Bang Duda

Bang Duda
168. Perempuan Bodoh



Sepulang sekolah tangan Echa ditarik oleh Riza dan tanpa aba-aba Riza membawa Echa ke ruang olahraga. Dan Riza sudah bekerja sama dengan penjaga sekolah dan juga para security sekolah.


"Duduklah." Riza sudah menyiapkan kursi untuk Echa. Dan dia duduk di hadapan Echa dengan wajah sendu.


"Maafkan aku," ucapnya dengan menggenggam tangan Echa.


Riza menarik napas dalam sebelum menjelaskan kepada Echa. Ucapan dari papa sambung Echa masih terngiang-ngiang di kepala Riza.


"Sebenarnya ...."


Riza pun menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewat. Dan Echa hanya terdiam dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Maafkan aku, aku sangat menyayangi kamu," ucap Riza setelah menjelaskan semuanya. Kemudian, dia mencium punggung tangan Echa dengan sangat lama.


Echa masih diam ketika Riza mencium punggung tangannya. Sejurus kemudian suara Echa membelah keheningan.


"Aku harap, ini terakhir kalinya kamu menyentuh aku," imbuh Echa.


Dada Riza terasa sesak dan sakit mendengar ucapan Echa dan dia pun melepaskan tangan Echa dari genggamannya.


"Aku sadar, aku bukanlah perempuan yang patut kamu perjuangkan. Aku hanyalah perempuan bodoh yang telah jatuh cinta kepada lelaki pecundang." Kata-kata Echa mampu membuat Riza terdiam.


"Dari penjelasanmu, aku tahu ... jika kamu tidak sungguh-sungguh dengan perasaanmu kepada aku."


"Aku sungguh menyayangimu, El," ucap Riza dengan wajah yang sangat yakin.


"Kesungguhan mu hanya di bibir saja. Pada nyatanya, kamu tidak berniat untuk memperjuangkan hubungan kita. Dan kamu lebih memilih pasrah dengan keadaan," sahut Echa.


"El, jika kamu diposisi aku dan diberi pilihan seperti itu apa yang akan kamu pilih?" tanya balik Riza.


"Pasti aku memilih orangtuaku, tapi ... aku juga akan tetap memperjuangkan hubunganku jika itu masih bisa aku perjuangkan. Berhasil atau gagal, setidaknya aku sudah berjuang. Dan tidak berpangku tangan menyerah begitu saja," jelas Echa.


Jawaban yang sangat menyakitkan dan menampar keras Riza. Dia hanya bisa diam dan membeku. Tidak ada sanggahan apapun yang keluar dari mulutnya.


Echa melepaskan kalung pemberian Riza yang masih dia kenakan. Memberikannya kepada Riza. "Sudah saatnya aku pergi dan mundur. Karena kehadiranku tidak berarti untuk kamu."


Dengan langkah tertatih menahan sakit di kaki dan juga hatinya, Echa meninggalkan Riza. Suasana sekolah sudah sepi dan cuaca pun sudah gelap. Bertanda akan turun hujan.


Setiap langkah kaki Echa diiringi dengan tetes air mata. Sakit sekali hatinya, seperti ditusuk ribuan pisau tajam. Dengan langkah pendek Echa menyusuri jalan menuju rumahnya. Gerimis kecil tak dia hiraukan, sesekali dia menghapus air mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya.


Percikan air hujan pun membasahi pipinya seakan langit pun merasakan kesedihannya. Echa terus melangkah meskipun pakaiannya sudah basah.


Kakinya tidak merasakan lelah meskipun jarak antara sekolah dan rumahnya cukup jauh. Rasa sakit dan ngilu di kakinya pun seperti hilang begitu saja. Suara isakan bersahutan dengan suara rintik hujan. Dan air mata pun bercampur dengan air hujan yang telah membasahi seluruh wajahnya.


Papa, Echa gak sanggup menahan sakit ini. Echa ingin memeluk Papa. Echa kangen Papa.


Langkahnya terhenti ketika dia merasakan tubuhnya tidak diguyur hujan. Padahal hujan masih sangat deras. Dilihatnya ke atas ada sebuah payung yang melindunginya. Echa menoleh ke arah belakang. Tangisnya pun tumpah seketika.


Gio memeluk tubuh putrinya yang sudah sangat dingin. "Sakit, Pa. Sakit ...."


Hanya pelukan erat yang mampu Gio berikan. Membiarkan Echa menumpahkan segala rasa sakitnya dalam tangisan. Kemudian, Gio membawa Echa ke sebuah toko pakaian untuk mengganti seragam Echa yang sudah basah. Dan sekarang, Echa dan Gio sudah berada di sebuah restoran.


Echa masih memeluk tubuh Papanya dengan erat dan masih menitikan air mata dalam dekapan hangat sang Papa. Tidak ada yang Echa ucapakan kepada Gio. Hanya isakan tangis dan juga linangan air mata yang Echa berikan.


"Kamu putri Papa yang hebat, Sayang. Kamu seperti Mamah mu. Boleh menangis, tapi hanya untuk hari," ujar Gio.


Gio menggenggam hangat tangan Echa dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Berjanjilah pada Papa, jangan menangisi dia lagi. Cukup hari ini kamu menangis."


Echa pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Makasih banyak, Papa. Echa sayang Papa," ucapnya yang memeluk tubuh Gio.


"Papa lebih menyayangi kamu, Sayang. Apapun akan Papa lakukan untuk kebahagiaan kamu."


Pukul tujuh malam, Echa baru sampai di rumah Rion. Amanda dan Rion hanya diam melihat mata Echa yang bengkak dan hidungnya memerah seperti habis menangis.


"Kamu istirahat ya, Sayang," ujar Amanda.


Setelah Echa masuk kamar, Gio pamit pulang. Dan Amanda serta Rion kembali ke kamar mereka.


****


Echa POV.


Aku berharap, ucapanmu tadi hanyalah mimpi buruk yang sedang aku alami. Aku ingin bangun dari tidur ini ... Aku ingin bangun ...


Hiks ... Hiks ... Hiks ...


Kenapa aku harus jatuh cinta kepada lelaki pecundang seperti kamu? Kenapa? Sungguh sakit penjelasan mu tadi, sungguh hatiku sangat terluka mendengarnya.


Aku kira kamu selamanya untuk aku ternyata aku salah. Aku hanya sementara untuk kamu dan tidak bermakna dalam hidup kamu. Aku bodoh memang bodoh ....


Seharusnya aku tidak membuka hatiku untuk mu. Seharusnya aku terus menutup rapat hatiku, agar aku tidak merasakan sakit seperti ini. Goresan luka yang sangat amat dalam dan aku ragu akan bisa sembuh dalam waktu yang cepat.


Hari ini, aku benar-benar merasa rapuh. Hatiku sangat hancur hanya menyisakan serpihan luka yang mendalam. Akubtisak menyangka, ternyata jatuh cinta aka semenyakitkan ini.


Apa aku sanggup menemui kamu esok hari? Apa aku siap menahan sakit ketika kamu bersama perempuan lain? Apa aku siap? Apa aku sanggup?


Hiks ... Hiks ... Hiks ...


Jika mengingat pengorbananku untuk mu ketika kamu sakit, membuat hati ini semakin hancur. Apapun aku lakukan untuk kamu, hingga aku bertengkar dengan Ayah karena membela kamu. Tapi, ini balasannya ... kepedihan dan kesakitan buah dari pengorbananku dulu.


Ingin rasanya aku menjerit dengan keras. Memaki-maki kamu yang terlalu bodoh dan hanya berpasrah. Hanya menerima nasib tanpa mau berjuang. Ya, benar kata Papa ... Kamu tidak benar-benar menyayangiku. Hiks ....


Dengan kejadian ini aku sadar, kamu bukan laki-laki yang baik untukku. Makasih sudah membuat aku jatuh cinta dan mengetahui bagaimana rasanya jatuh cinta. Meskipun pada akhirnya aku sakit hati jua.


POV end.


Echa terus menelungkupkan wajahnya di atas lututnya yang belum sembuh dan mungkin semakin parah lukanya. Dia tidak merasakan apa-apa di lututnya kecuali sakit di ulu hatinya.


Apa aku bisa melupakanmu?


***


Makasih banyak Sayang, ternyata banyak silent reader yang muncul di kolom komentar. Lope you Sayang ...😘


Jika ingin berinteraksi dengan aku, ingin ngobrol atau sharing apapun follow aja akun aku nanti aku follback kalian dan kalian bisa chat aku ...


Happy reading ....