
Kalian masih pada baca Bang Duda gak sih? 🤧
...****************...
Wajah penuh kegembiraan ditunjukkan oleh anak-anak. Celotehan-celoteha mereka membuat suasana semakin riuh. Dan Echa hanya tersenyum tipis melihat hewan-hewan yang dibiarkan berkeliaran bebas.
"Kamu punya kenangan di sini?" Echa pun menggeleng. Namun, dia merangkulkan lengannya ke lengan Radit.
Radit mengerti, Echa tidak ingin mengungkapkan semuanya karena ada ayahnya di depan Echa. Ketika semua anak-anak berceloteh tentang hewan yang dilihat mereka. Echa dan Radit sibuk berpelukan.
Tibalah mereka di parkiran. Dengan cerianya keenam anak itu turun sambil terus bercerita. Sedangkan para orangtua mereka malah asyik bergandengan tangan.
"Gak pada malu apa udah tua juga," cibir Echa kepada keempat pasutri.
"Sirik aja lu," sentak Arya.
"Ngapain sirik, Echa juga punya gandengan woiy," sahutnya sambil menjulurkan lidah ke arah Arya dan menggandeng lengan Radit.
"Kak, kamu ya yang ngasuh keenam anak ini. Papa dan Mamah mau makan dulu," titah Gio.
"What?"
"Kan ada Radit, itung-itung latihan ngurus anak pas jalan-jalan," timpal Ayanda.
"Sekalian kalo mau pada jajan bayarin," sambung Arya.
"Ri, kalo ingin jajan minta ke Om Radit ya. Minta jajannya yang mahal jangan yang murah," ucap Rion kepada Riana.
"Siap laksanakan Ayah," jawab Riana.
"Lagi pula, aku bawa pengasuh Kaza kok, Cha." Kini, Kano yang bersuara.
"Ini mah judulnya ngerjain Echa," keluh Echa.
"Gak apa-apa, Yang. Kan ada aku sama pengasuh Kaza," ucap lembut Radit. Echa hanya menghela napas kasar.
"Tadinya aja gak ikut," gerutu Echa karena sedari tadi keenam anak ini sibuk ingin ini-itu. Untung saja ada Radit yang dengan sabar memenuhi keinginan bocab-bocah ini.
"Makannya sambil duduk, ya. Setelah makan nanti kita lanjut lagi ke tempat yang lain."
"Siap Om," jawab keenam anak itu.
"Giliran disogok makanan aja pada nurut," omel Echa dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Udah dong jangan ngomel terus. Sekarang kamu makan, ya." Radit pun membuka makanan yang dia pesan dan mereka makan berdua dengan Radit yang menyuapi Echa. Karena Echa tidak akan pernah menghabiskan makanannya jika tidak disuapi.
Setelah selesai makan, sebagai makanan penutup Radit membelikan keenam anak itu es krim cokelat Belgia. Dan mereka pun sangat senang. Beginilah cara Radit untuk mendapatkan restu dari keenam anak yang super ini.
"Nih buat kamu." Radit membelikan es krim cup full cokelat kesukaan Echa.
"Makasih Ayang." Echa pun gantian menyuapi Radit es krim. Meskipun, Radit tidak terlalu menyukai es krim tapi, Radit berusaha untuk memakannya.
Sedangkan di tempat berbeda. Orangtua dari keenam anak ini sedang berbincang santai. Seolah mereka datang tanpa membawa anak-anak mereka.
"Gua gak nyangka, Radit kaya banget," ucap Arya.
"Ya iyalah, orang anak Addhitama," sahut Kano.
"Iya, gua tahu. Yang gua maksud adalah tabungan pribadi Radit. Hasil dari buka praktek serta jadi dokter di salah satu rumah sakit di Ausi ternyata melebihi kekayaan bapak kandungnya Echa," balas Arya.
"Maksudnya apa?" tanya Ayanda.
"Itu loh mantan suami kamu minta mahar 10M tidak termasuk rumah dan biaya pernikahan."
"Apa?" Mata Ayanda hampir terlepas dari tempatnya.
"Kamu tuh matre banget sih, Mas," sentak Ayanda.
"Anak kita adalah batu permata. Siapa saja yang ingin memilikinya harus memberikan harga yang sepadan," terang Rion.
"Cih, gak ngukur diri," cibir Ayanda.
"Mas inget gak? Ketika Mas menikahi aku, mas kawin yang Mas berikan kepadaku hanya sebesar tiga ratus ribu rupiah," ungkap Ayanda.
"Kismin banget lu," cibir Gio seraya tertawa.
"Kam pret!" seru Rion.
"Ya beda lah, Dek. Dulu kan kita sama-sama berjuang dari nol."
"Kayak SPBU," sahut Kano diikuti tawa yang lainnya.
"Iya dari nol. Tapi, ketika udah nyampe angka delapan Mas mulai gak tau diri. Gak sadar diri kalo di rumah udah punya istri," omel Ayanda.
Enam manusia yang lain hanya memandang mantan suami-istri yang sedang berdebat akan masa lalu mereka.
"Masih ada satu aset yang dimiliki Radit. Rumah sakit milik Om Addhitama yang ada di Ausi diberikan kepada Radit. Harusnya rumah sakit itu diberikan kepada Rindra, berhubung Om Addhitama kecewa dengan skandal yang pernah Rindra buat. Makanya, Om Addhitama menyerahkan rumah sakit itu kepada Radit," terang Gio.
"Makin tajir aja tuh anak," kagum Arya.
"Radit memang anak yang baik. Aku yakin dia bisa menjaga Echa dengan sangat baik," ucap Kano.
Semua orang mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kano. Radit memanglah bukan cinta pertama untuk Echa. Tapi, Radit mampu bertahan hingga saat ini dengan segala kekeras kepalaan yang Echa miliki.
Kembali ke Radit dan juga Echa yang sedang berkeliling bersama enam anak super.
"Ini apa? Kayak istana pasir," ucap Beeya yang sudah berjongkok.
"Jangan disentuh Bee, itu kotoran gajah," larang Echa.
"Ih, jijik," katanya.
"Om, gendong. Bee takut nginjek ee gajah." Beeya sudah merentangkan tangannya dan meminta digendong oleh Radit.
"Kamu rangkul tangan aku, Yang. Sambil perhatiin empat anak di depan." Echa menuruti apa yang dititah oleh Radit.
Tiba sudah mereka di tempat pertunjukkan orang utan. Keenam anak ini sangat antusias sekali. Terutama Beeya dan Kaza. Dua anak yang masih balita ini selalu tepuk tangan dan juga bersorak jika, orang utan melakukan aksinya.
Radit dan Echa tersenyum dibuatnya. "Kamu capek?" tanya Radit pada Echa.
"Pegel Ay kaki aku," keluhnya.
"Nggak usah, kamu kan yang capek dari tadi gendong Bee sama mondar-mandir beliin mereka makanan."
Hanya seulas senyum yang Radit tunjukkan. "Latihan punya anak, Yang. Jadi, nanti gak kaget lagi," kekehnya.
Echa merangkul lengan Radit dan meletakkan kepalanya di bahu Radit. Posisi inilah yang sangat Echa sukai. Bahu Radit sangat nyaman untuk bersandar.
Setelah pertunjukkan selesai, keenam anak ini merengek kehausan. Dengan sabar, Radit menuju kedai minuman dan membelikan minuman pesanan mereka berenam.
"Nih, ambil pesanan kalian." Radit menyerahkan kantong kresek besar kepada enam anak ini. Dan dia menyerahkan susu cokelat dan air mineral kepada Echa.
"Makasih," ucap Echa.
"Mas, udah cocok loh jadi Ayah. Buktinya telaten banget ngurus keenam anak ini," ujar pengasuh Kaza.
Radit hanya tersenyum dan merangkul pundak Echa. "Doain aja, supaya kita cepet nikah."
"Amin," sahut pengasuh Kaza.
"Kebelet nikah banget sih kamu," ejek Echa.
"Iya lah, umurku udah gak muda, Yang. Teman-temanku udah banyak yang nikah dan punya anak," bebernya.
"Om ayo, Ri ingin liat pinguin," ajak Riana.
Mereka pun beranjak dari duduk mereka dan melanjutkan perjalanan lagi.
"Yang, jangan sampai dilepas tangan aku," ucap Radit.
"Iya."
Tidak ada kata lelah untuk anak-anak ini. Mereka terlihat sangat bahagia karena selalu bercerita satu sama lain tentang hewan yang baru saja dilihatnya. Dan celotehan-celotehan Beeya membuat Echa dan Radit tertawa.
"Pinter banget sih kamu," puji Echa.
Beeya segera minta diturunkan ketika melihat pinguin dari balik kaca besar. Keenam anak ini bersorak gembira ketika melihat pinguin itu menyeburkan diri ke air es dan berenang.
Radit merangkul pundak Echa sambil menatap keceriaan mereka. "Rasa lelah langsung hilang ketika melihat wajah mereka gembira seperti itu," ujar Radit.
"Nanti kita akan seperti itu. Setelah memiliki anak. Aku hanya berharap, masa kecil anak kita tidak seperti aku," ucap Echa.
"Tidak akan, Sayang. Aku akan memberikan kasih sayang yang besar untuk kamu dan juga anak-anak kita."
****
"Lain kali kita honeymoon bareng," ujar Arya.
"Itu sih maunya lu. Lu kan penikmat gratisan," cibir Rion.
"Selagi masih ada yang gratisan kenapa harus bayar," sahut Arya.
"Malu-maluin punya adik ipar modelan kayak lu," ucap Kano.
"Ck, penghematan itu namanya," jawab Arya.
"Hemat sama pelit beda tipis," timpal Gio.
"Bang," ucap ragu Amanda.
"Kenapa?"
Amanda menyerahkan testpack ke arah Rion. Wajah Rion berubah. Apakah sekarang dia harus senang? Atau sebaliknya?
"Kok muka lu kayak orang yang gak senang gitu. Bini lu positif hamil woiy," ujar Arya.
"Gua gak mau terlalu berharap. Sudah sering seperti ini tapi, pada akhirnya janin itu gak akan berkembang," sahut lesu Rion.
Terkadang Rion berpikir, apa ini adalah karma yang harus dia terima atas kelakuan bejatnya yang menggugurkan kandungan Dinda. Ya, itu bukan kemauan Rion tapi, kemauan Dinda.
Sedangkan Amanda menunduk dalam. Mungkin semua ini adalah teguran dari Tuhan karena seringnya dia mengkonsumsi pil pencegah kehamilan yang sangat bagus. Puluhan kali dia melayani pelanggan namun, masih aman hingga dia tersadar akan pekerjaannya yang haram.
"Siapa tahu aja itu rezeki kalian," imbuh Ayanda.
"Iya benar itu. Aku aja yang belum pengen hamil malah disuruh hamil sama Papahnya Beeya," sahut Beby.
"Beeya udah waktunya punya adik, Mah," ucap Arya lembut.
"Sakitnya masih kerasa Pah."
"Sakit dari mana? Orang kamu aja merem melek," tutur Arya.
"Buatnya enak ngeluarinnya berasa mau mati," sentak Beby.
"Pak Gio gak mau nambah momongan lagi?" tanya Sheza.
"Nunggu cucu aja," sahutnya.
"Cih, ntar lu disebut Aki sama anaknya si Echa," ejek Rion.
"Nggak dong, anak Echa tetap panggil gua dengan sebutan Daddy sama kayak si kembar," sahut Gio.
"Dih sok muda banget lu."
"Emang gua masih muda. Emangnya lu, ntar dipanggil Engkong sama cucu gua," ledek Gio.
"Etdah tua amat gua, gak ada begitu-begituan. Haram bagi cucu gua untuk manggil gua Opa, Kakek, Aki, dan Engkong. Haram pokoknya," sungut Rion.
Yang melihat perdebatan antara Rion dan juga Gio pun tertawa. Dua pria itu masih beradu mulut tak ada yang mau mengalah.
"Anaknya juga belum kawin, mereka yang udah ribut duluan," ucap Arya.
"Saking ngebetnya pengen punya cucu." Empat wanita serta Arya tertawa mendengar ucapan Kano.
"Secara tidak sadar mereka mengakui jika, mereka tua," sambung Beby.
...----------------...
Ya Allah, nih lapak sepi amat kek kuburan cina🤧