Bang Duda

Bang Duda
258. Berhasil (Musim Kedua)



"Bee, kenapa kamu bilang Tante itu jahat?" tanya Rion penasaran.


"Tante itu sering liatin rumah Ayah, terus suka senyum-senyum sendiri. Tante itu juga sering sekali berbicara sendiri. Seperti orang yang tidak normal," jawab Beeya.


"Kapan kamu ketemu sama Tante itu, Bee?" Sekarang giliran Arya yang bertanya.


"Pertama, waktu Bee ingin main bareng Kak RI tapi Kak Ri-nya gak ada. Bunda dan Ayah juga gak ada sedang ke rumah Nenek." Arya pun mengangguk. Dia mengingat hari itu, di mana Beeya menghentikan langkahnya ketika mereka kembali menuju rumahnya.


"Selain hari itu, apa Bee masih melihat Tante itu?" Beeya pun mengangguk ketika Rion bertanya.


"Setiap Bee main ke rumah Bunda, orang itu selalu berdiri di seberang rumah Ayah. Tapi, Tante itu menutup hidung dan mulutnya. Hanya kelihatan matanya saja."


"Kenapa Bee yakin kalo perempuan itu adalah Tante jahat?" tanya Rion lagi.


"Di tangan Tante jahat itu ada tanda hitam, makanya Bee tahu kalo dia Tante jahat," sahut Beeya.


Rion takjub dengan bocah yang sedang dipangkunya ini. Daya ingat Beeya benar-benar di atas kemampuan rata-rata anak seusia Beeya. Dari segi Beeya menjawab pun tidak ada keraguan. Seakan kejadian itu baru saja terjadi, Dan dia bisa menjelaskan secara gamblang kepada orang dewasa.


"Hebat ya anak gua," ujar Arya.


"Bangga gua sama anak lu. Beda gak kaya bapaknya," cela Rion.


"Stop Ayah!" pekik Beeya.


Rion pun mengunci mulutnya yang akan mencela habis-habisan Arya. "Kenapa anak bontot Ayah?" tanya Rion ambil mencium pipi gemas Beeya.


"Bee udah jawab pertanyaan Ayah tentang Tante jahat, sekarang Ayah harus bayar Bee dengan es krim dan cokelat yang banyak," oceh Beeya.


"Nah ini baru anak lu, Bhas," ujar Rion sambil mengacak-acak poni si bocah pintar ini.


Rion pun mengajak Beeya ke domaret yang berada tak jauh dari kantornya. Tidak ada yang gratis jika sudah berhadapan dengan Beeya Bhaskara. Langkah Rion terhenti ketika dia melihat Dea sedang berbincang-bincang dengan Vera di depan minimarket.


"Ayah, ayo," ajak Beeya dengan suara lantangnya.


Suara keras Beeya membuat kedua wanita yang mengenakan hijab namun, memiliki hati busuk itu menoleh ke asal suara. Irama jantung Dea sungguh tak karuhan. Berdetak sangat cepat seperti orang yang sedang lomba lari. Apalagi manik mata mereka berdua bertemu.


"Ayah!" seru Beeya.


Rion pun memutuskan tatapannya kepada Dea. Padahal Rion menatap Dea dengan kebencian yang menggelora. Namun, Dea menganggapnya berbeda.


Ternyata manjur juga, begitulah isi hati Dea.


Setelah Beeya mengambil beberapa makanan dan minuman yang dia mau, giliran Rion yang harus membayar semua jajanan Beeya yang lebih dari satu troli kecil. Sedangkan Beeya sedang membuka plastik sedotan yang ada di susu kotak yang sedang dia pegang. Dea pun memanggil Beeya dengan tangan yang menyuruhnya untuk mendekat. Ditambah tangan yang satunya mengiming-imingi cokelat berbungkus ungu kesukaannya. Seperti ada magnet, Beeya pun menghampiri Dea dan juga Vera.


"Kamu mau?" Beeya pun mengangguk.


"Nih buat kamu, tapi kamu panggil Om itu suruh ke sini."


"Ayah," panggil Beeya dengan suara Tarzannya.


Rion pun menoleh karena dia masih bisa mendengar teriakan dari Beeya. Meskipun dia masih berada di dalam minimarket. Mata Rion pun melebar ketika dia melihat Beeya sedang berada diantara dua wanita tak punya hati itu.


Setelah mengantri di kasir untuk membayar, Rion bergegas menghampiri Beeya. Namun, Beeya malah meniup susu yang baru saja dia sedot ke arah wajah Dea. Hingga Dea berteriak histeris,


"Ayah hanya milik Bunda. Bukan milik Tante Jahat," sentaknya.


Beeya pun berlari ke arah ayahnya yang sedang mematung melihat tingkah Beeya, Apalagi dia bisa mengalahkan Dea.


Bee berlari ke arah Rion dan langsung memeluk tubuh sang Ayah. "Kenapa Bee?'


"Tante jahat itu bilang, kalo dia akan memiliki Ayah. Bee gak mau Ayah dimiliki wanita lain. Bee hanya ingin Ayah dimiliki Bunda, Kak Ri , Kak Echa. Kak Key, Abang dan Kakak. Bee gak mau,'" tolaknya dengan suara yang bergetar.


Rion pun menenangkan Beeya, menggendongnya dan membawanya kembali ke kantor.


"Banyak banget sih pengganggunya," geram Dea.


"Gak apa-apa, Key." Keysha sangat dekat dengan Riana, jawaban tidak apa-apa dari Riana menandakan dia itu sedang tidak baik-baik saja. Ada sedikit sifat Echa yang ada pada diri Riana. Yaitu, tidak ingin membuat orang disekelilingnya sedih dan kepikiran.


Keysha menarik tangan Riana keluar dari kelas, dan membawanya ke belakang sekolah. Riana pun tak bisa menolak, karena tenaga Key lebih kuat darinya.


"Ceritain sama aku, Ri,'" pinta Keysha.


Riana menatap ke arah Keysha dan matanya sudah mulai merah karena dia menahan tangis. "Ri, kamu kenapa? Mungkin kalo kamu mau cerita sama aku, kamu gak akan sedih lagi."


Riana mengambil sesuatu dari saku seragamnya. Dia menyerahkannya kepada Keysha. Keysha melihat foto itu dengan seksama. "Ini seperti Bunda." Keysha menatap ke arah Riana, hanya sebuah anggukan dari Riana sebagai jawaban.


Riana pun menceritakan semuanya, seorang anak kelas dua sekolah dasar sudah diberi tahu hal yang seharusnya belum layak diketahui.


"Udah Ri jangan nangis, belum tentu kan ini benar." Keysha menenangkan Riana.


"Kalo ini memang benar?" tanya Riana yang sedang menatap Keysha. Keysha pun terdiam tidak bisa menjawab.


Pulang sekolah, Aksa dan juga Aska melihat Vera dan juga Dea sudah berada di depan gerbang sekolah. Mereka tahu, kedua wanita itu sedang menjemput Chika. Namun, langkah si kembar dihadang oleh Vera.


"Kalian anaknya Pak Gio, ya?" tanyanya dengan rona bahagia.


Aksa dan Aska hanya saling pandang. Mereka tidak mengenal orang ini, tapi sayup-sayup mereka mendengar obrolan antara wanita di hadapannya dengan temannya itu membawa-bawa nama ayah dan Daddy mereka.


"Kok Tante tau Daddy kami?" sinis Aska.


"Tau dong, kan Tante mantan pacar Daddy kalian," imbuhnya.


Aksa dan Aska pun tertawa dibuatnya. Mereka saling memukul satu sama lain. "Kalo bohong yang benar dong, Tante," ujar Aksa.


Vera pun melongo mendengar apa yang dikatakan oleh anak laki-laki tampan ini. Bohong yang benar? Membuat Vera pusing jika memikirkan ucapan dari salah satu anak kembar Gio.


"Setau aku, Mamahnya Chika itu yang mantan Daddy bukan Tante," sanggah Aska.


"Lagian mana mau Daddy pacaran sama cewek yang wajahnya biasa-biasa aja. Coba deh Tante berendeng sama Mommy, masih cantikan Mommy dan mudaan Mommy," cerca Aksa.


"Muka Tante terlalu boros," sahut Aska dan dibalas dengan tertawa renyah dari Aksa. Sedangkan wajah Vera seperti kepiting rebus. Dia dipermalukan oleh anak berusia 10 tahun.


"Ver, ayo," ucap Dea.


Mata Aksa dan Dea bertemu, dia teringat apa yang diceritakan oleh Keysha kepadanya ketika istirahat. Samar-samar Aksa mendengar jika wanita teman Tantenya Chika itu menyebutkan kantor Rion. Dan otak Aksa mulai menangkap sinyal bagus.


Aksa berbisik kepada adiknya dan senyuman licik muncul di wajah Aska. Mereka melihat ke arah bawah, di mana gamis yang dikenakan mereka seperti sedang menyapu jalanan. Aksa manatap ke arah Aska, dia pun mengangguk.


Dua wanita itu sudah berhenti berjalan dan asyik mengobrol. Aska dengan cepatnya menabrakan diri ke arah dua wanita yang sedang berdiri berdampingan. Hingga tubuh mereka sedikit terhuyung ke depan. Dari belakang Aksa menginjak kedua ujung gamis Vera dan Dea yang sedang terurai di tanah.


Vera dan Dea menatap tajam ke arah Aska. "Maaf buru-buru," teriak Aska. Dia melambaikan tangannya ke atas.


Tanpa mereka berdua sadari, di belakang merek ada di kembar yang lainnya. Mereka pun melanjutkan langkah mereka dan ....


Brugh!


Mereka berdua terjatuh karena gamis belakang mereka diinjak Aksa dan ujung gamis depan mereka terinjak kaki mereka sendiri. Semua orang yang melihatnya pun tertawa termasuk Aksa.


"Sorry Tante, SENGAJA."


Aksa pun berlari menjauhi dua wanita yang sudah duduk di tanah dan menjadi bahan tontonan gratis. Sopir yang menjemput si kembar hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak majikannya ini. Apalagi kedua anak ini malah terlihat sangat bahagia. Dan mereka pun mengadukan telapak tangan mereka hingga menimbulkan bunyi.


"Berhasil," ucap mereka berdua dengan senyum yang teramat bahagia.


****


Ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun. Insha Allah siang/sore up lagi. Jangan lupa komen.


Happy reading ....