
"Za, Ada yang nyariin lu tuh," ucap Doni yang baru saja menghampiri Riza dan juga Bagas.
"Siapa?"
"Bapaknya Tere." Riza hanya berdecak kesal. Untuk apa papihnya Tere datang menemuinya di sekolah pula.
Dengan langkah malas Riza melangkahkan kakinya untuk menemui Pak Nugraha.
Sedangkan di rumah sakit, sudah tidak ada kecanggungan diantara Radit dan juga Echa. Mereka bercanda gurau dan juga terkadang beradu argumen.
Di balik pintu, senyum terukir di wajah Ayanda. Naluri seorang ibu mengatakan jika putrinya sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia juga tahu putrinya seperti apa. Tidak mudah untuk Echa bercerita kepadanya meskipun, dia itu adalah ibu kandungnya.
Deheman seseorang membuat Radit dan Echa berhenti beradu argumen. Senyuman melengkung indah di bibir Echa. Apalagi dia melihat jinjingan yang dibawa sang mamah.
"Gimana kabar kamu, Kak?" Ayanda meletakkan bawaannya di atas meja.
"Lumayan, Mah. Tapi, ini masih sakit dan ngilu," keluhnya.
"Luka di area ini lama sembuhnya, apalagi jika dipakai jalan," jelas Ayanda.
"Nanti Mamah suruh Papa untuk membelikan obat untuk mengeringkan luka." Echa pun tersenyum dan memeluk tubuh Mamahnya.
"Radit, Tante bawakan makanan untuk kamu. Makasih sudah menjaga anak Tante." Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban Radit.
"Saya sudah berjanji kepada Om untuk bertanggung jawab sepenuhnya hingga Echa sembuh total."
"Kamu lelaki hebat, semoga kelak Echa mendapatkan lelaki yang penuh tanggung jawab seperti ini." Ucapan sang mamah mampu membuat mimik muka Echa berubah. Radit melirik ke arah Echa sekilas, nampak jelas kesakitan yang Echa rasakan.
"Tante, Radit pamit ke kampus dulu, ya. Setelah selesai Radit ke sini lagi," ucapnya.
"Gak usah ke sini juga gak apa-apa. Takutnya kamu capek, nanti Tante dan Bundanya Echa akan gantian jaga Echa, kok."
"Gak apa-apa, Tante. Itu salah satu tanggung jawab Radit. Bocah batu, aku kuliah dulu, ya. Jadi anak baik jangan ngebantah mulu." Delikan mata sebal Echa berikan untuk Radit namun, Radit terkekeh melihat wajah kesal Echa.
"Assalamualaikum, Tante."
"Waalaikumsalam."
Radit meninggalkan rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya. Senyum kecut menghiasi bibirnya ketika melihat boneka kecil kesukaan perempuan yang telah menyakitinya.
"Masih banyak perempuan yang baik dan tulus dari kamu. Selamat tinggal, sekarang aku sudah benar-benar melupakanmu," gumamnya.
****
"Kak, apa kamu tidak memberitahukan kondisimu kepada sahabat dan kekasihmu?"
"Tidak perlu, Mah." Jawaban Echa membuat Ayanda curiga. Tidak seperti biasanya putrinya seperti ini.
"Mereka akan lebay sama seperti Mamah, Papa, Ayah, dan juga Bunda. Padahal Echa tidak terluka parah." Echa mencoba menepis kecurigaan sang mamah.
"Kak, kalo ada apa-apa cerita sama Mamah atau Bunda. Jangan dipendam sendirian," nasihat mamahnya untuk Echa.
"Iya."
Ting! Notifikasi pesan chat berbunyi.
Radit Tamvan : Jangan lupa makan dan minum obatnya cewek batu.😁
Echa pun tersenyum membaca pesan dari Radit. Bukan karena isi pesannya, tapi nama kontaknya.
Mentang-mentang ini hape dari dia, nama kontaknya pun semau dia, batin Echa sambil terus terkekeh kecil.
Sementara itu, langkah kaki Riza terus melangkah menuju kantin sekolah. Tidak seperti biasanya, suasana kantin sudah sepi.
"Om," sapa Riza.
Pak Nugraha menoleh ke arah Riza, dan seseorang di belakang Pak Nugraha pun ikut menatap ke arah Riza namun, dengan tatapan penuh kekecewaan dan juga kemarahan.
"Om ...."
***
Maap sedikit up-nya, kalo komen banyak nanti aku Up lagi.
Happy reading ....