
Gio dan Ayanda bergegas pulang karena mendapat kabar dari pelayan. Pelayan mengabarkan jika Aksa telah membawa masuk seorang perempuan ke dalam kamarnya.
"Awas aja, ya. Ada yang minta pertanggung jawaban dan mengatakan hamil anaknya Abang, Mommy kirim Abang ke kutub Utara," sungut Ayanda.
"Dih pake gak diangkat segala lagi teleponnya," gumam Aska.
"Mana cuaca begini, jangan-jangan mereka lagi ...."
"Adek!" pekik Ayanda dan juga Gio.
"Wis, selow Daddy dan Mommy. Positif thinking, siapa tau mereka lagi bikin mie rebus. Enak kan dingin-dingin begini," kekeh Aska.
Wajah marah bercampur takut terlihat jelas dari wajah cantik Ayanda. Berbeda dengan Gio yang masih stay cool. Padahal dalam hatinya juga menahan marah.
"Kenapa pake macet segala, sih," geram Ayanda. Sedari tadi bibir mungil Ayanda tak berhentinya mengomel. Membuat Gio ingin sekali membekap mulut sang istri. Namun, disayangkan ada putra bungsunya di sana.
Sedangkan di kamar Aksa, Riana terus merangkul manja lengan Aksa. Ingin rasanya dia melepaskan rangkulan itu. Tapi, dia teringat akan perkataan Radit. Setidaknya jangan menyakiti dia untuk sekarang ini.
Dilema, itulah yang Aksa rasakan. Menolak salah, menerima pun dia tidak cinta. Untuk malam ini mencoba untuk bertahan.
"Kamu mau mie rebus?" Dengan cepat Riana mengangguk. Aksa tersenyum, setidaknya rangkulan di lengannya sudah terlepas.
Aksa menuju lantai dapur dan menyuruh pelayan untuk membuatkan dua mangkuk mie rebus komplit.
"Den, mau nunggu di sini aja?" Aksa pun mengangguk. Dari pada menunggu di atas dengan Riana yang terus merangkul lengannya. Cari aman begitulah pikir Aksa.
Sepuluh menit berselang, mie pesanan Aksa sudah siap. Aksa membawanya menuju kamarnya. Ketika kamar terbuka, dia melihat Riana yang sedang meringkuk di atas tempat tidurnya. Ada rasa kasihan di hati Aksa. Apalagi melihat wajah damainya. Membuat Aksa tidak ingin menyakiti perempuan di depannya ini. Tapi, ini masalah hati yang tidak bisa terus-terusan dibohongi.
Aksa menyimpan mangkuk berisi mie di atas nakas. Meraih selimut yang ada di kaki Riana. Lalu, menariknya hingga menutupi tubuh Riana.
Brak!
Suara pintu dibuka dengan kasarnya terdengar. Taring dan tanduk Ayanda sudah keluar. Dia melihat jelas Aksa seolah sedang mengecup bibir perempuan itu. Dengan wajah yang memerah Ayanda menghampiri Aksa dan menarik bajunya dengan sangat kasar.
"Mau kamu apa Bang?" teriak Ayanda.
Bukannya menjawab, Aksa malah mengerutkan dahinya. Tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Mommy-nya.
"Kamu mau Mommy kirim ke Kutub Utara, iya?"
"Apa kamu mau Mommy mati berdiri, hah?"
"Apa maksudnya, Mom?" tanya Aksa.
"Perempuan itu," tunjuk Ayanda.
Aksa menoleh ke arah belakang, dan dia mengajak Ayanda untuk mendekat ke arah tempat tidur.
"Itu Riana, Mom. Adiknya Kakak," ucap Aksa.
Aska tersentak mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa. Aska segera menghampiri Riana yang sedang terlelap di atas kasur Aksa.
"Lu apain dia, Bang!" seru Aska.
"Kenapa pada suudzon sih. Dia tadi hujan-hujanan ke sini. Terus pingsan. Ya udah, Abang bawa masuk ke kamar," jelas Aksa tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Awas aja lu Bang, sampe Riana kenapa-kenapa," ancam Aska.
Ucapan Aska membuat rahang Aksa sedikit mengeras. "Ya udah lu urusin tuh Riana."
Aksa pun pergi meninggalkan kamarnya. Gio tahu, putra sulungnya sedang dilanda masalah. Dia mengikuti langkah Aksa. Dan dia tahu, ke mana Aksa akan pergi.
Secangkir cokelat panas kini menghadang wajahnya. Aksa menoleh ke arah tangan yang memberikan cokelat panas tersebut. Seulas senyum tulus yang diberikan oleh Gio untuk putra sulungnya. Gio pun ikut duduk bersama Aksa di sana.
"Ada apa?"
Dua kata yang terangkai menjadi sebuah pertanyaan membuat Aksa menghela napas kasar. Tidak ada jawaban dari mulutnya. Tapi, wajahnya seakan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Giondra.
"Ada masalah apa kamu dengan Riana dan juga Aska?"
"Apa salah, Abang tidak bisa membalas cinta Riana?" Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan kembali oleh Aksa.
"Cinta itu tidak harus memilki, Bang. Kalo kamu gak cinta lebih baik bilang. Dari pada semakin memberikan harapan kepada yang punya cinta, malah akan membuat dia semakin terluka."
"Abang udah bilang, tapi dia tetap maksa." Gio sangat melihat rona frustasi di wajah Aksa.
"Abang tidak ingin menyakitinya, tapi Abang juga tidak mencintainya," lirihnya.
"Apa perempuan itu Riana?" Aksa pun mengangguk.
"Adek yang suka sama dia, Dad. Tapi, dia malah suka sama Abang. Dan Abang gak bisa membalas cintanya."
"Abang tersiksa dengan keadaan ini. Riana pingsan karena dia nekat nemuin Abang sambil hujan-hujanan. Abang merasa bersalah," lirihnya.
"Lebih baik jujur meskipun itu menyakitkan."
"Pelan-pelan kamu bilang ke Riana. Dan kamu juga jangan memberi harapan kepada dia. Karena nantinya dia akan semakin terluka."
Sulit, sungguh sulit bagi Aksa. Apakah nanti Riana akan mengerti dengan perasaan Aksa sebenarnya? Ataukah dia terus berjuang tidak mengenal lelah. Hingga Aksa yang lelah dan terpaksa menerima Riana.
"Abang ingin segera pergi ke London. Meninggalkan semua kisah di sini," ucapnya seraya menatap ring basket.
Gio merangkul pundak sang putra sulung. "Kamu anak hebat, tidak boleh terpuruk. Dan harus terus bangkit. Karena kamu memiliki tugas yang lebih berat setelah masa sekolahmu berakhir. Daddy menyimpan banyak harapan kepada kamu," terang Gio.
Aksa pun tersenyum dan memeluk erat tubuh Daddy-nya. "Semua harapan Daddy akan Abang wujudkan. Abang tidak ingin, Daddy hanya berangan."
Sedangkan di kamar Aksa. Mata Riana mencari sosok yang tadi menemaninya. "Cari siapa, Ri? Adek lagi ganti baju dulu."
"Bu-bukan Kakak, Mom. Tapi, Abang." Ayanda mengusap pelan rambut Riana. Dia tahu, Riana menyukai Aksa. Tapi, tidak dengan putra sulungnya.
"Abang lagi bersama Daddy keluar," sahut Ayanda.
Seseorang masuk ke dalam kamar Aksa, Riana berharap itu Aksa. Ternyata, Aska lah yang datang dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Kamu mau makan? Aku suapin, ya."
Ayanda tersenyum melihat sikap manis yang ditunjukkan oleh putra bungsunya. Apalagi melihat Aska dengan sabarnya menyuapi Riana mie rebus yang ada di atas nakas.
"Mommy tinggal, ya."
Ayanda memilih pergi dan meninggalkan Riana serta Aska di kamar Aksa. Namun, mata Ayanda mulai perih ketika dia melihat dua pria kesayangannya sedang duduk di pinggiran lapangan basket. Apalagi, melihat Aksa yang menatap nanar ke arah ring basket. Sedih hatinya, dan ketika Gio ada di samping Aksa di situlah Aksa sedang terpuruk.
Sudah setengah jam berlalu. Aksa dan Gio beranjak dari lapangan basket. Aksa menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ketika dia membuka pintu kamar, Dia dikejutkan melihat adegan mesra dari Aska untuk Riana. Aksa hanya mematung di tempatnya. Riana menyadari kehadiran Aksa sedikit mendorong tubuh Aska.
"Maaf ganggu," ketus Aksa yang berlalu pergi meninggalkan adiknya bersama Riana.
...----------------...
Happy reading ...