
Kembalinya Gio ke Jakarta hanya sebatas kerjaan dan dia pun harus kembali meninggalkan istrinya selama tiga hari ke depan. Hanya wajah sendu yang terlihat dari wajah Ayanda.
"Daddy hanya tiga hari di Australia Mom."
Tangan Ayanda memeluk erat pinggang Gio begitupun sebaliknya. Gio terus mengecup ujung kepala istrinya. Sebenarnya dia pun tidak ingin berpisah lama dengan anak dan istrinya.
"Usia GT sama GS udah berapa hari?" Pertanyaan yang menjurus ke modus.
"36 hari."
"Berarti setelah Daddy pulang dari Australia boleh langsung buka puasa dong?"
"Ish, pikiranmu Dad. Jangan sampe si kembar punya otak mesum kayak kamu," geram Ayanda.
Gio meraih tangan Ayanda dan memasukkan tangan istrinya ke dalam celana boxer yang sedang dia gunakan.
"Ular Daddy sudah lama kedinginan Mom. Dia rindu masuk ke dalam goa yang seperti surga untuknya."
Ayanda tersenyum ke arah suaminya, mengecup bibir suaminya dengan hangat. Ayanda mulai mengecap manisnya bibir suaminya, melum*tnya dan juga menggigit bibir bawah Gio.
Lidahnya mulai nakal sehingga membuat Gio menyerah dan membuka mulut. Lidah Ayanda menyusuri setiap rongga mulut Giondra dan lagi-lagi lidahnya sangat nakal bermain di sana. Hingga Gio pun akhirnya membalas belitan demi belitan yang lidah Ayanda mainkan.
Ayanda merasakan sesuatu di bawah sana sudah menjulang tinggi dan juga mengeras. Tangan suaminya pun sudah tidak bisa dikondisikan.
Ayanda melepaskan pagutan bibirnya dan juga tangannya. Tatapan penuh kecewa sangat terlihat di mata indah Gio.
Ayanda turun dari tempat tidur membuat Gio menghela napas kasar. Hasratnya sudah di ubun-ubun tapi, harus terhenti begitu saja tanpa adanya alasan. Gio mencoba memejamkan matanya, mendinginkan pikirannya agar tidak berfantasi liar.
Baru saja Gio mulai masuk ke alam mimpi, tubuhnya terasa berat seperti ada yang menindihnya. Mata Gio tak berkedip ketika melihat istrinya sudah ada di atas tubuhnya dengan pakaian minim dan terlihat sangat seksi. Giondra hanya dapat menelan salivanya.
Ayanda tersenyum menggoda ke arah sang suami dan dia mulai merasakan ada yang hendak berdiri di bawah sana.
"Mommy bisa membantu Daddy mengeluarkannya," bisik Ayanda dengan suara yang terdengar sangat seksi di telinga Gio.
Tangan Ayanda mulai menyusuri dada bidang Giondra membuat darah Gio semakin memanas. Gio masih menahan sensasi dari sentuhan tangan Ayanda di setiap tubuhnya. Hingga desahan pun lolos dari mulut Gio karena istrinya sudah bermain-main dengan pusaka emasnya.
Gerakan lidah Ayanda seperti anak kecil yang sedang menjilati es krim yang membuat Gio terus mendesah membuat Ayanda semakin bersemangat.
"Sayang ...."
Mendengar suara parau suaminya membuat tangan Ayanda semakin cepat dan sesekali merem*snya lembut membuat Gio benar-benar menikmatinya.
Suara desah*n dan erangan semakin keras dan Ayanda meyakini suaminya akan mencapai klimaks. Kini pusaka emas Giondra sudah ada di dalam mulut Ayanda. Dia memegang erat pusaka suaminya dan mencoba memaju-mundurkannya ke dalam mulutnya.
Hingga erangan keras terdengar dari mulut Gio dan Ayanda segera melepaskan pusaka emas suaminya dan memijat lembut sehingga lahar putih pekat menyembur keluar dari pusaka milik Giondra.
Ayanda terus memijat lembut pusaka emas suaminya, agar semua lahar suaminya keluar tanpa sisa. Ketika pusaka Giondra mulai kembali ke ukuran semula, Ayanda melepaskan tangannya dan bergegas ke kamar mandi. Meninggalkan suaminya yang masih dalam kondisi belum sadar sepenuhnya.
Baru saja membuka pintu kamar mandi Ayanda dikejutkan oleh Gio yang sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Pelukan hangat dan erat Gio berikan kepada istrinya. "Makasih, Sayang," ucapnya.
"Sama-sama Daddy."
Gio mengecup kening Ayanda sangat lama seolah mengatakan terimakasih banyak karena telah memuaskannya malam ini.
"Kita tidur," ajak Ayanda.
"Daddy bersih-bersih dulu." Gio mengecup singkat bibir mungil Ayanda dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Ayanda sudah naik ke atas tempat tidur.
Jangan tanyakan si kembar karena si kembar sedang tidur bersama Bu Dina dan juga Nisa. Ketampanan si kembar mampu membuat semua orang jatuh cinta kepada mereka.
Gio sudah naik ke tempat tidur dan mendekap istrinya dan saling berhadapan.
"Mommy sangat hebat."
"Kewajiban Mommy untuk memuaskan Daddy supaya Daddy tidak jajan di luar," tekannya.
Gio mengecup kening Ayanda kemudian mencium bibir mungil istrinya sangat lama.
"Setelah Daddy kembali, Daddy tidak ingin melihat Mommy kelelahan. Daddy akan mencari pengasuh untuk si kembar dan juga pembantu untuk mengurus rumah. Tugas Mommy hanya merawat tubuh, bersenang-senang dan juga merawat Daddy."
Hanya seulas senyum yang Ayanda tunjukkan. Dia pun membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya sembari menyertakan pelukannya. Ayanda merasa menjadi wanita yang sangat beruntung. Menjadi seorang istri penerus tunggal WGN grup yang sangat menyayanginya dan juga memanjakannya.
"Makasih Daddy." Gio pun tersenyum dan mengecup ujung kepala Ayanda. Tak lama kemudian mereka masuk ke alam mimpi dengan saling berpelukan erat seolah pasangan yang tidak ingin dipisahkan.
Di lain tempat, seorang pria dewasa sedang menyusu layaknya si kembar. Sudah berapa jam Rion bergumul di atas dada Amanda. Dada putih Amanda sekarang menjadi peta dunia. Banyak bercak-bercak abstrak di sana.
Kayak nyusuin tuyul, batin Amanda sambil terkekeh melihat kelakuan suaminya.
"Sayang, kapan aku buka puasa? Udah lebih dari sebulan ini?"
"Kita konsultasi ke dokter kandungan dulu Bang. Jika sudah diijinkan pasti Manda akan memperbolehkan Abang menggarap ladang Manda sesuka hati Abang. Tapi ...."
Rion mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Tapi apa?" timpalnya.
"Abang harus memberi benih yang benar-benar bagus dan sehat agar mereka tumbuh subur di ladang Manda."
Rion hanya tertawa mendengar celotehan istrinya. Dia mengecup bibir ranum Amanda penuh dengan penghayatan.
****
Pagi hari, wajah Gio sangat bersinar seperti sinar mentari pagi. Senyumnya terus saja mengembang sehingga menambah tingkat ketampanannya.
Gio memeluk tubuh Ayanda yang sedang berganti pakaian dari belakang. Menyesapi wangi tubuh istrinya sebelum Gio berangkat ke Australia.
"Daddy."
"Sebentar saja, Mommy."
Setelah puas memeluk tubuh Ayanda, Gio membalikkan tubuh istrinya. Menatap mata istrinya dengan penuh cinta membuat Ayanda tersenyum. Tanpa sadar tangan Ayanda menyentuh pipi mulus suaminya.
Helaan napas mereka mulai bersahutan dan bibir mereka pun kini sudah berpagutan dengan tangan Ayanda melingkar di pinggang suaminya.
Mereka saling mengecap, menggigit, melum*t pelan hingga lidah mereka saling membelit. Decakan demi decakan terdengar samar dan mereka terus menukar air liur mereka.
"Astaghfirullah," teriakan dari Bu Dina membuat sepasang suami-istri ini mengehentikan kegiatan mereka.
"Lamun rek kikituan tutup panto na," oceh Bu Dina seraya meletakkan Gathan di tangan Giondra.
(Kalo mau begituan tutup pintunya)
Giondra terkekeh sedangkan wajah Amanda bak udang rebus. Malu setengah mati.
"Kumaha lamun si Echa nu ningali? Nyieun Mamah sirik wae maraneh mah. Jiwa randa Mamah teh meronta-ronta iyeu ...."
(Gimana kalo si Echa yang lihat? Bikin Mamah sirik aja kamu mah. Jiwa janda mamah meronta-ronta ini)
Ayanda tertawa mendengar omelan Bu Dina membuat Bu Dina melirik tajam ke arahnya.
"Tong seri, Mamah teh keur keheul ka maneh jeung salaki maneh."
(Jangan ketawa, Mamah lagi kesel sama kamu dan suami kamu)
"Ampun Mah, ampun."
Ayanda benar-benar tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Bu Dina. Meskipun dia tidak bisa bahasa Sunda tapi dia mengerti apa yang diucapkan Bu Dina kepadanya.
"Tong nyieun jiwa jomblo abi lolongseran atuh. Teteh Jeung a Gio mah tara ningal tempat lamun rek kikituan. Abi teh jomblo teh, jomblo ... nyeurina teh didieu," tambah Nisa yang kini menyerahkan Ghassan pada Ayanda.
(Jangan bikin jiwa jomblo aku ngambek atuh. Kakak dan Kak Gio mah gak pernah liat tempat kalo mau begituan. Aku tuh jomblo Kak, jomblo ... sakitnya tuh di sini)