
"Maafkan kak Jun, Nda," kata Juna dan terdengar sangat lirih.
"Siapa kamu?" tanya Rion.
Adegan haru biru antara Amanda dan juga Juna pun berakhir. Sangat terlihat jelas wajah Amanda yang begitu sedih.
"Jika saya yang membeli keperawanan Amanda, apa kamu akan marah?" ujarnya.
Amanda menatap ke arah Juna, Juna menatap dingin ke arah Rion. Jangan ditanya bagaimana wajah Rion sekarang. Tangannya mengepal keras dan urat-urat kemarahannya nampak jelas di wajahnya.
Rion mendekat ke arah Juna, baru saja kepalan tangannya diangkat ke atas. Pekikan Amanda sangat terdengar jelas.
"Dia Kakak ku," teriak Amanda dengan bercucuran air mata.
Tangan Rion menggantung begitu saja, dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh istrinya. Setahu dia, Amanda adalah anak tunggal.
"Kak, bawa pergi Nda," pinta Manda seraya menarik tangan Juna.
"Jangan pergi," cegah Rion dengan tangan yang menahan tangan istrinya.
Amanda menatap wajah suaminya dengan mata nanar. "Selagi Abang masih mengungkit masa lalu Manda. Jangan pernah cari Manda," ujarnya.
Hati Rion sakit mendengar ucapan istrinya. Hingga Rion tetap kekeh mencegah Amanda agar tidak pergi darinya.
"Biarkan Nda sendiri dulu. Dan yakinkan hatimu lagi, menikahi adikku karena tulus mencintanya atau hanya karena nafsu belaka," timpal Juna.
Juna dan Amanda pun pergi meninggalkan Rion di parkiran seorang diri. Perkataan Juna mampu mengoyak-ngoyak hatinya. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu Amanda. Karena cemburu dan emosi yang sudah tidak tertahan akhirnya, ucapannya terlontar begitu saja.
Di dalam mobil, Amanda terus menyandarkan kepalanya di bahu Juna. Tangannya terus melingkar di lengan kakaknya. Kenangan masa kecil mereka kini terus memutari ingatan Amanda. Pertemuan yang menyenangkan dan berakhir pada perpisahan yang memilukan. Begitulah kisah adik-kakak diantara mereka.
Tibalah mereka di salah satu hunian mewah tak jauh dari kediaman Rion. Amanda belum menyadarinya karena dia masih bergelut sendiri dengan pikirannya.
"Kamu istirahat, ya," ucap Juna yang sudah mengantar Amanda di kamarnya.
"Temani Nda," pinta Amanda.
Juna hanya tertawa melihat tingkah manja Amanda terhadapnya. Juna pun menyetujuinya tapi, setelah dia membersihkan badannya.
Amanda memandangi setiap sudut ruangan. Banyak foto yang terpajang di sana. Termasuk foto Mamihnya yang sedang tersenyum bahagia.
"Manda kangen Mamih," lirihnya.
Air mata yang sudah menganak akhirnya tumpah ruah ketika Amanda melihat foto antara dia, Juna dan Mamihnya yang sedang bercanda ria. Dia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Juna.
#Flashback on.
15 tahun yang lalu ....
Amanda kecil sering diajak Mamihnya berbelanja ke pasar tradisional. Setiap Amanda ke pasar, Amanda selalu kagum pada sosok Juna kecil yang menjajakan serbet ke setiap pengunjung pasar. Tidak ada kata lelah dan menyerah yang Amanda lihat pada sosok Juna kecil.
Amanda selalu bercerita kepada Mamihnya tentang seorang anak penjual serbet itu. Mamihnya yang sangat penasaran dengan anak laki-laki yang diceritakan Amanda, berinisiatif mengajak Amanda ke pasar dan berbincang dengan Juna kecil.
Sayangnya, mereka tidak bertemu dengan Juna kecil pada saat itu. Mereka sudah berkeliling pasar namun, tetap tidak ada.
Sudah berkali-kali mereka pergi ke pasar namun, Juna kecil selalu tidak ada. Hingga Mamih Amanda menanyakan kepada salah seorang pedagang.
"Oh si Juna, udah seminggu ini dia ngerawat emaknya yang lagi sakit," ujar salah seorang pedagang.
Mamih Amanda pun meminta alamat rumah Juna. Setelah mendapat alamat rumahnya, Mamih dan Amanda mendatangi rumah Juna. Disepanjang perjalanan wajah gembira Amanda sangat terlihat jelas.
Baru saja mereka memasuki gang kecil, sudah banyak orang yang memadati satu rumah yang sangat sederhana.
Mendengar nama Juna disebut, Amanda dan Mamihnya masuk ke dalam kerumunan orang-orang. Hati Amanda dan juga Mamihnya sangat sedih ketika melihat seorang anak laki-laki yang sedang menangis meraung-raung di samping jenazah ibunya.
"Ibu, jangan pergi. Jangan tinggalin Juna," lirihnya.
Tak terasa bulir bening pun terjatuh di ujung mata Mamih Amanda. Beliau mengusap lembut punggung Juna kecil yang sangat rapuh pada waktu itu.
"Biarkan ibumu pergi, Mamih siap menjadi ibumu," ucap Mamih Amanda tiba-tiba.
Juna menatap haru ke wajah Mamih Amanda, hanya pandangan hangat yang Juna rasakan. Dia pun memeluk tubuh Mamih Amanda sangat erat. Menumpahkan segala kesedihannya di dalam dekapan hangat beliau. Amanda yang ikut menyaksikan pun ikut menangis dan memeluk tubuh Juna dan Mamihnya.
Setelah pemakaman ibu Juna, Mamih Amanda membawa Juna tinggal bersama mereka. Kasih sayang sang Mamih selalu sama pada Amanda dan juga Juna.
Amanda semakin bahagia karena sekarang dia memiliki kakak yang mampu menjaganya dan juga mengajarinya. Karena kurang kasih sayang dari papihnya, Amanda selalu bermanja dengan sang kakak hingga tidur pun selalu bersama Juna. Ikatan batin mereka sudah terjalin sangat kuat.
#Flashback off.
"Kenapa nangis?" tanya Juna yang sudah berada di belakang Amanda.
"Nda kangen Mamih dan kangen Kak Jun," lirihnya.
Juna memeluk hangat tubuh Amanda yang sedang terisak. Sesungguhnya dia juga merindukan Mamihnya.
"Maafkan Kak Jun yang terlambat datang ke dalam hidup kalian," ucap Juna.
"Ini bukan salah Kak Jun, ini adalah takdir yang telah Allah gariskan untuk Nda dan juga Mamih. Terimakasih sudah kembali ke kehidupan Nda," ucap Amanda dengan terus memeluk erat tubuh Juna.
"Kak Jun janji, akan terus jaga Nda dan akan membahagiakan Nda semampu Kak Jun. Kesuksesan Kak Jun untuk Nda dan juga Mamih," ungkapnya.
Akhirnya, Amanda terlelap dalam dekapan hangat kakaknya yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. Kini, derai air mata membasahi pipi Juna. Melihat damainya Amanda yang sedang terlelap membuatnya teringat akan sosok Mamihnya.
Juna pun mengambil air wudhu dan menggelar sajadahnya. Bersujud kepada Tuhannya dan bedoa untuk Mamihnya. Hanya ini yang sekarang bisa dia lakukan.
Di kediaman Rion, Rion masih betah di ruangan kerjanya. Merenungi kesalahan pahaman yang terjadi siang tadi. Ponselnya berdering menandakan pesan masuk.
📩 "Datang ke rumah ku sekarang. Kamu cukup melewati 5 rumah dari rumahmu."
Rion mengernyitkan dahinya, dia tidak tahu maksud dari pesan itu apa.
📩 "Juna."
Membaca pesan terakhir Rion bergegas menuju rumah yang disebutkan Juna. Malam ini Rion hanya menggunakan motor karena jaraknya yang tidak jauh.
Setelah tiba di sana, Juna sudah menunggunya di ruang tamu dengan pakaian piyama tidurnya. Rion hanya menundukkan kepalanya merasa bersalah kepada Juna karena telah salah paham.
"Dia ada di kamar atas, temani lah dia," titah Juna.
Rion tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Juna. Dia menyangka jika Juna akan marah kepadanya namun, ternyata tidak.
"Maafkan ....."
"Sudahlah, lupakan itu. Bahagiakan Nda ku, dan cintailah Nda ku dengan tulus. Jangan pernah menyakiti Nda jika, kamu masih ingin tetap hidup." Juna pun meninggalkan Rion dengan posisi yang masih terdiam membeku.
****
Jempol kian hari kian menghilang, apalagi komen? Sekarang aku harus bagaimana? 😪🤧
Happy reading ....