Bang Duda

Bang Duda
313. Aset Negara (Musim Kedua)



Weekend yang dinanti sudah tiba. Echa masih terjaga, padahal di London sekarang menunjukkan pukul 00.30.


"Yang, tidur. Udah malam. Kasian anak-anak kita." Echa malah bangun dari tidurnya. Dan bersandar di kepala ranjang.


"Aku mau liat pertunjukan spektakuler." Rona bahagia terlihat jelas di wajah Echa.


"Kamu jadi suruh mereka buat senam aerobik?" Dengan cepat Echa mengangguk.


"Kualat kamu nanti," ucap Radit sambil mengecup ujung kepala Echa.


"Bukan aku yang mau, tapi anak-anak kita di dalam sini. Ingin melihat Abah, Engkong sama Akinya senam sehat."


"Eh, sama Uwa Kano dan Om kumpret," tambahnya.


"Om kumpret?"


"Iya si Askara, manusia setengah edan," sungut Echa.


Hubungan Echa dan Aska memang terbilang setengah waras. Setiap bertemu selalu saja adu mulut dan berujung bertengkar. Usil-usilan dan saling mengerjai satu sama lain. Aksa, yang dikira akan menyebalkan malah sebaliknya. Dia menjadi anak yang sangat penurut dan selalu Echa anggap sebagai pacar brondongnya. Tak ayal, memicu kecemburuan pada Radit.


Beberapa hari yang lalu, para pria tampan dan mapan sedang berkumpul. Echa tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menelepon mereka. Dan kebetulan di sana sedang ada Aska. Si adik laknat.


"Tumben banget lu video call," ujar Arya.


"Kangen kalian, para pria tampan."


"Mencium aroma-aroma gak enakin ini mah," balas Rion.


Di seberang video sana Echa tertawa bahagia. Kelima pria tersebut sangat melihat pancaran kebahagiaan di wajah Echa. Membuat mereka ikut bahagia.


"Om, weekend besok jangan lupa."


"Mampoes!" seru Rion.


"Ck, anak sama bapak sebelas dua belas," sungut Arya.


"Tapi, Echa bukan hanya ingin melihat Om Arya. Echa juga ingin melihat, Papa, Ayah, Kak Kano dan lu kumpret buat ikut senam bareng Om Arya. Dengan dress code yang kemarin Echa tentuin."


"Apa?" seru mereka berempat. Kecuali Arya sedang tertawa puas mendengar permintaan Echa.


"Setidaknya gua gak sendirian nahan malunya. Hahahaha ...."


"Dek, kalo ngidam tuh yang benar dong," sentak Rion.


Tiba-tiba, mata Echa nanar dan bulir bening sudah menganak di matanya. Dan kini menetes membasahi pipinya.


"Echa gak minta apa-apa sama kalian. Hanya minta itu, apakah terlalu sulit untuk dikabulkan?" Suara Echa sangat berat dengan air mata yang terus meluncur bebas.


"Kok nangis," imbuh Gio.


"Papa akan lakuin apa aja, yang penting kamu jangan nangis dan juga jangan banyak pikiran. Itu akan mempengaruhi perkembangan janin kamu, Sayang."


"Tuh denger, jadi bapak tuh berkorban sedikit mah demi anak. Apalagi lagi ngidam," ucap Arya kepada Rion.


"Ayah minta maaf, jangan nangis lagi. Ayah juga akan melakukan apapun supaya cucu Ayah gak ileran," tuturnya.


Echa menatap ke arah Kano dan juga Azka.


"Ngikut aku Kak."


"Makasih Adek laknat."


"Sial emang, manggil Adek tapi ada embel-embelnya di belakanganya," gerutu Aska.


Begitulah keinginan ibu hamil yang satu ini. Sehingga pria yang memiliki wibawa dan kharisma, akan menanggalkan kewibawaan serta kekharismaan mereka demi untuk mengabulkan ngidam orang yang mereka sayangi.


Di kediaman Arya, Arya masih mengabsen satu per satu baju serta perlengkapan senam yang lain.


"Ini apaan?" Kano mengangkat celana legging berwarna kuning.


"Itu legging, celana yang akan kita pake," jelas Arya.


"Apa?" pekik Kano.


"Torpedo gua terpampang nyata dong kalo pake ini mah," ucapnya polos.


"Anak gua terlalu banget sih nyiksa bapaknya," ujar Rion.


"Bukan hanya bapaknya, gua aja yang gak ada hubungan keluarga sama lu kena imbasnya," sarkas Arya.


"Ini apaan?" Azka mulai mengangkat baju mini tanpa lengan.


"Koetang," jawab Kano.


"Mini set," sahut Arya.


"Pada bhego emang. Sport bra itu namanya," jawab Gio.


"Apal banget lu," ucap Rion.


"Iyalah, bini gua sering pake itu kalo lagi olahraga bareng gua."


"Olahraga bareng?" sahut Rion, Arya dan juga Kano.


"Mesoem Mulu otak kalian," sentaknya.


Kelima pria itu pun mengenakan apa yang sudah disiapkan. Mereka berderet berlima. Lalu, bercermin.


"Udah kayak bencong Taman Lawang yang suka bawa bass betot," keluh Rion.


"Bencong lampu merah yang bawa kecrekan dari tutup botol," balas Arya.


"Kalian udah si ...."


Perkataan Beby terhenti ketika melihat lima pria di hadapannya. Dia tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat rambut suaminya yang dikucir dua.


"Seneng banget lu," sarkas Kano sambil melempar bantal ke arah Beby.


"Astaghfirullah al'adzim," ucap Beeya.


"Baru kali ini, Bee merasa malu menjadi salah satu dari anggota keluarga kalian," ujar Beeya.


"Masha Allah." Kini, giliran Ayanda yang terlonjak.


"Ada ya bencong berotot gitu," ledeknya pada kelima pria itu.


"Puas-puasin deh ketawa. Kalo bukan karena Echa gak bakal mau juga kita kaya gini," kesal Rion.


Beby, Ayanda serta Beeya tak hentinya ketawa. Apalagi, ketika menggiring bencong berotot ini ke lapangan. Sungguh menjadi tontonan luar biasa. Hingga mereka berlomba-lomba mengambil gambar serta video lima bencong berotot yang sedanh berjalan kaki menuju lapangan. Momen ini adalah momen langka, di mana para pengusaha ternama dikerjai habis-habisan oleh seorang anak yang berada jauh di belahan bumi sana.


Ayanda segera menghubungi Echa. Ketika sambungan video itu terhubung, Echa tertawa terpingkal-pingkal melihat kelima pria tampan kesayangannya yang sedang dikerumuni oleh ibu-ibu peserta senam aerobik.


"Ya Allah, lucu banget," ucapnya.


Radit yang ikut menyaksikan video siaran langsung pun tak hentinya tertawa. Apalagi, banyak ibu-ibu yang menyentuh roti sobek para pria itu.


Dan senam pun dimulai. Mereka berlima berada di barisan terdepan membuat ibu-ibu semakin bersemangat karena melihat body kekar mereka dari belakang. Apalagi belahan bokong uang aduhai membuat ibu-ibu menitikan air liur.


Setiap gerakan nungging, bokong Arya yang selalu jadi sasaran pukulan ibu-ibu dari belakang. Saking semoknya, ibu-ibu sangat gemas melihat bokong seperti roti bantal milik Arya. Baru melihat bagian belakang saja, ibu-ibu sudah histeris. Apalagi, jika melihat bagian depan para pria tersebut. Sudah dipastikan mereka akan terbayang-bayang akan aset yang para pria itu miliki.


Sekarang, giliran Beby yang menyorot senam para pria itu dari depan. Lagi-lagi, tawa Echa semakin pecah. Di bagian sensitif para pria itu, sengaja diberi kertas HVS bertuliskan ASET NEGARA, JANGAN DISENTUH.


"Astaghfirullah, ada-ada aja," ucap Echa yang tertawa sambil memukuli bahu Radit.


"Ide siapa lagi itu? Ditempelin kertas begituan dengan tulisan sangat menggelikan." Echa tertawa puas sampai mengeluarkan air mata.


"Udah senang sekarang?" Echa pun mengangguk puas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Radit. Napasnya tersengal karena terlalu banyak tertawa.


"Kalo kita di Indonesia, kamu juga pasti akan berada diantara mereka."


"Apa?"


"Ya kamu bapak dari anak-anak ini. Kamu juga harus bertanggung jawab atas ngidam yang aku inginkan."


...----------------...


Semoga Terhibur