tangan Rion sudah mengepal kembali dan dia ingin menyerang Juna, namun ditahan oleh Arya.


"Dia memang bukan anak Nda, dia juga tidak lahir dari rahim Nda. Tapi, dari dia Nda bisa belajar menjadi seorang ibu. Bisa belajar artinya keikhlasan dan ketulusan yang sesungguhnya," balas Amanda dengan terisak.


"Nda bukanlah wanita baik seperti yang lain. Masa lalu Nda sangatlah buruk, tapi Echa mampu menerima Nda apa adanya, menyayangi Nda dengan tulus."


"Dari awal Nda tidak memaksa Kak Jun untuk menerima Echa sebagai keponakan Kak Jun. Bagaimana pun Echa adalah orang lain untuk Kak Jun," tambahnya.


Juna hanya terdiam mendengar ucapan dari Amanda yang berlinang air mata.


"Echa sama seperti Riana, mereka berdua adalah anak Nda. Harus Nda rawat dan Nda jaga."


"Nda, dia itu anak pembawa sial," ucap Juna.


Bugh!


Kini, Gio yang menghantam wajah Juna dengan sangat keras.


"Jaga ucapan Anda, sebelum saya membuat mulut Anda bisu," ancam Gio dengan kemarahan.


"Dia adalah keberuntungan untuk kami semua. Dan dia adalah mahkota yang berharga yang harus kami jaga dengan jiwa dan raga," sentak Gio.


Semua orang pun memasang wajah penuh kemarahan kepada Juna. Ucapannya sangatlah tidak benar.


"Kenapa Kak Jun tega bilang seperti itu? Apa salah Echa?" tanya Amanda dengan dada yang sesak.


Bukan hanya orangtua kandung Echa yang marah mendengar ucapan yang dilontarkan Juna. Amanda pun merasa ulu hatinya terasa sakit mendengar penuturan Juna.


"Kenapa kamu masih membela anak itu? Jelas-jelas dia sudah membuat keponakanku kritis," sentak Jurina kepada Amanda.


Mereka yang berada di sana pun terdiam, semenjak Echa putus dengan Riza, mereka tidak pernah mendengar kabar tentang Riza.


"Riza kayak gitu karena itu hukuman buat dia. Dia yang telah menyakiti anak gua, mengkhianati anak gua hingga anak gua trauma dan harus menyembuhkan semua luka yang keponakan lu torehkan dengan perawatan khusus," timpal Rion.


"Anak gua tulus sayang Riza, tapi apa yang anak gua dapatkan? Dikhianati serta direndahkan oleh keponakan kesayangannya lu," sarkas Rion.


"Anak gua yang selalu berada di samping Riza dan menyemangatinya agar sembuh. Menjadi obat penawar dalam kesakitan Riza. Selalu mengorbankan waktunya untuk merawat Riza. Tapi, apakah Riza membuat anak gua bahagia? Padahal anak gua rela mati-matian bertengkar sama gua karena Riza. Riza yang selalu dia bela," ungkap Rion.


"Dan sekarang, lu dan keluarga Riza dengan mudahnya bilang anak gua pembawa sial, anak gua penyebab dari kumatnya penyakit Riza hingga dia kritis. Apa kalian gak sadar? Di sini yang banyak berkorban anak gua, tapi pengorbanan anak gua dibalas dengan sebuah pengkhianatan," bentak Rion.


"Ingat, karma tidak harus menunggu mati dulu, kan," cibir Rion.


"Karena ini, kan?" Gio melempar beberapa lembar foto ke tubuh Juna.


"Harga diri seorang laki-laki yang sangat murah," cela Gio.


"Usaha Anda serta Marta sedang berada diujung tanduk. Dan dengan mudahnya kalian percaya kepada mulut Cantika, padahal dia sendiri tidak memiliki apa-apa," ledek Gio lagi.


"Chi-ka."


"Putri dari Cantika yang juga adalah anak kandung Anda," ucap Gio.


Mata Amanda melebar dan dia menatap tajam ke arah Juna.


"A-anak kandung?" Amanda menatap Gio dan Gio pun mengangguk. Sedangkan Juna tertunduk.


"Kak Jun, jelaskan! Apa benar Chika adalah anak kandung Kak Jun?"


Juna pun mengangguk lemah ke arah Amanda. Tubuh Amanda terkulai lemas mendengarnya.


"Jadi yang diucapkan orang-orang tentang Kak Jun selingkuh itu benar? Dan Cantika itu selingkuhan Kak Jun?" Lagi-lagi Juna mengangguk.


"Dan kak Meera meninggal bukan karena sakit tapi, karena telah Kak Jun racuni, iya?"


Semua orang terlonjak mendengar pertanyaan dari Amanda. Mereka tidak percaya ternyata Juna sebiadab ini.


Tubuh Amanda luruh ke lantai, dia menangis sangat keras.


"Selama ini Nda mencoba untuk percaya terhadap ucapan Kak Jun. Tapi, ketika Kak Jun tega melakukan percobaan pembunuhan terhadap Echa, ternyata semua kepercayaan Nda salah," lirihnya.


"Laki-laki yang Nda anggap sebagai pelindung, malah seorang pembunuh," tukasnya.


"Maafkan Kak Jun, Nda," ucap Juna.


"Apa hanya dengan kata maaf bisa mengembalikkan nyawa seseorang? Apa dengan kata maaf bisa menyembuhkan luka ditubuh anak Nda? Kak Jun tidak lebih dari seekor binatang," sarkas Amanda dengan penuh kekecewaan.


Amanda pun mencoba untuk bangkit dan dia menghampiri Gio dan juga Rion.


"Pak Gio, saya serahkan semua keputusan hukuman kepada Pak Gio. Mau Pak Gio bunuh Kakak saya pun, saya ikhlas. Karena perbuatannya sudah sangat kejam," imbuhnya.


"Bang, maafkan Manda jika selama ini Manda selalu membela Kak Jun hingga kita sering bertengkar. Sekarang Manda tahu kenyataan yang sesungguhnya. Orang yang Manda bela mati-matian ternyata orang yang tidak punya hati dan tidak bisa mengendalikan diri."


Sungguh sakit hati Juna mendengarnya.Adiknya yang dulu selalu membelanya sekarang sudah mengetahui kenyataan tentang dirinya.


Sekarang Amanda menatap Juna dengan tatapan penuh kekecewaan. Dia mendekat ke arah Juna.


"Setiap orang pasti memiliki sisi buruk. Dan sekarang, waktunya Kak Jun mempertanggung jawabkan semua kejahatan Kak Jun. Maaf, Nda gak bisa bantu. Karena di sini pun Nda adalah keluarga korban. Nda malu Kak, ternyata orang yang mencelakai anak kesayangan kami semua adalah Kakak Nda sendiri. Orang yang selalu Nda banggakan di hadapan mereka semua," lirihnya.


****


Yang belum baca dan lopein Yang Terluka sok atuh gera kepoin kisah Echa dan juga Radit. Ditunggu kehadiran kalian semua ...


Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.


Happy reading ...