
Mau aku UP lagi, komen yang banyak
...****************...
Wajah Amanda sudah pucat dan sudah ada aliran darah yang membasahi kakinya.
"Sakit, Mas."
Tanpa berpikir panjang, Satria segera membawa tubuh Amanda ke rumah sakit terdekat. Ada perasaan takut dan khawatir ketika melihat darah yang tidak berhenti membasahi kaki Amanda. Satria pun mengemudi dengan kecepatan cukup tinggi. Karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Amanda serta janin yang ada di dalam kandungannya.
"Mas ... sakit," ucapanya dengan nada sangat lirih.
"Sabar ya, Sayang. Bentar lagi kita nyampe," jawab Satria sambil mengusap lembut kepala Amanda.
Takut, itulah yang Satria rasakan. Dia merutuki dirinya sendiri karena sudah bersikap kasar kepada Amanda. Mengurungnya seperti burung. Padahal, ibu hamil tidak boleh stress karena akan mempengaruhi tumbuh kembang janin.
Tibanya di rumah sakit, Satria segera berteriak kepada petugas IGD. Dan tubuh Amanda pun diperiksa di IGD sedangkan Satria tidak diperbolehkan masuk. Dia hanya mengusap wajahnya kasar dan menarik rambutnya dengan keras menandakan dia sudah benar-benar frustasi sekarang.
"Maafkan aku. Jika, anak itu tidak selamat aku yang patut kamu salahkan," gumamnya.
Setengah jam berlalu, dokter yang menangani Amanda belum keluar juga. Hati Satria semakin cemas. Pikiran jelek sudah menghiasi kepalanya.
Satu jam berselang, seorang dokter keluar dari IGD dan menyuruh Satria untuk mengikutinya. Sesampainya di ruangan dokter, hanya tatapan penuh selidik yang dokter itu berikan.
"Apa Bapak dan istri Bapak berencana untuk menggugurkan anak yang tidak berdosa itu?"
Satria hanya terbengong mendengar ucapan dokter yang menangani Amanda. Tidak pernah terbesit untuk menggugurkan anak yang tumbuh di rahim Amanda. Justru, Satria ingin melihat anak itu terlahir ke dunia.
"Jika, tidak siap untuk memiliki anak lagi. Harusnya pakai pengaman ketika berhubungan," sinis sang dokter.
Lagi-lagi Satria terdiam layaknya orang bodoh. Dia belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh dokter.
"Saya duga istri Anda meminum obat yang mengandung misoprostol. Yang efek sampingnya bisa memicu kontraksi rahim."
"Maksudnya, dok? Saya benar-benar tidak mengerti."
"Misoprostol adalah obat yang digunakan untuk mengatasi perlukaan dan pendarahan dari dinding lambung (tukak lambung). Namun, efek sampingnya seperti yang saya jelaskan tadi. Banyak orang yang menyalahgunakan obat ini untuk menggugurkan kandungan. Meski, tanpa pengawasan dokter," jelasnya lagi.
Urat-urat kemarahan sudah muncul di wajah Satria. Mendengar penjelasan dokter membuat api amarahnya semakin berkobar.
Bisa-bisanya kamu melakukan hal laknat seperti itu, geramnya di dalam hati.
"Lalu bagaimana dengan janin yang dikandung istri saya?" tanya Satria penuh dengan kekhawatiran.
"Untung saja, Bapak segera membawa istri Bapak ke rumah sakit. Jika, tidak, janin itu pasti akan keluar."
Ada kelegaan di hati Satria. Namun, kemarahannya tidak hilang meskipun sudah ada kabar yang cukup membahagiakan. Satria akan memberikan perhitungan kepada Amanda.
"Terima kasih dok," ucap Satria sambil menjabat tangan dokter.
Ketika perawat mengatakan jika Amanda harus dirawat untuk beberapa hari, Satria segera mengurus semuanya. Dan Amanda pun dipindahkan ke kamar perawatan.
Sudah dua jam Amanda berada di kamar perawatan seorang diri. Dia berharap, Satria menemaninya di saat dia masih merasakan kesakitan. Kenyataannya, Satria tidak ada. Hati Amanda semakin sakit dan sedih.
Ketika suara pintu terbuka, wajah Amanda berbinar berharap Satria datang. Tetapi, yang datang adalah seorang security yang mengantarkan berbagai macam makanan, minuman serta buah-buahan. Amanda menatap nanar ke arah makanan yang sudah terpajang rapi di atas meja.
"Aku butuh kamu, Mas. Bukan makanan kamu," lirihnya.
Tak terasa air matanya menetes. Dia mencoba untuk menghubungi kakaknya. Namun, tidak pernah dijawab oleh Juna. Menghubungi Riana pun malah tidak bisa. Seakan semuanya menjauhi dirinya. Dan berkali-kali Amanda menghubungi Satria, tapi tidak pernah dijawab juga.
"Jangan tinggalkan Bunda," serunya.
Amanda terbangun dari mimpi buruknya. Dan dia pun menangis cukup keras. Dia menatap ke setiap sudut kamar perawatan. Tidak ada siapapun di sana. Hanya Amanda seorang diri.
Air matanya terus mengalir mengingat mimpi yang sangat menakutkan.
Di dalam mimpi itu, Amanda melihat Riana dan juga Iyan sedang tertawa lepas dengan tiga anak kecil yang wajahnya tidak nampak jelas. Mereka sedang bermain dan terlihat rona bahagia di wajah Riana dan juga Iyan.
Ketika Amanda menghampiri. Riana malah mengajak Iyan dan tiga anak itu untuk pergi dari sana.
"Riana ... Iyan," panggilnya.
Riana terus melanjutkan langkahnya, sedangkan Iyan memilih untuk menghentikan langkahnya. Lalu tersenyum ke arah Amanda.
"Kak Iyan," teriak tiga bocah yang wajahnya masih belum jelas. Mereka hanya memakai baju putih dengan sinar terang yang menerangi tubuh mereka.
"Kak Iyan? Apa mereka anak-anak Bang Rion?" batinnya.
Amanda segera menghampiri Iyan. Namun, tangan Iyan menyuruh Amanda untuk tidak mendekat lagi.
"Kami sudah bahagia, Bunda. Jadi, lupakanlah kami. Selamanya, Bunda tetap menjadi ibu kandung Iyan dan juga Kak Ri. Terlalu banyak luka yang Bunda berikan kepada Iyan dan Kak Ri. Sehingga kami memilih pergi. Menemukan kebahagiaan kami meskipun tanpa Bunda di samping kami. Kami sudah bahagia hidup seperti ini. Tolong jangan ganggu, kami."
Ucapan yang sangat menyakitkan yang diucapkan oleh Iyan yang sudah tumbuh menjadi remaja. Wajahnya semakin tampan seperti sang Ayah.
"Bunda," panggil anak kecil yang sedang menarik-narik ujung baju Amanda.
Hanya ukiran senyum yang Iyan tunjukkan. "Banyak-banyaklah meminta maaf kepadanya. Karena kelak, dia yang akan menyelamatkan Bunda dari siksa api neraka." Iyan pun menunjuk anak itu. Kemudian, membalikkan tubuhnya dan berlari menjauhi Amanda menyusul Riana dan tiga bocah yang sedang menunggunya di ujung jalan.
"Jangan tinggalkan Bunda."
# off
Hingga pagi menjelang, Amanda tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Iyan di dalam mimpinya. Seakan mimpi itu nyata. Kedua anaknya membencinya. Apalagi Riana, yang tidak pernah menengok ke arah Amanda sedikit pun. Memilih menjauh dan pergi ketika Amanda mendekat.
"Riana, Iyan, Bunda kangen kalian," lirihnya.
Suara pintu terbuka membuatnya dengan cepat menyeka air mata. Senyuman lebar ketika dia melihat Satria yang datang.
"Mas, perut aku masih sakit," keluhnya.
"Bukankah itu keinginanmu untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandunganmu," sarkas Satria.
Deg.
Amanda mulai takut mendengar ucapan Satria yang benar adanya. Ketika dia melakukan test pack, dia sengaja memesan pil untuk menggugurkan kandungan. Dan ternyata, semuanya lebih dulu terbongkar. Akhirnya pil itu tidak berguna.
Namun, ketika mengetahui Satria akan jatuh miskin karena surat wasiat yang mengada-ada. Amanda mencari obat itu yang memang dia simpan di tasnya. Kebetulan, Satria sedang mengurungnya. Jadi, ini adalah kesempatan emas untuknya. Jika, anak yang dia kandung itu keguguran. Dia bisa memanfaatkan anak-anaknya untuk kembali kepada Rion. Karena kelemahan Rion adalah Riana dan juga Iyan.
Satria melempar sebuah map ke atas tubuh Amanda. "Bacalah!"
Amanda mulai membuka map terebut. Dan membaca tulisan kapital di atas kertas itu.
Ketika anak itu lahir, aku akan mengambilnya. Dan kita langsung bercerai.
...----------------...