
Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.
Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.
Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...
...****************...
Kepulihan si kembar ternyata sangat cepat. Mereka berdua diperbolehkan pulang hari ini juga. Aksa dan Aska sangat bahagia karena mereka akan bertemu dengan Daddy, Mommy serta kakak kesayangan mereka.
"Administrasi udah selesai?" tanya Beby kepada Arya yang baru saja masuk ke ruang perawatan si kembar.
"Udah, ini kartu debit si Echa dibalikin lagi. Tuh bocah duitnya banyak juga, biaya si Upin Ipin aja hampir 70 juta."
Arya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Si bocah Bangor sekarang sudah menjadi wanita mandiri dan juga banyak uang.
"Udah siap semua, kita langsung ke Bogor," ucap Beby.
Aksa, Aska dan juga Arya pun mengangguk. Namun, mereka memutuskan pergi ke sebuah mall terlebih dahulu untuk membeli cemilan dan buah serta mengisi perut mereka yang masih kosong.
Tibanya di mall, Beby terus menggandeng tangan Aksa dan juga Aska. Beby berada di tengah-tengah anak-anak yang sangat tampan. Sedangkan Arya terus berdecak kesal.
"Bukan tangan suaminya yang digandeng, ini malah anak orang yang digandeng," gerutunya.
Gerutuan yang masih terdengar oleh Beby serta si kembar yang membuat mereka tertawa. Arya mendorong troli dan Beby yang memasukkan barang yang akan dibeli untuk dibawa ke Bogor. Dan si kembar pun sibuk memilih makanan yang mereka sukai. Terlebih mie instan.
"Kalian gak pernah makan mie instan apa?" tanya Arya.
Aksa dan Aska pun menggelengkan kepala dengan kompak.
"Daddy melarang kami untuk makan mie instan. Semua yang kami konsumsi harus makanan sehat," imbuh Aska.
"Ngenes amat hidup kalian," sahut Arya.
"Ya udah ambil semau kalian, kalo mau makan mie instan datang aja ke rumah Papa. Si Andra sok sehat banget. Sekali-kali mah boleh makan mie instan," omelnya.
Beby hanya menggelengkan kepala melihat mulut Arya yang sedang mengomel. Semakin ke sini mulut Arya seperti ibu-ibu komplek.
Beby terus melangkahkan kakinya ke beberapa tempat untuk membeli bahan makanan yang diperlukan. Dengan sabar dan setia Arya mengikuti ke manapun Beby melangkah.
Benar kata Azka sama si Rion. Belanjanya cewek itu lama pake banget. Dan yang mereka cari barang diskonan.
Gerutuan Arya di dalam hati dan hanya Arya dan Tuhan yang tahu isi hati Arya sesungguhnya.
Arya sedang asyik melihat beberapa bahan makanan sedangkan Beby sudah masuk ke area makanan Frozen.
"Bhaskara."
Deg.
Jantung Arya berhenti berdetak. Hanya ada dua orang yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Rion dan juga Retna mantan kekasihnya semasa di bangku sekolah hingga kuliah.
Dengan dada yang bergemuruh, Arya menoleh ke asal suara dan benar dugaannya. Wanita cantik dengan rambut sebahu dan poni yang membuat wajahnya semakin manis.
"Ya ampun, ini beneran kamu, Bhas." Wajah Retna benar-benar berbinar ketika melihat wajah Arya.
"Kamu kira siapa?" Arya mencoba bersikap judes kepada Retna.
"Makin manly sih, kamu," ucap Retna sangat tulus. Namun, Arya hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Aku kangen kamu, Bhas." Kini tangan Retna sudah menggenggam tangan Arya yang berada di atas troli.
Hanya tatapan datar yang Arya tunjukkan. Penolakan pun tidak dia lakukan. Pikirannya sedang berkecamuk.
Hingga bantingan makanan Frozen ke dalam keranjang membuat Arya dan Retna tersentak. Arya merutuki dirinya sendiri akan kebodohannya. Dia lupa sedang bersama adiknya singa betina. Semakin hari sikap Arina menempel pada Beby.
"Udah semua?" tanya Arya lembut.
"Papa liatnya kaya gimana?" ketus Beby.
"Bhas, dia istri kamu?" tanya Retna.
"Kenalkan saya Beby Putri Winarya, istri sah dari Arya Bhaskara. Dan Anda sudah pasti tahu 'kan siapa Winarya?"
Retna pun mengerjap dengan cepat dan menelan ludahnya. Siapa yang tidak tahu dengan Winarya pengusaha terkenal selain Genta Wiguna.
"Maaf, aku kira Bhaskara masih sendiri. Karena yang aku dengar, Bhaskara tak kunjung menikah," ujar Retna.
"Dan kenalkan aku Retna, mantan kekasih Arya yang paling lama."
Arya pun menepuk jidatnya. Urusannya akan semakin panjang kali lebar seperti rumus luas persegi panjang.
"Cih, apakah jadi mantan dari Arya Bhaskara itu membanggakan? Kamu hanya masa lalu dia, dan sekarang aku adalah masa depannya," ucapnya sambil menunjuk Arya.
"Bukankah yang namanya mantan itu harus dibuang ke tempat sampah, ya?" ejek Beby.
Rahang Retna pun mengeras mendengar ucapan dari Beby. Ingin sekali dia menampar wajah Beby yang sangat terlihat songong di mata Retna.
"Udah yuk, Mah. Kita bayar semuanyai. Di mana anak-anak?" tanya Arya.
Arya menengok ke arah belakang dan benar saja Aksa dan Aska sedang cekikikan melihat Papanya berwajah pucat pasi.
"Itu anak-anak kamu?" tanya Retna sedikit tidak percaya.
"Iya kami anak Papa. Emang Tante gak denger kalo kita berdua manggil pria ini dengan sebutan Papa. Dan kami memanggil wanita ini dengan sebutan Mamah," sahut Aska.
"Jangan coba-coba mengganggu Mamah dan Papa kami. Kalo hidup Tante ingin tenang," ancam Aksa dengan tatapan tajam.
"Cih, dasar bocah," ejek Retna.
Arya pun lebih memilih pergi menuju kasir dari pada membuat kericuhan di dalam supermarket. Dia sudah melihat raut wajah yang sangat tidak bersahabat yang ditunjukkan oleh Beby. Setelah selesai makan pun, Beby masih saja terdiam. Dan ketika keluar dari supermarket pun Beby memilih duduk di kursi belakang bersama Aksa dan juga Aska.
"Ini apa-apaan? Emangnya Papa sopir taksi online?" geram Arya.
"Dek, pindah ke depan. Mamah mau di sini aja bareng Abang." Beby pun sudah merangkul lengan Aksa.
Aska pun mengikuti ucapan Beby dan duduk di kursi depan tanpa membuka pintu. Malah melewati celah sempit yang terletak antara kursi kemudi dan kursi penumpang depan.
"Nih bocah, kamu itu baru aja sembuh. Itu kalo tulangnya kenapa-kenapa lagi Papa juga yang berabe. Ponsel Papa aja jatuh belum diganti sama Daddy kamu," sungut Arya berapi-api.
Aska masih dengan wajah santainya, tidak menanggapi perkataan dari Arya. Karena Arya layaknya teman untuknya. Begitu juga dengan Aksa. Di mata Aksa, Arya sama sekali tidak berwibawa. Berbeda dengan Daddy dan juga Ayahnya serta Papihnya. Bukan tanpa alasan, Arya memang manusia bermulut pedas yang ada disekeliling Aksa dan Aska. Jadi, semarah-marahnya Arya tidak membuat si kembar takut. Karena marah Arya itu seperti makan sambal. Nyelekitnya cuma sesaat dan selebihnya ya seperti biasa.
Hanya keheningan yang tercipta selama perjalanan menuju Bogor. Sesekali Arya melirik ke arah Beby melalui kaca spion depan, wajah Beby masih masam seperti mangga muda.
Tibanya di rumah sakit, Aksa dan Aska sangat bahagia dan mereka akan bertemu dengan Mommy dan Kakaknya. Dua wanita yang sangat mereka sayangi. Si kembar menarik tangan Beby agar lebih cepat. Dan Arya hanya menghela napas kasar.
Tibanya di kamar perawatan sang Mommy, si kembar langsung memeluk tubuh Mommy-nya. Hingga pekikan suara Daddy-nya pun terdengar.
"Don't hug yet," seru Gio.
(jangan peluk dulu)
Aksa dan Aska yang baru akan memeluk pun beringsut mundur. "Why?" tanya mereka bersamaan.
"Perut Mommy belum sembuh sepenuhnya. Jadi, mengertilah," ujar Gio.
Si kembar pun mengangguk mengerti dan tangan mereka masing-masing menggenggam tangan sang Mommy.
"Jangan sakit lagi, Mom. Jangan buat Abang sedih," pinta Aksa.
"Adek gak bisa jauh dari Mommy," sambung Aska.
Bulir bening lolos begitu saja dari mata Ayanda. Dia tidak menyangka, jika kedua putranya ini sangat menyayanginya. Padahal, Ayanda dan Gio cukup keras mendidik Aksa dan juga Aska dari segi apapun. Karena mereka tidak ingin Aksa dan Aska menjadi anak yang lemah.
"Kalian sayang Mommy?" Pertanyaan bodoh memang. Tapi, itulah yang Ayanda lontarkan.
"More, we love you more Mommy," jawab Aksa dan diangguki oleh Aska.
Pagi hari yang mengharu biru. Namun, sedari tadi Rion tengah memperhatikan Arya dan juga Beby yang seperti dua manusia yang tidak mengenal.
"Ada apa dengan Mamah, Bang?" tanya Rion.
Semua mata yang awalnya tertuju pada si kembar dan Ayanda kini beralih kepada Beby dengan wajah kusutnya.
"Drama pernikahan," sahut Aksa yang masih menggenggam tangan kanan sang Mommy.
"He met his ex-girl friend," lanjut Aska.
(Papa bertemu dengan mantan kekasihnya)
"Retna?" jawab Rion.
"Ngapa disebut namanya Rion PA," geram Arya.
Wajah Beby semakin sadis dan sangat terlihat aura-aura menyeramkan dari sorot matanya.
"Aw!" pekikan keras dari Arya membuat semua orang menatap ke arah Arya.
Ternyata ada seorang bocah kecil yang sudah menunjukkan taringnya dan menggigit keras tangan Arya.
"Kenapa tangan Papa digigit Bee?" tanya Arya sambil mengusap tangannya yang terdapat bekas gigitan Beeya.
"Jangan pernah buat Mamah marah. Jangan pernah buat Mamah menangis. Papa tau kan, Oma dan juga Aunty serta Opa akan sangat marah. Mereka akan membawa Bee dan Mamah pergi jika, Papa mulai nakal seperti Ayah."
Bukan hanya Arya yang tertohok, Rion pun merasa tersindir atas ucapan dari Beeya. Bocah kecil kesayangan yang bermulut pedas sama seperti sang papa.
"Berarti cuma Daddy doang ya pria yang baik," puji Gio pada dirinya sendiri.
"Gak ada, Daddy juga sama seperti Ayah dan juga Papa. Buktinya, Mommy sampai sakit begitu," omel Beeya.
Para wanita yang berada di sana pun tertawa mendengar ocehan dari Beeya.
...----------------...
Jangan lupa komen aku butuh penyemangat.