Bang Duda

Bang Duda
36. Boss Baru



Seminggu sudah Sheza resign dari kantor, mejanya tetap kosong belum ada yang menggantikan posisi Sheza. Berkali-kali Arya menawarkan asisten baru untuk Rion namun selalu ditolaknya. Tidak ada yang boleh menempati meja Sheza selain Sheza. Rion berjanji akan membawa Sheza kembali ke kantornya, menjadi asisten dan juga kekasihnya.


Sedangkan di lain tempat, Sheza nampak bahagia dengan pekerjaan barunya. Sheza hanyalah sebagai pelayan di restoran tapi suasana kekeluargaan yang para karyawan lain ciptakan membuatnya sangat nyaman.


"Sar, sudah seminggu ini aku bekerja di sini. Kenapa aku tidak pernah melihat Pak Boss?" Tanya Sheza kepada Sari, temannya sesama karyawan.


"Biasanya setiap hari Pak Kano datang, tapi semenjak kamu bekerja di sini dia seolah menghilang," ujarnya.


"Galak gak sih Bossnya?" tanya Sheza lagi.


"Yang jelas dia itu ganteng banget dan baik," jawab Sari.


Sheza hanya menganggukkan kepala dan berpikir jika Bossnya itu sudah menikah dan memiliki keluarga yang bahagia.


Pak Roni selaku manager di restoran tempat Sheza bekerja memperkenalkan wanita cantik yang digadang-gadang akan menjadi Boss baru di restoran ini.


"Saya Beby, saya diutus Pak Kano untuk meng-handle restoran ini," ucap Beby.


Semua karyawan yang melihat Beby sangat kagum akan kecantikan boss barunya. Rambut sebahu yang tergerai lurus, mata berwarna kecokelatan dan kulit putih seperti kapas. Meskipun hanya memakai riasan tipis namun terlihat sangat cantik.


Mata Beby terkunci pada sosok wanita mungil, bibirnya melengkung dengan sempurna. Sheza yang menyadari ditatap oleh Bossnya hanya menundukkan kepala.


Semua karyawan kembali bekerja seperti semula dan Beby pun kembali ke ruangannya. Hanya helaan nafas kasar yang terdengar.


Apa yang namanya cinta serumit ini? batin Beby.


***


Rion diam-diam mengawasi Azka dari kejauhan. Dia tahu, Azka pasti mengetahui keberadaan Sheza. Hingga dia memicingkan mata pada sosok lelaki yang turun dari mobil mewah, berpakaian beda dari biasanya. Para pegawai pun menundukkan kepala ketika melihatnya.


"Siapa dia sebenarnya?" gumam Rion.


Berjam-jam Rion mengintai di restoran ayam cepat saji itu, tak lama Azka keluar dengan pakaian kurirnya. Dia pun melajukan motornya dan diikuti oleh mobil Rion dari belakang.


Azka hanya tersenyum miring melihat mobil Rion sedang mengikutinya. "Aku ajak kamu berkeliling Jakarta," gumamnya yang diakhiri tawa.


Benar saja, Rion kesal sendiri di dalam mobil. Ternyata Azka benar-benar mengantarkan pesanan ke berbagai tempat di Jakarta.


"Sial!" umpat Rion.


Azka yang baru saja tiba di restoran setelah mengantarkan pesanan ke para pelanggan hanya tertawa puas.


"Aku bukan lelaki bodoh," gumam Azka.


Dengan wajah kesal karena gagal dalam pengintaiannya, Rion memutuskan untuk kembali ke kantornya. Tak henti-hentinya Rion mengumpat kesal di sepanjang perjalanan.


Sedangkan di restoran ayam cepat saji, Azka menyandarkan tubuhnya pada kursi. Salah satu pegawai membawakannya air mineral karena Azka nampak sekali kelelahan.


"Keberadaan Sheza dalam posisi gak aman," gumam Azka.


Azka pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


📱 "Aku gak bisa jemput, tolong anterin dia pulang," katanya kepada seseorang di telepon.


Jam pulang kerja pun tiba, Sheza sudah mengemasi barang-barangnya. Sebelum pulang dia berpamitan kepada karyawan lain.


Dengan senyum yang terus mengembang Sheza melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Suasana sore hari yang terasa sejuk, hingga Sheza memutuskan untuk berjalan kaki saja karena Azka mengirim pesan kepadanya bahwa dia tidak bisa menjemputnya hari ini.


Semenjak Sheza bekerja di restoran ini, Azka seperti tukang ojek untuknya. Pagi hari sudah menjemputnya di kontrakan dan sore hari selalu menjemputnya di restoran untuk mengantarkannya pulang.


Hingga suara klakson mobil menghentikan langkah Sheza. Senyuman manis dari wanita cantik membuat Sheza membalasnya dengan senyuman.


"Aku antar," ucap Beby dari dalam mobil.


"Terimakasih Bu, rumah saya dekat kok dari sini," tolak Sheza.


"Kalo kamu menolak tawaran saya, besok akan saya kasih surat peringatan untuk kamu," ancam Beby.


Dengan cepat Sheza mengikuti permintaan atasannya. Beby pun hanya tersenyum geli melihat wajah polos Sheza.


Mereka tiba di sebuah kedai kopi. Sheza pun melirik Beby. "Ayo turun, kita ngopi dulu," ajak Beby santai.


Sesantai-santainya Beby tetap saja Sheza canggung, karena dia adalah boss Sheza.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Beby.


Sheza hanya terdiam, melihat harga dari segelas es kopi membuat matanya melebar. Jiwa kaum kantong kering meronta-ronta.


"Aku yang bayar, kamu tinggal minum," ujar Beby.


Karena tidak ada jawaban dari Sheza akhirnya Beby memesan coffee ice dengan rasa yang sama. Sangat terlihat jelas wajah Sheza yang canggung.


"Aku hanya ingin berteman denganmu. Aku lihat kamu wanita baik," ucap Beby seraya memegang tangan Sheza.


Sheza melihat ke arah Beby, senyuman hangat yang Beby berikan. Dan tatapan Beby pun tidak berdusta.


"Saya tidak pantas berteman dengan Ibu. Saya ini hanya karyawan Ibu," sahut Sheza.


Beby hanya tertawa. "Aku berteman tidak memandang kasta, temanku rata-rata orang biasa malah ada seorang pemulung," jawab Beby.


Sheza membesarkan matanya, wanita cantik seperti ini mau berteman dengan seorang pemulung.


"Yang penting mereka baik kepadaku dan tulus berteman denganku. Itu sudah lebih dari cukup," lanjut Beby setelah meminum coffee ice pesanannya.


Sheza tertegun mendengar ucapan Beby. Dia tidak menyangka wanita high class sepertinya tapi mau bergaul dengan orang-orang yang bisa dibilang jauh dari kata layak.


"Bertemanlah denganku," ucap Beby tulus seraya mengulurkan tangan kepada Sheza.


Perlahan tangan Sheza pun menerima uluran tangan Beby, hanya senyum ketulusan yang mereka berdua pancarkan. Keadaan yang canggung kini mencair.


Dari kejauhan, seseorang tersenyum bahagia melihat kedua wanita yang dia cintai bisa mengakrabkan diri.


***


Happy reading ...