
"Satria Wiratama," gumam Amanda.
Tak ayal yang memiliki nama pun menatap ke arah Amanda. Mata mereka saling mengunci, sejurus kemudian Amanda memutus kontak mata antara dia dan juga Satria.
Addhitama menyuruh Satria untuk segera bergabung dan berbicara mewakili keluarga. Dan Satria pun menuruti perintah dari Kakaknya tersebut.
"Kedatangan saya dan keluarga ke sini, ingin melamar putri dari Bapak Rion Juanda dan Ibu Ayanda Rashani untuk keponakan saya yang bernama Raditya Addhitama."
Deg.
Jantung Amanda terasa berhenti berdetak mendengar ucapan dari Satria.
Keponakan.
Kenapa dunia terasa sempit seperti ini? Begitulah isi kepala Amanda. Dia sama sekali tidak berani menatap ke arah Satria. Dia lebih memilih menunduk dan sikap Amanda tidak luput dari pandangan Rion, suaminya.
"Karena saya juga mendengar, jika hubungan mereka berdua sudah berjalan lebih kurang lima tahun. Dari pada menimbun dosa, lebih baik segera dihalalkan saja," lanjut Satria.
"Cih, dosa. Enteng sekali mulutnya menyebut kata dosa," batin Amanda.
"Kami sebagai orangtua dari Echa sangat senang dengan kehadiran keluarga Radit datang ke sini untuk melamar putri kami. Hanya saja, semua keputusannya kami serahkan kepada putri kami. Apakah dia bersedia menerima lamaran dari Radit atau tidak," ucap Rion.
"Jika, putri Anda tidak menerima lamaran keponakan saya sungguh keterlaluan. Apa kurangnya keponakan saya ini? Tampan iya, berduit iya, penyayang iya. Calon suami idaman, insha Allah," seloroh Satria.
"Yang, panggil Echa suruh turun," titah Rion kepada Amanda.
"Iya, Bang."
Satria membeku mendengar panggilan Rion untuk Amanda. Dan Amanda memanggil Rion dengan panggilan Abang. Lalu, wanita yang di samping Rion ini siapa? Begitulah otak Satria bertanya-tanya.
Tak lama, Amanda turun dari lantai atas dengan tiga orang di belakangnya. Ya, Echa berada di tengah-tengah antara Nisa dan juga Beby.
Radit terpana akan penampilan Echa yang sungguh luar biasa cantiknya. Bukan hanya Radit, Rindra pun ikut tak mengedipkan mata ketika melihat wanita yang disukainya terlihat sangat cantik dan anggun seperti artis Korea berkebaya.
"Cantik banget, Dit. Pantes kamu perjuangin," bisik Satria. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.
"Liatinnya biasa aja, Bang. Itu jodohnya Radit. Mau dicoret dari KK," bisik Rival pada Rindra. Hanya dengusan kesal yang Rindra berikan.
Kini, Echa duduk diantara Ayah dan Mamahnya. Dengan bangganya Rion memperkenalkan putrinya kepada keluarga besar Radit.
"Inilah putri pertama saya, Elthasya Afani. Semua keputusannya ada di tangan putri tercinta saya."
Sekarang, Radit yang maju dan bersimpuh di hadapan Echa dengan membuka kotak cincin yang berisi dua cincin emas putih unik bermatakan berlian.
"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku dan menua bersamaku?"
Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi, bisa membuat Echa berbunga.
"Ya, aku mau."
"Cepet amat, Dek, jawabnya," gurau Rion. Semua orang pun tertawa.
Radit pun tersenyum bahagia dan menyematkan cincin di jari manis Echa. Begitu juga Echa, dia menyematkan cincin di jari manis Radit. Dan menunjukkan kepada semua orang jika, mereka telah bertunangan.
"Bagaimana masalah pernikahannya?" tanya Addhitama sekarang.
"Bisakah ditunda dulu satu sampai dua tahun ke depan? Karena putri saya harus menyelesaikan study-nya terlebih dahulu," jawab Rion.
"Bagaimana Dit? Apa kamu masih mampu untuk menunggu lagi?" goda Addhitama.
"Kenapa tidak, Pih. Yang terpenting, Echa sudah diikat oleh Radit. Dan kita juga berada di negara yang sama nantinya. Di pijakan tanah yang sama dan di bawah langit yang sama. Radit tidak masalah karena Echa masih berada di dekat Radit," sahut Radit percaya diri.
Semua orang tersenyum mendengar jawaban Radit yang sungguh luar biasa, begitu juga Echa. Addhitama sungguh sangat kagum kepada putra bungsunya ini. Putra yang dia anak tirikan kini menjelma menjadi putra yang sangat membanggakan.
"Saya sangat bahagia bisa berbesanan dengan Anda, Tuan Giondra," ucap sopan Satria.
"Saya pun, semoga hubungan kekeluargaan ini bisa melebar menjadi hubungan bisnis," gurau Gio disambut tawa oleh semua orang.
"Gio mungkin sudah tahu pria yang di samping saya ini siapa. Karena kami sering melakukan pertemuan dengan Ayah dari Gio. Perkenalak ini adik saya satu-satunya, Satria Wiratama yang tak lain adalah Omnya Radit," terang Addhitama.
Mata Amanda melebar ketika mendengar penjelasan Addhitama yang menyebut Satria adalah adiknya. Orang yang sangat tidak ingin dia temui malah akan menjadi keluarga besarnya. Karena mereka akan berbesanan. Sungguh takdir konyol yang Amanda dapatkan.
"Senang bertemu dengan Anda Pak Satria. Kenalkan di samping saya ini mantan istri saya," ujar Rion.
"Mantan istri?" ujar Satria sedikit terlonjak.
"Ya, ini adalah Nyonya Ayanda Rashani Wiguna. Istri dari Giondra Aresta Wiguna," tutur Rion.
Satria tersenyum ke arah Ayanda dan dibalas senyuman sopan oleh Ayanda.
"Dan istri saya yang mengenakan hijab di sana, namanya Amanda Maharani."
Wajah yang tidak bisa terbaca yang Satria tunjukkan ketika mendengar Rion menyebut Amanda adalah istrinya. Kecewa, sudah pasti.
Karena acara lamaran sudah selesai, kini saatnya acara makan-makan di halaman belakang rumah Rion yang cukup luas. Satria melihat dengan mata kepalanya sendiri jika, Rion dan Amanda sangatlah mesra. Apalagi ada seorang anak perempuan yang memanggil mereka Ayah dan Bunda yang tak luput dari pendengarannya. Mereka tertawa bahagia dan terlihat sangat kompak.
Aku mencarimu, Amanda. Ketika kejadian itu aku ingin menjadikanmu istriku. Tapi, kamu malah menghilang dan merealisasikan ucapanmu.
"Selamat malam Pak Satria," sapa Gio.
"Senang berbesanan dengan Anda," jawab Satria.
Mereka pun berbincang hangat sambil makan makanan yang tersedia di sana.
"Istri Anda sungguh cantik," puji Satria.
"Tentu saja, tugas istri saya hanya mempercantik diri untuk saya."
Satria tersenyum mendengar ucapan dari Gio. Tapi, pandangan Satria tidak terlepas dari Amanda dan juga Rion.
"Sepertinya, Anda mengenal Amanda," ujar Gio yang sedari tadi memperhatikan sikap Satria.
"Ah, tidak. Mungkin saya hanya pernah bertemu dengan dia saja. Tapi, lupa di mana. Menyapanya pun enggan, takut salah orang," kilahnya.
Sebenarnya juga, Amanda diam-diam menatap ke arah Satria. Dia tidak habis pikir kenapa dia bisa bertemu lagi dengan lelaki itu. Padahal sudah dengan sekuat tenaga dia menghindari Satria.
"Gak apa-apa, Bang. Mungkin efek hamil muda kali, jadinya mudah lelah."
"Besok kita pastiin ke dokter, ya. Sekarang, kamu istirahat aja," ucap Rion sambil mengecup kening Amanda.
Sikap Rion tak luput dari pandangan Satria. Begitu manis dan juga perhatian. Tepukan pundak membuat Satria berbalik badan.
"Makanya cepat nikah, usiamu itu tidak jauh dari Ayah dan Papanya Echa. Mereka saja sudah mau memiliki menantu," goda Adhhitama.
Seperti biasa, Satria hanya menjawab dengan seulas senyum.
Andai Mas tahu, wanita yang hanya bisa membuatku jatuh cinta adalah Amanda. Cinta satu malam ku.
Setelah puas berbincang, keluarga Addhitama pamit kepada keluarga Echa. Akan tetapi, mata Satria mencari-cari sosok wanita yang membuatnya hampir gila sepuluh tahun belakangan ini.
Apakah dia menghindari ku?
"Maaf, istri saya tidak bisa menyapa kalian lebih lama. Karena dia sedang hamil muda. Jadi, perlu istirahat."
"Wah, selamat Rion," ucap Addhitama.
"Makasih, Pak."
Mereka pun pulang dan keluarga Rion serta Gio masih berbincang di ruang tamu dan masih membahas seputaran pertunangan ini.
"Gak nyangka, keluarga Radit berpengaruh juga, ya," imbuh Nisa.
"Daddy udah tahu jika, Om Addhitama memiliki seorang adik pengusaha sukses?" Gio pun mengangguk.
"Setahu Daddy, Satria itu ditugaskan di Surabaya. Dan Daddy gak nyangka, kalo dia ikut ke acara lamaran Echa. Orang yang sangat sibuk menyempatkan diri datang dan mewakili keluarga Om Addhitama untuk melamar Echa, bukankah sungguh luar biasa?" Semua orang pun mengangguk setuju.
"Kamu bahagia?" tanya Rion.
"Sangat bahagia, Ayah."
"Sekarang kamu sudah resmi jadi calon istri Radit. Jaga pandangan kamu. Jaga hati kamu hanya untuk Radit. Mendengar perjalanan cinta kalian yang tidak mudah. Membuat Nenek terharu sekaligus salut terhadap Radit," imbuh Bu Dina.
"Iya, Nek. Echa akan mencoba mengerti apa yang Radit suka dan apa yang tidak disukai oleh Radit," sahut Echa sambil merangkul lengan Bu Dina.
"Peka lah terhadap perasaan Radit. Jangan hanya ingin dimengerti, tapi kamu juga harus bisa mengerti Radit." Nasihat Rion untuk Echa.
Karena Rion sering melihat putrinya tidak peka dengan perasaan Radit. Sehingga, Radit yang harus selalu mengalah terhadap Echa.
"Kak, jika kamu merasa salah jangan sungkan untuk minta maaf kepada Radit." Echa pun mengangguk.
Inilah momen yang akan sangat Echa rindukan. Satu sampai dua tahun ke depan akan sulit untuk Echa berkumpul seperti ini. Minggu depan pun, Echa harus berangkat ke Ausi lagi. Sedangkan Radit, lusa sudah harus terbang ke Ausi terlebih dahulu.
Di dalam kamar utama. Seseorang sedang menangis di dalam kamar mandi dengan air shower yang membasahi tubuhnya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi? Setiap melihat wajahnya seakan aku merasa menjadi wanita yang sangat kotor dan tidak memliki harga diri," lirihnya.
"Dengan tidak tahu malunya, aku mengangkangkan kaki di depan wajahnya. Serta memaksanya untuk menyentuh tubuh polos ini," gumam Amanda.
"Maafkan aku, Ya Allah. Maafkan aku. Aku sungguh merasa sangat kotor melebihi kotoran hewan." Tangis Amanda pecah beriringan dengan gemercik air yang membasahi lantai kamar mandi.
Sentuh aku, Sayang. Aku akan memuaskanmu.
Kalimat yang masih Amanda ingat dan membuat dia menjadi wanita yang sangat murahan melebihi barang diskonan.
"Arrghh!"
"Aku terpaksa, Ya Allah. Terpaksa," lirihnya seraya menangis dan tubuhnya sudah luruh ke lantai.
Setelah dari acara lamaran keponakannya. Satria langsung menuju apartment miliknya yang berada di Jakarta. Satria merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk seraya memejamkan matanya. Wajah cantik Amanda yang berbalut baju gamis serta kerudung syar'i memutari kepalanya sekarang ini. Sungguh cantik sekali Amanda. Apalagi suaranya yang terdengar sangat lembut ketika menjawab perintah dari Rion.
"Kenapa dengan bodohnya aku melepaskannya?"
"Arrghh!" teriak frustasi Satria.
Sebelas tahun lalu ....
"Makasih atas transferannya. Saya pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi," ucap Amanda sambil memunguti pakaiannya yang berserakan.
Satria tercengang mendengarnya, wanita yang dia kencani benar-benar wanita mahal dan mampu memuaskan hasratnya yang ingin mencoba keperjakaan miliknya.
Ternyata, cinta satu malam itu membuat seorang Satria Wiratama ketagihan akan hal berbau ****. Entah kenapa, miliknya tidak pernah meneganc jika wanita lain menyentuhnya. HIngga dua jam pemanasan pun tidak ada rasa panas yang menjalar di tubuhnya.
Sudah lebih dari sepuluh wanita yang mencobanya, tetap gagal. Dan anehnya, hanya dengan sentuhan tangan Amanda. Bagian bawah Satria seketika menegang dan tidak akan pernah puas menerjang tubuh Amanda meskipun Amanda sudah memohon ampun karena tidak sanggup lagi meladeni Satria. Karena ulah Satria lah, Amanda pun terbaring lemah di atas ranjang selama dua hari.
"Aku membayar mahal dirimu, jadi jangan pernah kecewakan aku."
Itulah yang Satria katakan pada Amanda pada waktu itu.
Ketika hasratnya sudah di ubun-ubun, dan tak satupun wanita bayarannya mampu mengeluarkan apa yang Satria inginkan. Kemudian, dia menyuruh asisten pribadinya untuk mencari keberadaan Amanda. Dan dia rela membayar dua sampai lima kali lipat dari bayarannya yang terdahulu. Kepala Satria teras mau pecah karena hasrat yang tak kunjung bisa disalurkan.
Perintah dari Satria dijalankan oleh asistennya. Tapi, nihil hasilnya. Dia tidak menemukan keberadaan Amanda. Mencari tahu kepada keluarganya pun percuma juga. karena Ayah Amanda sudah pindah dari Kota Surabaya. Sungguh Satria dibuat frustasi oleh Amanda.
Hasratnya benar-benar tidak bisa disalurkan hingga Satria terus mengerang seperti orang stres. Perlahan Addhitama mendekati Satria. Adiknya masih tetap bungkam. Dengan sabar, Addhitama terus mendekati Satria dan perlahan Satria mau terbuka akan masalahnya. Satria jujur akan kondisinya saat ini. Dan Addhitama menyarankan untuk Satria menikah. Awalnya, dia tidak mau. Tapi, pada akhirnya Satria mau menikah.
Pernikahan pun berlangsung. Satria dijodohkan dengan seorang gadis cantik. Namun, ketika malam pertama mereka, tidak ada tanda-tanda kejantanan Satria beraksi. Membuat istri sah dari Satria pun mengeluh. Malam pertama mereka gagal. Hingga sebulan menikah, tidak ada perubahan. Pada akhirnya, istri dari Satria melayangkan surat cerai karena Satria tidak bisa memenuhi nafkah batin.
Addhitama merasa heran, dan dia terus membawa Satria melakukan pengobatan di dalam maupun luar negeri. Hasilnya, tetap sama. Tidak ada kelainan yang Satria derita. Semuanya baik-baik saja.
Dari situlah, Satria memutuskan untuk terus mencari Amanda. Cinta satu malam dengan Amanda membuat Satria jatuh cinta sungguhan kepada Amanda. Dan hanya Amanda yang bisa memuaskan dirinya.
Sepuluh tahun berselang, tidak ada tanda-tanda keberadaan Amanda. Akhirnya, Satria memutuskan untuk menghentikan pencarian. Dan dia melakukan operasi vasektomi. Dia tidak ingin menderita karena hasrat yang tiba-tiba muncul tapi, tidak bisa disalurkan. Nantinya, akan menjadi penyakit untuknya.
Satria pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah. Dia ingin mengurus perusahaannya dan hak waris perusahaannya akan diberikan kepada ketiga keponakannya dengan adil. Yaitu, Rindra, Rival dan juga Radit.
"Ketika aku sudah melupakanmu, kini kamu hadir di hadapanku. Namun, dengan statusmu yang sudah tidak sendiri lagi."
"Apakah aku harus menjadi orang jahat untuk merebutmu dari suamimu?"
...----------------...