Bang Duda

Bang Duda
319. Cheerleaders Jadi-Jadian (Musim Kedua)



Hubungan Aksa dan juga Riana tidaklah berkembang. Bukan tanpa sebab, hati yang keras dimiliki oleh Aksa tidak mampu disentuh oleh Riana. Tapi, Riana tidak menyerah begitu saja. Dia tetap ingin memperjuangkan cintanya.


Masalah percintaan ini pun sudah terdengar ke telinga Echa. Echa masih menanggapi dengan wajar. Aksa adalah adiknya dan Riana juga adalah adiknya. Tidak ada yang Echa bela. Hanya sebuah nasihat yang Echa berikan kepada mereka berdua.


Malam ini ada acara di rumah Azkano. Sudah pasti, para pria tampan itu datang ke rumah Azkano.


Dering ponsel Rion berbunyi. Echa melakukan panggilan video ke nomornya.


"Iya, Dek."


"Kangen," teriaknya dari sambungan video.


"Ayah juga kangen sama kamu."


"Woiy bocah Bangor ngapain lu video call?" sarkas Arya.


"Apaan sih, orang kangen sama kalian. Yang lainnya mana?"


Rion pun memanggil semuanya. Mereka berhimpitan untuk bisa menyapa Echa.


"Abang, I Love You," ucap Echa sambil melayangkan kiss jarak jauh.


"Love you too beb."


"Kamu gak ngidam macam-macam, kan?" tanya Azkano.


"Nggak, anak-anak Echa lagu di mode baik, pacar," sahut Echa seraya tersenyum manis.


"Apaan? Bohong banget itu," ralat Radit.


"Kenapa emangnya, Dit?" tanya Gio.


"Setiap Radit pulang kerja, ada aja kemauan Echa yang bikin Radit pasrah," keluhnya.


"Contohnya?" Arya sangat antusias ingin mendengar penderitaan Radit.


"Radit disuruh pake piyama Doraemon. Sendal jepit Doraemon kena cacar. Disuruh pake bando Doraemon juga."


"Yaelah, baru segitu juga udah ngeluh," ejek Rion.


"Denger dulu, Ayah. Radit belum selesai cerita." Arya pun menoyor kepala Rion karena gemas ingin memelintir bibir Rion.


"Udah didandanin kaya gitu terus Echa ngajak jalan ke mall dengan serba Doraemon dari ujung kaki sampe ujung kepala. Alasannya katanya sebentar cuma mau belanja bulanan. Ternyata, bukan belanja bulanan. Echa malah ngajak Radit masuk ke toko satu, terus ke toko lain sampe semua toko dia kunjungi. Beli mah nggak, cuma ingin nunjukin bentukan Radit ke orang-orang yang berada di toko tersebut."


Para pria tampan itu tak bisa menahan tawanya. Dia tidak bisa membayangkan, wajah tampan Radit dikemas seperti Doraemon dan ditunjukkan ke semua orang yang tidak dikenal di sebuah mall. Sungguh membuat sakit perut.


Bukan hanya para pria tampan itu yang tertawa. Istrinya sendiri tertawa puas sudah mengerjai Radit. Dokter tegas, berwibawa dan berkharisma. Namun, di tangan istrinya semua itu luntur sudah.


"Untungnya sayang, coba kalo nggak. Udah Radit lelepin ke palung Mariana," gerutunya.


"Du-du-du-duh, jangan marah dong Baba." Echa mengecup seluruh wajah Radit yang cemberut. Tak dia hiraukan pekikan demi pekikan dari seberang sambungan video call tersebut.


"Kebiasaan lu!" sentak Arya. Echa hanya tertawa menanggapi sentakan Arya.


"Gua kira, kita doang yang nanggung malu di sini. Mana bokong gua dikira kasur. Dipukulin Mulu sama emak-emak tik tok," keluh Arya.


"Bukan hanya itu, setiap malam ada aja ulahnya. Selalu aja nyoret-nyoret wajah Radit. Ntar jadi Masha, Dora, Jeng Kelin dan parahnya Radit didandanin kayak Neneng PA. Dikasih lipstik nggak jelas. Bola-bola warna merah api. Eye shadow wara ijo. Rambut dikuncir banyak. Dan yang lebih parahnya lagi, Radit disuruh berdiri di depan pintu gerbang rumah. Terus menyapa orang-orang yang lewat ke depan rumah Radit. Ya Allah, malu banget. Malah ada yang bilang kalo Radit orang gila."


Lagi-lagi para pria tampan itu tertawa terbahak-bahak. Apalagi Echa memperlihatkan wajah Radit setelah di-make over menjadi Neneng PA. Membuat perut mereka sakit karena banyak tertawa.


"Yes!" seru Echa.


Para pria tampan itu mengerutkan dahi mereka. Mereka saling tatap. Seperti ada yang aneh dengan seruan Echa.


"Dih kenapa liatinnya begitu?"


"Punya rencana apa kamu?" hardik Rion.


Echa pun tertawa karena wajahnya tidak bisa membohongi Ayahnya.


"Echa cuma minta, Ayah, Papa, Om Arya dan Kak Kano datang ke pertandingan basketnya si Abang. Dukung dia dan timnya biar jadi pemenang."


Keempat pria tampan itu pun menghela napas lega. Keinginan yang mudah. Begitulah batin mereka.


"Tapi ...."


Sebuah kata yang dapat memacu keras detak jantung keempat pria itu. Kata yang paling menyebalkan untuk mereka dengar jika sudah keluar dari mulut ibu hamil yang banyak maunya ini.


"Tapi apa?" sewot Arya. Karena dia sudah mencium aroma-aroma tidak enak.


"Ayah, Papa, Om Arya dan Kak Kano pake pakaian cheerleaders," jawabnya dengan cengiran yang mematikan. Cengiran yang tanpa mereka sadari akan membuat mereka menganggukkan kepala.


"Kak, dari pada minta itu mending kamu minta mobil aja deh. Papa beliin berapapun harganya," tawar Gio.


Dengan tegas Echa menggeleng. Bukan tanpa sebab Gio menolak permintaan Echa. Sekolah Aksa dan Aska masih di bawah yayasan milik Genta Wiguna. Sudah pasti, semua guru akan mengenalinya. Dan mau diletakkan di mana wajahnya?


"Atuhlah, Kak, yang bener aja," keluh Aksa.


"Bukannya semangat malah down Abang ngeliat pria-pria ini bertingkah ala cheerleaders."


"Terus gua kudu gini." Mengangkat kedua tangannya ke kiri dan ke kanan dengan mengatakan, "ayaya yeyeye. Idih, gelay banget." Arya pun bergidik ngeri membayangkannya.


"Kalian mah jahat sama Echa," lirihnya.


"Lu yang jahat sama kita. Gak ada bosennya ngerjain orangtua. Kualat lu," omel Arya.


Echa pun terisak dan membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya dengan air mata yang sudah membasahi pakaian Radit.


Keempat pria itu pun tidak tega jika sudah melihat Echa menangis seperti ini.


"Ya udah, kita turutin kemauan lu. Tapi, jangan nangis lagi." Echa pun mulai menegakkan kepalanya dan lengkungan senyum terukir di bibirnya. Sedangkan Aksa menepuk jidatnya.


Hari yang ditunggu Echa pun tiba. Keempat pria tampan itu sudah berada di lapangan basket. Menjadi tontonan gratis dan menyenangkan bagi para siswa serta guru yang ada. Lapangan basket nampak penuh karena mereka bukan ingin melihat pertandingan. Melainkan melihat para cheerleaders yang berbeda dengan cheerleaders Lawan.


Dengan memakai rok mini, baju ala-ala sailormoon, rambut palsu dikuncir dua dan kedua tangan mereka memegang pom-pom. Sungguh menjadi hiburan yang menyenangkan. Ditambah tingkah Arya yang absurb membuat Aksa menundukkan kepala ketika memasuki lapangan.


"Go Aksa go Aksa go!" teriak cheerleaders jadi-jadian. Membuat Aksa semakin malu. Apalagi rambut palsu Arya terlepas gegara terlalu bersemangat menyemangati Aksa. Sontak semua orang tertawa.


"Baru kali ini merasa malu punya keluarga seperti mereka," keluh Keysha. Karena melihat tingkah papihnya yang tak kalah absurb-nya.


Ketika shoot-an bola Aksa masuk ke dalam ring, para pria tampan itu akan bersorak gembira sambil melompat-lompat girang.


Sedangkan yang menyuruh para pria tampan itu menjadi cheerleaders sedang terlelap dengan tenangnya. Berbantalkan tangan kekar suaminya.


...----------------...


Semoga terhibur