Bang Duda

Bang Duda
392. Balasan (Musim Kedua)



Addhitama hanya bisa terdiam. Yang dia pikirkan hanyalah anak-anak Rion. Bagaimana perasaan mereka jika mengetahui ibunya sudah meninggal dengan cara tak kalah tragis dari adik mereka. Melihat Riana yang menangis pun membuat hati Addhitama sakit. Apalagi, mengatakan hal yang sangat menyakitkan ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Addhitama.


Sentuhan hangat dari Gio membuat Addhitama sedikit terlonjak. Gio mengerutkan dahi ketika melihat wajah Addhitama seperti orang yang menanggung beban berat.


"Om, Ayah tadi kabarin aku. Katanya Ayah sudah terbang ke sini. Dua jam lagi sampai. Ayah memang sedang berada di Singapura."


Mendengar ucapan Gio jantung Addhitma berdetak sangat kencang. Kedatangan Genta bukanlah untuk melayat, melainkan untuk melihat jasad wanita yang sudah melukai cucunya. Addhitama tidak sekejam Genta. Dia masih memiliki toleransi kesalahan.


Apalagi, di depan Addhitama kali ini ada Riana dengan mata sembabnya. Baru saja kehilangan adiknya dan sekarang harus menerima kepergian sang bunda. Apa Riana siap?


Menyembunyikan pun tidak mungkin. Hati Addhitama sangat ragu sekarang ini. Belum cukupkah cobaan untuk dua anak Rion yang tidak berdosa ini?


"Om kenapa? Kenapa liat Ri berkaca-kaca? Ri, tidak ingin dikasihani, Om."


Mulut Addhitama kelu mendengar ucapan Riana. Tidak ingin dikasihani, jika dia tahu yang sebenarnya terjadi pasti semua orang akan kasihan kepada nasibnya.


"Ri ...."


Kalimat yang akan diucapkan oleh Addhitama terhenti sejenak. Addhitama sebisa mungkin menahan tangisnya. Dia teringat akan ketiga anaknya yang ditinggal oleh sang istri tercinta.


"Bunda kamu ... meninggal."


Hening, hening dan hening.


"Ini tidak lucu, Om," sahut Gio.


"ini nyata, Gi," timpal Addhitama yang kini tertunduk dalam.


"Bukankah semua manusia akan mati? Hanya tinggal menunggu giliran saja, kan," ucap Riana dengan tatapan kosong ke depan.


Gio segera memeluk tubuh Riana. Dia tahu, Riana sedih. Hanya saja dia sudah tidak bisa mengeluarkan air mata untuk sang bunda.


"Ri ...."


"Ini balasan dari Tuhan untuk dia, Dad." Enggan rasanya Riana memanggil bunda untuk wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


Ketika Riana mencium kening Devandra. Di situlah Riana berjanji tidak ingin bertemu lagi dengan sang bunda. Dan akan menganggapnya sudah mati. Ternyata, dengan cepat Tuhan memenuhi janji Riana. Tidak sampai dua puluh empat jam semuanya terbalaskan.


Tiba-tiba, ponsel Gio berdering dan dia terkejut ketika melihat nama pemanggil. "Rion," gumamnya.


"Iya, halo."


"Ada kabar tentang Amanda?" Mendengar pertanyaan Rion, Gio terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Bukan Rion yang dia khawatirkan, tapi Iyan.


"Gi, jawab pertanyaan gua," sentak Rion.


Riana mengambil ponsel Gio mengarahkan ke telinganya. "Dia sudah meninggal, Ayah."


Tubuh Rion lemas seketika. Terkejut ditambah sedih ketika mendengar putrinya sendiri yang menjawab pertanyaannya.


"Riana ... Sayang," panggil Rion.


"Ri, tidak menangis, Ayah," ucapnya.


Namun, Gio dan Addhitma serta si kembar menunduk dalam. Mereka tahu, Riana sedang pura-pura kuat padahal hatinya menyimpan banyak kesedihan.


"Pulang ya, Ri," kata Rion dengan lemah.


"Ri, rindu pelukan, Ayah." Air mata Rion meluncur begitu saja mendengar kalimat yang menandakan putrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ijinkan Ri tidur bersama Ayah malam ini."


Tubuh Rion terduduk lesu di samping tempat tidur. Sakit hatinya, Tuhan terlalu banyak memberikan cobaan kepada anak-anaknya.


"Iya, Ri. Ayah akan terus memeluk tubuh kamu."


"Makasih Ayah." Hanya senyuman hambar yang terukir di wajah Riana. Ketika memanggil nama Ayah, air matanya seakan ingin menetes. Pengorbanan ayahnya terlalu besar untuk Riana dan Iyan. Mampu menjadi ayah dan ibu yang baik untuk mereka berdua.


Satria menatap aneh kepada Addhitama yang terlihat sedih begitu juga Giondra. "Kalian kenapa?" tanya Satria dengan memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang sembab.


"Hahaha, itu karma yang harus dia tanggung," balas santai Satria.


Bibir Riana pun terangkat sedikit. Senyum tipis yang menyimpan rasa sakit dan sedih di sanubari.


Sedangkan di kediaman Rion, dia tengah tertunduk lemah. Bingung yang dia rasakan. Bagaimana harus mengatakannya kepada sang putra?


"Apa Bunda masih hidup?" Pertanyaan yang membuat Rion tersentak. Iyan sudah menatap Rion dengan sorot mata yang menginginkan jawaban.


"Mimpi Iyan jadi kenyataan kan, Ayah? Bunda pergi sama anak laki-laki itu, kan?" Mata Iyan sudah berkaca-kaca.


”Tuhan lebih sayang dengan ibu kamu, Yan.".


Bulir bening pun membasahi pipi Iyan. Sekarang Iyan yang tertunduk dalam. Rion memeluk tubuh putranya yang kini bergetar.


"Jodoh, maut, rezeki itu rahasia Tuhan,"ujar Rion.


Iyan hanya terdiam. Tidak ada jawaban dari mulutnya. Sedih dan berduka sedang dia rasakan.


"Jangan putus berdoa untuk Bunda. Agar dilapangkan dalam kuburnya." Nasihat sang Ayah.


"Mas." Sejak kapan Ayanda berdiri di depan pintu kamar Rion. Mata Ayanda sudah berkaca-kaca. Apalagi melihat Iyan yang tengah bermandikan air mata.


"Apa benar kabar tentang Amanda?" Rion mengangguk cepat.


"I-iyan," panggil Ayanda. Iyan menoleh, Ayanda sudah merentangkan kedua tangannya.


"Mommy." Kini, Iyan berada dalam pelukan hangat Ayanda.


"Kenapa Bunda harus meninggal dengan cara yang menyakitkan?" Dahi Ayanda mengkerut ketika mendengar ucapan Iyan. Rion masih setia mendengarkan.


"Maksud Iyan?” tanya Ayanda.


"Pemerkosaan ... balok besar ...cekikan." Itulah yang Iyan ceritakan.


"Iyan ingin ke sana. Bunda sedang butuh bantuan Iyan," ucapnya yang masih terisak.


"Kita akan melihat Bunda, setelah Kakak pulang, ya," ucap Rion. Iyan mengangguk paham.


Satu jam berselang, Riana berhambur memeluk tubuh sang ayah. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Riana. Dan tidak ada air mata yang menetes di sana.


"Ri ...."


Riana semakin mengeratkan pelukannya kepada sang Ayah. Disusul oleh Iyan yang kini memeluk tubuh sang kakak. Pemandangan yang membuat keluarga Gio tertunduk dalam. Dan tak lama, para sahabatnya pun datang padahal mereka baru saja pulang.


"Om turut berduka," ucap Arya kepada dua anak Rion.


Miris sekali nasib Iyan dan Riana. Perceraian, tindakan kriminal sang ibu dan sekarang kematian tragis sang ibu harus mereka ketahui. Dan pastinya akan meninggalkan trauma yang mendalam untuk mereka berdua.


"Menangislah, Ri. Jika, kamu ingin menangis," imbuh Rion.


"Air mata Ri sudah kering untuk menangisi wanita seperti itu. Meskipun darah yang keluar dari mata Ri, tidak akan membuatnya tobat akan apa yang sudah dia lakukan. Dan inilah jalan yang Tuhan tentukan. Tuhan telah mengabulkan doa Ri, yang lebih ingin dia mati daripada dia masih berkeliaran di muka bumi ini. Iblis seperti dia bukankah harus langsung dimasukkan ke api neraka?"


Betapa dalamnya kesakitan yang Amanda torehkan untuk Riana. Hingga anak kandungnya sendiri mendoakan seperti ini. Terlihat, betapa bencinya Riana terhadap ibunya.


"Dia memang tetap ibu kandung, Ri. Yang melahirkan, Ri ke dunia. Tetapi, dia ibu yang tidak memiliki hati. Hewan buas pun tidak akan pernah memakan anaknya. Berbeda dengan dia, dengan tega menjual anaknya dan ketika dia lahir ke dunia. Bukan melindungi malah mencelakai."


Semua yang dikatakan Riana benar adanya. Mereka tidak menampik itu. Tetapi, yang mereka takutkan adalah kondisi sebenarnya Riana.


Derap langkah kaki membuat semua orang melihat ke asal suara. Sudah ada seorang pria tua, tapi masih gagah yang diusianya sudah senja. Tidak dipungkiri, auranya masih sangat kuat dan bercahaya.


"Ayah," panggil Gio. Hanya senyum tipis yang Genta berikan.


"Semuanya masuk ke dalam mobil kalian. Ikuti kemana mobilku melaju."


"Bunda ...."


...****************...


Aku sedang menata hati untuk membuat akhir yang luwes. Komen yuk ...