
Hari berganti bulan, usia kandungan Amanda sudah delapan bulan. Rion benar-benar mencontoh Azka menjadi suami siaga. Tak pernah mengeluh meskipun permintaan istrinya terkadang menguras emosinya.
Buah cinta Azka dan Sheza sudah bisa melihat indahnya dunia. Usia kandungan Sheza dan Amanda hanya terpaut tiga bulan. Dan Sheza lebih dahulu melahirkan putri cantiknya ke dunia.
Azka yang tidak tega melihat Sheza kesakitan langsung menyuruh dokter untuk melakukan operasi. Padahal pembukaan terus berlanjut tapi, Azka bersikukuh agar dokter melakukan tindakan operasi. Melihat keadaan Sheza yang sudah lemah.
Azka menemani Sheza di ruangan operasi. Karena obat yang disuntikkan dipunggung, membuat Sheza tak merasakan apa-apa dari perut hingga ke kakinya.
Azka terus saja mengajak Sheza berbicara, mengenang masa sekolahnya dulu dan hal-hal yang lucu lainnya. Kurang dari satu jam tindakan itu selesai. Suara tangisan si kecil pun terdengar dan dokter tersenyum dan mengucapkan selamat kepada pasangan ini.
"Anak Bapak perempuan, sangat cantik."
Azka menerima putrinya dan langsung mengumandangkan adzan di telinga kanan putrinya. Air matanya menetes ketika mata si kecil itu berbinar ketika mendengar lantunan suara adzan.
Kebahagiaan terpancar dari wajah Sheza dan Azka. Tak hentinya Azka mengucapkan terimakasih kepada Sheza. Karena telah memberikan buah hati yang sangat cantik hasil karya mereka berdua.
"Rasanya Mommy ingin punya anak perempuan, Dad," ucap Ayanda sambil menggendong bayi Azka. Ya, Sheza sudah dipindahkan ke ruangan perawatan.
"No! Cukup si kembar," tegas Gio.
Azka dan Sheza hanya tertawa mendengar jawaban Gio. Padahal Gio yang selalu menerjang Ayanda tapi, dia sendiri yang tidak ingin Ayanda hamil lagi. Sungguh sangat lucu.
"Apa sih alasan Kak Gi ngelarang Mbak Yanda hamil lagi?" tanya Sheza.
"Aku gak mau istriku ini kesakitan lagi ketika mengandung dan juga melahirkan. Aku gak tega," jawabnya sambil merangkul pundak istrinya.
Ayanda tersenyum kepada Gio, menatap suaminya penuh cinta. "Love you, Daddy." Gio pun membalas ungkapan cinta dari Ayanda dengan kecupan hangat di kening istrinya.
"So sweet," imbuh Sheza.
Tak lama berselang, Arya dan Beby pun datang. Beby sangat antusias ketika melihat maha karya kakaknya.
"Ya ampun, cantiknya mirip aku." Azka langsung menoyor pipi Beby.
"Mana ada mirip kamu? Ini mirip Mamihnya, lah," kata Azka.
"Makanya cepetan bikin," goda Gio
"Bikin mah tiap hari, tapi gak pernah jadi," sahut Arya.
"Lu mah keseringan, makanya gagal Mulu," sambung Rion yang baru saja masuk dengan menggandeng tangan Amanda.
"Lah kang roti datang."
Suasana pun semakin riuh dengan perdebatan-perdebatan para pria yang tidak jelas juntrungannya.
Amanda tersenyum bahagia ketika menggendong bayi mungil Sheza.
"Cantik sekali kamu, Nak."
Rion merangkul pundak Amanda dan menatap kagum pada bayi Sheza dan juga Azka.
"Sebentar lagi anak kita launching, Bun." Amanda tersenyum mendengar panggilan Rion padanya.
"Kok manis banget ya, ngedenger Abang panggil Manda Bunda," katanya.
"Kamu juga jangan panggil Abang dong, panggil Abang dengan sebutan Ayah," sahut Rion. Amanda membalas ucapan Rio. dengan seulas senyum manis.
Amanda meletakkan bayi Azka dan Sheza di ranjangnya. Menarik tangan Rion untuk mengusap lembut perut buncitnya.
"Ayah bisa merasakan, kan, betapa bahagianya anak kita di dalam sini." Anak di dalam kandungan Amanda tak hentinya bergerak. Membuat Rion sangat bahagia.
"I love you, Ayah."
"Love you more, Bunda."
Rion dan Amanda sudah kembali ke rumah. Amanda menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Dia membuka sosial media dan melihat beberapa tayangan video.
Tak terasa air matanya menetes, dia membayangkan bagaimana jika itu dia. Wafat dengan meninggalkan anak yang masih balita.
Rion yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya. "Kenapa kamu menangis?" tanyanya penuh dengan kekhawatiran.
"Jika, Manda dipanggil oleh Allah terlebih dahulu, dan meninggalkan anak kita yang masih balita. Bagaimana nasibnya nanti? Besar tanpa seorang ibu," lirihnya.
"Sayang, kamu bicara apa sih? Itu hanya video, semua manusia pasti akan pergi menghadap sang pencipta. Itu adalah takdirnya, jangan pernah samakan takdir kamu dengan takdirnya. Maut adalah rahasia Allah." Rion memeluk erat tubuh istrinya.
Sering sekali Rion melihat istrinya seperti ini. Mungkin, ada sedikit kekhawatiran di dalam hati Amanda tentang proses persalinan yang nantinya akan dia hadapi.
"Kamu gak boleh berpikiran macam-macam. Kata dokter, gak boleh stres kamu harus terus bahagia. Sebentar lagi kamu akan berjuang untuk melahirkan hasil karya kita. Abang yakin, kamu ibu yang kuat. Insha Allah."
Perlahan Rion menjauhkan ponsel istrinya dan membiarkan Amanda terlelap dalam dekapannya. Dikecupnya kening Amanda, Rion menyelimuti tubuh Amanda agar tidak kedinginan. Dan dia mengambil laptopnya dan mengecek laporan yang belum sempat dilihat.
Rion menuju sofa, dia duduk sambil memangku laptopnya. Mulutnya terus menguap menandakan dia sudah mengantuk. Namun, dia tetap melanjutkan membaca laporan dan pandangannya tak terlepas dari laptop yang dia pangku. Matanya tiba-tiba terpejam dan dia pun terlelap di sofa.
"Ayah ...."
Panggilan lembut dari seorang anak perempuan kepada dirinya. Rion mencari ke asal suara, dan anak itu tersenyum lebar ke arah Rion.
"Aku sayang, Ayah." Tangannya melambai-lambai namun, senyumnya tak pernah pudar.
"Kamu siapa? Kenapa memanggilku Ayah?" tanya Rion.
Anak perempuan itu hanya tersenyum, dan terus mundur ketika Rion berusaha mendekat ke arahnya.
"Nanti Ayah akan tahu siapa aku." Wajahnya nampak sekali ceria, hingga tangan kecilnya digenggam oleh tangan orang dewasa dan membawanya pergi entah ke mana. Tangan satunya, terus melambai-lambai tanda dia pamit.
"Bang." Suara Amanda membangunkan Rion.
"Abang ketiduran, ya," kata Rion.
Amanda menutup laptop suaminya, dan meletakkannya di atas meja.
"Pindah ya, nanti badan Abang sakit kalo tidur di sini."
"Kenapa kamu bangun? Lapar?" tanya Rion. Dia tahu jika tengah malam Amanda sering terbangun karena lapar.
Amanda hanya tersenyum. "Ingin mie goreng," ucapnya.
"Kan ga boleh banyak makan mie instan, Sayang. Kasihan loh, dedeknya."
"Kan udah gak pernah Bang, udah hampir 3 bulan ini gak makan mie. Boleh, ya." Amanda menunjukkan puppy eyes yang melemahkan hati Rion.
"Ya udah, tapi harus pake sayur, ya."
"Oke."
Setelah membuatkan makanan yang diinginkan Amanda, Rion menyuapi Amanda dengan penuh kasih sayang. Dipandangnya lekat-lekat wajah cantik istrinya. Dan bayangan anak kecil hadir dipikirannya.
Kenapa wajah anak itu mirip sekali dengan Amanda?
Setelah selesai menyuapi Amanda, Rion memijat kaki Amanda yang sekarang mulai membengkak. Tangannya terus memijat lembut kaki Amanda namun, pikirannya bergerilya ke sana ke mari.
Siapa anak yang ada didalam mimpi itu? Mimpi itu sama seperti mimpiku dulu ketika Ayanda mengandung anak kami.
****
Udah baca cerita Echa dan Radit? Jangan lupa ❤️ Like, komen dan rate bintang 5. Aku sudah menepati janji ya ...
Dan sekarang, tetap dukung karya aku ya, Sayang ....
Happy reading ....