
Setelah kondisi kondusif, Rion mengajak Amanda pulang. Sebelumnya, Rion mengucapakan terimakasih kepada Ayanda. Karena telah membantunya tanpa dia harus memberi tahu.
"Mas jaga Amanda ya, temenin dia terus. Dan selalu buat dia bahagia."
"Makasih ya, Dek. Kamu selalu membantu Mas."
Ayanda tersenyum, lalu menepuk bahu Rion. "Kita sudah lama bersama, Mas. Tanpa kamu bilang, aku pasti tahu."
Rion pun tersenyum ke arah Ayanda, hanya kehangatan yang tercipta. Mantan suami-istri masih saling berkomunikasi malah seperti keluarga sendiri.
"Boleh Mas peluk kamu?" tanya Rion.
Ayanda merentangkan tangannya, mereka pun berpelukan. "Makasih banyak, maaf Mas dulu bodoh."
Ayanda melonggarkan pelukannya, dan menatap Rion lekat. "Aku gak mau ngungkit masa lalu kita lagi. Terlalu banyak kesalahan Mas, jadi udah malas ngingetnya." Rion pun terkekeh.
"Si kembar Ayah, Ayah pulang dulu ya." Rion mencium si kembar bergantian.
"Mas pulang ya, Dek." Ayanda mengantar Rion sampai ke halaman depan. Sedangkan Amanda masih sibuk di dapur sedang menunggu makanan yang dia inginkan.
"Mbak, aku udah dapat. Aku pulang, ya."
"Hati-hati ya, Nda. Kalo mau dilakukan tindakan langsung hubungi Mbak, ya."
"Oke siap, Nyonya." Amanda cipika-cipiki terlebih dahulu sebelum pergi dari rumah Ayanda.
Hati Rion dan juga sangat amat bahagia. Namun, Rion pura-pura tidak tahu tentang keputusan Amanda.
Begitu pun Amanda, setelah melihat suaminya dan juga mendengar kisah suaminya dari Ayanda. Amanda siap untuk melakukan tindakan sesar.
Di rumah.
Rion sudah selesai membersihkan badannya sedangkan Amanda sudah duduk di sofa sambil menikmati makanan yang dibuatkan chef terkenal untuknya.
"Enak banget kayaknya," ucap Rion yang sudah duduk di samping Amanda.
Amanda menyuapi Rion, dan membuat Rion tersenyum bahagia. "Enak kan?" Rion hanya mengacungkan dua jempol.
"Mau lagi?"
"Udah ah, nanti Bunda sama si dedek gak kenyang," ucapnya sambil mengelus perut buncit Amanda.
"Bang."
"Hm." Rion sedang asyik menikmati gerakan-gerakan lincah di perut Amanda.
"Ayah," ucap Amanda lembut agar suaminya melihat ke arahnya.
Rion pun tersenyum dan menatap istrinya penuh cinta. "Apa Bunda?" ucapnya. Tangannya sedang mengusap pipi Amanda.
"Abang, kalo si dedek ini lahir. Apa Abang akan senang? Dan menyayanginya seperti Abang menyayangi Echa sama si kembar?" Pertanyaan bodoh sebenarnya. Amanda hanya ingin jawaban sesungguhnya dari mulut suaminya.
"Abang memang bodoh di masa lalu. Tapi, Abang tidak akan mengulangi kebodohan Abang lagi."
"Ketika mendengar kamu hamil, Abang sangat berniat untuk menebus kesalahan Abang di masa lalu. Ingin menjadi suami yang selalu siaga untuk istri yang sedang ngidam dan menjadi suami yang selalu mendampingi istrinya ketika persalinan kamu."
"Abang tidak melakukan itu ketika Yanda hamil dan melahirkan. Hingga anak Abang lahir ke dunia pun Abang acuh."
"Dan sekarang, sudah waktunya Abang berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan juga anak-anak kita. Echa adalah anak yang kurang kasih sayang dari Abang, dan sejak bertemu dengan Echa hingga sekarang Abang mencurahkan kasih sayang yang penuh untuk dia. Sebagai penebus kesalahan Abang di waktu dulu."
Mata Rion sudah berkaca-kaca dan dia menggenggam tangan Amanda. "Sekarang, tidak ada alasan untuk Abang tidak bahagia dengan kehadiran anak kita. Anak kita adalah bukti cinta Abang ke kamu. Dan pastinya Abang akan menyayangi dia sama seperti kasih sayang Abang ke Echa dan juga si kembar."
Amanda pun memeluk tubuh Rion, bulir air matanya menetes begitu saja. Apa yang dikatakan Ayanda tidak ada yang salah.
"Manda mau melakukan tindakan operasi. Manda juga ingin anak ini segera lahir," ucapnya dengan suara berat.
"Makasih, Sayang. Makasih." Rion menciumi seluruh wajah Amanda. Terutama bibir mungil Amanda yang selalu membuat Rion tidàk akan puas hanya dengan mengecup singkat.
Ketukan pintu dari luar, menghentikan pagutan bibir mereka. Amanda bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
"Maaf Bu, ada kiriman." Mbak Ina memberikan amplop cokelat kepada Amanda.
"Dari siapa?"
"Tidak tahu."
Amanda membawa amplop itu dan duduk di samping suaminya. Sedangkan Rion sudah mulai membuka laptopnya mengecek pekerjaan dan usahanya.
Mata Amanda melebar ketika melihat isi amplop tersebut. Ada tiga foto di sana. Amanda melirik ke arah Rion dengan tatapan tajam.
Amanda berdiri, lalu membanting foto dan amplop tersebut di atas meja membuat Rion menatap Amanda heran.
"Ada apa Yang?"
"Jelasin!" bentaknya.
Rion melihat foto yang berserakan di atas meja, dia benar-benar tidak percaya.
"Tega ya, Abang."
"Yang, i-itu ...."
****
Mon maap, up Bang Duda gak teratur. Ternyata lelah ya punya 3 karya yang on going Semua Dan setiap hari harus diisi bab baru.😪
Jangan lupa kasih semangat kalian ke aku, dengan like dan komen. Dan jangan timbun-timbun bab, ya. Terbit langsung baca
Happy reading .....