
Amanda terus saja menggerutu kesal di dalam mobil. "Kenapa sih kita harus ketemu dia lagi," geramnya.
Rion melirik ke arah istrinya sejenak, dia hanya tersenyum mendengar ocehan istrinya yang tidak ada hentinya. Ternyata Amanda lebih cerewet dari Ayanda. Di saat seperti ini Rion harus diam. Menimpali ucapan istrinya sama dengan bunuh diri. Rion hanya menyiapkan telinganya saja, mendengarkan ocehan istrinya yang seperti suara knalpot bajaj yang berisik.
Tiba sudah mereka di villa milik Gio. Amanda langsung menuju kamarnya. Diikuti Rion dari belakang. Amanda hanya menghembuskan napas kasar.
"Kenapa sih?" tanya Rion yang sudah berada di samping Amanda.
"Karena mantan Abang Mansa gak jadi beli pil KB," sesalnya.
Rion menajamkan matanya ke arah Amanda. "Itu kamu beli testpack untuk apa?" tanya Rion.
"Untuk manas-manasin mantan Abang biar gak lenjeh," sewotnya.
Rion tertawa mendengar kecemburuan istrinya. Hingga Amanda rela tidak membeli pil penunda kehamilan dan memilih membeli testpack hanya untuk membuat Adelia tidak mengejar-ngejar dirinya lagi.
"Kirain Abang kamu beneran hamil." Amanda memukul bahu suaminya keras hingga Rion mengaduh.
"Jangan bahas itu lagi, Manda gak mau buat Abang semakin kecewa," lirihnya.
Rion memeluk tubuh istrinya, menunjukkan jika dia tidak apa-apa. Meskipun dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa. Rion juga mengerti, Amanda belum sepenuhnya mempercayainya karena rekam jejaknya yang kelam.
"Abang beliin sekarang, ya," pamitnya.
Amanda menahan tangan suaminya. "Diluar hujan, nanti saja Abang belinya," ujar Amanda.
Rencana dua pasangan yang belum terikat pernikahan hanya jadi wacana. Langit seakan tidak mendukung niat mereka untuk pergi hangout. Rencana mereka harus batal saat itu juga. Mereka lebih memilih berkencan di kamar pasangan mereka masing-masing.
Si gadis pengacau sudah terlelap di bawah selimutnya. Pasangan suami istri yang menjadi panutan sedang tertawa bahagia merasakan pergerakan bayi-bayi di dalam perut Ayanda. Si kembar sungguh sangat aktif, terkadang membuat Ayanda meringis sakit karena tendangan mereka yang cukup keras.
Di kamar atas si suami sedang asik Mimi susu hangat dari sumbernya. Di cuaca yang dingin seperti ini memang sangat cocok melakukan aktifitas yang mengeluarkan keringat.
Tidak puas dengan hanya mimi, sejurus kemudian Rion membelah segitiga milik istrinya. Rion sangat senang memainkan jari maupun lidahnya di sana. Membuat istrinya langsung merasakan hawa yang membuatnya hareudang.
Amanda merasakan gejolak darahnya mengalir sangat panas di tubuhnya hingga jeritan kecil keluar bebas dari mulut mungilnya.
Tanpa permisi Rion langsung memasukkan pusakanya dan menggenjot pelan hingga kencang yang membuat hembusan nafas mereka saling beradu. Keringat terus bercucuran di tubuh mereka yang sudah sedari tadi polos tak memakai sehelai benang pun. Suara denyit dari bawah dan aduan kulit yang tanpa pembatas menambah panasnya udara di kamar ini.
"Abang ...."
"Tunggu sebentar Sayang, kita keluarin bareng-bareng." Rion terus memacu pusakanya hingga mereka mengerang bersamaan dengan suara yang cukup keras.
Kenikmatan yang Rion berikan membuat Amanda lupa jika dia sedang tidak mengkonsumsi pil penunda kehamilan. Berbeda dengan Rion, hatinya sangat bahagia karena dia bisa menanam benihnya lagi di rahim Amanda dan berharap sebulan kemudian tumbuhlah sebuah janin di dalam perut istrinya.
****
Happy reading lagi semua ...