
"Sa-"
Aksa mengangkat tangan kanannya seolah menyuruh Ziva untuk diam. Ziva menatap Aksa dengan penuh rasa iba. Dan gunjingan-gunjingan dari para siswa lain membuat telinga Aksa pengang. Ziva hanya bisa menatap Aksa yang masih terdiam tanpa bicara. Malu, sudah pasti itu dirasakan oleh Aksa.
"Aska!" teriak salah seorang teman Aska.
"Kenapa lu? Dikejar setan," ejek Aska karena temannya ini berlari terbirit-birit menghampirinya.
"Abang lu," ucap teman Aska dengan napas yang terpotong-potong.
"Kenapa sama Abang gua?"
"Ditampar cewek di kantin. Di depan banyak siswa," terangnya.
"Bang sat! Siapa yang berani nampar Abang gua, hah?" Aska mulai emosi dan menarik kerah seragam temannya.
"Cewek yang tadi narik lu."
"Riana?"
"Mana gua tau, gua gak kenal." Si teman pun mendorong tubuh Aska agar cengkeraman di seragamnya terlepas. Aska segera menuju kantin.
Baru memasuki kantin saja telinga Aska sudah panas karena mendengar cibiran demi cibiran yang dilayangkan para siswa untuk Aksa. Berkali-kali Aska hanya bisa mengusap dadanya. Dia mencari keberadaan Abangnya. Tak lama, matanya menemukan sosok yang dia cari. Dengan langkah seribu Aska menghampiri Aksa.
"Bang," panggil Aska.
Ziva menggelengkan kepalanya ke arah Aska. Dan Aska tau itu kode apa. Aska mengusap lembut pundak sang Abang hingga Aksa menoleh ke arah Aska.
"Forget it. I am sure you can do it."
Aksa mengangguk mendengar ucapan adik kembarnya ini. Ketika salah satu mereka dilanda keterpurukan, salah satunya pasti akan memberikan kekuatan. Hati mereka terkoneksi secara otomatis. Saling melengkapi satu sama lain. Itulah mereka berdua.
Dirasa Abangnya baik-baik saja, Aska melangkahkan kaki menuju kelas Riana. Dia melihat Riana yang sedang menangis di dalam dekapan Keysha. Ada rasa iba di hati Aska. Tapi, dia ingin menghilangkan rasa tidak enakan itu. Seperti apa yang dikatakan Daddy-nya pagi tadi.
"Kenapa kami lakukan itu?" Suara yang menggema di kelas yang masih sepi.
"Kakak," balas Riana dan berhambur memeluk Aska. Kali ini, Aska tidak bergeming. Bak manekin di toko-toko.
Merasa pelukannya tidak dibalas dan tidak ada kelembutan dari Aska. Riana mulai melepaskan pelukannya. Dia menatap nanar ke arah Aska.
"Sekali lagi, kenapa kamu lakukan itu?"
"Kakak tanya kenapa? Karena Ri cemburu, Ri sakit hati. Abang bilang ke Ayah agar Ri menjauhi Abang. Karena Abang risih sama Ri. Tapi, dengan cewek itu. Tidak ada kata risih yang Ri lihat," sentaknya.
"Karena Abang gak suka sama kamu!" seru Aska.
"Sekali Abang bilang gak suka, harusnya kamu ngerti. Abang itu tidak suka pemaksaan. Semakin dipaksa semakin dia menjauh. Jangan ngeyel! Harusnya kamu mengerti akan Kalimat cinta tidak harus memiliki," balas Aska dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kenapa sekarang Kakak juga nyalahin, Ri. Kenapa?"
"Kalo kamu berpikir dewasa, kamu gak akan ngelakuin hal bodoh seperti ini. Semakin kamu memaksa, kamu semakin terlihat tidak ada harganya."
Plak!
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," ucap Aska seraya menatap ke arah Riana. Kemudian, pergi meninggalkan kelas Riana.
"Ri, kenapa sih lu itu harus mengutamakan emosi? Menampar Abang dan Kakak kaya orang gak punya hati," cerca Keysha.
"Kenapa? Lu gak suka. Lu mau bela mereka. Mentang-mentang mereka itu sodara lu, iya?" sungut Riana.
"Gua gak akan bela orang yang salah. Dan kewajiban gua adalah ngingetin teman yang udah salah kaprah," terang Riana.
"Gak usah sok dewasa lu, Key. Enek gua." Riana pun meninggalkan Keysha yang hanya menggelengkan kepala.
Dari dulu sifat Riana yang ingin menang sendiri tidak pernah berubah. Keysha mencoba untuk sabar. Dicaci dimaki pernah Keysha rasakan. Tapi, Keysha memilih untuk mengabaikan. Itulah alasan kenapa Riana tidak memilki teman selain Keysha.
Di sepanjang perjalanan pulang, Aksa terus terdiam. Dan kali ini yang membawa motor adalah Aska. Aska tidak berani menanyakan apapun ketika Aksa sedang diam seperti ini.
Tibanya di rumah, mereka berdua disambut hangat oleh sang mommy. Hanya senyuman seadanya yang menjadi jawaban dari Aksa. Dia memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Dek-"
"Nanti juga Mommy akan tahu," potong Aska. Dia pun menyusul Aksa masuk ke dalam kamarnya.
"Bang," panggil Aska yang sudah melongokkan kepalanya di pintu. Dilihatnya Aksa sedang menatap ke arah pintu balkon.
Aska mencoba mendekat dan mengusap lembut pundak Aksa. Hanya tatapan dingin yang Aksa tunjukkan.
"Semudah itu ya, gua direndahin sama cewek-cewek," lirihnya.
"Abang direndahkan karena tidak ingin mempermalukan mereka," sahut Aska.
"Abang terlalu menjaga hati wanita, dan selalu mengalah. Karena Abang lebih memilih disakiti dari pada menyakiti. Itu kehebatan Abang."
"Tidak semua laki-laki bisa seperti itu, Bang. Aku juga belum tentu bisa seperti Abang. Yang masih sabar dalam menghadapi setiap tingkah laku cewek yang kadang tidak tahu malu," ujar Aska.
"Abang terlalu lemah kepada mereka. Karena Abang menganggap mereka itu seperti Mommy dan Kakak. Wanita itu harus dijaga dan dilindungi. Tapi, pada nyatanya penjagaan dan perlindungan Abang malah dibalas seperti ini."
"Dan harus ya, mempermalukan Abang di depan umum terus." Senyum penuh keperihan hadir di wajah Aksa.
Belum sembuh luka dua tahun lalu dengan dipermalukan di depan umum oleh wanita yang Aksa sayangi. Dan sekarang, dipermalukan lagi di depan umum oleh orang yang menyayangi Aksa.
"Benar kata Abang, Riana sangat menuruni sifat Bunda. Terlalu arogan untuk seorang wanita. Dan terlalu memaksa seakan dia terlihat murahan di mata kaum Adam," papar Aska.
Aksa hanya tersenyum tipis mendengar pemaparan Aska tentang Riana. Dia tidak akan mencampuri urusan Aska dan Riana. Aska mau melanjutkan hubungannya dengan Riana pun Aksa tidak masalah. Dia tidak bisa melarang. Yang penting adiknya bahagia.
Di kediaman Amanda, Riana mencoba menghubungi Beeya. Dia butuh teman curhat. Tak lama Beeya pun datang ke rumah Riana. Riana menceritakan semuanya kepada Beeya membuat Beeya berdecak kesal.
"Kalo sifat Kak Ri seperti itu terus gak bakal ada cowok yang mau sama Kak Ri. Asal Kak Ri tahu, Mommy dan Daddy tidak pernah menampar Abang dan Kakak. Mereka selalu memperlakukan Abang dan Kakak dengan penuh kasih sayang. Jika, Mommy dan Daddy tahu kelakuan Kak Ri, tidak akan ada kesempatan lagi untuk Kak Ri bisa mendekati si kembar," omel Beeya.
Riana hanya terdiam. Dia lupa siapa Daddy-nya si kembar. Orang yang bisa melakukan apapun kepada siapapun. Apalagi jika sudah menyangkut keluarganya. Gio akan menjelma menjadi singa yang sangat buas.
...----------------...
Happy reading ....