Bang Duda

Bang Duda
298. Lamaran (Musim Kedua)



Setelah drama antara Echa dan Radit terjadi. Besok adalah hari di mana mereka akan melaksanakan acara lamaran sekaligus pertunangan. Yang akan dilaksanakan pada Sabtu malam di kediaman Rion.


Untuk kali ini, Gio mengalah. Karena yang berhak atas Echa adalah ayah kandungnya. Namun, urusan konsumsi serta dekor semuanya Gio yang atur. Bagaimana pun juga Echa adalah putrinya. Anak perempuan pertama yang dia rawat dari umur dua tahun. Hingga takdir baik menyatukan mereka dalam ikatan keluarga. Dan menjadikan Echa anak sesungguhnya untuk Gio.


"Cincin udah siap, Dit?" tanya Rion.


"Ini baru mau nyari, Om."


Plak!


Pukulan keras mendarat di bahu Radit. "Gimana sih kamu, orang tuh siapin cincinnya dari jauh-jauh hari," omel Rion.


"Radit sibuk, Om. Ini juga Radit baru dikasih libur."


"Rumah sakit milik keluarga kamu juga, berasa kerja rodi," oceh Rion lagi.


"Ya ampun, Bang. Kasihan ih Radit diomelin terus. Radit kan sibuk kerja, bukan sibuk yang gak jelas. Dan mungkin juga Radit ingin Echa memilih sendiri cincin pertunangannya. Benar begitu, Dit?" ucap Amanda.


"Iya, Tante. Radit gak ingin egois. Radit inginnya apa-apa dilakukan bersama. Belajar menyatukan perbedaan yang ada. Supaya nantinya gak kaget lagi," terang Radit.


"Tuh, denger Bang. Punya calon mantu kayak gini Manda kekepin. Udah ganteng kayak oppa-oppa Korea. Setia, penuh kasih sayang dan juga bertanggung jawab. Sempurna banget buat dijadiin mantu," puji Amanda.


"Cih, kamu tuh sebelas dua belas sama Mamahnya Echa. Sedikit-sedikit bilang Radit ganteng, baik dan bla bla bla."


"Dih, emang pacar aku baik. Sirik aja nih," timpal Echa yang baru saja turun dari lantai atas.


"Masih pagi, jangan ngajak ribut," sungut Rion.


"Siapa juga yang mau ngajak ribut, Ayah," balas Echa sambil mencebikkan bibirnya.


"Udah siap?" Echa mengangguk sambil tersenyum manis ke arah Radit.


"Sok imut banget nih bocah," ejek Rion.


"Emang Echa imut, emang Ayah demit," sahut Echa dan langsung menarik tangan Radit untuk segera pergi.


"Dasar bocah Bangor!" pekik Rion.


"Kebiasaan banget deh," imbuh Radit sambil membukakan pintu mobil untuk Echa.


"Kapan lagi, Ay, aku bercanda kayak gitu," jawab Echa yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


"Sebentar lagi kita tunangan, terus aku harus kembali ke Ausi. Dan pastinya aku akan sibuk karena harus menyelesaikan skripsi. Ketika aku lulus kuliah, aku harus cari kerja di sana. Aku akan kembali jauh dari keluarga. Waktuku untuk bertemu dengan mereka pun pasti akan sangat singkat," lirihnya.


Radit menggenggam tangan Echa lalu mengecupnya. "Ada aku yang akan temani kamu. Kalo kamu sibuk, biarkan orangtua mu yang datang ke sana. Pasti mereka tidak akan keberatan."


Sudut bibir Echa pun terangkat. Hatinya menghangat mendengar penuturan Radit. "Iya."


"Udah jangan sedih-sedih lagi. Aku paling gak suka ngeliat kamu sedih." Radit mengusap lembut kepala Echa. Mereka pun melaju meninggalkan kediaman Rion.


Sedangkan di rumah Ayanda, dia menjadi seksi paling repot. Ayanda mengatur ini dan itu untuk acara besok malam.


"Mom." Tangan Gio sudah melingkar di pinggang Ayanda.


"Ada apa , Daddy. Mommy lagi pilih-pilih menu apa aja yang mau dihidangkan besok. Radit bilang keluarga dari Papihnya juga akan datang juga."


"Biarkan koki yang mengaturnya, Mom." Gio semakin menelusupkan wajahnya pada leher Ayanda.


"Dad ...."


"Udah lama puasa, Mom. Boleh dong, ya. Lama-lama gak dikeluarkan bisa kena prostat Daddy," keluhnya.


"Ya udah, tapi sebentar aja. Mommy mau pilih-pilih makanan lagi soalnya."


"Iya, palingan lima ronde," jawab Gio.


Mata Ayanda melebar dan segera Gio membawa tubuh Ayanda masuk ke dalam kamar sebelum pekikan bak Tarzan keluar dari mulut istrinya.


Aksa dan Aska yang melihat kedua orangtuanya seperti ini sudah tidak aneh. Mereka memang bertekad, dewasa nanti harus bisa seperti Daddy mereka. Menyayangi pasangan dan juga memperlakukan pasangan dengan baik. Karena Aska dan juga Aksa tak pernah sekalipun mendengar sang Daddy membentak Mommy-nya. Tutur bicara Daddy mereka sangatlah lembut jika, dihadapan sang Mommy.


Dering ponsel Ayanda terus berdering membuat Gio sedikit terganggu dan tidak berkonsentrasi. Tanpa melihat siapa yang menelpon Gio segera menolak panggilan tersebut dan mematikan ponsel miliki istrinya.


Kondisi Ayanda sudah tidak berdaya, lima ronde yang Gio ucapkan malah melenceng jauh. Ini memasuki ronde ke tujuh, seperti berbalas dendam karena dua Minggu menahannya sendirian.


Sedangkan Rion, mengerang kesal. Panggilan teleponnya ditolak, dan ketika dia menghubungi Ayanda lagi ponselnya malah tidak aktif.


"Pasti si Gio lagi enak-enakan nih. Kelakuan si Gio nih kalo begini," gerutu Rion.


"Halo Mas bro," sapa Arya yang baru saja tiba di rumah Rion.


"Ngapain lu ke sini?"


"Mau numpang makan, laper."


"Gak ada makan-makanan. Seksi konsumsinya juga gak bisa dihubungi," oceh Rion.


"Dih, makanya lu dong yang bermodal. Lu mah gak ada modalnya sama sekali. Cuma modal tempat doang. Dekorasi sama konsumsi si Andra yang handle. Nah lu? Cuma ongkang-ongkang kaki doang," cibir Arya.


"Lah si Echa juga kan anak si Gio, ya kudu patungan lah," sahutnya.


"Patungan dari mana Paijo? Ini mah jelas-jelas modal si Andra semua. Modal lu mah tok cuma tempat. Mau-maunya si Andra di begoin sama makhluk modelan kayak lu," ocen Arya lagi.


"Kam pret!"


"Kalian ini kali ketemu udah kaya kucing sama doggy," omel Bu Dina.


"Mah, kapan datang?" Rion mencium tangan Bu Dina dan Arya pun mengikutinya.


"Ini Mamah baru datang sama Nisa masih di luar," jawab sang mamah.


"Hay, calon istri gak jadi," sapa Arya pada Nisa.


"Temen Aa kenapa? Salah minum obat?" ledek Nisa.


"Dia mah otaknya emang gak pernah bener," sahut Rion.


"Untungnya gua gak jadi sama nih bocah ingusan. Gak Sudi gua punya kakak ipar macam lu," sungut Arya kepada Rion.


"Lah emang gua bakal ngerestuin lu sama Adek gua. Jangan ngimpi Bhaskara! Jangan ngimpi!"


Bu Dina berdecak kesal melihat perdebatan dua pria dewasa yang masih seperti anak kecil.


"Kamu gak pusing liat si Aa sama Arya berantem gitu?" tanya Bu Dina kepada Amanda.


"Ini baru dua, Mah. Pak Gio datang lebih rame lagi," balas Amanda seraya terkekeh.


"Maksudnya? Suami si Teteh?" Amanda mengangguk.


"Sama gesreknya, Mah. Kalo udah gabung," sahut Amanda.


"Gak ada yang waras dong," kata Bu Dina.


"Gak ada, malah kayak bocah. Adu mulut aja kerjaannya."


"Teh, si Echut ke mana?" tanah Nisa.


"Lagi nyari cincin sama Radit."


"Ih Ya Allah, gak kerasa tuh anak udah gede. Malah aku yang dilangkahin sama dia," keluh Nisa.


"Ari kamu mah pilih-pilih si jadi awewe. Matakna jodoh oge horeameun datang ka kamu. Aya perjaka ditolak, Aya duda beunghar ditolak oge," sungut Bu Dina.


(Kamu sih pilih-pilih jadi cewek. Makanya jodoh juga males datang ke kamu. Ada perjaka ditolak, ada duda ditolak juga)


(Ah, Mamah mah apa-apaan, ngejodohin aku ke duda kaya tapinya udah tua. Males amat, gak kebayang gimana malam pertamanya? Lemes kayak terong yang kepanasan kali)


"Ari dudana siga si Aa, Pak Gio da moal nolak Abi Oge. Duda kasep Jeung beunghar. Lainna duda ompong Jeung letoy," lanjut Nisa.


(Kalo dudanya kaya si Aa, Pak Gio aku juga gak akan nolak. Duda ganteng dan kaya. Bukannya duda ompong dan lemes)


Rion dan Amanda tertawa terpingkal-pingkal mendengar curhatan adiknya.


"Nasib kamu mah teu Aya alus-alusna," ejek Rion.


(Nasib kamu mah gak ada bagus-bagusnya)


"Lanceuk teu Aya akhlak!" pekiknya.


(Kakak gak ada akhlak!)


Rion tertawa keras mendengar pekikan Nisa. Sedangkan Arya hanya menggaruk-garuk kepalanya karena tidak mengerti apa yang sedang mereka obrolkan.


"Kenapa lu kaya anak monyet, garuk-garuk Mulu."


"Gua gak ngerti apa yang kalian omongin," kata Arya.


Rion, Amanda, Bu Dina serta Nisa pun tertawa mendengar ucapan Arya. Sudah puluhan tahun Arya berteman dengan Rion. Dan sudah sering juga Arya menginap di kediaman Rion. Tapi, masih saja Arya tidak mengerti dengan bahasa daerah yang mereka obrolkan.


"Bego banget sih lu. Udah gua ajarin juga," cerca Rion.


"Tau ah, pusing gua," tukas Arya.


Deru mesin mobil berhenti di depan kediaman Rion. Rion kira itu adalah Ayanda dan juga Gio. Ternyata Echa dan juga Radit.


"Ya Allah, Chut ini calon tunangan lu?" cecar Nisa.


"Iya dong, ganteng kan," sahut Echa sambil merangkul tangan Radit.


"Ay, kenalin ini Onty aku."


"Hai Onty," sapa Radit seraya mencium tangan Nisa.


"Ya ampun, kamu ganteng banget sih," ucap Nisa yang kini mencubit gemas pipi Radit.


"Lepasin Onty, pipi pacar Echa merah nanti."


"Cih, kenapa sih para wanita selalu menganggap Radit itu tampan. Padahal, gantengan gua," gerutu Rion.


"Hahahaha, gak sadar diri lu aki-aki. Calon mantu lu itu emang ganteng, kulitnya aja mulus banget kaya kulit bayi. Lah elu, kulit lu aja kayak bayi badak," ejek Arya seraya tertawa terbahak-bahak.


"Si Alan!"


"Nenek," panggil Echa.


Bu Dina tersenyum ke arah Echa dan juga Radit. Dan Bu Dina terpana akan ketampanan Radit.


"Ini calon kamu?" tanya Bu Dina sambil menunjuk Radit.


"Iya, Nek."


"Kayak artis Korea yang suka ditonton Nisa," ujar Bu Dina.


Radit hanya tersenyum dan dia mencium sopan tangan Nenek dari Echa.


"Cha dapat dari mana yang beginian?" tanya Nisa ketika mereka sudah duduk di meja makan. Dan Echa mengambilkan minuman dingin untuk Radit.


"Nemu di jalan."


Tak ayal minuman yang sedang Radit minum tersembur mendengar penuturan calon tunangannya.


"Gak usah kaget gitu, Ay. Emang bener kan kita ketemu di jalan karena kamu nyerempet aku," jelas Echa sambil mengelap mulut Radit.


"Jodoh di tepi jalan dong," gurau Nisa.


"Ya begitulah."


"Bisa gak mesra-mesraannya ditunda dulu. Banyak orangtua nih di sini," omel Rion.


"Mah, tuh si Abang selalu aja ngomel kalo liat Echa sama Radit berdua," adu Amanda.


"Mulut si Aa mah emang kudu disumpel pake serbet biar diam," ancam Bu Dina.


"Dih, kenapa Aa, Mah? Itu cucu Mamah mesra-mesraan Mulu sama si Radit."


"Biarin aja, yang penting gak kebablasan. Kayak kamu teh gak pernah muda aja," omel Bu Dina.


"Omelin terus Mah, omelin. Mulutnya si Rion ini kayak boncabe level 30," adu Arya pada Bu Dina.


"Besok-besok lakban aja mulut Ayah kamu, Cha. Biar diem," sungut Bu Dina.


Pada kali ini, Rion tidak berkutik dengan ucapan Bu Dina. Hanya kepada Bu Dina dia akan menjadi anak kucing. Jika, ke orang lain dia menjelma singa yang ganas.


Acara lamaran pun tiba, rumah Rion sudah didekorasi dengan sangat indah. Makanan yang Ayanda minta pun sudah tertata rapi. Dan Echa sudah memakai kebaya modern dengan riasan yang semakin membuat wajahnya terlihat amat cantik. Seperti artis Korea sungguhan.


"Ya Allah, anak Mamah cantik banget," puji Ayanda yang baru saja masuk ke kamar Echa bersama Amanda, Nisa dan juga Beby.


"Gak kaya ondel-ondel, kan?"


Sontak Nisa menjitak kepala keponakannya satu ini. "Gini nih punya ponakan yang gak pernah dandan," sungut Nisa.


"Natural lebih cantik dari pada wajah terbalut lapisan bedak tebal," sahut Echa tak mau kalah.


Dan keempat orangtua Echa pun memakai pakaian senada yang sengaja Ayanda pesan dari salah satu butik ternama. Dengan aksen warna biru yang terlihat mewah dan ellegant. Serta keluarga yang lain pun memakai pakaian yang tak jauh berbeda dengan Ayanda gunakan. Hanya saja lebih sederhana.


Mbak Ina memanggil para wanita di atas karena keluarga calon tunangan Echa sudah datang. Kini, hanya tinggal Nisa dan Beby serta Echa yang berada di kamar itu.


"Kok Echa deg-degan, ya," ucapnya.


"Santai aja, toh kamu udah tau semua kan keluarga Radit." Echa pun mengangguk.


Nisa selalu memandang kagum kepada Beby, istri dari pria yang dulu pernah Nisa sukai. Wajahnya yang cantik serta ucapannya yang lembut membuat Nisa menyukainya. Dan sangat beruntung Arya mendapatkan Beby.


Rombongan keluarga Radit pun sudah keluar dari mobil mereka masing-masing. Yang menyambut mereka paling depan adalah Ayanda dan juga Rion selaku orangtua kandung Echa. Ternyata bukan hanya Addhitama dan anak-anaknya. Addhitama pun membawa serta adiknya juga.


"Ya ampun, kamu sangat tampan, Dit," puji Ayanda ketika Radit mencium tangan Ayanda.


Radit terlihat berwibawa dengan stelan batik modern yang dia kenakan. Dan batik itu senada dengan kebaya yang Echa kenakan.


"Makasih, Tante."


Addhitama tersenyum bahagia melihat kedekatan putranya dengan keluarga calon tunangannya. Namun, ketika Rindra menyalami Ayanda, masih ada gurat kemarahan di wajah Ayanda. Rindra sadar akan hal itu, dan dia pun tidak ingin berlama-lama berada di depan orangtua Echa. Apalagi, pandangan Gio yang seakan ingin membunuh Rindra hidup-hidup.


Senyum terus melengkung di bibir Amanda menyambut keluarga dari Radit. Sungguh keluarga Radit bukanlah orang sembarangan. Ada beberapa yang Amanda pernah lihat meskipun hanya di media sosial ataupun televisi. Dan wajah-wajah mereka pun sangat rupawan. Apalagi kedua Kakak Radit yang ketampanannya hampir sama dengan Radit.


Namun, senyum Amanda tiba-tiba menghilang ketika dia melihat satu sosok yang sangat tidak ingin dia temui, selain Papih dan juga keluarga Mamih tirinya.


Sosok yang terlihat masih tampan dan gagah di usianya yang hampir sama dengan usia Rion. Bukan hanya Amanda yang terkejut, pria itu pun mematung di tempatnya. Seakan dia juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dan ketika pria itu berhadapan tepat di depan wajah Amanda, bayang-bayang masa lalu yang kelam bergerilya di kepala Amanda.


"Satria Wiratama."


***


Semoga menghibur ....