Bang Duda

Bang Duda
232. Terkontaminasi



BONUS CHAPTER.


JANGAN BILANG SEDIKIT NAMANYA JUGA BONUS 😁


****


Pagi harinya teriakan seorang gadis menggema di kediaman Arya. Membuat semua penghuni rumah berhambur keluar.


"Masih pagi, ngapain lu bikin rusuh di rumah gua?" sentak Arya.


"Ganti rugi," pekik Echa.


"Si Sunarya ngapain lu emang?" tanya Arina yang ikut menimpali perdebatan Echa dan Arya.


Arya pun memperlihatkan foto Echa semalam kepada Arina. Sontak Arina tergelak dengan sangat keras.


"Dakocan," ledek Arina.


"Ck, Adek sama Kakak sama aja," gerutu Echa.


"Sekarang giliran gua make up-in lu," imbuh Arina.


"Ogah, makin ancur muka Echa. Tante aja bikin alis kayak kuburan China, mana item banget kayak pake spidol permanen," cela balik Echa.


Arya pun tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan Echa untuk sang Kakak. "Bocah aja bisa nilai alis lu Mbak, kan gua bilang sulam alis aja," ledek Arya yang masih tertawa.


"Durhaka lu pada ngebully orang yang lebih tua," sarkas Arina.


"Sadar diri juga kalo Tante udah tua," cela Echa lagi seraya berlari menjauhi Arina.


"Oma," panggil Echa kepada Nyonya Reina. Echa pun langsung memeluk tubuh Nyonya Reina.


"Anak Oma punya hutang apa ke kamu?"


"Banyak, menantu Oma juga punya hutang tuh ke Echa," jawabnya sambil melirik ke arah Beby yang baru saja bergabung.


"Kalian ya malu-maluin keluarga Bhaskara aja. Punya hutang ke anak kecil." Nyonya Reina pun mengoceh dan Echa merasa menang lalu menjulurkan lidahnya ke arah Beby dan Arya.


"Ganti pake permen," ucap Nyonya Reina. Semua orang pun tertawa kecuali Echa yang merengut kesal.


"Keluarga gak ada akhlak," geramnya.


"Kak Beby transfer aja, ya. Gak mungkin dong Kak Beby nge-mall dengan perut buncit begini," tawarnya.


"Om, mana?"


"Astaghfirullah bocah, ini masih jam tujuh pagi mana ada mall yang udah buka jam segini," sahut Arya.


"Emang lu mau sepatu apaan sih?" tanya Arina. Echa pun menunjukkan sepatu yang dia mau.


"Selera lu berkelas ya, keren banget itu."


"Keren lah orang ada duitnya," timpal Arya.


"Suruh siapa Om jadiin Echa ondel-ondel, ada bayarannya lah," sahut Echa tak mau kalah.


"Iya bawel."


Arya mengusap lembut perut istrinya dan berkata, "jangan nyebelin kaya kakak Echa ya, Nak."


Echa pun mendekat ke arah Beby. Dia berjongkok dan berbisik ke perut Beby, "jadi anak yang nyebelin ya, Dek. Yang nyebelin yang dikangenin."


Arina dan Nyonya Reina pun tertawa mendengar ucapan Echa. Sedangkan Arya berdecak kesal. Rumah pun berubah menjadi sangat ramai.


"Lu ngapa udah lepas dari kandang?" tanya Arya sambil menikmati nasi goreng.


"Selama di Ausi, setiap pagi Echa jalan kaki sebagai terapi. Makanya pagi ini udah berkeliaran."


"Emak bapak lu tau?" Echa pun mengangguk.


"Kalian tuh selalu berantem tapi Oma liat Arya sayang banget sama kamu, Cha," ungkap Nyonya Reina.


"Hoax itu," sahut Arya.


"Ya pasti dong Oma, Echa kan anak baik hati, rajin menabung, tidak sombong, sayang sama orang tua dan ...." Arya menyumpal mulut Echa dengan roti bakar agar berhenti mengoceh.


"Kalo makan gak boleh ngomong." Wajah Echa pun nampak kesal sekali membuat semua orang yang berada di meja makan tertawa lagi.


Setelah selesai makan, Arya pamit berangkat kerja kepada semua orang. "Ntar siang gua jemput, kita cari apa yang lu mau," ucapnya pada Echa.


"Yeay, enaknya punya sugar Daddy."


Arya pun menoyor kening Echa. "Otak lu udah terkontaminasi novel dewasa."


****