Bang Duda

Bang Duda
273. Pelaku (Musim Kedua)



Gio terus menggenggam erat tangan putrinya. Tak sedetik pun dia beranjak dari samping putrinya. Dia sangat melihat jelas Echa kesakitan serta memuntahkan apa yang baru saja dia makan.


Tanpa ada rasa jijik, Gio tetap merawat Echa karena Gio menyuruh Radit untuk ke apartment milik Gio untuk beristirahat dengan diantar Remon.


"Makasih telah menjaga putri saya," ucap Gio.


"Sudah kewajiban Radit, Om. Dan Radit akan menepati janji Radit untuk selalu menjaga serta membahagiakan Echa," jawabnya.


Setelah Remon dan Radit pergi, Gio menatap lekat ke arah putrinya yang tengah terbaring lemah.


"Putrimu anak yang sangat kuat," kata seseorang.


Gio menoleh ke asal suara, dia melihat Addhitama sudah masuk ke dalam kamar perawatan Echa.


"Dengan bersimbah darah, Echa datang ke rumah sakit dengan membawa kedua adiknya. Wajahnya sudah sangat pucat, semua orang yang sedang melintas di IGD pun takjub melihat seorang perempuan muda yang masih mampu mengendarai mobil dalam keadaan leher tersayat dan luka tusukan di perutnya," jelas Addhitama.


Hati Gio sakit mendengarnya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Echa pada malam itu.


"Radit yang baru saja keluar dari rumah sakit pun terkejut ketika melihat Echa sudah di depan IGD dengan baju yang dipenuhi dengan darah segar."


"Radit membawa Echa ke IGD namun, Echa menolak. Echa lebih mementingkan keselamatan adiknya dibandingkan keselamatannya yang jika, terlambat ditangani akan merenggut nyawanya,"


Air mata Gio menetes mendengar cerita dari Addhitama tentang kejadian ketika Echa dan si kembar terluka.


"Dengan paksa, Radit mengangkat tubuh Echa dan membawanya ke ruang IGD. Benar saja luka di perut Echa sangatlah dalam. Dia sudah kehilangan banyak darah. Untungnya stok darah untuk golongan darah Echa masih tersedia di rumah sakit itu."


"Ketika dokter melakukan hecting, tak sedikit pun Echa menangis dan menjerit. Dia benar-benar harus terlihat kuat di depan semua orang."


Gio menatap wajah Echa yang sedang terlelap dengan tatapan pilu. Sungguh besar pengorbanan putrinya ini untuk saudaranya.


"Ketika Echa diharuskan untuk istirahat, dia memilih untuk menjaga adik-adiknya hingga dia sama sekali tidak tidur. Hingga pagi harinya kondisinya drop," jelas Addhitama.


"Maafkan Om, Gi," ucap Addhitama seraya mengusap pundak Gio.


"Om telah menyembunyikan kenyataan ini kepada kalian. Dengan wajah yang penuh rasa bersalah serta wajah yang terlihat ketakutan, Echa meminta untuk merahasiakan kondisi dia yang sesungguhnya," ujar Addhitama.


"Echa hanya tidak ingin menambah kekhawatiran dan kesedihan kalian. Dan pembiayaan kedua putra mu pun Echa yang menanggung."


Gio pun tersentak mendengar penuturan Addhitama. Echa pergi tanpa memegang sepeser pun uang yang Gio berikan.


"Jangan pernah salahkan Echa dalam kejadian ini. Dia adalah korban yang sesungguhnya. Dan demi menyelamatkan kedua putramu dia rela terkena pukulan benda tumpul serta tusukan pisau tajam."


"Maafkan Papa," lirihnya.


Echa yang merasakan ada air yang menetes di tangannya perlahan mencoba membuka matanya.


"Kenapa Papa nangis? Echa gak apa-apa, Pa."


"Jangan selalu bilang gak apa-apa padahal kamu terluka parah seperti ini," kata Gio dengan suara berat.


"Jangan selalu mementingkan orang lain, padahal kamu yang harus Papa pentingkan."


"Echa tidak ingin melihat Papa dan Mamah sedih seperti ini karena kondisi Echa. Echa tidak ingin dianggap sebagai anak yang lemah," sahutnya.


"Kamu anak yang kuat, Sayang. Sangat kuat, maafkan Papa. Papa melarang karena Papa tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak-anak Papa. Hal yang seperti ini yang tidak Papa inginkan, Papa telah gagal menjaga kalian," ungkap Gio.


"Maafkan Echa, Pa. Maafkan Echa," lirihnya.


Gio memeluk tubuh putrinya yang terbaring. "Echa belum bisa jadi anak yang nurut, maafkan Echa Pa."


Addhitama tersenyum melihat Gio dan Echa yang saling menyesali perbuatan mereka. Dalam hal ini mereka sama-sama salah. Gio yang langsung marah tanpa mau mendengar penjelasan Echa dan Echa yang tidak menuruti larangan dari Papanya.


Sedangkan di lain tempat, seorang pria kekar telah menyeret seorang pria dengan sangat kasar. Dan membantingnya ke dalam mobil.


"Siapa kamu?"


Hanya tatapan datar dari pria berbadan kekar itu tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya dan masker menutup sebagian wajahnya.


Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi ke suatu tempat yang sangat sepi. Hanya ada sebuah gudang tua di sana. Dan mobil itu pun berhenti di gudang tersebut.


Dengan kasarnya pria berbadan kekar itu menarik tangan si pria dan menyeretnya masuk ke dalam gudang. Dengan sangat keras pria berbadan kekar itu mendorong tubuh si pria. Hingga dia tersungkur ke lantai. Pria itu mencoba berdiri dan menyerang pria berbadan kekar. Tapi, serangannya mampu dihalau oleh si pria berbadan kekar.


Dengan cepat si pria berbadan kekar itu memelintir kedua tangan si pria hingga dia berteriak kesakitan. Pria berbadan kekar itu langsung mendudukkan pria itu dengan sangat kasar dan mengikat tubuhnya dengan tali. Hingga pria tawanan itu sulit bernapas.


"Lepaskan!" teriaknya.


Pria berbadan kekar itu mengeluarkan sebilah pisau. Lalu dia tempelkan ke wajah sang tawanan dengan menggerakkannya ke setiap inchi wajah pria itu.


"Apa Anda tahu bagaimana rasanya terkena sayatan pisau di leher? Apa Anda ingin merasakannya sekarang?"


Pria tawanan itu menggeleng dengan cepat. Dia mencoba menghindar dari pisau itu yang sudah menempel sangat rapat dengan kulit lehernya.


Pisau itu mulai turun ke tubuh si pria tawanan, dan berhenti di perut bagian kiri. Pisau itu sengaja digerakkan secara berputar di bagian perut.


"Apa Anda ingin merasakannya di sini? Dan akan saya buat tusukannya dalam dan mengenai organ vital Anda," ancam pria berbadan kekar.


Tubuh si pria itu pun semakin gemetar. Dia benar-benar takut sekarang ini. Apa yang telah dia lakukan harus dibayar lunas sepertinya.


"Jangan pernah bermain-main dengan keluarga Wiguna. Sehelai rambut dari anggota keluarga itu Anda sentuh, maka Anda membuka jalan kematian Anda sendiri," ucap pria berbadan kekar.


Pria berbadan kekar mengeluarkan lakban hitam. Menariknya dengan sangat keras hingga mengeluarkan suara yang cukup menyeramkan. Mulut si pria tawanan itu pun ditutup dengan lakban hitam yang berlapis-lapis.


Suara pintu terbuka, dua orang berbadan kekar dengan kasar mendorong seorang wanita yang sudah diikat kedua tangannya ke belakang. Wanita itu terus berteriak dan mengumpat ke arah dua pria berbadan kekar itu.


Manik mata wanita itu bertemu dengan manik mata si pria tawanan.


"Bodoh!" pekik si wanita itu kepada si pria tawanan.


Dengan kasarnya si pria berbadan kekar yang mengenakan kacamata serta masker mendorong tubuh si wanita itu hingga tersungkur. Lalu dia mendudukkan dengan paksa si wanita itu di kursi kayu yang telah tersedia.


Tubuh si wanita pun diikat ke kursi dengan sangat kencang. Hingga terdengar jeritan dari mulutnya karena tubuhnya terasa sakit.


"Diam!" Suara barito si pria berkacamata dan memakai masker pun menggelegar.


"Apa yang kalian lakukan harus kalian bayar lunas," tukas si pria berbadan kekar berkacamata.


Dua kali pria berbadan kekar itu menepuk tangannya, dan muncullah tiga pria yang tak kalah dari si pria berbadan kekar.


"Lakukan!"


Ketiga pria itu pun menuruti perintah dari atasannya itu.


Mereka bertiga mulai mendekati si wanita. Ada seringai jahat nan mesum yang terpancar di wajah mereka bertiga.


Mereka mulai meraba-raba tubuh si wanita hingga dia berteriak. "Bukankah itu yang telah kamu lakukan kepada seorang gadis yang tidak berdosa?" sinis pria berbadan kekar itu.


Dari mana dia tahu?


# Flashback On.


Tiga wanita sedang tertawa gembira karena sasaran mereka telah lumpuh. Dan menurut laporan, jika target utama terkena tusukan sangat dalam dan juga dua bocah yang bersamaan sudah tidak sadarkan diri.


"Kita kirim dokter gadungan untuk mempercepat kematian mereka," titah seorang wanita yang tanpa hijab.


"Berani-beraninya menghancurkan perusahaan Papahku. Dan sekarang akan aku hancurkan keluargamu."


Tanpa dia sadari ternyata ada seorang anak kecil yang sedang bersembunyi di bawah meja itu. Anak itu sedang bermain petak umpat bersama temannya yang lain. Karena sang Mamah sedang meeting di tempat itu.


"Bagaimana kondisi Aksa dan juga Aska?"


Mendengar nama Aska dan Aksa disebut, membuat anak kecil itu semakin menajamkan telinganya. Untungnya dia membawa mainan perekam suara yang baru saja mamahnya belikan.


Bocah itu pun mengeluarkan mainan itu dari dalam tas yang selalu digendongnya.


Setelah suara itu di dapat, perlahan bocah itu keluar dari kolong meja tanpa sepengetahuan tiga wanita jahat itu.


Bocah itu menghampiri mamahnya, lalu menunjuk ke arah tiga wanita yang sedang tertawa gembira. Mamahnya menajamkan penglihatan yang ke arah tiga wanita itu. Dan dia ingat, dia pernah bertemu dengan dua wanita berhijab itu di acara ulang tahun si kembar.


Bocah itu mengajak mamahnya untuk naik ke ruangan sang mamah. Lalu, dia menyerahkan mainannya kepada sang mamah.


Ketika diputar, mulut sang mamah menganga. Dia tidak menyangka ternyata dalang dari musibah yang menimpa Echa dan juga si kembar adalah orang yang ditunjuk oleh putrinya tadi. Dia benar-benar terkejut dan langsung menghubungi sang Paman.


"Paman, Beby tau siapa pelakunya."


# Flashback Off.


****


Happy reading ...


Kalo ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.


Jangan lupa baca karyaku Yang Terluka, kisah cinta Echa dan Radit yang aku tulis lengkap di sana. Karena di cerita ini aku tulis hanya intinya saja.q