Bang Duda

Bang Duda
261. Beeya dan Echa (Musim Kedua)



"Temui Bunda, ya." Riana pun mengangguk.


Echa pun keluar dari kamar Riana dan memanggil sang bunda. Echa tersenyum ke arah Amanda. Dia menggenggam tangan bundanya lalu menganggukkan kepala.


Amanda pun menyeka air matanya dan memeluk tubuh putri sambungnya. "Makasih, Kak." Echa pun mengangguk.


"Ayah bangga sama kamu, Dek." Echa pun memeluk tubuh ayahnya. Sedangkan Amanda sudah masuk ke kamar Riana.


"Bunda," panggil Riana yang sudah menangis.


Amanda langsung memeluk tubuh Riana. "Maafkan Bunda," lirihnya.


"Ri yang salah, Bun. Sekarang Ri gak peduli masa lalu Bunda. Bunda adalah ibu yang baik untuk Ri. Bunda rela mengorbankan semuanya untuk Ri," imbuhnya.


Tangis mereka pun pecah dengan saling memeluk satu sama lain. Echa dan juga Rion hanya saling pandang. Senyum terukir di bibir mereka berdua.


Hingga pekikan dari seorang wanita membuat Echa menatap ke arah suara itu. Echa menatap ke arah Rion dengan tatapan tidak bersahabat. Rion hanya memamerkan deretan giginya yang putih.


"Bagus ya, pulang ke Jakarta gak ngasih kabar Mamah. Mau kamu Mamah kutuk jadi centong nasi," oceh Ayanda yang sudah menjewer telinga Echa.


Riana dan Amanda yang sedang bersedih, malah tertawa melihat Echa yang dianiaya ibu kandungnya.


"Ampun Mah, sakit," ucap Echa.


Sedangkan Ayanda sudah menarik telinga Echa dan membawanya duduk di sofa kamar perawatan Riana.


"Kuping Echa panas, Mah," katanya sambil mengusap telinganya yang merah.


"Ayah lagi, liat anaknya dianiaya bukan nolongin malah ngetawain," omelnya.


Ayanda menatap Echa dengan mata yang sudah nanar. Echa pun memeluk tubuh mamahnya. Keharuan pun terjadi.


"Echa kangen Mamah, sudah beberapa hari ini hati Echa gak enak. Keingat Mamah dan Ayah serta adik-adik terus," imbuhnya.


"Kenapa Mamah dan Ayah bohong?" lirihnya.


Rion bergabung bersama Echa dan juga Ayanda, Dia mengusap lembut rambut putrinya.


"Ayah dan Mamah tidak mau mengganggu kamu, Dek. Sebentar lagi kuliah kamu selesai, Ayah dan Mamah ingin melihat kamu mendapat nilai terbaik," jelas Rion.


"Selagi masalah ini bisa Mamah dan Ayah selesaikan, kami tidak akan merepotkan kamu, Kak," timpal Ayanda.


"Tapi ikatan batin Echa sama kalian tuh kuat banget. Setiap kalian ada masalah pasti seperti ada yang memanggil Echa untuk segera pulang," sahutnya.


"Echa sayang Mamah dan Ayah. Jangan pernah sembunyiin apa-apa dari Echa." Dia pun merangkul Mamah dan Ayahnya.


Amanda dan Riana pun ikut bahagia melihat Echa bahagia dengan kedua orangtuanya.


"Mommy gak kangen Ri?" tanya Riana yang memecah keharuan.


"Aduh maaf Mommy lupa. Saking kesalnya Mommy sama Kakak, Mommy-nya lupa sama anak perempuan Mommy." Echa hanya mendengus kesal mendengarnya.


Mereka pun asyik berbincang dan Echa memutuskan untuknya pulang ke rumah Mamahnya.


Di rumah Ayanda, Echa disambut oleh si kembar. Pelukan serta ciuman dari si kembar membuat Echa tertawa bahagia.


Echa hanya menggelengkan kepalanya. Jawaban seperti itu menandakan mereka berdua sering berulah.


Aksa menarik tangan Echa agar masuk ke kamarnya. Diikuti Aska dari belakang. Aksa membuka laci meja belajarnya dan memberikan semua cokelat yang ada di sana untuk Echa.


"Wah banyak banget, dapat dari mana kamu?" tanya Echa.


"Abang banyak penggemarnya, Kak," sahut Aska.


Echa mengacak-acak rambut Aksa dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada adik laki-laki pertamanya ini.


"Calon bad boy," ucap Echa.


"Bad boy itu yang grup cowok-cowok tapi cantik terus suka nari kan?" sergah Aksa.


"Itu boy band Abang," sahut Echa.


Malamnya, Arya datang ke rumah Gio membawa anak dan istrinya. Echa yang sedang melepas rindu bersama sang papa pun terganggu karena kedatangan keluarga kecil yang unik ini.


"Kak Echa!" teriak Beeya.


"Hm, udah deh klop," imbuh Arya.


Beeya langsung memeluk tubuh Echa dan langsung naik ke pangkuannya. Echa tak hentinya menciumi pipi gembul Beeya.


"Kenapa anak gua mirip banget lu sih?" gerutu Arya.


"Om gak ingat bisikan maut Echa ketika Kak Beby mules." Arya pun menepuk jidatnya.


"Duplikat Echa banget, kan. Kalo kalian kangen Echa lihat Beeya saja," katanya.


"Kakak, Bee udah lukis wajah Papah dong," adunya pada Echa penuh dengan kebanggaan.


"Terus terus," sahut Echa dengan penuh semangat.


"Mamah pinjam ponsel." Amanda memberikan ponselnya kepada Beeya.


"Ini Kak, cantik kan lukisan Bee." Echa pun terpingkal-pingkal melihat wajah Arya yang sangat abstrak.


"Puas banget lu," sentak Arya.


"Kenapa Kakak ketawa? Lukisan Bee jelek?" Dengan spontan Echa pun mengangguk.


Mata Beeya seketika memerah menahan tangis, lalu dia turun dari pangkuan Echa. Echa langsung mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Aduh dia nangis," gumamnya.


Beeya menghampiri Papahnya. "Papah, ayo Bee lukis lagi. Mumpung ada Kak Echa, bantuin Bee lukis wajah Papa."


"TIDAK!"


****


Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.