
"Bercerai lah Ayah. Ri, tidak apa-apa," imbuhnya dengan air mata yang mengalir deras.
"Iyan juga gak apa-apa, Ayah. Kita masih bisa bahagia meski tanpa Bunda."
Semua orang terdiam mendengar ucapan bocah delapan tahun itu. Tak terkecuali Amanda. Dia sudah meneteskan air mata.
"Riana," panggil sang bunda.
"Jangan mendekat!" cegahnya ketika Amanda mulai melangkahkan kakinya.
"Riana benci Bunda! Benci!" teriaknya.
Rion segera berlari menghampiri sang putri dan memeluknya dengan sangat erat. Dan Iyan merapat ke tubuh ayahnya. Ikut memeluk tubuh ayah serta kakaknya.
Semua orang yang berada di sana tertunduk menahan tangis. Sungguh sakit mereka melihat kejadian nyata ini. Dan Amanda sudah menangis meraung-raung.
"Jangan menangis, Ri." Rion berkata sangat lugas. Padahal, dia sedang berusaha untuk tidak menitikan air mata di depan kedua anaknya.
"Sudahilah semuanya, Ayah. Ri, sangat yakin, selama ini Ayah tersiksa," imbuhnya dengan isakan yang cukup keras.
Mulut Rion tidak bisa berkata-kata. Matanya sudah mengembun, tapi dia terus mendongak ke atas menahan air mata agar tidak terjatuh.
"Ayah tidak sendiri, ada Iyan dan Kak Ri, serta Kak Echa," ucap Iyan yang masih memeluk tubuh sang ayah.
Echa menatap ke arah Radit. Tatapan Echa mampu dimengerti oleh Radit. Dia pun segera mendorong kursi roda menghampiri ayah dan kedua adiknya.
"Iyan," panggil Echa dengan seulas senyum.
"Kak Echa." Iyan berhambur memeluk tubuh Echa dan akhirnya tangisnya pun pecah.
"Anak jagoan gak boleh nangis," imbuh Echa.
Tidak ada jawaban dari Iyan, hanya tangisan keras yang membuat suasana menjadi semakin hening. Semua orang semakin menundukkan kepala, melihat adegan demi adegan nyata yang sangat menyayat hati. Jangan tanya bagaimana Ayanda. Sedari tadi dia menangis di dalam pelukan Gio. Karena dia tahu, mantan suaminya tidak sekuat itu. Hatinya pasti sangat hancur berkeping-keping.
Mamah Dina dan Nisa terus saja menangis. Selama hidup mereka, ini adalah kejadian yang paling menyakitkan yang dialami oleh laki-laki yang sangat mereka sayangi. Dan Arya, sedari tadi dia menahan sesak di dadanya. Pria yang masih gagah yang sedang memeluk kedua anaknya itu sedang membohongi semua orang. Terlihat kuat pada nyatanya hatinya sangat rapuh.
Juna menatap nyalang ke arah Amanda yang sedang terisak. Urat-urat kemarahan masih terlihat di wajahnya. Dengan amarah yang membara, dia menghampiri Amanda.
"Kak Jun," lirih Amanda dan segera berlari memeluk tubuh Juna.
"Jangan sentuh Kakak!"
Hati Amanda semakin sakit ketika tempat untuknya berlindung pun menjauhinya. Dirinya bagai hewan haram yang tidak boleh mendekati semua orang yang berada di sana.
"Kak, Nda bisa jelasin. Ini semua bukan salah Nda. Ini salah Bang Rion. Karena Bang Rion selalu sibuk dengan pekerjaannya dan juga anak pertamanya. Seolah Nda ini istri kedua baginya. Dia tidak memiliki waktu untuk Nda. Dan sama sekali tidak mau menyentuh Nda, sekalipun Nda sudah menggodanya." Sungguh ucapan tak tahu malu.
"Untuk apa aku menyentuh orang yang sudah bersenang-senang dengan para brondong di tempat karaokean?"
Duar!
Peluru tajam yang tembus ke jantung Amanda. "Selama ini aku diam, kamu menggunakan uang yang aku berikan untuk bersenang-senang dengan geng sosialita mu. Lalu, kamu terjerumus dalam kubangan arisan brondong yang diadakan geng sosialita mu. Aku tahu siapa para teman-temanmu. Ketika aku melarang, kamu marah dan memilih teman-temanmu dibanding aku serta anak-anak."
"Ja-jangan percaya Kak," elak Amanda kepada Juna.
"Cih, aku bukan orang bodoh. Setiap kali keluar dengan beralibi arisan, di sekujur tubuhmu pasti banyak kiss Mark yang merah maupun menghitam. Apa sebagai suami aku masih bernafsu untuk menyentuhmu ketika tubuhmu sudah dicicipi oleh laki-laki lain?" Telak, Amanda kalah dari segi apapun.
Riana semakin terisak, sedangkan Echa sudah menutup telinga Iyan sedari ayahnya mulai angkat bicara. Dan wajah Addhitama sudah penuh dengan aura kemarahan luar biasa.
"Kak Jun tidak menyangka kamu bisa lebih parah dari seorang PELACOERR." Juna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berhenti bersembunyi di balik hijab syar'i mu. Tuhan akan semakin murka melihat tingkah kamu ini. Menutup aurat hanya karena ingin dianggap suci. Pada kenyataannya, dirimu dengan suka rela mengangkang demi memenuhi rahimmu dengan cairan manii para lelaki. Sungguh luar biasa. Jalank kelas kakap," sindir Juna.
"Kak ...."
"Jangan pernah panggil saya, Kakak. Karena saya malu memiliki adik sepertimu. Selama di jeruji besi, saya mencoba berubah karena saya ingin menemani kamu dan menjadi pelindung untuk kamu. Namun, sepertinya niat saya itu akan saya urungkan," pungkas Juna.
"Uruslah perceraian Ayah. Ri, sudah tidak mau memiliki ibu seperti dia," tunjuk Riana kepada Amanda.
Semua orang tersentak mendengar ucapan Riana yang tajam seperti belati.
"Orang yang selama ini Ri anggap benar, ternyata menyalahi aturan agama. Ri, malu terlahir dari rahim wanita murahan seperti itu. Ri, malu Ayah."
Rion semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Riana. Psikis Riana sangat tertekan.
"Seumur hidup, Ri. Ri tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi. Mulai detik ini, Ri menganggap ibu kandung Ri sudah mati," tukasnya berapi-api.
Tubuh Amanda luruh ke lantai mendengar ucapan putri kesayangannya. Mata Riana menyiratkan kebencian yang mendalam kepada dirinya. Dan melihat Iyan yang masih memeluk Echa, membuat air matanya mengalir deras.
"Kak Echa, mau kan jadi ibu untuk Iyan?" Manik mata Iyan menyiratkan permohonan yang mendalam. Membuat pertahanan air mata Echa runtuh.
"Tentu saja, Iyan. Kakak akan berusaha jadi ibu yang baik untuk Iyan," jawab Echa dengan suara sangat berat.
"Selama ini, hanya Ayah yang perhatian sama Iyan. Iyan juga ingin diperhatikan oleh ibu Iyan sendiri. Seperti anak-anak yang lain." Echa tidak bisa berkata apa-apa. Dia berhambur memeluk tubuh kecil Iyan seraya menangis.
Iyan adalah cerminannya ketika dia berusia tiga tahunan. Bedanya, dulu Echa ingin mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya.
"Kakak jangan menangis, kasihan adik-adik Iyan di dalam sini." Tangan kecil Iyan sudah mengusap lembut perut buncit Echa.
"Kamu lihat dan dengar sendiri Satria. Karena ulahmu dan wanita itu, banyak orang yang tersakiti di sini. Ada dua anak yang pastinya akan terluka secara mental. Ada air mata yang menetes, tawa yang hilang. Serta kehangatan keluarga yang pastinya akan pudar." Addhitama menatap tajam ke arah Satria.
"Dan kamu sudah dengar kenyatannya. Aku harap, kamu melakukan tes DNA ketika usia kandungannya cukup kuat. Karena aku tidak ingin harta warisan yang sudah kamu kumpulkan sedari muda jatuh ke tangan orang yang salah. Jika, itu bukan anakmu ... lepaskan dia."
"Tapi, jika kamu bersikukuh ingin bertanggung jawab. Semua asetmu akan aku ambil alih. Dan akan aku balik namakan atas nama ketiga putraku," tukas Addhitama.
"Satu hal lagi, jika anak itu memang anakmu. Aku akan menugaskan kamu ke anak perusahaan yang sedang di bangun di Kalimantan. Menjauh, itu lebih baik. Kehadiran kamu dan simpananmu membawa luka yang mendalam bagi semua orang yang ada di sini. Termasuk, luka pada dua anak itu yang mungkin tidak akan pernah bisa sembuh sampai kapanpun." Addhitama berbicara dengan kesungguhan yang diiring ancaman.
"Percepatlah perceraianmu, aku tidak ingin dua keponakanku semakin menderita dan terus mengeluarkan air mata."
...****************...
Komen banyak, UP lagi ...